Wilujeng Sumping

Selamat Datang

 

silahkan pilih Bahasa Yang diinginkan

 

INDONESIA <<< ———- >>> SUNDA

 

***

Published in: on 6 Februari 2011 at 2:41 pm  Komentar (2)  

Kabayan

Kabayan merupakan tokoh imajinatif dari budaya Sunda yang juga telah menjadi tokoh imajinatif masyarakat umum di Indonesia. Polahnya dianggap lucu, polos,tetapi sekaligus cerdas. Cerita-cerita lucu mengenai Kabayan di masyarakat Sunda dituturkan turun temurun secara lisan sejak abad ke-19 sampai sekarang. Seluruh cerita Kabayan juga menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat Sunda yang terus berkembang sesuai zaman.Tokoh Kabayan juga dapat disepadankan dengan tokoh dari Arab, seperti Abunawas atau Nasrudin.

Karya Sastra dan FilmBuku(id) Si Kabayan, Utuy Tatang Sontani (1959)(id) Si Kabayan Manusia Lucu, Ahdiat Karta Miharja (1997)(id) Si Kabayan Nongol di Zaman Jepang, Ahdiat Karta Miharja(id) Si Kabayan: dan beberapa dongeng Sunda lainnya, Ayip Rosidi (1985)(id) Si Kabayan jadi Wartawan, Muhtar Ibnu Thalab (2005)(id) Si Kabayan jadi Dukun, Moh. Ambri(id) Kabayan Bikin Ulah (2002, komik kompilasi)FilmSi KabayanSi Kabayan Mencari Jodoh (1994)Si Kabayan Saba KotaSi Kabayan dan Gadis KotaSi Kabayan Saba MétropolitanSi Kabayan: Bukan Impian (2000)Informasi tentang Sikabayan dari Koran Pikiran Rakyat:Si Kabayan, dari Buku ke Buku

Rassers (1941) menilai, Si Kabayan adalah tokoh ambivalen. Selain sebagai penghubung dan pewarta dari Sang Pencipta Semesta, ia juga dinilai sebagai tokoh yang mewakili totalitas dan kekuatan masyarakat yang bersifat membangun, tetapi juga menghambat. Ya, di dalam dirinya sifat ketuhanan dan demonis mewujud menjadi satu. Oleh karena itu, Rassers menganggap Si Kabayan adalah pahlawan budaya sekaligus tukang tipu.

SI Kabayan (SK) manusia lucu itu banyak diketahui orang. Tokoh kita ini memang dikenal suka berkelakar, humoris, lugu, tetapi juga kadang-kadang direpresentasikan sebagai orang yang pandai. Sepanjang kelahirannya, Si Kabayan selalu dihidup-hidupkan orang, tentu saja sesuai dengan keinginan dan kepentingan si pengarangnya. Sebagian bahkan memercayainya sebagai bukan tokoh fiktif. Menurut orang yang percaya, makam Si Kabayan ada di Banten.

Di dalam dongeng-dongeng lama, SK biasanya digambarkan sebagai orang kampung yang lingkungan pergaulannya terbatas di sekitar istrinya (kita kenal kini sebagai Nyi Iteung), kedua mertuanya, dan majikannya. Tetapi dalam dongeng-dongeng yang diciptakan orang sekarang, ia pun kadang-kadang hidup di kota. Tetapi walaupun begitu, tetap saja digambarkan dengan memiliki sifat-sifat orang kampung.

Dokumentasi Si Kabayan (SK)
Sejak kapan kisah-kisah SK didokumentasikan orang? Dr. Snouck Hurgronje boleh jadi adalah orang pertama yang mengumpulkan kisahnya. Sebab antara tahun 1889-1891, orientalis asal Belanda ini mengadakan penelitian mengenai kehidupan Islam dan cerita rakyat yang ada di Pulau Jawa. Untuk mengelilingi pulau ini, ia mengajak H. Hasan Mustapa yang telah ia kenal di Mekkah pada 1885.

Sebagai bukti kerja yang dilakukan Snouck, pada 1929 terbit Tijl Uilenspiegel verhalen in Indonesie in het Bizonder in de Soendalande. Buku ini berasal dari disertasi Maria-Coster Wijsman, yang pembahasannya mendasarkan pada tokoh SK yang hidup di Banten selatan. Sumber kisah-kisah dalam buku itu ia ambil dari catatan-catatan mengenai SK yang dikumpulkan oleh Dr. Snouck.

Pada 1911 terbit Pariboga: Salawe Dongeng-Dongeng Soenda. Buku ini disusun oleh Cornelis Marinus Pleyte dan diterbitkan oleh Kantor Tjitak Goepernemen. Ada yang menganggap, inilah buku pertama yang memuatkan cerita SK.

Berikutnya, 21 tahun kemudian, pada 1932, Balai Pustaka menerbitkan buku Si Kabajan. Buku ini disusun berdasarkan dongeng-dongeng yang ada dalam penelitian Maria-Coster Wijsman. Entah apa alasannya, dongeng-dongeng dalam disertasi terdahulu itu dipilih lagi. Beberapa dongeng yang berbau seks kemudian dibuang.

Pada tahun yang sama, terbit Si Kabajan Djadi Doekoen karya Moh. Ambri. Karya ini dianggap sebagai saduran dari salah satu naskah drama karya Moliere, “Le Medicin Malgre Lui”. Menginjak tahun 1941, hanya ada satu judul buku yang terbit mengenai SK. Buku berjudul Kabajan itu disusun oleh W.H. Rassers dalam bahasa Belanda.

Selanjutnya Utuy T. Sontani menulis drama “Si Kabayan” dalam bahasa Indonesia dan bukunya diterbitkan pada 1959. Naskah yang sama diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia, menjadi Si Kabaian (1960). Sembilan tahun kemudian, kisah ini diterbitkan dalam bahasa Inggris dan disatukan bersama karya pengarang lainnya dari negara luar dalam “Three SEAsian Plays”, yang merupakan suplemen dari berkala Tenggara.

Yang penting dicatat, pada tahun ’60-an itu paling tidak ada lima karya Min Resmana yang berkaitan dengan kisah-kisah SK. Karya-karya yang dimaksud adalah Si Kabajan Pangantenan (1966), Si Kabajan Kasurupan (1966), Si Kabajan Ngandjang Kapageto (1966), Si Kabajan djeung Raja Manaboa (1966), dan Si Kabajan Tapa (1967). Sementara itu sastrawan senior Sunda, MA. Salmun, menerbitkan Si Kabajan Moderen (1965).

Pada era 1970-an, hanya dua judul buku yang tercatat yang kembali menghidupkan Si Kabayan. Pertama, Tales of Si Kabayan yang disusun oleh Murtagh Murphy dan diterbitkan oleh Oxford University Press, pada 1975. Yang kedua, Si Kabayan dan Beberapa Dongeng Sunda Lainnya (1977) karya Ajip Rosidi.

Era 1980-an ada sekitar lima judul yang terbit. Dua di antaranya karangan MO Koesman, yaitu Si Kabayan (1980) dan Si Kabayan Ngalalana (1982). Sementara itu Adang S. menulis Juragan Kabayan pada 1986. Lainnya, Lebe Kabayan (1986) karya Ahmad Bakri dan Si Kabayan Tapa (1986) karya Min Resmana.

Pada tahun (1990), Si Kabayan “meninggal” dunia. Karena itu terbit Jurig Kabayan karya Tini Kartini. Akan tetapi, pada 1997 Si Kabayan dihidupkan lagi lewat Si Kabayan Manusia Lucu buah tangan Achdiat K. Mihardja. Di tempat lain, tepatnya dalam buku Asian Tales and Tellers (1998) susunan Cathy Spagnoli, Si Kabayan pun muncul. Tak ketinggalan, Gerdi W.K. juga ikut menghidupkan kembali Si Kabayan (1999).

Memasuki era tahun 2000-an, buku-buku mengenai SK pun tetap bermunculan. Bisa disebutkan, Si Kabayan-Cerita dari Sunda (2000) karya Citra, Kabayan Bikin Ulah (2002) dan Si Kabayan Jadi Sufi (2003) susunan Yus R. Ismail, serta Si Kabayan (2004) karangan Mulyani S. Yeni. Kemudian, Si Kabayan Digugat (2004) karya Yuliadi Soekardi & U Usyahuddin, Si Kabayan Nongol di Zaman Jepang (2005) susunan Achdiat K. Mihardja, dan, yang terakhir, Si Kabayan Jadi Wartawan (2005) karya Muhtar Ibn Thalab.

Pendapat Mengenai Si Kabayan
Berdasarkan catatan Sutaarga (1965), ada beberapa pendapat atau penelitian yang telah dilakukan baik oleh kaum kolonialis maupun pribumi terkait dengan Si Kabayan. Pertama, tentu saja yang dilakukan oleh Ny. Maria Coster Wijsman (1929) yang memperbandingkan keberadaan SK dengan siklus tokoh cerita rakyat Eropa, Tijl Uilenspiegel.

Wijsman mengartikan Kabayan sebagai semacam pamong desa yang bertugas menyampaikan berita. Istilah tersebut masih dipakai di daerah Jawa dan Tanganan Pangringsingan. Ia juga menghubungkan istilah tersebut dengan orang yang biasa memimpin acara kenduri dalam tokoh-tokoh cerita Melayu.

Sementara itu Prof. Berg meneliti arti kabayan dari sisi etimologinya. Menurut Berg, kata kabayan berasal dari bahasa Sanskerta, bhaya yang artinya takut. Hal ini sesuai dengan gambaran Kabayan versi Tanganan Pangrisingan yang harus memiliki sifat “magis”. Kedua, istilah kabayan diambil dari kata dasar bay yang berarti wanita. Hal mana sesuai dengan nama Ken Bayan dalam cerita-cerita Panji.

Rassers (1941) menilai, SK adalah tokoh ambivalen. Selain sebagai penghubung dan pewarta dari Sang Pencipta Semesta, ia juga dinilai sebagai tokoh yang mewakili totalitas dan kekuatan masyarakat yang bersifat membangun tetapi juga meghambat. Ya, di dalam dirinya sifat ketuhanan dan demonis mewujud menjadi satu. Oleh karena itu, Rassers menganggap SK sebagai pahlawan budaya sekaligus tukang tipu.

Kemudian Held (1951), yang memperbandingkan SK dengan panakawan dari lakon-lakon wayang Jawa khususnya dari segi fungsi lelucon-leluconnya.

Dari tanah air, Utuy T. Sontani (1920-1979) ikut meneliti Si Kabayan. Pengarang ini pada tahun 1957 mengungkapkan bahwa SK merupakan “manusa anu geus teu nanaon ku nanaon”. Maksudnya, SK telah menjelma menjadi manusia yang terlepas dari beragam rasa yang bisa mempengaruhi manusia. Artinya, ia telah menjadi ubermensch, istilah Nietzsche. Walaupun begitu, dalam naskah dramanya Utuy menggambarkan SK sebagai dukun yang dianggap sakti, padahal ia hanya mempermainkan pasien-pasiennya.

Sementara itu, Ajip Rosidi (1964) berpendapat bahwa di balik kisah SK terkandung maksud tertentu. Menurut Ajip, SK bukanlah orang yang bodoh, sebab banyak cerita-cerita SK yang sering mempermainkan mertuanya serta kiai. Kiai tersebut bisa jadi personifikasi ulama, sedangkan SK merupakan personifikasi orang Sunda. Dan Islam masuk ke Tatar Sunda setelah runtuhnya kerajaan Sunda. Ya, dengan demikian sastrawan Sunda yang menciptakan cerita SK sebenarnya sedang menyampaikan kritik melalui jalan yang halus berupa lelucon.

Dalam seminar yang bertajuk “Seks, Teks, Konteks: Tubuh dan Seksualitas dalam Wacana Lokal dan Global” (23-24 April 2004) lewat makalahnya yang berjudul “Si Kabayan: Cawokah atau Jorang?”, Ayatrohaedi menitikberatkan perhatiannya pada cerita-cerita SK yang berbau seks.

Bisa dimengerti, Ayatrohaedi mendasarkan tulisannya pada buku Maria-Coster Wijsman, Tijl Uilenspiegel verhalen in Indonesie in het Bizonder in de Soendalande yang memang banyak memuat kisah-kisah SK yang berbau seks.

Menurut Ayat, “dari sekitar 80 kisah Si Kabayan yang dijadikan bahan disertasi Coster-Wijsman, terdapat 24 kisah yang berkenaan dengan seks. Kisah-kisah itu mengandung kata-kata “tabu”, walaupun sekali lagi ternyata tidak menimbulkan kesan erotis. Jika dikaitkan dengan teks dan konteks, akan dengan mudah dipahami mengapa hal itu terjadi.”

Sementara Jakob Sumardjo (2003) menilai SK dari aspek primordialisme orang Sunda. Ia menilai bahwa “Si Kabayan berwatak paradoks, pintar, dan bodoh sekaligus. Ia pintar kalau kepentingannya sendiri terganggu, tetapi ia bodoh kalau sedang dikuasai oleh nafsu-nafsunya. Ini menunjukkan kewajaran orang Sunda untuk mentertawakan dirinya sendiri, kelemahan diri, dan kelemahan manusia umumnya.”

“Di orang Sunda berkumpul,” kata Jakob, “di situ ada tertawa. Rupanya humor berhubungan juga dengan masalah ‘dalam’. Sasaran humor adalah mereka yang sudah dimasukkan sebagai bagian dari lingkungan sendiri.”

Sedangkan Bambang Q Anees (2002) berpendapat bahwa SK merupakan tokoh fiksi yang diciptakan sebagai penghibur atawa kurir filosofi hidup orang Sunda. SK sebagai kurir berfungsi sebagai metafor: menyampaikan sekaligus mereduksi pesan.

Kemudian menurut Bambang, “ketawalah yang menjadi inti dari sosok Si Kabayan.” Kemudian ia pun mempertautkan SK dengan konsep pencerahan ala Tao. Dari sisi ini, “tertawa” dimaknai sebagai “penemuan kepahaman akan suatu lelucon secara begitu cepat. Pada saat itu kita seperti menemukan rantai kebenaran yang selama ini terlepas.” Nah, pada titik inilah, menurut Bambang, “Kabayan memainkan dirinya sebagai pemancing ketawa demi pencerahan tertentu.”

Apa pun gambaran dan pendapat orang mengenai sosok SK, cerita-ceritanya mencerminkan khazanah kebudayaan Sunda yang memang kaya warna.***

ATEP K
penulis

SANG HYANG TUNGGAL

Masyarakat Galuh Agung (Nusantara) penganut ajaran Sunda meyakini bahwa segala mahluk berawal dan berasal dari “ketiadaan” yang secara mendasar merupakan inti keabadian atau kalanggengan yang bersifat ketunggalan dan kemanunggalan. Berasal dari satu dan menjadi pemersatu atas segala ciptaan atau “keberadaan”, maka seluruh manusia beserta mahluk lainnya adalah saudara (sa-UDARA/se-UDARA).

Sebutan “Tuhan” bagi bangsa Galuh sama sekali bukan Allah (bhs. Arab) ataupun God (bhs. Inggris) yang dikenal oleh masyarakat modern pada saat ini, sebab istilah “Tuhan” itu berasal dari kata “Sang-TUHA-an”, kelak bangsa Indonesia mengenalnya dengan istilah TUHAN yang selalu diartikan sebagai Yang Maha Pencipta. Sebutan “tuhan” digunakan juga dalam kata TUAN (Yang Dipertuan) untuk menghormati seseorang yang dituakan.

- TUHA atau TUA ataupun TUAN artinya sama dengan “Sesepuh”. Dengan demikian yang dimaksud dengan istilah “Tuhan” oleh bangsa Indonesia pada saat ini adalah para sepuh (pini-sepuh) atau “yang disepuhkan” (sosok yang dihormati), dalam bahasa rakyat Jawa Barat sering disebut sebagai “kokolot” atau “nu dipikolot”. Semua tunduk patuh kepada seseorang yang memangku jabatan “nu dipikolot”.

Sebutan “Tuha” ataupun “Tua” kemudian digunakan juga oleh berbagai bangsa di seluruh dunia dengan cara penyebutan dan penulisan yang sesuai dengan pola serta gaya bahasa masing-masing bangsa. Perbedaan waktu, tempat dan gaya bicara tentu mengakibatkan terjadinya perobahan dalam pengucapan atau terjadi proses evolusi kata serta pemaknaannya.

- “Tuha / Tua / Tuan” di bagian Bumi Timur disebut : To (Jepang dan Tahiti), Thi, Thian dan Tao (China), The (India), Tau (Arab dan Timur Tengah). Di Bumi bagian Barat disebut : Teo, Thei (Theis).

Masyarakat Mesir Kuno melambangkannya dengan bentuk “T” yang artinya To atau Te atau Teo (Tua / Tuha).

Tidak diketahui sejak kapan Bangsa Galuh mengenal kata “Tuha/Tua”, namun diduga istilah tersebut sudah ada semenjak pulo Jawa masih bersatu dengan pulo Sumatra yaitu ditandai dengan adanya gunung Kara Ka Tuha yang artinya “Petunjuk bagi para Leluhur atau Kokolot atau Sesepuh” gunung tersebut sekarang dikenal sebagai “Krakatau”. Selain itu di Jawa Barat (Bandung Selatan) masih terdapat pegunungan Pa Tuha yang artinya “Tempat para Kokolot atau Sesepuh”.

Persoalan tentang Sang Maha Pencipta dalam landas pemikiran bangsa Galuh penganut ajaran Sunda sudah tentu “ADA”, namun mereka tidak berani memberikan “nama” sehingga mereka menyebutnya dengan ungkapan “Anu Maha Kawasa” (Yang Maha Kuasa). Kenapa demikian…? mari kita pahami bersama agar tidak terjadi salah pengertian yang pada akhirnya menjadi tuduhan bahwa agama Sunda adalah penyembah Batu dan Matahari atau pun atheis.

Segala yang “ada” berasal dari “ketiadaan” dan kelak akan kembali kepada “ketiadaan”, di dunia ini tidak satupun yang tidak datang dari ‘sana’. Ketiadaan-lah yang merajai segala yang “ada”, dari datang dan kembalinya. Oleh sebab itu, Yang Maha Abadi lagi Maha Sempurna hanyalah “Ketiadaan”.
Segala yang “ada” akan terkena hukum “perobahan dan perbedaan” dengan segala kekurangannya. Terjebak dalam hukum ruang dan waktu (“keberadaan”) adalah tanda “kelemahan”. Maka Yang Maha Tiada tidak selayaknya “ada” di dalam “keberadaan”.

Tidak satupun manusia yang dapat menciptakan “ketiadaan” bahkan membayangkannya-pun mustahil. “Ketiadaan” adalah segala atas segala yang tidak terdefinisikan oleh kecerdasan otak manusia.
Apakah “ketiadaan itu ?” ialah segala atas segala yang mustahil untuk dibayangkan dan tidak mungkin untuk diciptakan walaupun itu hanya dalam citra (imajinasi).

Oleh sebab itu;
Jika Yang Maha Tiada dapat berbicara kepada manusia, itulah kebohongan yang paling besar.
Jika Yang Maha Tiada memiliki amarah seperti manusia, itulah tipuan yang dapat menyesatkan manusia menuju jaman biadab.

Segala pujian hanya bagi yang “ada” di dalam “keberadaan” dan bukan bagi Yang Maha Tiada, dan jika pujian itu ditujukan kepada Yang Maha Tiada maka itu semua hanya omong kosong yang akan ditelan oleh ketiadaan itu sendiri (nihil).

Yang Maha Tiada adalah Maha Suci yang tidak terikat oleh segala hukum; dzat – sifat – nama maupun bentuk. Yang Maha Tiada tidak pernah tersentuh oleh segala kecerdasan pemikiran manusia yang kerdil dan terbatas oleh ruang “keberadaan”. Tidak ada satu mahlukpun yang dapat mendefinisikan-Nya, maka rahasia terbesar bagi segala “keberadaan” adalah “ketiadaan” itu sendiri dan hingga saat ini belum ada satu orangpun yang dapat menjumpai Yang Maha Tiada dalam “ketiadaan-Nya”…. kecuali “pembohong”.
Bangsa Galuh penganut ajaran Sunda mengistilahkan “ketiadaan” itu sebagai Suwung, demikian mereka menyebutkan “yang maha tidak ada” atau ketiadaan yang absolut (*dalam istilah Arabnya disebut “Yang Maha Gaib”).

Bila kita mempertanyakan hal tersebut di atas kepada para pini-sepuh umumnya mereka menjawab; “…aing oge teu nyaho… jug we teang jeung tanyakeun ku sia ka jelema anu geus pernah panggih jeung nu suwung…” (artinya, …saya juga tidak tahu… silahkan cari dan tanyakan oleh mu kepada orang yang pernah bertemu dengan ketiadaan…).

Bagi orang-orang yang merasa penasaran untuk mencari Allah / God ada sebuah pepatah yang cukup bijaksana yaitu: “…teang tapak heulang di awang-awang… teang tapak meri dina leuwi… jeung teang tapak sireum dina batu…” (artinya, …carilah jejak elang di angkasa… carilah jejak itik di sungai… dan carilah jejak semut di batu…).

Agama Sunda tidak mengajarkan untuk berbakti dan mengabdi kepada “ketiadaan”. Kenapa demikian…?, manusia sebagai sosok yang “ada” tidak semata-mata dihadirkan dari “ketiadaan” jika bukan untuk berbakti dan mengabdikan diri kepada segala yang “ada”, tanpa tugas itu maka sia-sialah seorang manusia didatangkan ke muka Bumi.

Karena prinsip “penciptaan” seperti tersebut di atas maka yang selayaknya disembah bukanlah “ketiadaan” yang telah menciptakan dirinya menjadi “ada” melainkan segala sesuatu yang telah menjadikan dirinya hidup mengabdi dan berbakti kepada segala kehidupan. Oleh sebab itu, segala yang “hidup” harus dicintai dan dihormati dengan setinggi-tingginya agar tercipta dan terlaksana sebuah “kemanunggalan hidup” di dalam kehidupan dan itulah yang disebut sebagai Sang Hyang Tunggal.

“Adakah tugas hidup manusia yang lebih utama selain membangun kehidupan dalam kebersamaan yang berlandaskan welas-asih…?” Jika ada, maka ia telah menyembah sesuatu yang ada di luar dirinya dan tersesatlah ia sejauh-jauhnya.

Menyembah adalah “tunduk dan hormat” yang maknanya setara dengan “saling menghormati dan menghargai” dalam posisi dan tugasnya masing-masing sebagai utusan yang dihadirkan oleh Yang Maha Kuasa.

Pohon akan dan harus menjadi pohon yang sebenar-benarnya.
Bunga akan dan harus menjadi bunga yang sebenar-benarnya.
Burung akan dan harus menjadi burung yang sebenar-benarnya.
Harimau akan dan harus menjadi Harimau yang sebenar-benarnya.

Matahari harus menjadi Matahari dan Bulan harus menjadi Bulan.
Angkasa, Udara, Angin, Api, Air, dan Tanah akan dan harus menjalankan fungsi dan tugas dengan sebaik-baiknya… semua saling menghormati dan menghargai sesuai dengan aturannya masing-masing.

Manusia Galuh penganut ajaran Sunda sangat menyadari dan menghayati “keberadaan” alam semesta beserta segala fungsi dan gunanya, dan itu semua tidak terlepas dari kesadaran diri tentang tata-cara berkehidupan yang saling memberi dan menerima sebagai sebuah sistem daya hidup yang terpadu (manunggal). Maka dari itu “menghormati” alam dengan segala kekuatannya (tugas dan fungsi) adalah bagian dari cara berkehidupan bangsa Galuh Agung yang biasanya diungkapkan melalui pujian kepada masing-masing ‘penguasa’ (kekuatan dalam fungsi dan tugas).

Secara langsung ataupun tidak, ajaran tersebut sangat menentukan sikap masyarakat Galuh terhadap hidup berbangsa dan bernegara, bahwa mereka begitu menghormati dan menghargai segala sistem dan sub-sistem yang menunjang pembentukan kualitas hidup di jagat kehidupan.

Kaula lain nyembah ka Beusi tapi muja ka Rasi
Kaula lain nyembah ka Batu tapi muja ka Ratu
Kaula lain nyembah ka Dewa tapi muja ka Rama
Kaula lain beunang ku hayang lain kudu ku embung… tapi kitu anu sakuduna hirup di nagara (di dunya).

(artinya)
Saya bukan menyembah Besi tetapi memuja Rasi (Datu)
Saya bukan menyembah Batu tetapi memuja Ratu (Maharaja)
Saya bukan menyembah Dewa tetapi memuja Rama
Saya bukan terkena oleh keinginan ataupun ketidak-inginan…tapi begitulah seharusnya hidup di negara (di dunia).

Hidup dalam kemanunggalan (kesatuan dalam kebersamaan) saling menghormati dan menghargai dalam sebuah keberaturan yang harmonis adalah idaman (dicita-citakan) bagi segala manusia dan mahluk hidup lainnya, itulah makna hakiki dari Sembah-Hyang (Seba Hyang atau sembahyang), maksud dan tujuannya tidak lain demi mengabdikan dan membaktikan diri terhadap “kemanunggalan dalam semesta kehidupan” (Sang Hyang Tunggal).

Hung,,, Ahuuung !

Cag.

Rahayu

Published in: on 30 Mei 2012 at 1:58 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Clue Sajarah SUNDA

Sampurasun,,,

Hana nguni hana mangke
Tan hana nguni tan hana mangke

Aya baheula, aya ayeuna
Moal aya ayeuna mun euweuh baheula

mugia ieu anu jadi ugeuran tur udagan para Ki Sunda pribadi anu teu poho kana PURWADAKSI-na anu nganyahokeun Sajarah SUNDA BIHARI, SUNDA KAMARI jeung SUNDA KIWARI.

ngajadikeun hirup lalakon lampah dina pahirupan anu diwangun ku olahan dasar élmu dina tuturan adat jeung budaya tuturunan, karuhun anu buhun, pikeun panataran tur panuturan ules watek jeung paripolahna anu ngagambarkeun salaku manusa Sunda sangkan mampu nyumponan: kabutuh alam jiwa, kabutuhan alam pikir, jeung kabutuh alam waruga, sangkan dina nata rasa jeung niti diri, aya kadali atawa elésan, teu mangprung ngaberung sakama-kama, sakarep ingsun. Aturan Hirup di alam panyorangan. Kudu pengkuh kana aturan dina “tata, titi, duduga, kalih peryoga dina panalar panaluntikan Sajarah Sunda,,,

Tata (aturan léngkah) = tatapakan laku anu kudu napak kana ugeran aturan talari paranti sangkan teu ngarempak aturan, teu “pamali” (hasil kalakuan anu sok jadi mamala goréng).
Titi (tahapan léngkah) = titincakan laku anu nincak kana paniatan anu surti jeung nastiti.
Duduga (sawangan) = rupaning anu rék dilakonan tinangtu kudu disawang heula saméméh disorang, sangkan hasilna caina hérang laukna beunang, anu karasa pikeun kasalametan. (Wiwaha Yuda na Raga).
Peryoga = ukuran kamampuh pikeun ngajurung laku dina hiji tujuan (kasanggupan anu diukur ku kamampuh).

(*puraga djati)

Saperti Ngolah jiwa, keur ngalelemu RASAna, bisa di geteran ku cara ngageterkeun sora-sora alam (Rahyang Sora Pagendingan) anu mangrupa alat alat seni Buhun (tradisi). Anu ngumandangna dina geteran galura jeung daya geterna. numawi

keur udagan carita Sajarah Sunda-na bisa nganyahokeun kana Sajarah Sunda anu sabenerna tur sampurna sagemblengna, SAE(nya)na mah kudu cacap heula naluntik sakabeh naskah jeung wawasan anu ngeunaan Kasajarahan Sunda, boh anu kuno kitu deui anu “anyar” (kamari), nengetkeun anu geus guar jeung anu acan kaguar, neang anu geus kapanggih jeung anu acan kapanggih, sabab teu cicing di hiji tempat atawa wawangunan, teu dihiji jelema, jeung lain dihiji pakumpulan.

ieu kabeh kudu dikanyahokeun ku cara ngaLAKU, nindak dina neangan kabeh eta pangarti bari ulah poho jeung mopohokeun tugas urang salaku anu HIRUP (cul dogdog tinggal igel), yen aya anu ngagantungkeun HIRUPna ka diri urang, nyatana kolot, anak jeung pamajikan. Sabab, tibatan beak nganyahokeun ieu sajarah ngadon kaburu beak umur (paeh) manten, anu antukna tugas anu sakuduna muser kana LAKU diri anu eling (SADAR) poe ieu, jam ieu, detik ieu jadi mangprung teu kapigawe, diajar sajarahna oge teu hatam kabeh da kaburu paeh, hirup teu guna sabab elmu udaganna teu manfaat pikeun diri jeung balarea. Sajarah Sunda anu BIHARI jeung KAMARI anu sakuduna ngaJADIkeun kahadean pikeun KIWARI jadi teu kaCIRI kusabab teu ngaBUKTI dina BAKTI.

sanajan kitu, tina sawatara naskah jeung wawasan anu jumlahna ngan saeutik tapi geus kaguar ku para ahli sajarah, supaya teu mangprung teuing tina sakitu oge geus bisa katangeun yen sajarah sunda teh ngawengku sakabeh widang kahirupan manusa umumna, cindekna kahirupan manusa urang sunda, tegesna ngawengku wiwidangan:

- Evolusi Bumi / jagat dunya ieu (planet bumi)
- Manusa Sunda
- Kayakinan/ageman/ajaran Sunda
- Budaya jeung per-adab-an (civilization) Sunda
- Pakumbuhan (ka-masyarakat-an) Sunda
- kaNAGARAan Sunda
- kaRATUan (kaRAJAan) sunda.
jjrd.

Galur Sajarah Sunda jeroning proses kaMEKARannana, guluyurna saperti dihandap ieu :

A. mangsa PURWANING SUNDA BIHARI

Dina panalar Sunda Buhun kieu,
Gelarna SUNDA katut sagalaning kaSUNDAannana, mimitina ti jaman BATARA CIKAL nungancik di “Mandala ParaHyang” (dilebah Kanekes atawa “Baduy Kiwari”).
anu disebut Mandala ParaHyang teh nyaeta “Mandala Kahiyangan” (=mandala gaib) anu tetep ngadeg aya nepi ka kiwari, tapi henteu bisa katenjo ku panon manusa biasa.
tah kitu basaNa,,
lamun diitung make ukuran kalamangsa PURWAYUGA sunda bihari timimiti gelarna didunya manusa purba “Lutung-Kasarung”. mimitina Sajarah Sunda teh kira-kira kurang luwih 1-2 juta taun baheula.

B. mangsa PURWAYUGA SUNDA BIHARI

Dina mangsa ieu, sajarah sunda mekar maju kalawan nete nincak rupa rupaning hambalan mekar pertuwuhan jeroning Purwayuga Sunda Bihari. wujud manusa lutung atawa “manusa monyet” (lutung kasarung) lambat laun robah salin rupa jadi Manusa Budaya (Homo-Sapiens).
Budayana oge ningkat maju tina tahapan kabudayaan paleo kultur, awalpaleolitik, kana kabudayaan neo-kultur, awal neo litik, nya akhirna cat mancat kana mangsa “Parahiyangan Perbangkara”.

C. mangsa PARAHIYANGAN PERBANGKARA

Mangsa ieu teh mimiti ngadegna “ka-MAHARAJA-RESI-an” atawa “ka-MAHAPRABU-RESI-an” anu ngawengku kawasan Parahiyangan Purbakala (purbangkara = purba-kala), nyeta anu sok katelah “Galunggung = Galuh Hyang Agung”
dina mitologi Sunda dongeng legenda “Dayang Sumbi jeung Sangkuriang” disebutkeun yen Maharaja-Resi Parahiyangan mangsa harita teh ngaranna “RATU SUNGGING PERBANGKARA”. lamun diitung kusangkala Geologi mah, ngadegna dina mangsa 50.000 taun baheula.

“Kabudayaan Sunda” jaman harita geus nincak kana tahapan Neo-kultur, Neolitik, kalawan geus munggah kana kabudayaan Gopara (parunggu) dina jaman Pra-Sejarah.


D. mangsa PARAHIYANGAN SANGKURIANG

Mangsa dina sesebutan ieu, ngadegna dina mangsa sasakala gelarna Talaga Bandung, nyaeta anu sok katelah “Sumur Bandung” atawa “Leuwi Sipatahunan”.
Ari Talaga Bandung ngajadina “dijadikeun” ku Sangkuriang kira-kira 10.000 taun baheula, nyaeta mangsa “SANGKURIANG” nyieun bendungan di wahangan Citarum nepi ka caina kapendet ku bendungan, nya tuluy ngeuyeumbeung jadi talaga. Eta anu dicaritakeun dina dongeng legenda “Dayang Sumbi jeung Sangkuriang”.

E. mangsa SUMUR BANDUNG

nincak kana tata-paKUWU-an (karajaan -karajaan leutik)
a. Sindulang, Alengka, Kendan, Cangkuang (Leles)
sisi Talaga belah Wetan
b. Malabar, Puntang,,,, jst
sisi Talaga belah Kidul
c. Rajamandala,,,, jst
sisi Talaga belah Kulon
d. Karatuan-Karatuan Sunda palebah Padalarang, Dago, Manglayang,,,, jst
sisi Talaga belah Kaler

F. jaman DWIPANTARA

Urang Sunda anu asalna mangrupakeun bangsa daratan atawa pa-GUNUNG-an, geus mimiti
mekar jadi bangsa maritim atawa palayaran laut.

Jawa Dwipa, nu ngawngku pulo Jawa (“NUSA KENDENG”)
Suwaruna Dwipa, nu ngawngku pulo Sumatra jeung Tanjung Malaka (MALAYA).
Waruna Dwipa, nu ngawngku pulo Kalimantan, Sulawesi, Melenesia, Polenesia jeung pulo-pulo sarta basisir Asia Tenggara.
Simhala Dwipa, nu ngawngku basisir Australia, pulo Madagaskar (Malagasia), basisir Afrika, Sudan jeung India.

G. jaman Galunggung

Jaman Galunggung ngadegna dina mangsa “ka-MAHAPRABU-RESI-an” Galunggung atawa GALUH HYANG GUNG anu ngawengku ka-PRABURESI-an jeung karajaan saperti:

- CUPU (Cupunagara) anu taya lian ngaran rusiah tina GALUH PUNTA NAGARA. Ngatan liana nyaeta PUNTA HYANG atawa disingket PUNTANG
- Karesian KENDAN di Nagreg Kiwari
- Karajaan SINDULANG (Sindula Hyang) anu disebut ku urang Taruma mah Karajaan ALENGKA (kiwari=CICALENGKA)
- Karajaan MALABAR,sekeseler Dinasti TARUMA
- Karesian TANJUNG KIDUL (Garut Kidul?)
- Karajaan AGRABINTA
- Karajaan INDRAPRAHASTA
jeung saterusna ngabawah karajaan-karajaan kalawan Karesian-Karesian.

Jembar ngadegna jaman Galunggung diwilayah JAWADWIPA hususna, diwilayah DWIPANTARA umumna, perkiraan candrasangkalana geus aya sakurang-kurangna dua rebu taun kaliwat. Daulatna pisan ngadeg dina jaman SUNDASeMBAWA anu mimiti dipimpin ku anu mawa misi ajaran SUNDAYANA.

H. jaman SALAKANAGARA nepi ka TARUMANAGARA

Dina medar tur ngaguar harti anu misti ku mustari, pikeun ajén-inajén kamanusaan, numutkeun anu kapibanda jeung anu dipiwanda, dina kapribadian Manusa Sunda anu disebut “Talari Paranti”. Hamo kudu landung ku catur, hamo kudu panjang ku panalar, dina lumaku-na, ngadadaran ku carita, pibahaneun ngudag élmu, ning rasa kasampuraan, jeung , ning rasa ka- sampurnaan geusan diri, dina hiji ajén anu tangtu, nyatana Ngolah Diri (RaGaNa) pasti dina BENERna ngolah NaGaRa-na.

Bagja Rahayu Ki Sunda

Hung Ahung _/\_
Cag.

Rampes,,,,

Published in: on 17 Mei 2012 at 4:08 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

keSADARan Universal

lalakon anu baris ngarobah HIRUP jeung kaHIRUPan

Video

Published in: on 1 Mei 2012 at 8:33 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Dialog tentang Meditasi Hari ke-2

”diri”

Siapakah yang disebut diri itu?
Dalam Kristen ada yang disebut jiwa, dalam Buddha tidak ada entitas yang disebut diri (anatta), dalam Hindu ada atman.

Mari kita menyelami apa yang disebut diri itu tanpa latar- belakang teori manapun, entah Kristen, Hindu, atau Buddha atau yang lain. Lihatlah mobil di jalan raya. Apa yang disebut mobil itu? Apakah rodanya, setirnya, tempat duduknya, mesinnya? Bukankah mobil itu adalah semua itu? Bukankah mobil itu tidak lain sekedar nama dari kumpulan semua unsur-unsur itu, sehingga sebenarnya mobil itu sendiri secara ontologis tidak ada? Begitu pula dengan apa yang disebut diri individual. Tidak ada diri tanpa kesadaran dengan seluruh isinya yang adalah ingatan, pikiran, perasaan, keinginan, kehendak, dst. Kalau Anda berpikir, Anda ada; kalau Anda tidak berpikir Anda tidak ada.

Diri-individual secara ontologis sebenarnya tidak ada. Ketika orang merasa memiliki entitas yang disebut diri-individual, maka rasa-diri itu sesung- guhnya merupakan ilusi yang diciptakan oleh pikiran. Ketika pikiran tidak ada, rasa-diri itupun tidak ada. Bisakah Anda mengalami langsung kebenaran itu, bukan memahami sebagai teori?

”indra”

Kita memiliki enam indra: penglihatan, pendengaran, pencecapan, pembauan, perabaan dan kesadaran- pikiran. Saat saya duduk, keenam indra ini serentak terbuka dan seolah saya melihat TV dengan 6 program berbeda yang nyata. Bukankah diri dengan keenam indra ini begitu nyata?


Dalam kesadaran sehari-hari kebanyakan orang, inilah yang terjadi: ada si aku yang melihat, si aku yang mendengar, si aku yang mencecap, si aku yang membaui, si aku yang meraba, si aku yang berpikir. Selama masih ada si aku dalam melihat, mendengar, mencecap, dst, maka di situ ada penderitaan. Yang kita lihat sebenarnya bukan satu TV dengan 6 program yang berbeda, tetapi 6 TV dengan satu program yang sama. Program itu adalah diri/ego/pikiran.

Selama ada si aku dalam melihat, mendengar, dst, maka kita terprogram untuk menderita. Diri ini seperti mesin atau robot, bertindak mekanis. Kita menderita kalau tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, kita merasa merasa bahagia kalau mendapatkan apa yang kita inginkan. Apakah ada kebahagiaan yang muncul dari keinginan? Keinginan adalah akar dari penderitaan. Maka kebahagiaan yang bersumber dari keinginan adalah juga penderitaan.

Proses-proses diri yang adalah program penderitaan ini perlu kita pahami. Tidak cukup kita mengubah isi program, dari program yang jelek ke program yang baik. Dengan mengubah isi program, kita hanya mengganti keterkondisian yang lain dan kita tidak keluar dari program yang sama yang adalah diri/ego/pikiran itu sendiri. Di sini tidak diperlukan daya-upaya untuk mengubah program atau memperbaiki isi program. Yang kita lakukan hanyalah sadar dari saat ke saat dan setiap kali membiarkan program ini berakhir. Kalau diri ini berakhir, maka kita tahu diri ini ternyata hanya ilusi.

Kita tidak pernah tahu apa sesungguhnya diri itu sebelum kita mengalami berakhirnya diri meskipun hanya sekian detik. Kalau Anda tidur terus dan tidak pernah bangun, Anda tidak tahu apa artinya tidur. Tapi begitu bangun, Anda tahu apa artinya tidur. Batin yang tidur tidak melihat yang nyata itu sebagai yang tidak- nyata, tidak melihat kebahagiaan dari keinginan sebagai penderitaan. Maka batin perlu bangun untuk bisa melihat segala sesuatu sebagai apa adanya.

”mengubah realitas di luar diri”

Ada banyak masalah di lingkungan kerja dan keluarga. Saya sering merasa terganggu karenanya. Bagaimana saya bisa mengubah keadaan yang menurut saya salah, tidak ideal dan harus diubah?


Anda tidak akan bisa membuat perubahan mendasar di lingkungan kerja dan keluarga Anda sebelum Anda sendiri berubah secara mendasar. Kalau Anda berubah, Anda akan tahu bagaimana Anda bertindak benar untuk mengubah lingkungan Anda. Maka pertama-tama pahamilah siapa diri Anda, siapa diri Anda yang terganggu oleh masalah-masalah itu? Sungguhkah masalah-masalah itu mengganggu Anda atau reaksi batin Anda atas masalah-masalah itulah yang membuat Anda menderita? Sadarilah reaksi-reaksi batin Anda setiap kali masalah-masalah muncul dalam kesadaran Anda. Kalau Anda memahami dan merespons masalah-masalah Anda tanpa reaksi-reaksi batin, yang adalah kelekatan-kelekatan Anda pada ide, impian, harapan, ketakutan Anda, maka Anda bebas. Masalah-masalah itu tetap ada tetapi tidak lagi mengganggu Anda. Dalam kebebasan seperti ini, muncul tindakan benar tentang apa yang mutlak dilakukan. Masalah-masalah teknis-praktis musti diselesaikan juga secara teknis-praktis. Tetapi cara merespons terhadap masalahnya sekarang berbeda. Anda menyelesaikan masalah-masalah teknis- praktis itu tanpa beban batin, tanpa rasa takut, tanpa ambisi, tanpa kemarahan yang tidak perlu.

“masalah di luar dan di dalam”

Saya belakangan ini senang dengan meditasi, retret, dan kegiatan-kegiatan sosial padahal saya sendiri memiliki banyak masalah di luar yang perlu dipecahkan. Selain itu anak dan istri juga memiliki masalah dan perlu dibantu untuk berubah. Dengan retret dan meditasi saya bisa menolong diri saya, tapi saya merasa tidak bisa menolong istri dan anak saya. Apakah saya egois?


Apa yang ada di luar sesungguhnya tidak berbeda dari apa yang ada di dalam. Persoalan anak, istri dan masalah-masalah di luar adalah juga masalah Anda. Batin anak dan istri mirip dengan batin Anda. Maka kalau Anda ingin membantu anak dan istri berubah, pertama-tama pahamilah batin Anda lebih dulu. Pahamilah diri Anda dalam relasi-relasi dengan mereka dan persoalan-persoalan lain. Kalau Anda memahami batin Anda, maka Anda akan mampu memahami batin anak dan istri Anda.

Apa yang Anda lakukan dengan retret dan meditasi bukanlah tindakan untuk mementingkan diri sendiri (egois). Anda adalah anak dan istri Anda. Anda adalah pekerjaan-pekerjaan Anda. Anda adalah masalah-masalah yang ingin Anda pecahkan. Bukankah meditasi membantu Anda mengenal dan memahami lebih baik siapa diri Anda dalam relasi-relasi dengan itu semua? Jadi meditasi tidak menjauhkan Anda dari persoalan-persoalan di luar Anda dan tidak membuat Anda sibuk dengan urusan kepentingan diri, kesenangan diri atau kepuasan diri. Justru sebaliknya, meditasi membantu Anda untuk memahami masalahnya. Tidak ada masalah di luar atau di dalam, masalah mereka atau masalahku. Yang ada hanya masalah. Dengan memahami masalahnya secara benar, Anda keluar dari penjara masalah. Kejernihan melihat masalah ini membuat Anda berelasi benar dengan anak dan istri, mampu membantu mereka mereka berubah dengan memahami diri mereka sendiri. Jadilah cermin. Kalau batin Anda jernih, maka anak dan istri Anda barangkali akan terbantu melihat batin mereka sendiri lewat cermin batin Anda. Kejernihan melihat masalah juga membuat Anda bertindak benar, tidak takut mengatakan apa yang salah sebagai salah, yang benar sebagai benar.

“sukacita”

Saya tiba-tiba merasa bahagia, berbunga-bunga. Meskipun tidak mengenal satu-dengan yang lain, rasanya merasa dekat dan bahagia. Rasanya dekat dengan alam semesta di sekitar ini. Saya terdorong untuk tersenyum terus. Saya tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya. Apakah ini halusinasi?

Ada sukacita dengan sebab tertentu, ada sukacita tanpa sebab. Sukacita dengan sebab misalnya kita bahagia mendapatkan apa yang kita inginkan atau kita mengalami suasana nyaman yang sudah lama kita rindukan secara tidak sadar. Sukacita tanpa sebab adalah rasa bahagia tanpa ada hubungan dengan faktor-faktor tertentu dari luar maupun dari dalam batin. Anda tidak perlu menganalisa apakah sukacita Anda bersebab atau tidak bersebab. Tetapi amati saja seluruh gerak perasaan sukacita itu tanpa menilai apakah ini nyata atau tipuan, halusinasi atau bukan. Perasaan sukacita seperti perasaan- perasaan yang lain muncul dan lenyap. Kalau itu muncul kembali, sadarilah tanpa menamai “itu sukacita”. Sadari pula si aku yang suka melekat pada pengalaman sukacita. Kalau muncul gerak batin yang ingin melekat, sadarilah itu saat kemuncullannya.

_/\_

Published in: on 11 Februari 2012 at 7:38 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Dialog tentang Meditasi Hari ke-1

Oleh: Romo Johanes Sudrijanta, S.J.


“pengosongan pikiran”

Apa itu meditasi?
Apakah meditasi itu adalah mengosongkan pikiran?

Apakah Anda bisa mengosongkan pikiran? Tidak bisa bukan?
Siapa atau apa sesungguhnya yang berkeinginan untuk mengosongkan pikiran? Bukankah keinginan untuk mengosongkan pikiran juga datang dari pikiran?
Bagaimana mungkin pikiran bisa dikosongkan oleh pikiran?
Jadi Anda tidak bisa mengosongkan pikiran. Melainkan setiap gerak pikiran perlu dipahami, perlu disadari, perlu diamati terus menerus dari saat ke saat.
Pikiran yang disadari terus-menerus ketika ia muncul akan berhenti dengan sendirinya, bukan dipaksa berhenti.

“pemikir dan pikiran”

Siapakah yang mengamati pikiran?
Bukankah ada “si aku” yang mengamati pikiran?

Siapakah “si aku” itu? Kalau ada kesadaran pasif, pengamatan pasif, perhatian pasif terhadap suatu objek, maka si aku tidak ada. Yang ada hanya pengamatan saja, tidak ada “si aku” yang mengamati. Kalau Anda mengamati suatu objek, kemudian pikiran/si pemikir mulai menamai, menilai, menyenangi atau membenci, maka si aku sudah menyusup dalam pengamatan Anda. Objek yang diamati dengan subjek yang mengamati tidak berbeda. Diri yang mengamati dan yang diamati tidaklah berbeda.

Cobalah amati kapan si aku itu menyusup dalam pengamatan Anda. Lihatlah kapan si aku muncul dan membuat jarak dari objek yang diamati. Ketika terjadi jarak objek-subjek, muncul dualitas, di situ konflik terlahir. Bisakah terjadi pengamatan pasif terhadap suatu objek tanpa intervensi pikiran atau si aku? Kalaupun muncul pikiran atau si aku, sadari saja geraknya sampai ia berhenti dengan sendirinya.

“konsentrasi”

Apakah meditasi itu adalah berkonsentrasi pada objek tertentu?

Kebanyakan meditasi adalah konsentratif. Artinya, memusatkan pada objek tertentu terus-menerus.
Objek itu bisa berupa nafas, objek pendengaran, rasa-perasaan tubuh, mantra, katakata suci, dst.
Apa yang sesungguhnya terjadi ketika Anda berkonsentrasi?
Anda ingin batin Anda hening. Ketika mulai duduk, pikiran Anda datang silih berganti. Lalu Anda mengambil suatu focus sebagai objek perhatian Anda terus-menerus. Pikiran-pikiran yang tadinya berdatangan sekarang tidak lagi mengganggu Anda. Tetapi dengan mengambil objek tertentu sebagai focus, bukankah Anda telah mengekslusi pikiran-pikiran lain yang datang dan Anda tidak memahaminya?

Ketika konsentrasi Anda berakhir, bukankah pikiran-pikiran itu kembali datang dan membuat Anda terganggu?
Kalau kita ingin memahami diri dalam meditasi, maka semua teknik meditasi konsentratif tidak akan banyak membantu.

“meditasi non-konsentratif”

Apa yang kita lakukan dalam meditasi non-konsentratif?

Meditasi non-kensentratif ini merupakan praktek keelingan atau kesadaran-pasif (aware-ness) atau perhatian-penuh (mind- fulness) yang ditujukan pada seluruh proses diri individual rasa- tubuh (sensations), perasaan (emotions), pikiran (thought), penalaran (reasoning), ingatan (memory), keinginan (desire), niat atau kehendak (intention), dst pada saat berbagai hal itu muncul dalam kesadaran.

Kalau ada keelingan atau kesadaran-pasif dari saat ke saat secara berkesinambungan tentang seluruh proses ego atau diri ini, maka ego atau diri berakhir. Kesadaran sehari-hari yang digerakkan oleh mekanisme pikiran dan emosi berhenti. Ketika kesadaran sehari-hari ini berhenti, muncul sesuatu yang lain yang tidak bisa ditangkap oleh kesadaran sehari-hari. Pengalaman akan sesuatu ini beragam. Ada yang disebut pemurnian (purifikasi), penerangan atau pencerahan (iluminasi atau enlightenment), unifikasi (unification), pembebasan (liberation), dst.

”bahaya meditasi”

Apakah meditasi itu memiliki bahaya misalnya batin menjadi kacau, halusinasi, kesurupan?

Pada garis besarnya, meditasi memiliki dua tujuan yang berdampak untuk memperkuat ego atau untuk memperlemah ego. Meditasi yang berdampak memperkuat ego misalnya meditasi untuk penyembuhan, untuk pertahanan diri, untuk menerawang pikiran orang lain, untuk melihat makhluk-makhluk halus, dst. Meditasi untuk mencari tujuan yang tampaknya ”innnocent” seperti ”ketenangan”, ”keheningan”, ”menyatu dengan alam semesta”, ”menyatu dengan Tuhan”, dst termasuk dalam kelompok ini.

Meditasi yang dampaknya memperkuat ego ini memiliki teknik-teknik sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Guru atau pembimbing diperlukan sebab tanpa seorang guru atau pembimbing pemeditasi bisa mengalami bahaya depresi, bingung, kacau, halusinasi, dst.

Meditasi yang dampaknya melemahkan ego tidak membutuhkan kehadiran guru atau pembimbing terus-menerus. Tidak ada teknik atau metode tertentu karena tidak ada tujuan lain yang ingin dicapai selain sadar-sepenuhnya dari saat ke saat. Meditasi ini tidak memiliki bahaya apapun kalau dilakukan secara benar.

Banyak orang tidak paham apa itu meditasi sehingga banyak yang memegang anggapan salah. Mereka pikir orang bisa kemasukan roh atau kesurupan. Pandangan salah tentang meditasi membuat orang takut. Ketakutan yang paling besar adalah menghadapi dirinya sendiri dan membiarkan diri sendiri lenyap. Sesungguhnya memahami diri sendiri dari saat ke saat secara terus-menerus dan membiarkan diri lenyap adalah pembebasan. Banyak orang ingin bebas tetapi kenyataannya tidak sungguh-sungguh mau bebas. Banyak orang ingin berubah, tetapi tidak sungguh-sungguh mau berubah. Yang dicari hanya hiburan atau sedikit kelegaan, tapi bukan pembebasan atau perubahan fundamental.

”teknik dan tujuan meditasi”

Bukankah tujuan- tujuan meditasi seperti pemurnian, pencerahan, pembebasan, kesatuan dengan Tuhan itu baik adanya? Mengapa tujuan seperti itu tidak dijadikan orientasi kesadaran dalam meditasi non- kensentrasi?

Boleh saja Anda memiliki tujuan luhur untuk mendapatkan pemurnian hati atau pencerahan jiwa misalnya. Itulah sebabnya Anda datang untuk berlatih meditasi bukan? Tetapi dalam meditasi non-konsentratif, semua itu tidak dijadikan tujuan formal kesadaran. Pemeditasi tidak merenung-renung, tidak berefleksi tentang hal-hal tersebut, tidak ingin mencapainya lewat teknik atau metode tertentu. Kalau kita mengikuti teknik atau metode, maka ada tujuan yang dikejar secara sadar. Meditasi dengan teknik untuk mengejar tujuan tertentu tidak membawa kita ke mana-mana. Ego atau diri tetap ada di situ. Kita tidak keluar dari penjara ego atau diri. Barangkali semua meditasi dengan teknik atau metode tertentu bisa membuat ego atau diri
”waras”, tetapi tidak membuatnya ”mati”. Tidak ada teknik atau metode dalam meditasi non-konsentrasi ini. Yang kita lakukan hanya eling atau sadar terus-menerus dalam waktu yang lama tentang proses-proses diri ini hingga diri ini ”pudar”, ”berakhir”
atau ”mati” dengan sendirinya.

_/\_

Published in: on 9 Februari 2012 at 5:45 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

- Siksa Kandang, Siksa Kurung & Siksa Dapur -

Nepi ka kiwari masih kénéh aya nu ngabédakeun, cara ngéjah kecap kandang dina kecap ‘siksa kandang karesian’ téh. Sawaréh aya nu dihijikeun kandang, sawaréhna deui dipisahkeun kanda ng. Nu ngéjahna dipisahkeun boga anggapan, yén kecap kandang téh asal kecapna tina kanda (Jawa kuna) nu hartina ‘bagian’ diwuwuhan ku kecap pangantét –ng. Cindekna Siksa Kanda ng Karesian téh cenah mah ‘bagian aturan nu aya di karesian’. Ana kitu mah, kadituna tangtu bakal manggih siksa-siksa nu lain, siga kanda ng kadatuan (bagian di karaton), kanda ng kahulunan (bagian di rahayat leutik) jst.

Dina téks Sunda Kuna Sanghyang Sasana Maha Guru (SSMG) bagian kadua, écés yén kecap kandang lain tina kecap kanda ng, tapi kecap kandang, nu hartina méh sarua jeung dina basa Sunda kiwari ‘kandang, kurung’. Bédana, dina basa Sunda kiwari mah kecap kandang téh leuwih heureut nyaéta tempat neundeun sasatoan. Kecap kandang, kurung, jeung dapur sakabéhna nuduhkeun hiji diménsi, hiji wengkuan. Nya siksa kandang, siksa kurung, jeung siksa dapur ieu, nu nguger masyarakat Sunda mangsa harita sangkan gugon kana tetekon.

 
Aturan anu wengkuanana pangheureutna nyaéta siksa kandang. Da ayana ogé cenah di sakuliling salira, di sabudeureun diri urang, dina lingkungan sapopoé nu pangdeukeutna jeung urang. Tegesna, siksa kandang ngatur étika antara manusa jeung papadana. Kumaha hubungan jeung tatangga, deungeun-deungeun, atawa nalika urang indit-inditan diatur dina siksa kandang. Nu jadi catetan penting pangarang dina siksa kandang mah pangpangna teu meunang ngala nu lain alaeunana, nu lain hakna. Sabab, keuna ku paribasa kolot baheula ‘hiris meubeut ceuli lamun kacang meubeut tarang’, hartina, lamun nyieun kagorengan bakal aya rambat kamaléna ka balaréa tur ka diri sorangan. Sajaba ti aturan nu ditataan di luhur, étika papakéan nu merenah atawa étika nalika paamprok jeung nu lian diatur deuih dina siksa kandang téh.

Demi siksa kurung wengkuanana leuwih jembar deui, nyaéta saréngkak saparipolah jeung ahli agama (pandita). Sabab sagala rupa aturan kapan geus dipasinikeun ti bihari, ngaliwatan téks téks dina kitab suci. Saupama manusa geus paham kana eusining éta kitab-kitab téa, hartina éta manusa téh kudu nyaho kana sipat, guratan, watesan, katut jawaban tina laku lampah kahirupanana sorangan. Ana geus kitu mah, éta manusa geus hasil enggoning napak lacak tapak Déwa Brahma jeung Wisnu.
Undak deui ti dinya aya siksa dapur. Siksa dapur mah hakékat tina sagala ajaran-ajaran saméméhna. Mangrupa aci-aciningna manusa nu geus bisa meuseuh kahirupan profanna, nujul kana kahirupana nu transenden, ku baktina nu satia ka guruna, sang pandita.

 
Bagian ka-2 –

Siksa Kandang, Siksa Kurung, Siksa Dapur

 
EUSI
Ini siksa ka(n)dang ngaranya, siksa kurung, siksa dapur. Kalinganya: na siksa kandang ma ngara(n)na, sakuliling sarira. Jeujeueung ma na halwaan, halwaan si panghawanan, na ni(ng) panglu(ng)guhan, iña éta na ingetkeuneun deung urang. Maka iyatna-yatna! Sugan urang asup tepas, asup dalem, hanteu ngeunah lamun hanteu dayeuhanana. Ya siksa kandang ngara(n)na.
Masa urang paparan, hanteu ngeunah palar cidera ku pangeusi huma sakalih, ku pangeusi kebwan sakalih. Mangka nguni hiris meubeut ceuli, lamun kacang meubeut tarang, ngala tu(n)da ngala ka(n)tenan, nurunkeun sadapan sakalih. Hanteu ngeunah ngising di pi(ng)gir jalan, sugan kaa(m)beu ku nu bangah, bisi kasumpah kapadakeun, ambu, /5r/ ayah, pangguruan. Mulah mwa maké cangcut pangadua, sugan urang pajeueung deung gusti deung mantri, mulah mwa ngidal, pangadwakwakwa(ng)keun. Ya siksa k(an)dang ngaranya.
Siksa kurung ma, sakarma deung sang pan(di)ta. A(ng)geus ma hanteu ngeunah ngareuseuh beunang diheueum, ngarumpak sanghya(ng) siksa. Lamun a(ng)geus ñahwa diwuku-wuku dina leukeur-leukeur, dangda-dangdi sipat geuing, pangguratan, pangguritan, pangwaleran, pangwatesan. Satapak Hya(ng) Bra(h)ma Wisnu, basa ngawatesan bwana. Yata siksa kurung ngaranya.
Na siksa dapur ma ngara(n)na, ngadapetkeun puhun, ngahusir tangkal ku geui(ng) na bakti satia, di sang pandita. Ya siksa dapur ngara(n)na. Nihan sinangguh siksa kandang, ngaranya ling maha pandita.

TARJAMAHAN:
Nya ieu nu disebut siksa kandang, siksa kurung jeung siksa dapur téh. Maksudna, siksa kandang téh, aya disakuliling diri anjeun. Ningali rupa-rupa gogoda, gogoda dina perjalanan, atawa dina panglungguhan, nyaéta nu kudu diinget ku urang. Mangka perhatikeun sing iyatna! Sugan urang asup ka buruan, ka imah, moal ngeunah lamun urang lain nu dumuk di dinya. Éta nu disebut siksa kandang téh.
Mangsa urang indit-inditan, teu hadé boga niat deleka, ka batur nu boga ‘huma’, atawa batur nu boga kebon. Ku kituna, hiris meubeut ceuli lamun kacang meubeut tarang. Nyokot teuteundeunan atawa nu geus puguh nu bogana, nurunkeun sadapan batur. Teu hadé urang ngising di sisi jalan, bisi kaambeu ku nu balangah, engkéna bisi disumpahan jeung disalahkeun: ku indung, bapa, jeung paguron. Sawadina urang maké calana jangkep, bisi urang panggih jeung raja jeung mantri, urang kudu aya di kéncaeunana turta dongko. Éta nu disebut siksa kandang téh.
Siksa kurung mah, saréngkak saparipolah jeung para pandita. Jeungna deui hanteu hadé ngaganggu naon nu geus disapukan babarengan, ngarempak sanghyang siksa. Lamun enggeus mikanyaho sagala buku dina gulungan-gulungan (kitab), hukuman tina arah nu geus ditangtukeun, guratna, susunanna, jawabanna, watesanana. (Hartina urang geus) nuturkeun tapak Dewa Brahma jeung Wisnu, nalika ngawatesanan alam dunia. Nyaéta nu disebut siksa kurung téh.
Ari nu disebut siksa dapur mah, ngahontal sumberna, meunangkeun inti ku kasadaran kana bakti jeung satia ka sang pandita. Nya éta nu disebut siksa dapur. Nya ieu nu yang disebut siksa kandang, piwuruk ti Maha Pandita.

 

 

 

Cag.

Published in: on 22 Januari 2012 at 7:04 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

- TRIMALA & TRIMALA WISESA -

Dina bagian ieu, pangarang téks Sanghyang Sasana Maha Guru (SSMG) museurkeun pangajaranana kana ucap, lampah, jeung tékad nu aya dina diri manusa. Éta tilu poténsi manusa téh kudu dijaga kalawan enya-enya. Ucap, lampah, jeung tékad jadi cicirén kapribadian jalma.

Nu kaasup kana trimala téh nyaéta ucapan (sabda), paripolah (ulah), jeung maksud (ambek) nu teu merenah. Ucapan nu teu merenah di antarana: nyarékan tanpa sabab, ngahina, nyumpahan, nyela omongan, neluh, ngupat guru, sakur omongan nu teu merenah. Paripolah nu teu merenah di antarana: notok, nakol, newek, neunggeul, ngadagorkeun, nampiling, katut sakur paripolah hampang leungeun. Ari nu kaasup maksud (pikiran) nu teu merenah di antarana: ngira-ngira, nipu, mitnah, neluh, nganyenyeri haté, jeung goréng sangka. Sakabéh nu teu merenah éta nu ngotoran tilu poténsi manusa téh.

Saupama trimala keuna ka jalma nu nyekel kakawasaan (prabu, rama, resi, jeung tarahan) disebutna trimala wisésa. Temahna, nu nyekel kakawasaan bakal sangeunahna dina ngajalankeun kakawasaannana. Aya nu keur susah kalah dijual atawa dijieun budak beulian, dirampas hakna, nepi ka dipaéhan. Nu kitu cenah nu jadi bibit buit kasangsaraan sarta jadi cicirén datangna mangsa kaancuran (kaliyuga) téh.

 

EUSI

 
Carékna Sanghyang Tu(ng)gal: “Na naha piangeneunana[1], sang hya(ng) pustaka ini? Kéna karah aing dék ngab(e)jalkeun carita, metuna sanghya(ng) siksa guru, ti sanghya(ng) siksa.” [Ndeh nihan sang hya trikaya madala parisuda ngaranya Trika]

Ini ma na timpalkeuneun, mulah dék mitemen[2] iña sang séwaka darma. Na puhun awah-awuh, tangkal ning /14v/ papa (ka)lésa, wwit ning kaliyuga, hétu ning papa ning (na)raka. Ngara(n)na, trimala, guna.

Nihan lwirnya[3]: ika sinangguh trimala ngaranya, kadyangganing gangsa lawan malam, tambaga lawan timah. Apa ta kangken[4] tambaga lawan timah?

Ning kang tridusta: (sabda tan yukti), ulah tan yukti, ambek tan yukti. Ginawayaken sabda mahala, ulah mahala, ambek mahala.

Ini byaktana, ulah mahala: notok mokol, newek meureup, ngadeudeul, no(ñ)jok ñakétro(k), nampar na(m)pélang, sakwéh[5] ning lekas tangan, ya ulah mahala, ngaranya.

Sabda mahala ngara(n)na: torong gasong tanpa karana, campe(la)k sabda, ñumpah madahkeun, ngadudu, neluh, ngupat guru, sakwa(é)h ning sabda tan yukti, ya sabda mahala ngaranya.

Ambek mahala ma ngaranya: kira-kira, budi-budi, ngajerum, ngagunaan, mijaheut[a] /14r/ [t]an, nganeluh[6], ngaracun, hiri paywagya. Ageus ma nu mupu maling papa(ñ)jingan[a] méda rungahadang. Sing sawatek tan ywagya, dipitwah dipih(e)dap, ya éta ambe(k) mahala. Yata sinangguh trimala ngaranya.

Nihan sinangguh trimala wisésa ngaranya. Hana ya di sang prabu, rama, resi, mwang tarahan. Ini byaktana, aya ta kajeueung nu duka, dijual dihulunkeun, dirampas dipihéhan. Yata sinangguh pañca kapataka ngaranya, sinangguh trima(la) wisésa ngaranya, ling sang pandita (3).

 

TARJAMAHAN
Carékna Sang Hyang Tunggal: “Naon atuh lenyepaneunana, tina ieu buku suci téh? Ah, sababna alatan kami dék ngagelarkeun carita, gelarna sanghyang siksa guru (ajaran suci guru), tina ‘sanghyang siksa’ (ajaran suci).
Ieu pikeun babandingankeuneun. Ulah dék ngukuhan nu kitu wahai nu ngarabdi kana darma! Tanwandé jadi sumber tina bancang pakéwuh, sumber tina/14v/ kasangsaraan tur kahinaan, awal tina jaman burakrakan, cukang lantaran kasangsaraan di naraka. Éta disebutna téh, trimala (tilu kaayaan kotor), (dina) laku lampah.
Nya ieu wujudna téh. Ieu nu disebut trimala, lir ibarat gangsa jeung lilin, tambaga jeung timah. Naon nu diibaratkeun tambaga jeung timah téh?

Ieu tilu kajahatan téh: ucapan nu teu merenah, paripolah nu henteu merenah, maksud nu teu merenah; ngalakukeun ucapan nu jahat, laku lampah jahat, maksud yang jahat.
Ieu tegesna paripolah jahat: notok, nakol, newek, meureup, neunggeul, nonjok, nenggarkeun, nampiling, jeung sakur laku lampah tina hampangna leungeun, nya éta nu disebut laku lampah jahat téh.
Nu disebut ucapan jahat: nuduh jeung nyarékan tanpa sabab, ngalélécé dina omongan, nyumpahan sarta moyok, nyela, neluh, ngupat guru, katut sakur omongan nu teu pantes, nya éta nu disebut sabda mahala (ucapan jahat) téh.
Nu disebut maksud jahat: ngira-ngira, nipu, mitnah, nyihir, nganyenyeri ati, /14r/ neluh, ngaracun, hiri dengki jeung goréng sangka. Kitu deui nu ngala pepelakan batur, maling, asup tanpa idin, napsu pikeun ngarogahala. Sakur nu henteu pantes, dilakonan sarta diniatan, nya éta nu disebut maksud jahat téh. Nya éta nu disebut trimala téh (tilu kaayaan kotor).
Nya ieu nu disebut ‘trimala wisésa’ (tilu ceda dina kakawasaaan). Ayana di sang prabu, rama, resi jeung tarahan. Ieu écésna mah: aya nu katingali keur susah, kalah dijual dijieun budak beulian, atawa dirampas jeung dipaéhan. Nya éta nu disebut ‘pancakapataka’ (lima kasangsaraan), disebut ogé ‘trimala wisesa’ (tilu kaayaan kotor dina kakawasaan), omongan Sang Pandita (3).

 

 

 

Cag.

Published in: on 22 Januari 2012 at 6:53 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

- PANCABYAKTA -

Bagian ieu ogé dimimitian ku siloka. Sok sanajan judul pedaranna pañcabyakta (lima bukti, lima kanyataan), tapi istilah-istilah nu dijéntrékeunna mah lain lima, tapi aya 11 kecap. Istilah-istilah éta téh kacida héséna ditarjamahkeun sacara harfiah, tapi, copélna bisa dipikaharti maksudna tina pedaranana.
Eusi
Nihan sinangguh pañcabyakta ngaranya, silwakanya nihan:

“sélajanem surawilé, panatarga sudyacawa,
prayagamanem cégamaswa céwamibah krermawidu,
céwayudé (da)nakalem ma supregrahasta“
/siloka 5/

Ka: sélajanem ngaranya, ñapira ngahanteu-hanteu , lamun lémék matingtim /8v/ di hareupeun nu kwalwat. Surawilé ngaranya, ñapirakeun manguni lémék mati(ng)tim, hanteu maké pangabakti, ka sang pandita, deung hanteu ngeunah wedak-wedakan, kaambeu ku nu réya. Aswagatah kunang panatarga ngaranya, hanteu ngeunah ñusutk(eu)n hu(n)tu, deung masa(ng)géréng di hareupeun nu réya. Sudyacawa ma ngaranya, hanteu ngeunah urang niru-niru kaulinan hempul murus. Praya sang magamata ma, hanteu ngeunah urang padeuleu-deuleu deung sang hya(ng) kalih, mangka nguni padu na muka, padeuleu-deuleu beungeut, ka nu karolwat, mangka nguni mupulihkeun manéh nyatu nginum di hareupeun nu réya. Céwamaswatéh ngaranya, téka salah dipihdip dipiange(n)-angen, ka pada janma. Céwamibuh ngaranya, gwacé rua, gwacé tuah, hamwa nurut pamagaha/8r/n. Karmawidu ngaranya, kesit tungi haseum barungut, rungsang-ru(ng)sing na pibudieun janma. Céwayudé ngaranya, gwacé rua, gwacé tuahna, gwacé pupu [ci/cu] na, sinangguh kanistra ning janma. Céwayudé ngaranya, surang pragwajak, bwagwah ñwacwao sabda pariambul ka sakalih. Danakalem ta ma ngara(n)na, hanteu dé(k) haat karuña, héman pada janma, na angen-angen gedé kaceuceub. Suprigrehasta ngaranya, gedé nu dipikahayang, dipilémék ange(n)-angen, dibaan lémék dimangké ma(ng)ké, geus ma hanteu kaswarang. Nihan sinangga pañcabyakta ngaranya, hayu(a) pinintuhu ika (5).

Tarjamahan
Ieu nu disebut pañcabyakta (lima kanyataan) téh. Ieu silokana:

sélajanem surawilé panatarga sudyacawa,
prayagamanem cégamaswa céwamibah krermawidu,
céwayudé danakalem ma supregrahasta.
/siloka 5/
Maksudna, nu disebut selajanem téh, nyapirakeun jeung ngahenteu-henteu, upama keur nyarita atawa babadamian hareupeun nu kolot. Nu disebut surawile, nyapirakeun dina nyarita, teu dibarengan ku tatakrama, ka sang pandita. Ogé teu hadé maké wedak (dangdan kaleuleuwihi), laju kaambeu ku jalma lian. Aswagatah kunang panatarga disebutna, teu hadé ngosokkan huntu, jeung nyanggéréng di hareupeun jalma réa. Nu disebut sudyacawa, henteu hadé urang niru-niru kaulinan Sang Empul Murus. Nu disebut Praya Sang Magama, henteu hadé urang paadu teuteup jeung jalma lian, utamana nalika paamprok, silih teuteup pameunteu, ka nu leuwih kolot, sumawonna wawanianan nyaritakrun yén dirina enggeus dahar jeung nginum hareupeun jalma réa. Nu disebut cewamaswateh téh, salah dina pikiran jeung kahayang, ka papada manusa. Nu disebut céwamibuh, goréng rupana, goréng kalakuanana, teu daék gugon kana piwuruk. Karmawidu disebutna, jamedud buad-baeud, teu daék nanya ka batur, haseum budi, murang-maring dina parangina. Céwayudé disebutna, goréng rupa, goréng kalakuanana, goréng ogé hasil (pagawéanana), nya ieu kanista dina manusa téh. Nu disébut Céwayude, beuki heureuy, beuki ngaheureuykeun, pada-pada ngomong ka jalma lian. Danakalem disebutna, teu daék miduli, mikaasih, tur mikahéman ka pada jalma, dina haténa ukur pinuh ku kaceuceub. Suprigrehasta disebutna, gedé kahayang, gedé omong dina kahayang, dina nyarita sok kadalon-dalon, padahal saenyana teu kahontal. Nya ieu nu disebut pañcabyakta (lima kanyataan) téh, ulah diturutan hal nu kawas kitu téh.

 

 

Cag.

Published in: on 22 Januari 2012 at 12:53 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

- CATURUPAYA -

Caturupaya hartina opat tarékah atawa opat usaha pikeun ngahontal tujuan. Tujuan nu rék dihontalna taya lian pikeun jadi manusa nu sampurna ngajalankeun tugasna di alam dunya. Pedaran ngeunaan caturupaya téh dimimitian ku siloka nu diwangun ku dua padalisan. Dina sapadalisanna ngandung dua kalimah nu ditandaan ku ayana tanda baca (fungtuasi) dina naskahna. Sanajan dina pedaranna mah aya dalapan istilah nu ditétélakeun, tapi bawirasa nu dimaksud ku istilah ‘catur’ (opat) nya dumasar kana jumlah kalimah nu aya dina siloka éta, nyaéta (1) alékiem sitem getem, (2) jrebanem kadaranem, (3) sudem palaharasiem, jeung (4) nakabatéh.

 

Aya sawatara nu perlu dicatet tina istilah-istilah Sansekerta nu ditataan di luhur téh,

 

  • alékiem téh tina basa Sansekerta ālekhana nu hartina ‘gambaran, lukisan’ (Z 24). Harti ieu téh luyu jeung pedaran dina téks nyaéta henteu hadé murid nu hayang séwaka darma nyokér taneuh, nulis-nulis padung, jeung panglungguhan saré.
  • sitem tina sita ‘bodas?’ (Z 1105). Ma’nana henteu jelas, ningali konteksna naha nu dimaksud téh huntu anu bodas?
  • getem tangtu tina gīta (Skt) ‘nyanyian, lalaguan’ (Z 300), nu matak narik téh dina bagian ieu disebutkeun kecap ngawih jeung ngidung. Naha ngawih jeung ngidung nu dimaksud téh ngandung harti lalaguan sacara umum, atawa ngandung harti téknis, saperti aturan wirahma (métrum), jsté? Pedaran nu leuwih jéntré kungsi dimuat dina Cupumanik No. 79 kaca 25-29.
  • jrebanem tina Skt jrmbana ‘heuay?’ tapi dina konteks ieu mah patali jeung kaayaan beuteung.
  • kadaranem tina Skt dharana ‘kasangsaraan’, luyu jeung pedaran yén jalma téh teu meunang humaregung ogoan, némbongkeun katuna jeung kasangsaraan dirina.
  • sudem tina sudha ‘suci, beresih’, maksudna kaayaan haté jeung pikiran kudu diusahakeun beresih, teu meunang api-api, beungeut nyanghareup ati mungkir.
  • palaharasiem tina Skt phalāhāra (Z 736) ‘ngadahar bungbuahan’, dumasar konteksna mah jigana nu dimaksud téh dahar saperluna, jeung nu didahar nyaéta naon anu jadi hakna, lain ngadahar hakna batur.
  • nakabatéh ma’nana teu jelas, tapi tina pedaranna mah nuduhkeun paripolah teu sopan ka nu jadi guru.
Published in: on 22 Januari 2012 at 12:10 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.