GALUH AGUNG

Galuh

Kesalah-kaprahan dalam memahami “Sunda” sebagai nama sebuah suku bangsa atau kelompok masyarakat yang tinggal di pulo Jawa bagian Barat telah berakibat fatal dan tragis terhadap keberadaan nama “Galuh”.
“Galuh” adalah nama bangsa yang menganut ajaran / agama “Sunda”. Dengan demikian yang selama ini selalu disebut “Orang Sunda” sebagai kelompok kesukuan atau kemasyarakatan maksud yang sebenarnya adalah “Orang Galuh” atau “Bangsa Galuh Agung” (tepatnya menunjuk kepada penduduk wilayah Rama), sebab sangat mustahil orang yang menganut agama Sunda sekaligus mengaku beragama Islam atau Kristiani atau Hindu atau Buddha, ataupun yang lainnya.

Agar lebih jelas kita gunakan contoh sebagai berikut; jika seseorang mengatakan “Saya orang Indonesia beragama Islam” (*Islam = Selamat) pernyataan itu sering disingkat menjadi “Saya orang Islam”. Lain hal jika kalimatnya berbunyi “Saya bangsa Indonesia menganut agama Islam”, dalam kalimat tersebut jelas mengatakan status kebangsaannya, dan memang tidak ada “bangsa Islam” di Indonesia sebab yang layak disebut “bangsa Islam” tentunya hanya bangsa Arab itu sendiri. Maka demikian pula dengan persoalan Sunda dan Galuh, hingga dengan sewajarnya jika mengatakan bahwa “Saya orang Galuh beragama Sunda”.
“Galuh” sama sekali bukan daerah kecil yang terletak di daerah Ciamis. Pada jaman dahulu luas wilayah Galuh hampir sama dengan luas Bumi atau boleh jadi hampir sama dengan luas keberadaan ajaran Sunda (Matahari).

Penyebaran ajaran Sunda di wilayah Galuh Hyang Agung

Di Eropa, khususnya wilayah Perancis dan sekitarnya nama atau sebutan “Galuh” lebih dikenal sebagai “Gaul” (Gaulia/ Golia/ Bangsa Gaul) dan lebih umum sering disebut sebagai bangsa Gallia. Sedangkan di wilayah Timur-Tengah tepatnya di Israel istilah “Galuh” dikenal dengan sebutan “Galillea” (Galilee). Untuk membuktikannya kita perlu memahami peninggalan sejarah dibeberapa negara yang secara prinsip hampir tidak ada bedanya dengan yang ada di Indonesia dan khususnya di pulo Jawa.

Ajaran bangsa Galuh yaitu Sundayana ataupun Surayana sangat kental dengan kehidupan masyarakat daerah Timur-Tengah (Israel) tepatnya di daerah “Galillea”. Pada mulanya kedatangan ajaran Sunda tentu saja ditentang oleh masyarakat lokal (Israel – Palestina), kejadian tersebut diabadikan dalam cerita David (Nabi Daud) melawan Goliath yang dikalahkan oleh sebuah “batu”, dan batu yang dimaksud adalah “lingga/ menhir atau batu satangtung”.
Kewilayahan Galuh Agung penganut ajaran Sunda (Matahari) dimasa lalu pada umumnya terdapat beberapa penanda sebagai perlambangan yaitu berupa; Batu Menhir (Lingga), Matahari, Simbol Ayam ataupun burung dan Terdapat simbol Sapi atau Kerbau atau sejenisnya.

1. MENHIR / LINGGA / BATU SATANGTUNG

ts 1
Menhir (Lingga)

Lingga adalah sebuah “batu” penanda yang diletakan sebagai “pusat” kabuyutan, masyarakat Jawa Barat sering menyebutnya sebagai “Batu Satangtung” dan merupakan penanda wilayah RAMA. Bentuk menhir (lingga) di beberapa negara yang tidak memiliki batu alam utuh dan besar pada umumnya digantikan oleh ‘tugu batu’ buatan seperti yang terdapat di Mekah dan Vatican.

ts 2

ts3

Lingga sebagai batu kabuyutan berasal dari kata “La-Hyang-Galuh” (Hukum Leluhur Galuh). Maksud perlambangan Lingga sesungguhnya lebih ditujukan sebagai pusat/ puseur (inti) pemerintahan disetiap wilayah Ibu Pertiwi, tentu saja setiap bangsa memiliki Ibu Pertiwi-nya masing-masing (Yoni).

Dari tempat Lingga (wilayah Rama) inilah lahirnya kebijakan dan kebajikan yang kelak akan dijalankan oleh para pemimpin negara (Ratu). Hal ini sangat berkaitan erat dengan ketata-negaraan bangsa Galuh dalam ajaran Sunda, dimana Matahari menjadi pusat (saka) peredaran benda-benda langit. Fakta yang dapat kita temui pada setiap negara (kerajaan) di dunia adalah adanya kesamaan pola ketatanegaraan yang terdiri dari Rama (Manusia Agung), Ratu (‘Maharaja’) dan Rasi (raja-raja kecil/ karesian) dan konsep ini kelak disebut sebagai Tri-Tangtu atau Tri-Su-La-Naga-Ra.

Umumnya sebuah Lingga diletakan dalam formasi tertentu yang menunjukan ke-Mandala-an, yaitu tempat sakral yang harus dihormati dan dijaga kesuciannya. Mandala lebih dikenal oleh masyarakat dunia dengan sebutan Dolmen yang tersebar hampir di seluruh penjuru dunia, di Perancis disebut sebagai Mandale sedangkan batunya (lingga) disebut Obelisk ataupun Menhir.

Mandala (tempat suci) secara prinsip terdiri dari 5 lingkaran berlapis yang menunjukan batas kewilayahan atau tingkatan (secara simbolik) yaitu;

1. Mandala Kasungka
2. Mandala Seba
3. Mandala Raja
4. Mandala Wangi
5. Mandala Hyang (inti lingkaran berupa ‘titik’ Batu Satangtung)

Ke-Mandala-an merupakan rangkaian konsep menuju kosmos yang berasal dari pembangunan kemanunggalan diri terhadap negeri, kemanunggalan negeri terhadap bumi, dan kemanunggalan bumi terhadap langit “suwung” (ketiadaan). Dalam bahasa populer sering disebut sebagai perjalanan dari “mikro kosmos menuju makro kosmos” (keberadaan yang pernah ada dan selalu ada).

ts4

2. LAMBANG AYAM / HAYAM

Ayam atau Hayam merupakan perlambangan atas dimulainya sebuah kehidupan. Dalam hal ini keberadaan sosok ayam sangat erat kaitannya dengan kehadiran Matahari. Ayam adalah siloka (symbol) para pendahulu yang memulai kehidupan (leluhur) dan bangsa Galuh menyebut para leluhurnya sebagai “Hyang”, maksudnya,,,

bersambung,,,

tabe pun,
TANGTUNG SUNDAYANA

RaHayu _/\_

Iklan
Published in: on 16 September 2013 at 3:09 am  Comments (8)  

SANDI KALA DALAM SANGU TUMPENG (Nasi Tumpeng)

Sampurasun….

Bangsa Indonesia saat ini semakin tidak memahami tata-cara, guna dan makna Sangu Tumpeng (Nasi Tumpeng) yang seharusnya dibuat secara khusus beradasarkan aturan ketat. Itu sebabnya kehadiran Sangu Tumpeng saat ini tidak ‘menghadirkan’ sesuatu apapun (*kejadian yang diharapkan), sebab ia dihadirkan hanya sebagai syarat pelengkap perayaan budaya.

Sangu Tumpeng sesungguhnya adalah kitab ajaran masyarakat Nusantara yang diungkapkan melalui bentuk makanan. Artinya, segala hal yang terdapat pada Sangu Tumpeng tidak lagi berupa bahasa lisan ataupun bahasa tulisan tetapi lebih merupakan “bahasa rupa bentuk” yang padat makna, dari cara pembuatan hingga penyajian harus dilakukan sesuai aturan. Artinya, jika pola tahapan pembuatan dilanggar maka sama dengan menghilangkan sebagian dari mata rantai ‘ayat-ayat’ yang berisi ajaran.

Tanda-tanda yang dilambangkan melalui peralatan memasak merupakan “peringatan” bahwa alam (lingkung kehidupan) harus tetap terjaga, hal ini mengingatkan kepada seluruh keturunan agar tetap waspada karena bangsa Nusantara hidup di wilayah gunung berapi, dalam istilah lain diumpamakan dengan BANGSA YANG MENUNGGANGI NAGA API.

Makna tanda yang terkandung pada peralatan memasak adalah sebagai berikut; api melambangkan matahari, batu bata merah menandakan bumi, dandang (se’eng) melambangkan gunung, air melambangkan sumber kehidupan, haseupan atau kukusan kerucut melambangkan kawah gunung berapi (yang terkandung), kayu bakar melambangkan tumbuhan atau hutan, dan nasi yang ada di dalamnya menandakan kesuburan dan kemakmuran.

Lambang pada perlengkapan Tumpeng

Pengolahan Sangu Tumpeng hanya boleh dilakukan oleh kaum wanita dewasa yang dalam keadaan bersih (tidak sedang menstruasi) dan telah mensucikan diri, sedangkan kaum pria bertugas menyediakan beragam kebutuhannya. Selama tahap pembuatan, wanita tersebut tidak boleh disentuh ataupun berbicara dengan laki-laki. Hal ini tentu saja bukan tanpa maksud dan tanpa makna. Nilai “wanita suci” yang terkandung di dalam tahap mengolah tumpeng menceriterakan tentang sosok Ibu Pertiwi yang sedang menata kehidupan di bumi, khususnya mengungkapkan tentang bagaimana ia menata dan memberikan kesuburan, kemakmuran dan kejayaan kepada seluruh putra-putri Ibu Pertiwi (bangsa Nusantara).

Api pada tungku dinyalakan bertepatan dengan terbitnya matahari pagi, hal ini merupakan perlambang ungkapan rasa terima-kasih atas limpahan anugrah dari Yang Maha Kuasa dalam mengawali kehidupan yang dipandu oleh waktu / cahaya. Melalui lambang Yang Maha Kuasa yang ada di langit (matahari) itulah segala kehidupan di Bumi ini digerakan; binatang, tumbuhan, manusia, dan sebagainya memulai kegiatan mereka sesuai fungsinya masing-masing.

Setelah se’eng (dandang) diletakan di atas tungku perapian, lalu wanita mulai menata nyiru atau tampah berbentuk lingkaran terbuat dari anyaman bambu yang akan digunakan sebagai alas Sangu Tumpeng. Nyiru adalah bentuk perlambangan matahari atau sering disebut sebagai Sang Hyang Manon atau Sang Hyang Tunggal.

Nyiru sebagai lambang Matahari (Sunda)

Bagian tepi (pinggiran) nyiru diberi daun pisang manggala yang telah dibentuk segi-tiga lalu dirangkai dan disambung dengan menggunakan tusuk biting terbuat dari lidi pohon kawung. Susunan daun pisang manggala yang melingkar di sekeliling nyiru adalah perlambang dari sinar matahari, dan arti “manggala” sendiri adalah “yang menyampaikan hukum atau yang menguasai aturan”, sedangkan istilah kawung menjadi perlambang dari kata “Sang Suwung” (Hyang Maha Kuasa).

Sangu Tumpeng dalam pola tanda berupa gunung berwarna kuning merupakan lambang keagungan gunung Sunda, mustahil membicarakan Sangu Tumpeng jika tidak membicarakan tentang Sunda mengapa demikian? Sebab “Sunda” itu artinya adalah “Matahari”.

Maka dari itu, Sangu Tumpeng harus ditata berdasarkan pola cahaya, segala yang diletakan di atas nyiru / tampah disusun berurutan mengikuti putaran nilai waktu (cahaya) yang terbagi atas :
1. Purwa, menghadap (mengarah) ke Timur berisi bakakak ayam jantan (jenis ayam kampung).
2. Daksina, menghadap ke Selatan berisi unsur unsur-unsur pertanian dan perkebunan seperti; sayuran segar (lalab), tomat, ketimun, dst.
3. Pasima, menghadap ke Barat berisi makanan / masakan olahan tumbuhan seperti; perkedel, sambal goreng kentang, goreng tempe, sambal goreng terasi.
4. Utara, menghadap ke Utara berisi masakan olahan berdaging / satwa seperti; ikan mas, ikan asin, udang, teri, daging.
5. Madya, letaknya di pusat atau di tengah-tengah yaitu nasi kuning berbentuk gunung dan di puncaknya diletakan telur ayam kampung sebagai Cupumanik Astagina (Cupumanik Astra-Geni).
Pola susunan tersebut di atas sesungguhnya mengajarkan dan memaparkan tentang mutu cahaya (waktu dan kala / jaman) yang mempengaruhi kehidupan manusia, beserta tahap perkembangan peradabannya.

Pola Arah Susunan Tumpeng

Dalam gelar “kedewaan” (nilai cahaya / nilai waktu) kelima (5) “ruang dan waktu” (arah dan warna / cahaya) itu disebut: Sang Hyang Siwa sebagai Madya (pusat segala cahaya / segala warna), Sang Hyang Iswara sebagai Purwa yang bercahaya putih, Sang Hyang Brahma sebagai Daksina yang bercahaya merah, Sang Hyang Mahadewa sebagai Pasima bercahaya kuning, Sang Hyang Wisnu sebagai Utara bercahaya hitam. Jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Iswara / Purwa / Timur / Putih; merupakan penanda pagi hari, namun sekaligus sebagai penanda awal peradaban manusia, jaman para leluhur bangsa. Hal ini ditandai dengan keberadaan “ayam” sebagai lambang “manusia awal kehidupan”.
2. Brahma / Daksina / Selatan / Merah; merupakan penanda siang hari, namun juga sebagai penanda jaman beradab atau masa kejayaan (kemakmuran). Hal ini di tandai oleh benda-benda pertanian dan perkebunan.
3. Mahadewa / Pasima / Barat / *Kuning; merupakan penanda senja hari (sore), tetapi juga sebagai penanda menurunnya masa kejayaan atau lunturnya jaman kemakmuran. Hal ini ditandai oleh bentuk makanan olahan yang tahan lama.
4. Wisnu / Utara / Utara / Hitam; merupakan penanda malam hari, yang juga menunjukan keruntuhan kejayaan manusia atau kehancuran peradaban manusia untuk menyelamatkan kehidupan mahluk-mahluk lain (non-manusia) di Bumi. Hal ini ditandai dengan masakan olahan (hewani).
5. Siwa / Madya / Pusat / Tengah; adalah penanda penguasa waktu / era / jaman yang mengembalikan segala kehidupan di Bumi seperti pada mulanya, jaman sebelum manusia menguasai (merusak) planet Bumi. Penanda atas hal ini adalah dengan adanya “telur” (Cupumanik Astagina) di puncak Sangu Tumpeng.

Melihat segi pemaknaan pada susunan pola cahaya (kedewaan) maka boleh jadi Sangu Tumpeng diberi warna “kuning” itu mengandung pengertian “status jaman”, bahwa kehidupan di muka Bumi ini telah memasuki masa menurunnya kejayaan atau lunturnya era kemakmuran. Namun akibat ketidak-pahaman masyarakat jaman sekarang terhadap pola tanda ajaran leluhur (kebudayaan masa lalu) maka masyarakat modern beranggapan bahwa warna “kuning” itu diumpamakan sebagai “emas” (lambang kejayaan) padahal nilai makna tersebut kaitannya terlalu erat dengan nilai ekonomi bahkan mungkin “kapitalisme” sedangkan Sangu Tumpeng secara mendasar lebih condong mengarah kepada persoalan ruang, waktu dan kejadian.

Melihat situasi dan kondisi kehidupan di muka Bumi pada saat ini maka bukan tidak mungkin jika Sangu Tumpeng yang seharusnya dibuat di jaman sekarang adalah berwarna “hitam” (dibuat dari beras hitam) sebagai penanda tiba masanya memasuki jaman Wisnu / Utara / Hitam… yaaa siapa tau… 🙂

*Tambahan :
– Sangu Tumpeng merupakan salah satu Su-Astra Sunda (Sastra Sunda) dan boleh jadi ia-pun merupakan perlambangan Lingga-Yoni.

Hampura sapapanjangna
Rahayu salawasna

Hung Ahuuung _/|\_

oleh: Lucky Hendrawan

Published in: on 9 September 2012 at 11:30 am  Comments (5)  

SANG HYANG TUNGGAL

Masyarakat Galuh Agung (Nusantara) penganut ajaran Sunda meyakini bahwa segala mahluk berawal dan berasal dari “ketiadaan” yang secara mendasar merupakan inti keabadian atau kalanggengan yang bersifat ketunggalan dan kemanunggalan. Berasal dari satu dan menjadi pemersatu atas segala ciptaan atau “keberadaan”, maka seluruh manusia beserta mahluk lainnya adalah saudara (sa-UDARA/se-UDARA).

Sebutan “Tuhan” bagi bangsa Galuh sama sekali bukan Allah (bhs. Arab) ataupun God (bhs. Inggris) yang dikenal oleh masyarakat modern pada saat ini, sebab istilah “Tuhan” itu berasal dari kata “Sang-TUHA-an”, kelak bangsa Indonesia mengenalnya dengan istilah TUHAN yang selalu diartikan sebagai Yang Maha Pencipta. Sebutan “tuhan” digunakan juga dalam kata TUAN (Yang Dipertuan) untuk menghormati seseorang yang dituakan.

– TUHA atau TUA ataupun TUAN artinya sama dengan “Sesepuh”. Dengan demikian yang dimaksud dengan istilah “Tuhan” oleh bangsa Indonesia pada saat ini adalah para sepuh (pini-sepuh) atau “yang disepuhkan” (sosok yang dihormati), dalam bahasa rakyat Jawa Barat sering disebut sebagai “kokolot” atau “nu dipikolot”. Semua tunduk patuh kepada seseorang yang memangku jabatan “nu dipikolot”.

Sebutan “Tuha” ataupun “Tua” kemudian digunakan juga oleh berbagai bangsa di seluruh dunia dengan cara penyebutan dan penulisan yang sesuai dengan pola serta gaya bahasa masing-masing bangsa. Perbedaan waktu, tempat dan gaya bicara tentu mengakibatkan terjadinya perobahan dalam pengucapan atau terjadi proses evolusi kata serta pemaknaannya.

– “Tuha / Tua / Tuan” di bagian Bumi Timur disebut : To (Jepang dan Tahiti), Thi, Thian dan Tao (China), The (India), Tau (Arab dan Timur Tengah). Di Bumi bagian Barat disebut : Teo, Thei (Theis).

Masyarakat Mesir Kuno melambangkannya dengan bentuk “T” yang artinya To atau Te atau Teo (Tua / Tuha).

Tidak diketahui sejak kapan Bangsa Galuh mengenal kata “Tuha/Tua”, namun diduga istilah tersebut sudah ada semenjak pulo Jawa masih bersatu dengan pulo Sumatra yaitu ditandai dengan adanya gunung Kara Ka Tuha yang artinya “Petunjuk bagi para Leluhur atau Kokolot atau Sesepuh” gunung tersebut sekarang dikenal sebagai “Krakatau”. Selain itu di Jawa Barat (Bandung Selatan) masih terdapat pegunungan Pa Tuha yang artinya “Tempat para Kokolot atau Sesepuh”.

Persoalan tentang Sang Maha Pencipta dalam landas pemikiran bangsa Galuh penganut ajaran Sunda sudah tentu “ADA”, namun mereka tidak berani memberikan “nama” sehingga mereka menyebutnya dengan ungkapan “Anu Maha Kawasa” (Yang Maha Kuasa). Kenapa demikian…? mari kita pahami bersama agar tidak terjadi salah pengertian yang pada akhirnya menjadi tuduhan bahwa agama Sunda adalah penyembah Batu dan Matahari atau pun atheis.

Segala yang “ada” berasal dari “ketiadaan” dan kelak akan kembali kepada “ketiadaan”, di dunia ini tidak satupun yang tidak datang dari ‘sana’. Ketiadaan-lah yang merajai segala yang “ada”, dari datang dan kembalinya. Oleh sebab itu, Yang Maha Abadi lagi Maha Sempurna hanyalah “Ketiadaan”.
Segala yang “ada” akan terkena hukum “perobahan dan perbedaan” dengan segala kekurangannya. Terjebak dalam hukum ruang dan waktu (“keberadaan”) adalah tanda “kelemahan”. Maka Yang Maha Tiada tidak selayaknya “ada” di dalam “keberadaan”.

Tidak satupun manusia yang dapat menciptakan “ketiadaan” bahkan membayangkannya-pun mustahil. “Ketiadaan” adalah segala atas segala yang tidak terdefinisikan oleh kecerdasan otak manusia.
Apakah “ketiadaan itu ?” ialah segala atas segala yang mustahil untuk dibayangkan dan tidak mungkin untuk diciptakan walaupun itu hanya dalam citra (imajinasi).

Oleh sebab itu;
Jika Yang Maha Tiada dapat berbicara kepada manusia, itulah kebohongan yang paling besar.
Jika Yang Maha Tiada memiliki amarah seperti manusia, itulah tipuan yang dapat menyesatkan manusia menuju jaman biadab.

Segala pujian hanya bagi yang “ada” di dalam “keberadaan” dan bukan bagi Yang Maha Tiada, dan jika pujian itu ditujukan kepada Yang Maha Tiada maka itu semua hanya omong kosong yang akan ditelan oleh ketiadaan itu sendiri (nihil).

Yang Maha Tiada adalah Maha Suci yang tidak terikat oleh segala hukum; dzat – sifat – nama maupun bentuk. Yang Maha Tiada tidak pernah tersentuh oleh segala kecerdasan pemikiran manusia yang kerdil dan terbatas oleh ruang “keberadaan”. Tidak ada satu mahlukpun yang dapat mendefinisikan-Nya, maka rahasia terbesar bagi segala “keberadaan” adalah “ketiadaan” itu sendiri dan hingga saat ini belum ada satu orangpun yang dapat menjumpai Yang Maha Tiada dalam “ketiadaan-Nya”…. kecuali “pembohong”.
Bangsa Galuh penganut ajaran Sunda mengistilahkan “ketiadaan” itu sebagai Suwung, demikian mereka menyebutkan “yang maha tidak ada” atau ketiadaan yang absolut (*dalam istilah Arabnya disebut “Yang Maha Gaib”).

Bila kita mempertanyakan hal tersebut di atas kepada para pini-sepuh umumnya mereka menjawab; “…aing oge teu nyaho… jug we teang jeung tanyakeun ku sia ka jelema anu geus pernah panggih jeung nu suwung…” (artinya, …saya juga tidak tahu… silahkan cari dan tanyakan oleh mu kepada orang yang pernah bertemu dengan ketiadaan…).

Bagi orang-orang yang merasa penasaran untuk mencari Allah / God ada sebuah pepatah yang cukup bijaksana yaitu: “…teang tapak heulang di awang-awang… teang tapak meri dina leuwi… jeung teang tapak sireum dina batu…” (artinya, …carilah jejak elang di angkasa… carilah jejak itik di sungai… dan carilah jejak semut di batu…).

Agama Sunda tidak mengajarkan untuk berbakti dan mengabdi kepada “ketiadaan”. Kenapa demikian…?, manusia sebagai sosok yang “ada” tidak semata-mata dihadirkan dari “ketiadaan” jika bukan untuk berbakti dan mengabdikan diri kepada segala yang “ada”, tanpa tugas itu maka sia-sialah seorang manusia didatangkan ke muka Bumi.

Karena prinsip “penciptaan” seperti tersebut di atas maka yang selayaknya disembah bukanlah “ketiadaan” yang telah menciptakan dirinya menjadi “ada” melainkan segala sesuatu yang telah menjadikan dirinya hidup mengabdi dan berbakti kepada segala kehidupan. Oleh sebab itu, segala yang “hidup” harus dicintai dan dihormati dengan setinggi-tingginya agar tercipta dan terlaksana sebuah “kemanunggalan hidup” di dalam kehidupan dan itulah yang disebut sebagai Sang Hyang Tunggal.

“Adakah tugas hidup manusia yang lebih utama selain membangun kehidupan dalam kebersamaan yang berlandaskan welas-asih…?” Jika ada, maka ia telah menyembah sesuatu yang ada di luar dirinya dan tersesatlah ia sejauh-jauhnya.

Menyembah adalah “tunduk dan hormat” yang maknanya setara dengan “saling menghormati dan menghargai” dalam posisi dan tugasnya masing-masing sebagai utusan yang dihadirkan oleh Yang Maha Kuasa.

Pohon akan dan harus menjadi pohon yang sebenar-benarnya.
Bunga akan dan harus menjadi bunga yang sebenar-benarnya.
Burung akan dan harus menjadi burung yang sebenar-benarnya.
Harimau akan dan harus menjadi Harimau yang sebenar-benarnya.

Matahari harus menjadi Matahari dan Bulan harus menjadi Bulan.
Angkasa, Udara, Angin, Api, Air, dan Tanah akan dan harus menjalankan fungsi dan tugas dengan sebaik-baiknya… semua saling menghormati dan menghargai sesuai dengan aturannya masing-masing.

Manusia Galuh penganut ajaran Sunda sangat menyadari dan menghayati “keberadaan” alam semesta beserta segala fungsi dan gunanya, dan itu semua tidak terlepas dari kesadaran diri tentang tata-cara berkehidupan yang saling memberi dan menerima sebagai sebuah sistem daya hidup yang terpadu (manunggal). Maka dari itu “menghormati” alam dengan segala kekuatannya (tugas dan fungsi) adalah bagian dari cara berkehidupan bangsa Galuh Agung yang biasanya diungkapkan melalui pujian kepada masing-masing ‘penguasa’ (kekuatan dalam fungsi dan tugas).

Secara langsung ataupun tidak, ajaran tersebut sangat menentukan sikap masyarakat Galuh terhadap hidup berbangsa dan bernegara, bahwa mereka begitu menghormati dan menghargai segala sistem dan sub-sistem yang menunjang pembentukan kualitas hidup di jagat kehidupan.

Kaula lain nyembah ka Beusi tapi muja ka Rasi
Kaula lain nyembah ka Batu tapi muja ka Ratu
Kaula lain nyembah ka Dewa tapi muja ka Rama
Kaula lain beunang ku hayang lain kudu ku embung… tapi kitu anu sakuduna hirup di nagara (di dunya).

(artinya)
Saya bukan menyembah Besi tetapi memuja Rasi (Datu)
Saya bukan menyembah Batu tetapi memuja Ratu (Maharaja)
Saya bukan menyembah Dewa tetapi memuja Rama
Saya bukan terkena oleh keinginan ataupun ketidak-inginan…tapi begitulah seharusnya hidup di negara (di dunia).

Hidup dalam kemanunggalan (kesatuan dalam kebersamaan) saling menghormati dan menghargai dalam sebuah keberaturan yang harmonis adalah idaman (dicita-citakan) bagi segala manusia dan mahluk hidup lainnya, itulah makna hakiki dari Sembah-Hyang (Seba Hyang atau sembahyang), maksud dan tujuannya tidak lain demi mengabdikan dan membaktikan diri terhadap “kemanunggalan dalam semesta kehidupan” (Sang Hyang Tunggal).

Hung,,, Ahuuung !

Cag.

Rahayu

Published in: on 30 Mei 2012 at 1:58 am  Comments (4)  

Clue Sajarah SUNDA

Sampurasun,,,

Hana nguni hana mangke
Tan hana nguni tan hana mangke

Aya baheula, aya ayeuna
Moal aya ayeuna mun euweuh baheula

mugia ieu anu jadi ugeuran tur udagan para Ki Sunda pribadi anu teu poho kana PURWADAKSINA anu nganyahokeun Sajarah SUNDA BIHARI, SUNDA KAMARI jeung SUNDA KIWARI.

ngajadikeun hirup lalakon lampah dina pahirupan anu diwangun ku olahan dasar élmu dina tuturan adat jeung budaya tuturunan, karuhun anu buhun, pikeun panataran tur panuturan ules watek jeung paripolahna anu ngagambarkeun salaku manusa Sunda sangkan mampu nyumponan: kabutuh alam jiwa, kabutuhan alam pikir, jeung kabutuh alam waruga, sangkan dina nata rasa jeung niti diri, aya kadali atawa elésan, teu mangprung ngaberung sakama-kama, sakarep ingsun. Aturan Hirup di alam panyorangan. Kudu pengkuh kana aturan dina “tata, titi, duduga, kalih peryoga dina panalar panaluntikan Sajarah Sunda,,,

Tata (aturan léngkah) = tatapakan laku anu kudu napak kana ugeran aturan talari paranti sangkan teu ngarempak aturan, teu “pamali” (hasil kalakuan anu sok jadi mamala goréng).
Titi (tahapan léngkah) = titincakan laku anu nincak kana paniatan anu surti jeung nastiti.
Duduga (sawangan) = rupaning anu rék dilakonan tinangtu kudu disawang heula saméméh disorang, sangkan hasilna caina hérang laukna beunang, anu karasa pikeun kasalametan. (Wiwaha Yuda na Raga).
Peryoga = ukuran kamampuh pikeun ngajurung laku dina hiji tujuan (kasanggupan anu diukur ku kamampuh).

(*puraga djati)

Saperti Ngolah jiwa, keur ngalelemu RASAna, bisa di geteran ku cara ngageterkeun sora-sora alam (Rahyang Sora Pagendingan) anu mangrupa alat alat seni Buhun (tradisi). Anu ngumandangna dina geteran galura jeung daya geterna. numawi

keur udagan carita Sajarah Sunda-na bisa nganyahokeun kana Sajarah Sunda anu sabenerna tur sampurna sagemblengna, SAE(nya)na mah kudu cacap heula naluntik sakabeh naskah jeung wawasan anu ngeunaan Kasajarahan Sunda, boh anu kuno kitu deui anu “anyar” (kamari), nengetkeun anu geus guar jeung anu acan kaguar, neang anu geus kapanggih jeung anu acan kapanggih, sabab teu cicing di hiji tempat atawa wawangunan, teu dihiji jelema, jeung lain dihiji pakumpulan.

ieu kabeh kudu dikanyahokeun ku cara ngaLAKU, nindak dina neangan kabeh eta pangarti bari ulah poho jeung mopohokeun tugas urang salaku anu HIRUP (cul dogdog tinggal igel), yen aya anu ngagantungkeun HIRUPna ka diri urang, nyatana kolot, anak jeung pamajikan. Sabab, tibatan beak nganyahokeun ieu sajarah ngadon kaburu beak umur (paeh) manten, anu antukna tugas anu sakuduna muser kana LAKU diri anu eling (SADAR) poe ieu, jam ieu, detik ieu jadi mangprung teu kapigawe, diajar sajarahna oge teu hatam kabeh da kaburu paeh, hirup teu guna sabab elmu udaganna teu manfaat pikeun diri jeung balarea. Sajarah Sunda anu BIHARI jeung KAMARI anu sakuduna ngaJADIkeun kahadean pikeun KIWARI jadi teu kaCIRI kusabab teu ngaBUKTI dina BAKTI.

sanajan kitu, tina sawatara naskah jeung wawasan anu jumlahna ngan saeutik tapi geus kaguar ku para ahli sajarah, supaya teu mangprung teuing tina sakitu oge geus bisa katangeun yen sajarah sunda teh ngawengku sakabeh widang kahirupan manusa umumna, cindekna kahirupan manusa urang sunda, tegesna ngawengku wiwidangan:

– Evolusi Bumi / jagat dunya ieu (planet bumi)
– Manusa Sunda
– Kayakinan/ageman/ajaran Sunda
– Budaya jeung per-adab-an (civilization) Sunda
– Pakumbuhan (ka-masyarakat-an) Sunda
– kaNAGARAan Sunda
– kaRATUan (kaRAJAan) sunda.
jjrd.

Galur Sajarah Sunda jeroning proses kaMEKARannana, guluyurna saperti dihandap ieu :

A. mangsa PURWANING SUNDA BIHARI

Dina panalar Sunda Buhun kieu,
Gelarna SUNDA katut sagalaning kaSUNDAannana, mimitina ti jaman BATARA CIKAL nungancik di “Mandala ParaHyang” (dilebah Kanekes atawa “Baduy Kiwari”).
anu disebut Mandala ParaHyang teh nyaeta “Mandala Kahiyangan” (=mandala gaib) anu tetep ngadeg aya nepi ka kiwari, tapi henteu bisa katenjo ku panon manusa biasa.
tah kitu basaNa,,
lamun diitung make ukuran kalamangsa PURWAYUGA sunda bihari timimiti gelarna didunya manusa purba “Lutung-Kasarung”. mimitina Sajarah Sunda teh kira-kira kurang luwih 1-2 juta taun baheula.

B. mangsa PURWAYUGA SUNDA BIHARI

Dina mangsa ieu, sajarah sunda mekar maju kalawan nete nincak rupa rupaning hambalan mekar pertuwuhan jeroning Purwayuga Sunda Bihari. wujud manusa lutung atawa “manusa monyet” (lutung kasarung) lambat laun robah salin rupa jadi Manusa Budaya (Homo-Sapiens).
Budayana oge ningkat maju tina tahapan kabudayaan paleo kultur, awalpaleolitik, kana kabudayaan neo-kultur, awal neo litik, nya akhirna cat mancat kana mangsa “Parahiyangan Perbangkara”.

C. mangsa PARAHIYANGAN PERBANGKARA

Mangsa ieu teh mimiti ngadegna “ka-MAHARAJA-RESI-an” atawa “ka-MAHAPRABU-RESI-an” anu ngawengku kawasan Parahiyangan Purbakala (purbangkara = purba-kala), nyeta anu sok katelah “Galunggung = Galuh Hyang Agung”
dina mitologi Sunda dongeng legenda “Dayang Sumbi jeung Sangkuriang” disebutkeun yen Maharaja-Resi Parahiyangan mangsa harita teh ngaranna “RATU SUNGGING PERBANGKARA”. lamun diitung kusangkala Geologi mah, ngadegna dina mangsa 50.000 taun baheula.

“Kabudayaan Sunda” jaman harita geus nincak kana tahapan Neo-kultur, Neolitik, kalawan geus munggah kana kabudayaan Gopara (parunggu) dina jaman Pra-Sejarah.


D. mangsa PARAHIYANGAN SANGKURIANG

Mangsa dina sesebutan ieu, ngadegna dina mangsa sasakala gelarna Talaga Bandung, nyaeta anu sok katelah “Sumur Bandung” atawa “Leuwi Sipatahunan”.
Ari Talaga Bandung ngajadina “dijadikeun” ku Sangkuriang kira-kira 10.000 taun baheula, nyaeta mangsa “SANGKURIANG” nyieun bendungan di wahangan Citarum nepi ka caina kapendet ku bendungan, nya tuluy ngeuyeumbeung jadi talaga. Eta anu dicaritakeun dina dongeng legenda “Dayang Sumbi jeung Sangkuriang”.

E. mangsa SUMUR BANDUNG

nincak kana tata-paKUWU-an (karajaan -karajaan leutik)
a. Sindulang, Alengka, Kendan, Cangkuang (Leles)
sisi Talaga belah Wetan
b. Malabar, Puntang,,,, jst
sisi Talaga belah Kidul
c. Rajamandala,,,, jst
sisi Talaga belah Kulon
d. Karatuan-Karatuan Sunda palebah Padalarang, Dago, Manglayang,,,, jst
sisi Talaga belah Kaler

F. jaman DWIPANTARA

Urang Sunda anu asalna mangrupakeun bangsa daratan atawa pa-GUNUNG-an, geus mimiti
mekar jadi bangsa maritim atawa palayaran laut.

Jawa Dwipa, nu ngawngku pulo Jawa (“NUSA KENDENG”)
Suwaruna Dwipa, nu ngawngku pulo Sumatra jeung Tanjung Malaka (MALAYA).
Waruna Dwipa, nu ngawngku pulo Kalimantan, Sulawesi, Melenesia, Polenesia jeung pulo-pulo sarta basisir Asia Tenggara.
Simhala Dwipa, nu ngawngku basisir Australia, pulo Madagaskar (Malagasia), basisir Afrika, Sudan jeung India.

G. jaman Galunggung

Jaman Galunggung ngadegna dina mangsa “ka-MAHAPRABU-RESI-an” Galunggung atawa GALUH HYANG GUNG anu ngawengku ka-PRABURESI-an jeung karajaan saperti:

CUPU (Cupunagara) anu taya lian ngaran rusiah tina GALUH PUNTA NAGARA. Ngatan liana nyaeta PUNTA HYANG atawa disingket PUNTANG
Karesian KENDAN di Nagreg Kiwari
Karajaan SINDULANG (Sindula Hyang) anu disebut ku urang Taruma mah Karajaan ALENGKA (kiwari=CICALENGKA)
Karajaan MALABAR,sekeseler Dinasti TARUMA
Karesian TANJUNG KIDUL (Garut Kidul?)
Karajaan AGRABINTA
Karajaan INDRAPRAHASTA
jeung saterusna ngabawah karajaan-karajaan kalawan Karesian-Karesian.

Jembar ngadegna jaman Galunggung diwilayah JAWADWIPA hususna, diwilayah DWIPANTARA umumna, perkiraan candrasangkalana geus aya sakurang-kurangna dua rebu taun kaliwat. Daulatna pisan ngadeg dina jaman SUNDASeMBAWA anu mimiti dipimpin ku anu mawa misi ajaran SUNDAYANA.

H. jaman SALAKANAGARA nepi ka TARUMANAGARA

Dina medar tur ngaguar harti anu misti ku mustari, pikeun ajén-inajén kamanusaan, numutkeun anu kapibanda jeung anu dipiwanda, dina kapribadian Manusa Sunda anu disebut “Talari Paranti”. Hamo kudu landung ku catur, hamo kudu panjang ku panalar, dina lumaku-na, ngadadaran ku carita, pibahaneun ngudag élmu, ning rasa kasampuraan, jeung , ning rasa ka- sampurnaan geusan diri, dina hiji ajén anu tangtu, nyatana Ngolah Diri (RaGaNa) pasti dina BENERna ngolah NaGaRa-na.

Bagja Rahayu Ki Sunda

Hung Ahung _/\_
Cag.

Rampes,,,,

Published in: on 17 Mei 2012 at 4:08 am  Comments (7)  

keSADARan Universal

lalakon anu baris ngarobah HIRUP jeung kaHIRUPan

Video

Published in: on 1 Mei 2012 at 8:33 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Waruga Jagat = Kai Jati

 

WARUGA JAGAT = SAJARATUL KAUN = POHON HAYATI = KA’HAYU JATI

(KAI JATI)

Dina adat budaya Bali urang manggihan hiji upacara anu disebut TUMPEK WARIGA, nu inti pilosofina nyaeta pieun ngahurmat ka tatangkalan / kakayon, utamana pangabakti ka Dewata nu murbha di Pakayonan. Di dieu tetela kecap ‘WARIGA’ teh raket kaitannana jeung kayu/tangkal.

 
Dina basa Sunda, urang oge tangtu manggihan kecap ‘WARU’, eta kecap teh mangrupa aran salah sahiji kakayon, nyaeta tangkal WARU, malah cenah tangkal WARU teh pieun masarakat padalaman Sunda dianggap tangkal anu kawilang karamat da kacaritakeun sok arang langka kapanggih petetannana, jadi ana sakali aya nu manggihan petetan WARU teh cenah kanjat sok aya kolot nu nyebutkeun pajar eta teh jimat, ku pedah jarang tea meureun. (peun).
Ku kituna kecap ‘WARUGA’ teh upama dirucat bisa jadi ngasalkeun tina kecap ‘WARU-UGA-HA’ : WARU = TANGKAL / TANGTUNG, UGA = DAWUH / KALA MANGSA / PASA’ATAN / RUANG WAKTU, HA = HIRUP (USIK-MALIK). Jadi ‘WARUGHA’ (kiwari: Waruga/ raga/ jasad/ badan) teh = tangkal / tangtung hirup anu kauger ku waktu (umur).

 
Tiheula geus kungsi dibahas ngeunaan kecap ‘BHA/BA’ dina logat Surya Kuna anu robah jadi ‘WA’ dina logat Kawi (Jawa kuna) jeung Sunda Kuna, saperti; ‘PURBHA/ PURBA jadi ‘PURWA’, ‘BIHARA’ jadi ‘WIHARA’, ‘BARUNA’ jadi ‘WARUNA’…jsb, ku kituna bisa jadi upama kecap ‘WARU’ oge asalna tina kecap ‘BA-HARU/BHARU’ (kiwari: BARU = anyar).

Dina Bahasa ‘Arab, sakur jajadian cipta (kauniyyah), paribasa Piteuk Tongo Walang taga, Orong-orong Gogondongan, kabeh saakur anu kasebut makhluk sok disebut bangsa ‘HAWADITS’ = Bangsa anyar, lalawanan tina ‘QIDAM’ = Wit/ Mimiti/ Tiheula ayana, (HAWADITS teh bentuk jama’ tina kecap ‘HADITS = anyar).
Dina bahasa Malayu urang oge urang manggih salah sahiji aran kayu anu disebut ‘GAHARU’, aya deui anu disebut tangkal ‘ARU’.

Kecap ‘GAHARU’ jeung ‘ARU’ bisa jadi tina ‘BA-HARU’MM / HARU’MM (seungit) atawa ‘BHARU’ (anyar), dina ejahan baheula mah HA = A, saperti; HANA CARAKA = ANA CARAKA, HARUM = ARUM, KA-HADE = KADE, KA-HAYU = KAYU…jsb. Malah aya deui aran kakayon anu geus kacutat dina carita Tapal Adam Babu Hawa, nyaeta tangkal ‘ARA’, => ARA > HARA-UGA-HA > HARAGHA (harga diri = tangtung diri / ajen inajen diri), tina ‘HARAGHA’ jadi ‘RAGA’, robahna saperti; Hamangku/ Hamengku / Amangku > Mangku (Hamengku buwono, Amangkurat, Mangku bumi).

 

Sakumaha anu geus kungsi ditetelakeun tiheula yen parobahan parobahan litelatir kecap saperti kitu teh kacida ilaharna dina elmu Linguistik mah, anu barobahna kitu teh bisa ku alatan beda letah (dialek) atawa diakibatkeun ku kamekaran basa ti mangsa ka mangsa saluyu jeung kamekaran peradaban hirup-huriping manusa nu ngabasakeunnana.

 
Terakhir: upama geus cunduk kana waktu datang kana mangsa, eta anu disebut Waruga atawa Raga teh geus teu nyawaan (paeh), upama diibaratkeun tangkal kayu mah geus pugur, geuning ngatik sok dicirian eta pendemannana teh ku ‘JAHUL’ anu sok disebut ‘TUTUNGGUL’, ari cirina mah bisa ku kayu, bisa ku awi atawaning ku batu, tapi nu jelas istilah ‘TUTUNGGUL’ teh minangka tuduh / alamat / ciren tina pasesaan adegan tangkal hirup (sabab tunggul teh sesa tangkal kayu nu geus paeh). Alhasil ‘TUTUNGGUL’ teh ciren tina pasesaan Tangkal / Pangadeg / Tangtung / Waruga / Raga anu hirup.

 

 
{Dicutat tina ” KAHAYU JATI – PASINI DIRI JEUNG WANCI” Ku: KUNDA HYANG}.

 

 
Ra-Hayu

 

Published in: on 4 Oktober 2011 at 1:05 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

DADAP MALANG SISI CIMANDIRI

( Pantun Bogor )

 

pantun di handap ieu, mangrupi paguneman antawis Rakean Kalang Sunda, hiji PURAGABAYA (Satria Pinandita) Padjadjaran, sareng Jaya Antea, satria nu nyamar jadi Rakean Santang, mugia mangpaat tur aya pulunganeunnana.

 

Hanjuang

 

 

Pun Sapun . . .

ka ruhur ka Bale Agung

ka Papayung Ratu Pamunjung

Anu Nunggal di Mandala Agung . . .

***

 

Jaya Antea unggah bari ambek, bari ngalugas Kujangna inyana nyampeurkeun Rakean Kalang Sunda.

Ceuk Rakean sabari ngarenghap:


 

” Seug ! “

 

Jaya Antea ngarontok Rakean, bari Kujangna ditubles-tubleskeun, tapi Kujangna kalah ka miley sabari ngebul … Jaya Antea nyabut kerisna laju ditewekeun, tapi kerisna kalah ka ngeluk cara malam kapanasan …

 

Jaya Antea mapatkeun ajianna bawa ti sabrang …. tapi Rakean henteu igeug-igeug acan..

 

Ceuk Rakean :

 

” Antea ! dia memang jaya dina kagagahan dia, tapi ku dia geuning kadeuleu, euweuh pakarang dia anu teurak, jeung ajian dia anu dipajarkeun pangunggulna, geuning sarua keneh …”
 

” Antea, geuning tetela lain pakarang lain jimat. lain ajian kasaktian anu anyar anu mawa jaya di alam ieu teh … kiwari lain wayah pieun kaula ngalawan dia, sabab lalakon urang duaan lain mudu anggeus lebah dieu …”

 

 

” Antea ! lamun dia percaya bener-bener, yen ngan Sembaheun dia wungkul anu kiwari pangmanjurna teh … kaula oge tetep percaya, yen Sembaheun kaula ti baheula oge moal deuk ninggalkeun kaula ! …. memang bener, kaula teh nyembah ka gunung eujeung batu, Tapi, lain gunungna lain batuna anu ku kaula disembah dipunjung-punjung … “

 

 

 ” Sinembah pamunjung kaula, Antea, nya ka Anu Ngayakeun eta gunung jeung batu, gunung eujeung batuna ngan saukur marga paunggahan, pieun ngunggahkeun pamunjung kaula, ka Anu Agung di Mandala Agung … “

 

 

” kaula teu nyaho di tanah nu disaba ku dia, Tapi, tina carita ti luaran, Antea, anu mariang ti dieu teh ti dituna cenah geuning ngajarugjug anu bungkeuleuk … ka pamunjungan anu lain tina emas eujeung lain tina salaka, tapi tina batu dina taneuh … “

 

 

” ayeuna kaula nanya ka dia, marulang ti tanah sabrang, di dieuna teh laju loba nu jadi beunghar … ! ceuk kaula, anu lain beunghar ti asal teh, tapi jadi beunghar anggeus mulang ti pamunjungan.. anu kitu teh, jadina beunghar meunang pepenta ! anu didieu mah disebutna, Muja! … jeung kumaha, anu beunghar beunang pepenta ti tanah sabrang tarelengesna leuwih-leuwih manan jelema anu bareungharna meunang pupuja di nagara ieu . . . ? “

 

 

” mun ceuk dia ka sabrang mah lain muja, tapi kawidian jadi beunghar tanda katarima pangabaktina, jeung kapinteranana tina tamat ngajina … di dieu oge, nya kitu, moal beunghar mun mujana teu katarima atawa hanteu tutas tapana … “

 

 

ayeuna Antea, dia percaya, yen sakabeh anu kumelip, anu gedag anu usik, eta kabeh dibogaan ku : Anu Ngan Sahiji,.. kaula oge nya kitu keneh … eta Anu Ngan Sahiji tadi di kaula mah disarebutna : ANU NUNGGAL … Anu Nunggal di sakabeh alam, Anu Nunggal di sakabeh jagat … “

 

 

” Naon bedana ?? .. Anu Ngan Sahiji anu dia jeung Sang Hyang Anu Nunggal anu kula? Seug !! … geuning bedana dina sebutan wungkul … jeung ngan bedana dina lampah sinembahna … ! “

 

 

” anu di dia disebutna : pasantrenan, di kaula mah ngaranna teh : padepokan …. wujudna kitu-kitu keneh, bedana ngan dina ngaran jeung dina marga ajaranna, tapi tujuanna hanteu geseh saeutik oge, nyaeta, waluya hirup di jagat ieu, waluya hirup di alam anu bakal kasorang … “

 

 

” kaula hanteu bisa ngabuktikeun, yen SangHyang Anu Nunggal teh eta-eta keneh jeung Gusti Agung dia ANu Ngan Sahiji …. amun dia, Antea, bisa nganteur kaula ka karatonna Gusti Agung dia, hade, tangtu kaula ayeuna keneh taluk ka Jaya Antea, tapi, amun dia can bisa ngabuktikeun dimana cicingna Gusti dia, dia hanteu mudu giruk ka Padjadjaran, nu manandeh ganti petana sinembah … ! “

 

 

” Kaula mawa kapercayaan kaula … bawa ku dia kapercayaan dia, sakauman dia .. tapi, ulah nyisikudi ka anu henteu sudi ! “

 

 

” tah deuleu ! ieu cangkalak dia, tuh udar sorangan … Seug, geura susul kaula ! “

 

 

Barang Jaya Antea nubruk Rakean, Rakean mah anggeus ngiles, ….

teu kadeuleu, teu kadenge ….

 

 

 

Cag.

Published in: on 15 Juni 2011 at 12:40 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

SUNDA


Sampurasun,,,

Berdasarkan “Sastrajenrahayuningrat” istilah “Sunda” dibentuk oleh tiga suku kata yaitu SU-NA-DA yang artinya adalah “matahari” ;

–          SU = Sejati/ Abadi

–          NA = Api

–          DA = Besar/ Gede/ Luas/ Agung

Dalam kesatuan kalimat “Sunda” mengandung arti “Sejati-Api-Besar” atau “Api Besar yang Sejati atau bisa juga berarti Api Agung yang Abadi”. Maksud dan maknanya adalah matahari atau “Sang Surya” (Panon Poe/ Mata Poe/ Sang Hyang Manon). Sedangkan kata “Sastrajenrahayuningrat” (Su-Astra-Ajian-Ra-Hayu-ning-Ratu) memiliki arti sebagai berikut;

–          Su = Sejati/ Abadi

–          Astra = Sinar/ Penerang

–          Ajian = Ajaran

–          Ra = Matahari (Sunda)

–          Hayu = Selamat/ Baik/ Indah

–          ning = dari

–          Ratu = Penguasa (Maharaja)

Dengan demikian “Sastrajenrahayuningrat” jika diartikan secara bebas adalah “Sinar Sejati Ajaran Matahari – Kebaikan dari Sang Ratu” atau “Penerang yang Abadi Ajaran Matahari – Kebaikan dari Sang Maharaja” atau boleh jadi maksudnya ialah “Sinar Ajaran Matahari Abadi atas Kebaikan dari Sang Penguasa/ Ratu/ Maharaja Nusantara”, dst.

“Sunda” sama sekali bukan nama etnis/ ras/ suku yang tinggal di pulo Jawa bagian barat dan bukan juga nama daerah, karena sesungguhnya “Sunda” adalah nama ajaran atau agama tertua di muka Bumi, keberadaannya jauh sebelum ada jenis agama apapun yang dikenal pada saat sekarang.

Agama “Sunda” merupakan cikal-bakal ajaran tentang “cara hidup sebagai manusia beradab hingga mencapai puncak kemanusiaan yang tertinggi (adi-luhung). Selain itu agama Sunda juga yang mengawali lahirnya sistem pemerintahan dengan pola karatuan  (kerajaan) yang pertama di dunia, terkenal dengan konsep SITUMANG (Rasi-Ratu-Rama-Hyang) dengan perlambangan “anjing” (tanda kesetiaan).

Ajaran/ agama Sunda (Matahari) pada mulanya disampaikan oleh Sang Sri Rama Mahaguru Ratu Rasi Prabhu Shindu La-Hyang (Sang Hyang Tamblegmeneng) putra dari Sang Hyang Watu Gunung Ratu Agung Manikmaya yang lebih dikenal sebagai Aji Tirem (Aki Tirem) atau Aji Saka Purwawisesa.

Ajaran Sunda lebih dikenal dengan sebutan Sundayana (yana = way of life, aliran, ajaran, agama) artinya adalah “ajaran Sunda atau agama Matahari” yang dianut oleh bangsa Galuh, khususnya di Jawa Barat.

Sundayana disampaikan secara turun-temurun dan menyebar ke seluruh dunia melalui para Guru Agung (Guru Besar/ Batara Guru), masyarakat Jawa-Barat lebih mengenalnya dengan sebutan Sang Guru Hyang atau “Sangkuriang” dan sebagian lagi memanggilnya dengan sebutan “Guriang” yang artinya “Guru Hyang” juga.

Landasan inti ajaran Sunda adalah “welas-asih” atau cinta-kasih, dalam bahasa Arab-nya disebut “rahman-rahim”, inti ajaran inilah yang kelak berkembang menjadi pokok ajaran seluruh agama yang ada sekarang, sebab adanya rasa welas-asih ini yang menjadikan seseorang layak disebut sebagai manusia. Artinya, dalam pandangan agama Sunda (bangsa Galuh) jika seseorang tidak memiliki rasa welas-asih maka ia tidak layak untuk disebut manusia, pun tidak layak disebut binatang, lebih tepatnya sering disebut sebagai Duruwiksa (Buta) mahluk biadab.

Agar pemahaman ke depan tidak menjadi rancu dan membingungkan dalam memahami istilah “Sinar (Astra/ Ra/ Matahari), Cahaya (Dewa) dan Terang” maka perlu dijelaskan sebagai berikut;

CAHAYA

Sundayana terbagi dalam tiga bidang ajaran dalam satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisah (Kemanunggalan) yaitu;

  1. Tata-Salira/ Kemanunggalan Diri; berisi tentang pembentukan kualitas manusia yaitu, meleburkan diri dalam “ketunggalan” agar menjadi “diri sendiri” (si Swa) yang beradab, merdeka dan berdaulat atau menjadi seseorang yang tidak tergantung kepada apapun dan siapapun selain kepada diri sendiri.
  2. Tata-Naga-Ra/ Kemanunggalan Negeri; yaitu memanunggalkan masyarakat/ bangsa (negara) dalam berkehidupan di Bumi secara beradab, merdeka dan berdaulat. Pembangunan negara yang mandiri, tidak menjajah dan tidak dijajah.
  3. Tata-Buana/ Kemanunggalan Bumi; ialah kebijakan universal (kesemestaan) untuk memanunggalkan Bumi dengan segala isinya dalam semesta kehidupan agar tercipta kedamaian hidup di Buana.

Sesuai dengan bentuk dan dasar pemikiran ajaran Matahari sebagai sumber cahaya maka tata perlambangan wilayah di sekitar Jawa-Barat banyak yang mempergunakan sebutan “Ci” yang artinya “Cahaya”, dalam bahasa India disebut sebagai deva/ dewa (cahaya) yaitu pancaran (gelombang) yang lahir dari Matahari berupa warna-warna. Terdapat lima warna cahaya utama (Pancawarna) yang menjadi landasan filosofi kehidupan bangsa Galuh penganut ajaran Sunda:

  1. Cahaya Putih di timur disebut Purwa, tempat Hyang Iswara.
  2. Cahaya Merah di selatan disebut Daksina, tempat Hyang Brahma.
  3. Cahaya Kuning di barat disebut Pasima, tempat Hyang Mahadewa.
  4. Cahaya Hitam di utara disebut Utara, tempat Hyang Wisnu.
  5. Segala Warna Cahaya di pusat disebut Madya, tempat Hyang Siwa.

Lima kualitas “Cahaya” tersebut sesungguhnya merupakan nilai “waktu” dalam hitungan “wuku”. Kelima wuku (wuku lima) tidak ada yang buruk dan semuanya baik, namun selama ini Sang Hyang Siwa (pelebur segala cahaya/ warna) telah disalah-artikan menjadi “dewa perusak”, padahal arti kata “pelebur” itu adalah “pemersatu” atau yang meleburkan atau memanunggalkan. Jadi, sama sekali tidak terdapat ‘dewa’ yang bersifat merusak dan menghancurkan.

Ajaran Sunda dalam silib-siloka PANAH CHAKRA

Ajaran Sunda dalam silib-siloka “Panah Chakra”

“Ajaran Sunda” di dalam cerita pewayangan dilambangkan dengan Jamparing Panah Chakra, yaitu ‘raja segala senjata’ milik Sang Hyang Wisnu yang dapat mengalahkan sifat jahat dan angkara-murka, tidak ada yang dapat lolos dari bidikan Jamparing Panah Chakra. Maksudnya adalah;

–          Jamparing = Jampe Kuring

–          Panah = Manah = Hati (Rasa Welas-Asih)

–          Chakra atau Cakra = Titik Pusaran yang bersinar/ Roda Penggerak Kehidupan (‘matahari’).

–          Secara simbolik gendewa (gondewa) merupakan bentuk bibir yang sedang tersenyum (?).

CHAKRA

 Panah Chakra di Jawa Barat biasa disebut sebagai “Jamparing Asih” maksudnya adalah “Ajian Manah nu Welas Asih” (ajian hati yang lembut penuh dengan cinta-kasih). Dengan demikian maksud utama dari Jamparing Panah Chakra atau Jamparing Asih itu ialah “ucapan yang keluar dari hati yang welas asih dapat menggerakan roda kehidupan yang bersinar”.

Keberadaan Panca Dewa kelak disilib-silokakan (diperlambangkan) ke dalam kisah “pewayangan” dengan tokoh-tokoh baru melalui kisah Ramayana (Ajaran Rama) serta kisah Mahabharata pada tahun +/-1500 SM; Yudis-ti-Ra, Bi-Ma, Ra-ju-Na, Na-ku-La, dan Sa-Dewa. Kelima cahaya itu kelak dikenal dengan sebutan “Pandawa” singkatan dari “Panca Dewa” (Lima Cahaya) yang merupakan perlambangan atas sifat-sifat kesatria negara. Istilah “wayang” itu sendiri memiliki arti “bayang-bayang”, maksudnya adalah perumpamaan dari kelima cahaya tersebut di atas.

Selama ini cerita wayang selalu dianggap ciptaan bangsa India, hal tersebut mungkin “benar” tetapi boleh jadi “salah”. Artinya kemungkinan terbesar adalah bangsa India telah berjasa melakukan pencatatan tentang kejadian besar yang pernah ada di Bumi Nusantara melalui kisah pewayangan dalam cerita epos Ramayana dan Mahabharata. Logika sederhananya adalah; India dikenal sebagai bangsa Chandra (Chandra Gupta) sedangkan Nusantara dikenal sebagai bangsa Matahari (Ra-Hyang), dalam hal ini tentu Matahari lebih unggul dan lebih utama ketimbang Bulan. India diterangi atau dipengaruhi oleh ajaran dan kebudayaan Nusantara. Namun demikian tidak dapat disangkal bahwa bukti (jejak) peninggalan yang maha agung itu di Bumi Nusantara telah banyak dilupakan, diselewengkan hingga dimusnahkan oleh bangsa Indonesia sendiri sehingga pada saat ini kita sulit untuk membuktikannya melalui “kebenaran ilmiah”.

Berkaitan dengan persoalan “Pancawarna”, bagi orang-orang yang lupa kepada “jati diri” (sebagai bangsa Matahari) di masyarakat Jawa-Barat dikenal peribahasa “teu inget ka Purwa Daksina…!” artinya adalah “lupa kepada Merah-Putih” (lupa akan kebangsaan/ tidak tahu diri/ tidak ingat kepada jati diri sebagai bangsa Galuh penganut ajaran Sunda).

Banyak orang Jawa Barat mengaku dirinya sebagai orang “Sunda”, mereka mengagungkan “Sunda” sebagai genetika biologis dan budayanya yang membanggakan, bahkan secara nyata perilaku diri mereka yang lembut telah menunjukan kesundaannya (sopan-santun dan berbudhi), namun unik dan anehnya mereka ‘tidak mengakui’ bahwa itu semua adalah hasil didikan Agama Sunda yang telah mereka warisi dari para leluhurnya secara turun-temurun, seolah telah menjadi genetika religi pada diri manusia Galuh.

Masyarakat Jawa Barat tidak menyadari (tidak mengetahui) bahwa perilaku lembut penuh tata-krama sopan-santun dan berbudhi itu terjadi akibat adanya “ajaran” (agama Sunda) yang mengalir di dalam darah mereka dan bergerak tanpa disadari (refleks). Untuk mengatakan kejadian tersebut para leluhur menyebutnya sebagai;

“nyumput buni di nu caang” (tersembunyi ditempat yang terang) artinya adalah; mentalitas, pikiran, perilaku, seni, kebudayaan, filosofi dll. yang mereka lakukan sesungguhnya adalah hasil didikan agama Sunda tetapi si pelaku sendiri tidak mengetahuinya.

Inti pola dasar ajaran Sunda adalah “berbuat baik dan benar yang dilandasi oleh kelembutan rasa welas-asih. Pola dasar tersebut diterapkan melalui Tri-Dharma (Tiga Kebaikan) yaitu sebagai pemandu ‘ukuran’ nilai atas keagungan diri seseorang/ derajat manusia diukur berdasarkan dharma (kebaikan) :

  1. Dharma Bakti, ialah seseorang yang telah menjalankan budhi kebaikan terhadap diri, keluarga serta di lingkungan kecil tempat ia hidup, manusianya bergelar “Manusia Utama”.
  2. Dharma Suci, ialah seseorang yang telah menjalankan budhi kebaikan terhadap bangsa dan negara, manusianya bergelar “Manusia Unggul Paripurna” (menjadi idola).
  3. Dharma Agung, ialah seseorang yang telah menjalankan budhi kebaikan terhadap segala peri kehidupan baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, yang tercium, yang tersentuh dan tidak tersentuh, segala kebaikan yang tidak terbatasi oleh ruang dan waktu, manusianya bergelar “Manusia Adi Luhung” (Batara Guru)

Nilai-nilai yang terkandung di dalam Tri-Dharma ini kelak menjadi pokok ajaran “Budhi-Dharma” (Buddha) yang mengutamakan budhi kebaikan sebagai bukti dan bakti rasa welas-asih terhadap segala kehidupan untuk mencapai kebahagiaan, atau pembebasan diri dari kesengsaraan.

Ajaran ini kelak dilanjutkan dan dikembangkan oleh salah seorang tokoh Mahaguru Rasi Shakyamuni – Sidharta Gautama (‘Sang Budha’), seorang putra mahkota kerajaan Kapilawastu di Nepal – India.

Pembentukan Tri-Dharma Sunda dilakukan melalui tahapan yang berbeda sesuai dengan tingkatan umurnya (?) yaitu :

  1. Dharma Rasa, ialah mendidik diri untuk dapat memahami “rasa” (kelembutan) di dalam segala hal, sehingga mampu menghadirkan keadaan “ngarasa jeung rumasa” (menyadari rasa dan memahami perasaan). Dengan demikian dalam diri seseorang kelak muncul sifat menghormati, menghargai, dan kepedulian terhadap sesama serta kemampuan merasakan yang dirasakan oleh orang lain (pihak lain), hal ini merupakan pola dasar pembentukan sifat “welas-asih” dan manusianya kelak disebut “Dewa-Sa”.
  2. Dharma Raga, adalah mendidik diri dalam bakti nyata (bukti) atau mempraktekan sifat rasa di dalam hidup sehari-hari (*bukan teori) sehingga kelak keberadaan/ kehadiran diri dapat diterima dengan senang hati (bahagia) oleh semua pihak dalam keadaan “ngaraga jeung ngawaruga” (menjelma dan menghadirkan). Hal ini merupakan pola dasar pembentukan perilaku manusia yang dilandasi oleh kesadaran rasa dan pikiran. Seseorang yang telah mencapai tingkatan ini disebut “Dewa-Ta”.
  3. Dharma Raja, adalah mendidik diri untuk menghadirkan “Jati Diri” sebagai manusia “welas-asih” yang seutuhnya dalam segala perilaku kehidupan “memberi tanpa diberi” atau memberi tanpa menerima (tidak ada pamrih). Tingkatan ini merupakan pencapaian derajat manusia paling terhormat yang patut dijadikan suri-teladan bagi semua pihak serta layak disebut (dijadikan) pemimpin.

Ajaran Sunda berlandas kepada sifat bijak-bajik Matahari  yang menerangi dan membagikan cahaya terhadap segala mahluk di penjuru Bumi tanpa pilih kasih dan tanpa membeda-bedakan. Matahari telah menjadi sumber utama yang mengawali kehidupan penuh suka cita, dan tanpa Matahari segalanya hanyalah kegelapan. Oleh sebab itulah para penganut ajaran Sunda berkiblat kepada Matahari (Sang Hyang Tunggal) sebagai simbol ketunggalan dan kemanunggalan yang ada di langit, dan kiblat agama Sunda itu bukan diciptakan oleh manusia.

Sundayana menyebar ke seluruh dunia, terutama di wilayah Asia, Eropa, Amerika dan Afrika, sedangkan di Australia tidak terlalu menampak. Oleh masyarakat Barat melalui masing-masing kecerdasan kode berbahasa mereka ajaran Matahari ini diabadikan dalam sebutan SUNDAY (hari Matahari), berasal dari kata “Sundayana” dan bangsa Indonesia lebih mengenal Sunday itu sebagai hari Minggu.

Di wilayah Amerika kebudayaan suku Indian, Maya dan Aztec pun tidak terlepas dari pemujaan kepada Matahari, demikian pula di wilayah Afrika dan Asia, singkatnya hampir seluruh bangsa di dunia mengikuti ajaran leluhur bangsa Galuh Agung (Nusantara) yang berlandaskan kepada tata-perilaku berbudhi dengan rasa “welas-asih” (cinta-kasih).

Jejak keberadaan ajaran agama Sunda yang kemudian berkembang hingga saat ini terekam dalam kebudayaan masyarakat Roma (kerajaan Romawi) yang menetapkan tanggal 25 Desember sebagai “Hari Matahari” (Sunday) yaitu hari pemujaan kepada Matahari (Sunda) dan kini masyarakat Indonesia lebih mengenalnya sebagai hari “Natal”.

Oleh bangsa Barat (Eropa dan Amerika) istilah Sundayana ‘dirobah’ menjadi Sunday sedangkan di Nusantara dikenal dengan sebutan “Surya” (*Bangsa Arya ?) yang berasal dari tiga suku kata yaitu Su-Ra-Yana, bangsa Nusantara memperingatinya dalam upacara “Sura” (Suro) yang intinya bertujuan untuk mengungkapkan rasa menerima-kasih serta ungkapan rasa syukur atas “kesuburan” negara yang telah memberikan kehidupan dalam segala bentuk yang menghidupkan; baik berupa makanan, udara, air, api (kehangatan), tanah, dan lain sebagainya.

Pengertian Surayana pada hakikatnya sama saja dengan Sundayana sebab mengandung maksud dan makna yang sama.

–          SU = Sejati

–          RA = Sinar/ Maha Cahaya/ Matahari

–          YANA = way of life/ ajaran/ ageman/ agama

Maka arti “Surayana” adalah sama dengan “Agama Matahari yang Sejati” dan dikemudian hari bangsa Indonesia mengenal dan mengabadikannya dengan sebutan “Sang Surya” untuk mengganti istilah “Matahari”.

Perobahan istilah SUNDA

Perobahan istilah “Sunda”

Sekilas gambaran di atas boleh jadi hanya bersifat gatuk (mencocok-cocokan), namun mustahil jika kemiripan penanda (sebutan dan objek) itu terjadi dengan sendirinya tanpa sebab, selain itu terjadi pula kemiripan pada nilai-nilai yang bersifat prinsip dan mustahil pula jika tidak ada yang memulai dan mengajarkannya. Tentu “tidak mungkin ada akibat jika tanpa sebab” (hukum aksi-reaksi), dalam pepatah leluhur bangsa Nusantara menyebutkan “tidak ada asap jika tidak ada api” atau “mustahil ada ranting jika tidak ada dahan” maka segalanya pasti ada yang memulai dan mengajarkan.

5000 tahun sebelum penanggalan Masehi di Asia dalam sejarah peradaban bangsa Mesir kuno  menerangkan (menggambarkan) tentang keberadaan ajaran Matahari dari bangsa Galuh, mereka menyebutnya sebagai “RA” yang artinya adalah Sinar/ Astra/ Matahari/ Sunda.

“RA” digambarkan dalam bentuk “mata” dan diposisikan sebagai “Penguasa Tertinggi” dari seluruh ‘dewa-dewa’ bangsa Mesir kuno yang lainnya, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bangsa Mesir kuno-pun menganut dan mengakui Sundayana (Agama Matahari) yang dibawa dan diajarkan oleh leluhur bangsa Galuh.

Disisi lain bangsa Indonesia saat ini mengenal bentuk dan istilah “mata” (eye) yang mirip dengan gambaran “AMON-RA” bangsa Mesir kuno, sebutan “amon” mengingatkan kita kepada istilah “panon” yang berarti “mata” yang terdapat pada kata “Sang Hyang Manon” yaitu penamaan lain bagi Matahari di masyarakat Jawa Barat jaman dahulu (*apakah kata Amon dan Manon memiliki makna yang sama?)

Selain di Asia (Mesir) bangsa Indian di Amerika-pun sangat memuja Matahari (sebagai simbol leluhur, dan mereka menyebut dirinya sebagai bangsa “kulit merah”) bahkan masyarakat Inca, Aztec dan Maya di daerah Amerika latin membangun kuil pemujaan yang khusus ditujukan bagi Matahari, hingga mereka menggunakan pola penghitungan waktu yang berlandas pada peredaran Matahari, mirip dengan di Nusantara (pola penanggalan Saka = Pilar Utama = Inti / Pusat Peredaran = Matahari).

 

 

Masyarakat suku Inca di Peru (Amerika Latin) membangun tempat pemujaan kepada Matahari di puncak bukit yang disebut Machu Picchu. Dalam hal ini terlihat jelas bahwa secara umum konsep “meninggikan dengan pondasi yang kokoh” dalam kaitannya dengan “keagungan“ (tinggi, luhur, puncak, maha) merupakan landas berpikir yang utama agama Sunda.

Secara filosofis, pola bentuk ‘bangunan’ menuju puncak meruncing (gunungan) itu merupakan perlambangan para Hyang yang ditinggikan atau diluhurkan, hal inipun merupakan silib-siloka tentang perjalanan manusia dari “ada” menuju “tiada” (langit), dari jelma menjadi manusia utama hingga kelak menuju puncak kualitas manusia adiluhung (maha agung).

Demikian pula yang dilakukan oleh suku Maya di Mexico pada jaman dahulu, mereka secara khusus membangun tempat pemujaan (kuil/pura) kepada Matahari (Sang Hyang Tunggal).

Pada jaman dahulu hampir seluruh bangsa di benua Amerika (penduduk asli) memuja kepada Matahari, dan hebatnya hampir semua bangsa menunjukan hasil kebudayaan yang tinggi. Kemajuan peradaban dalam bidang arsitektur, cara berpakaian, sistem komunikasi (baik bentuk lisan, tulisan, gaya bahasa, serta gambar), adab upacara, dll. Kemajuan dalam bidang pertanian dan peternakan tentu saja yang menjadi yang paling utama, sebab hal tersebut menunjukan kemakmuran masyarakat, artinya mereka dapat hidup sejahtera tentram dan damai dalam kebersamaan hingga kelak mampu melahirkan keindahan dan keagungan dalam berkehidupan (berbudaya).

Sekitar abad ke XV kebudayaan agung bangsa Amerika latin mengalami keruntuhan setelah datangnya para missionaris Barat yang membawa misi Gold, Glory dan Gospel. Tujuan utamanya tentu saja Gold (emas/ kekayaan) dan Glory (kejayaan/ kemenangan) sedangkan Gospel (agama) hanya dijadikan sebagai kedok politik agar seolah-olah mereka bertujuan untuk “memberadabkan” sebuah bangsa.

Propaganda yang mereka beritakan tentang perilaku biadab agama Matahari dan kelak dipercaya oleh masyarakat dunia adalah bahwa; “suku terasing penyembah matahari itu pemakan manusia”, hal ini mirip dengan yang terjadi di Sumatra Utara serta wilayah lainnya di Indonesia. Dibalik propaganda tersebut maksud sesungguhnya kedatangan para ‘penyebar agama’ itu adalah perampokan kekayaan alam dan perluasan wilayah jajahan (imperialisme), sebab mustahil bangsa yang sudah “beragama” harus ‘diagamakan’ kembali dengan ajaran yang tidak berlandas kepada nilai-nilai kebijakan dan kearifan lokalnya.

Dalam pandangan penganut agama Sunda (bangsa Galuh) yang dimaksud dengan “peradaban sebuah bangsa (negara)” tidak diukur berdasarkan nilai-nilai material yang semu dan dibuat-buat oleh manusia seperti bangunan megah, emas serta batu permata dan lain sebagainya melainkan terciptanya keselarasan hidup bersama alam (keabadian). Prinsip tersebut tentu saja sangat bertolak-belakang dengan negara-negara lain yang kualitas geografisnya tidak sebaik milik bangsa beriklim tropis seperti di Nusantara dan negara tropis lainnya. Leluhur Galuh mengajarkan tentang prinsip kejayaan dan kekayaan sebuah negara sebagai berikut :

“Gunung kudu pageuh, leuweung kudu hejo, walungan kudu herang, taneuh kudu subur, maka bagja rahayu sakabeh rahayatna”

(Gunung harus kokoh, hutan harus hijau, sungai harus jernih, tanah harus subur, maka tentram damai sentausa semua rakyatnya)

“Gunung teu meunang dirempag, leuweung teu meunang dirusak”

(Gunung tidak boleh dihancurkan, hutan tidak boleh dirusak)

Kuil (tempat peribadatan) pemujaan Matahari hampir seluruhnya dibangun berdasarkan pola bentuk “gunungan” dengan landasan segi empat yang memuncak menuju satu titik. Boleh jadi hal tersebut berkaitan erat dengan salah satu pokok ajaran Sunda dalam mencapai puncak kualitas bangsa (negara) seperti Matahari yang bersinar terang, atau sering disebut sebagai “Opat Ka Lima Pancer” yaitu; empat unsur inti alam (Api, Udara, Air, Tanah) yang memancar menjadi “gunung” sebagai sumber kehidupan mahluk.

Menilik bentuk-bentuk simbolik serta orientasi pemujaannya maka dapat dipastikan bahwa piramida di wilayah Mesir-pun sesungguhnya merupakan kuil Matahari (Sundapura). Walaupun sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa piramid itu adalah kuburan para raja namun perlu dipahami bahwa raja-raja Mesir kuno dipercaya sebagai; Keturunan Matahari/ Utusan Matahari/ Titisan Matahari/ ataupun Putra Matahari, dengan demikian mereka setara dengan “Putra Sunda”(Utusan Sang Hyang Tunggal).

Untuk sementara istilah “Putra Sunda” bagi para raja Mesir kuno dan yang lainnya tentu masih terdengar janggal dan aneh sebab selama ini sebutan “Sunda” selalu dianggap sebagai suku, ras maupun wilayah kecil yang ada di pulo Jawa bagian barat saja, istilah “Sunda” seolah tidak pernah terpahami oleh bangsa Indonesia pun oleh masyarakat Jawa Barat sendiri.

Tidak diketahui waktunya secara tepat, Sang Narayana Galuh Hyang Agung (Galunggung) mengembangkan dan mengokohkan ajaran Sunda di Jepang, dengan demikian RA atau Matahari begitu kental dengan kehidupan masyarakat Jepang, mereka membangun tempat pemujaan bagi Matahari yang disebut sebagai Kuil Nara (Na-Ra / Api-Matahari) dan masyarakat Jepang dikenal sebagai pemuja Dewi Amate-Ra-Su Omikami yang digambarkan sebagai wanita bersinar (Astra / Aster / Astro / Astral / Austra).


Tidak hanya itu, penguasa tertinggi “Kaisar Jepang” pun dipercaya sebagai titisan Matahari atau Putra Matahari (Tenno) dengan kata lain para kaisar Jepang-pun bisa disebut sebagai “Putra Sunda” (Anak/ Utusan/ Titisan Matahari) dan hingga saat ini mereka mempergunakan Matahari sebagai lambang kebangsaan dan kenegaraan yang dihormati oleh masyarakat dunia.

 

Dikemudian hari Jepang dikenal sebagai negeri “Matahari Terbit” hal ini disebabkan karena Jepang mengikuti jejak ajaran leluhur bangsa Nusantara, hingga pada tahun 1945 ketika pasukan Jepang masuk ke Indonesia dengan misi “Cahaya Asia” mereka menyebut Indonesia sebagai “Saudara Tua” untuk kedok politiknya.

Secara mendasar ajaran para leluhur bangsa Galuh dapat diterima di seluruh bangsa (negara) karena mengandung tiga pokok ajaran yang bersifat universal (logis dan realistis), tanpa tekanan dan paksaan yaitu :

  1. Pembentukan nilai-nilai pribadi manusia (seseorang) sebagai landasan pokok pembangunan kualitas keberadaban sebuah bangsa (masyarakat) yang didasari oleh nilai-nilai welas-asih (cinta-kasih).
  2. Pembangunan kualitas sebuah bangsa menuju kehidupan bernegara yang adil-makmur-sejahtera dan beradab melalui segala sumber daya bumi (alam/ lingkungan) di wilayah masing-masing yang dikelola secara bijaksana sesuai dengan kebutuhan hidup sehari-hari.
  3. Pemeliharaan kualitas alam secara selaras yang kelak menjadi pokok kekayaan atau sumber daya utama bagi kehidupan yang akan datang pada sebuah bangsa, dan kelak berlangsung dari generasi ke generasi (berkelanjutan).

Demikian ajaran Sunda (Sundayana/ Surayana/ Agama Matahari) menyebar ke seluruh penjuru Bumi dibawa oleh para Guru Hyang memberikan warna dalam peradaban masyarakat dunia yang diserap dan diungkapkan (diterjemahkan) melalui berbagai bentuk tanda berdasarkan pola kecerdasan masing-masing bangsanya.

Ajaran Sunda menyesuaikan diri dengan letak geografis dan watak masyarakatnya secara selaras (harmonis) maka itu sebabnya bentuk bangunan suci (tempat pemujaan) tidak menunjukan kesamaan disetiap negara, tergantung kepada potensi alamnya. Namun demikian pola dasar bangunan dan filosofinya memiliki kandungan makna yang sama, merujuk kepada bentuk gunungan.

Di Indonesia sendiri simbol “RA” (Matahari/ Sunda) sebagai ‘penguasa’ tertinggi pada jaman dahulu secara nyata teraplikasikan pada berbagai sisi kehidupan dalam berbangsa dan bernegara. Hal itu diungkapkan dalam bentuk (rupa) serta penamaan yang berkaitan dengan istilah “RA” (Matahari) sebagai sesuatu yang sifat agung maupun baik, seperti;

  1. Konsep wilayah disebut “Naga-Ra/ Nega-Ra”
  2. Lambang negara disebut “Bende-Ra”
  3. Maharaja Nusantara bergelar “Ra-Hyang”
  4. Keluarga Kerajaan bergelar “Ra-Keyan dan Ra-Ha-Dian (Raden)”.
  5. Konsep ketata-negaraan disebut “Ra-si, Ra-tu, Ra-ma”
  6. Penduduknya disebut “Ra-Hayat” (rakyat).
  7. Nama wilayah disebut “Dirganta-Ra, Swarganta-Ra, Dwipanta-Ra, Nusanta-Ra, Indonesia (?)”

dll.

Kemaharajaan (Keratuan/ Keraton) Nusantara yang terakhir, “Majapahit” kependekan dari Maharaja-Pura-Hita (Tempat Suci Maharaja yang Makmur-Sejahtera) dikenal sebagai pusat pemerintahan “Naga-Ra” yang terletak di Kadiri – Jawa Timur sekitar abad XIII masih mempergunakan bentuk lambang Matahari, sedangkan dalam panji-panji kenegaraan lainnya mereka mempergunakan warna “merah dan putih” (Purwa-Daksina) yang serupa dengan pataka (‘bendera’) Indonesia saat ini.

Bende-Ra MAJAPAHIT

Bende – Ra Majapahit

Tidak terlepas dari keberadaan ajaran Sunda (Matahari) dimasa lalu yang kini masih melekat diberbagai bangsa sebagai lambang kenegaraan ataupun hal-hal lainnya yang telah berobah menjadi legenda dan mithos, tampaknya bukti terkuat tentang cikal-bakal (awal) keberadaan ajaran Matahari atau agama “Sunda” itu masih tersisa dengan langgeng di Bumi Nusantara  yang kini telah beralih nama menjadi Indonesia.

Di Jawa Kulon (Barat) sebagai wilayah suci tertua (Mandala Hyang) tempat bersemayamnya Leluhur Bangsa Matahari (Pa-Ra-Hyang) hingga saat ini masih menyisakan penandanya sebagai pusat ajaran Sunda (Matahari), yaitu dengan ditetapkannya kata “Tji” (Ci) yang artinya CAHAYA di berbagai wilayah seperti; Ci Beureum (Cahaya Merah), Ci Hideung (Cahaya Hitam), Ci Bodas (Cahaya Putih), Ci Mandiri (Cahaya Mandiri), dan lain sebagainya. Namun sayang banyak ilmuwan Nusantara khususnya dari Jawa Barat malah menyatakan bahwa “Ci” adalah “cai” yang diartikan sebagai “air”, padahal jelas-jelas untuk benda cair itu masyarakat Jawa Barat jaman dulu secara khusus menyebutnya sebagai “Banyu” dan sebagian lagi menyebutnya sebagai “Tirta” (*belum diketahui perbedaan diantara keduanya).

Sebutan “Ci” yang kelak diartikan sebagai “air” (cai/nyai) sesungguhnya berarti “cahaya/ kemilau” yang terpantul di permukaan banyu (tirta) akibat pancaran “sinar” (kemilau). Masalah “penamaan/ sebutan” seperti ini oleh banyak orang sering dianggap sepele, namun secara prinsip berdampak besar terhadap “penghapusan” jejak perjalanan sejarah para leluhur bangsa Galuh Agung pendiri agama Sunda (Matahari).

 

`Cag

Rampes,,,

Published in: on 6 Februari 2011 at 3:22 am  Comments (51)  

Sunda JATI


Bewara kahiji

Nu ngagem Urang Sunda Kanekes (ngaran topna: Baduy).Kanekes teh ngaran hiji tempat di Banten.

Ngaran Agama & Kapercayaan: Sunda Wiwitan. Wiwitan teh hartina mimiti, asal, poko, jati.Ngaran sejen: Sunda Asli, Jatisunda (jati, sanes mahoni)

Ngaran Pangeran:

Sang Hiyang Keresa (Nu Maha Kuasa), Nu ngersakeun (Yang Maha Menghendaki).Sebutan sejen:Batara Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa),Batara Jagat (Tuhan Penguasa Alam)Batara Seda Niskala (Tuhan Yang Maha Gaib)

 

Tempat Pangeran: Buana Nyungcung Kabeh dewa dina konsep agama Hindu (Brahmana, Syiwa, Wisnu, Indra, Yama,jrrd) tunduk ka Batara Seda Niskala.

Konsep Alam ceuk mitologi atawa kosmologi urang Kanekes aya tilu: 1.Buana Nyungcung, tempat linggih Sang Hiyang Keresa, pangluhurna 2.Buana Panca Tengah, tempat jelema, sato, tatangkalan (kaasup tangkal jengkol jeung peuteuy) jeung sadaya mahluk sejena (sireum, tongo, tumbila,jeung sajabana) 3.Buana Larang , naraka. Panghandapna.

Antara Buana Nyungcung jeung Buana Panca Tengah, aya 18 lapisan (langit tea meureun). Lapisan pangluhurna, ngarana Buana Suci Alam Padang, nu ceuk koropak 630 (sigana nomer lomari paranti nunda naskah kuno di Arsip Nasional Jakarta) disebut Alam Kahiyangan atawa Mandala Hiyang, tempat linggihna Nyi Pohaci Sanghiyang Asri jeung Sunan Ambu. (Sunan Ambu ieu ayeuna dijadikeun ngaran gedong teater di Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung (STSI) Buah Batu.

Sang Hiyang Keresa nurunkeun tujuh batara di Sasaka Pusaka Buana. Nu pangkolotna, Batara Cikal, dianggap karuhun urang Kanekes (Baduy). Turunan batara sejenna marentah di daerah Karang, Jampang, Sajra, Jasinga, Bongbang, Banten.

Kapangaruhan Hindu Saeutik Mun noong ngaran2 batara (‘utusan’ Sang Hiyang Keresa: Wisawara, Wisnu, Brahma), tetela aya pangaruh ti Hindu kana ieu sistem kapercayaan urang Kanekes. Tapi kapercayaan Urang Kanekes ieu lain Hindu.

Buana Panca Tengah Ieu wilayah jelema jeung mahluk sejenna, dibagi numutkeun tingkat kasucianana: 1.Sasaka Pusaka Buana, dianggap paling suci, ampir ngarendeng jeung Sasaka Domas (atawa Salaka Domas). Ieu pusat dunya. 2.Kampung Jero, Pusat lingkungan Desa Kanekes 3.Kampung Luar/panamping/penyangga/bumper, Desa Kanekes, jadi pusat Banten 4.Banten, jadi pusat Sunda 5.Tanah Sunda 6.Luar Tanah Sunda

Aturan Hirup: Titahan jeung Pamali (basa urang dinya, Buyut) ti karuhun. Kabuyutan, tempat nu ngandung rupa-rupa pamali. (Teu meunang anu, teu meunang anu tea….)

Ritual/Upacara: ngukus, muja, ngawalu, ngalaksa.

Muja

Muja diayakeun di Sasaka Pusaka Buana jeung Sasaka Domas dina waktu nu beda. Di Sasaka Pusaka Buana sataun sakali, lilana tilu poe, tiap tanggal 16, 17, 18 bulan Kawolu (bulan kalima numutkeun sistim kalender Urang Kanekes. US boga sistem kalender sorangan tah!). Muja dipingpin ku Puun (sigana sarupaning kepala adat) Cikeusik, jeung jalma2 kapercayaanana (baris kolot-sesepuh meureun). Poe kahiji, rombongan upacara angkat ka ranggon (Talahab- saung). Ngendong di dinya. Isukna, mandi jeung karamas, terus angkat ka ka Sasaka Pusaka Buana ti arah kaler. Upacara muja dilakukeun di undakan kahiji, ngadep ka pasir/bukit SPB, nepi ka tengah poe. Terus mersihan salira, bari memeres palataran undakan. Beres kitu, ngumbah leungeun jeung suku ti batu Sang Hiyang Pangumbahan. Terus naek ka puncak pasir/bukit. Di dinya rombongan ngala lukut nu napel dina batu. Lukut (lumut) eta disebut komala (permata), dibawa mulang jeung dipercaya bisa ngadatangkeun berkah jang nu merlukeun.

Buyut/Pamali Aya dua jinis: 1.Buyut Adam Tunggal, pamali nalian urang Tangtu (warga kampung jero). Buyut ieu pamali nu nalian hal poko jeung nu sejenna/rinci 2.Buyut Nuhun, pamali nu berlaku jang orang Panamping jeung Dangka (warga Kanekes Luar). Buyut ieu mah ngan jang nu poko. Jadi nu di Panamping atawa Dangka kaci dilakukeun, tapi di daerah Tangtu/Kampung Jero mah teu kaci.

Pamali bin buyut ieu ngandung udagan: a.melindungi kasucian jeung kamurnian suka manusa b.melindungi kamurnian mandala/tempat cicing c.melindungi tradisi

Buyut atawa pamali (tabu) diayakeun bisa jadi jang melindungi mandala Kanekes, karena ti samet Karajaan Sunda ancur (1579 Masehi), teu aya deui karajaan nu ngalindungi. Malah sok aya pertentangan kapentingan antara urang Kanekes jeung Kasultanan Banten oge pamarentah kolonial. Tah, ceunah, cara jang melindungi diri sendiri teh make eta pamali atawa buyut! Teu kawasa, ucapan nu kaluar mun kudu ngarempak buyut.

Hukuman atawa sanksi jang nu ngarempag buyut: dikaluarkeun/dipiceun/ditamping ti lingkungan asal dina jangka waktu nu tangtu, biasana 40 poe. Upacara pelaksanaan hukuman disebut Panyapuan.

Konsep Daur Hirup Sukma atawa roh jelema asalna ti Kahiyangan, mun hirup di Buana Panca Tengah angges, sukma balik deui ka Kahiyangan (ngahiyang tea meureun!). Waktu sukma turun ti Kahiyangan ka Buana Panca Tengah, kondisina rahayu, alus, balik oge kudu kitu. Mun henteu beresih tapi kotor alatan loba buyut/pamali nu dirempag, nya ka naraka. Alus gorengna sukma waktu rek mulang gumantung kana amal perbuatan di Buana Panca Tengah saluyu jeung tugas hidup masing2. Dina raraga mancen tugas, sukma dibekelan 10 indra.

Bewara Kadua

Masyarakat Baduy yang sampai sekarang ini ketat mengikuti adat istiadat bukan merupakan masyarakat terasing, terpencil, ataupun masyarakat yang terisolasi dari perkembangan dunia luar. Kontak mereka dengan dunia luar telah terjadi sejak abad 16 Masehi, yaitu dengan Kesultanan Banten. Sejak saat itu berlangsunglah tradisi sebasebagai puncak pesta panen dan menghormati kerabat non Baduy yang tinggal di luar Kanekes. Bagi Kesultanan Banten tradisi Seba tersebut diartikan sebagai tunduknya orang Baduy terhadap pemerintahan kerajaan setempat (Garna,1993). Sampai sekarang upacara Seba tersebut terus dilangsungkan setahun sekali, berupa menghantar hasil bumi (padi, palawija, buah-buahan) kepada Gubernur Banten. Di bidang pertanian penduduk Baduy Luar berinteraksi erat dengan masyarakat lain yang bukan Baduy, misalnya dalam sewa menyewa tanah, dan tenaga buruh. Perdagangan yang pada waktu yang lampau dilakukan secara barter, sekarang ini telah mempergunakan mata uang rupiah biasa. Orang Baduy menjual hasil buah-buahan, madu, dan gula kawung/aren melalui para tengkulak. Mereka juga membeli kebutuhan hidup yang tidak diproduksi sendiri di pasar. Pasar bagi orang Baduy terletak di luar wilayah Kanekes seperti pasar Kroya, Cibengkung, dan Ciboleger.

Disamping itu, orang Baduy di Kanekes, sejak para karuhun memiliki syair-syair atau pantun-pantun. Syair ataupun pantun tersebut menggunakan bahasa yang dipergunakan sebagai media utama dalam lisan sehari-hari Baduy tapi mengandung pituah, perintah, adalah Bahasa Sunda dialek Baduy yang telah meninggalkan Kanekes beserta segala pranata masyarakatnya. Dalam hal ini seperti adat kepercayaan, kebiasaan, yang bertumpu pada akar keklasikan serta banyaknya kata-kata dan untaian kalimat Sunda Kuno. Dikalangan masyarakat Baduy Kanekes, unsur Sunda Kuno itu lebih banyak dibanding yang terdapat dikalangan masyarakat Sunda luar Kanekes. Hal itu dikarenakan sangat gugon tuhonnya mereka memelihara peninggalan karuhun termasuk didalamnya bahasa. Hal itu ditopang pula oleh sangat jarangnya persentuhan mereka dengan budaya luar. Terutama di Tangtu Telu, Cibeo, Cikertawana dan Cikeusik. Karenanya, merekapun sangat tidak mengenal undak usuk basa. Bagi orang Tangtu undak usuk basa sangat asing. Contoh, untuk orang pertama dengan siapapun mereka berbicara mempergunakan sebutan aing, untuk orang kedua dipergunakan sebuatan sia. Orang Baduy Kanekes, sangat demokratis dalam berbahasa.

Mantra

Bentuk-bentuk mantera sastera lisan yang terdapat di Baduy Kanekes, diantaranya Mantera, Pantun, Pikukuh, Pitutur, Susuwalan, Riwayat, Cerita Rakyat dan Legenda. Adapun bentuk yang tertua dilihat dari segi bahasa, kandungan isi dan falsafah, serta nafas, ialah Mantera. Aki Puun Djainte dari Baduy Jero Cikeusik, menuturkan bahwa mantera, jauh lebih tua dari pantun serta Sastera Bambu. Mantera terdiri dari beberapa tingkat. Tua, pertengahan dan muda. Mantera ini juga ditentukan peruntukannya, seperti halnya untuk apa mantera diucapkan, tahun berapa keberadaan dari mantera tersebut, serta bahasa yang dipergunakannya. Namun betapapun mudanya usia sesuatu Mantera, fungsinya dalam kehidupan ritual masyarakat Baduy, menempati urutan yang teratas. Hal ini sejajar dengan kedudukan serta wibawa pikukuh. “Bisina kagetrak kagetruj, mangkana kudu nyanybla ku omong” (untuk menjaga ada yang tergores, kita harus pamit terlebih dahulu). Ujar Jaro Inas tahun 1980, Dukun Pantun dari Baduy Jero Cikeusik, tentang mantera.

Berikut salah satu contoh mantera maysrakat Baduy :

Sapun awaking reuk make pasang panjang pasadun pok sablapun

Meunag Ahung tujuh kali

Ahung deui

Ahung deui

Ahung malungga

Ahung malingga

Ahung mangdegdeg

Ahung mangandeg

Ahung manglindu asih

Ka Ambu aing Sira mangambung

Ka Bapa aing Sira mangumbang

Pangjungjungkeun panglawungkeun

Ku Ambu aing sira manglaung

Ku Bapa aing sira mangumpang

Pangnyambungkeun aing saur pangngapakeun aing saba

Ka luhur ka mega beureum

Ka mega hideung

Ka mega si karambangan

Ka mega si kareumbingan

Ka mega si karenten

Ka mega si kalambatan

Ka mega si kaleumbitan

Ka mega ssi antrawela

Ka kocapna

Ka ucapna

Ka Puncakning ibun

Ka guru putra hiyang bayu

Ka nu weang nyukcruk ibun

Ahung…….

Tingkatan mantra yang dikutip dari mantera yang dipakai dalam Pasundan Pantun Baduy tersebut, termasuk Mantera tingkat pertengahan. Berikut adalah kutipan dari Mantera yang lebih muda, diambil beberapa bait dari Mantera pada upacara Ngareremokeun (mengawinkan) Nyai Pohaci dengan Bumi. Suatu upacara yang dinamakan pula Ngaseuk. Dalam tradisi Adat sunda Wiwitan, masa Ngaseuk adalah masa Ngareremokeun padi yang diberi nama sangat indah, agung dan puitis; Nu Geulis Nyai Pohaci Sri Dangdayang Tresnawati, dengan Tanah atau Bumi yang bergelar sangat perkasa:

Weweg sampeg, Mandala pageuh

Mangka tetep mangka langgeng

Mangka langgeng tunggal tineung

Datang hiji datang dua

Datang tilu nungku nungku

Datang opat ngawun ngawun

Datang lima lingga emas

Datang genep nguren nguren

Datang tujuh lilimbungan

Puluhan tanpa wilangan

Sedang dalam Mantera mengundang kehadiran Nyai Pohaci Dangdayang Tresnawati pada acara Tari Baksa untuk memeriahkan Ngeslamkeun anak anak Baduy Kanekes, antara lain berbunyi:

Calik calik nu geulis

Nyai Sri calik di dieu

Unggah ka pasaran lega

Geusan sia gagayahan

Geusan sia gagayahan

Di gedong manik mandala pageuh

Lemut teuing ku buruanana

Lesang teuing ku bojana

Nu geulis ranggeuy mirikiniknik

Bar ngampar ku samak metruk

Gasan bujang kasangna bagus

Gasan Nyai tes netepan

Ngajepret palisir bodas

Mantra dalam jenis tinggi berusia tua, hanya di sablakan pada upacara sakral seperti pada jarah ke Sasaka Domas atau Sasaka Mandala, satu tahun sekali. Pengsablaannya (pembacaan mantera) Hanya dilakukan oleh Girang Puun dari Tangtu Padaageung (Baduy Jero Cikeusik). Sedangkan pengsablaan mantera tua pada upacara sakral Ngalaksa dan Ngawalu tersebut, hanya dapat dilaksanakan Baris Kolot (tertua) tertentu dari Baduy Jero (Tangtu) atau Baduy Luar (Panamping). Karenanya, wajarlah jika Sastera Lisan Baduy berbentuk Mantera tersebut, hanya dikuasai oleh beberapa Baris Kolot saja. Sehingga dikawatirkan keadaan atau kelestariannya akan cenderung menghadapi kepunahan. Paling tidak ada generasi penerusnya. Bahasa yang dipergunakan Mantera yang biasa dipakai para Girang Puun, waktu Jarah atau Muja ke Sasaka Pusaka Mandala atau Sasaka Domas, ialah bahasa Sunda Kuno.

Pikukuh, adalah Hukum Adat Baduy Kanekes, yang menyumber pada keyakinan Sunda Wiwitan. Diturunkan dengan lisan turun temurun sejak kurun tahun tidak terhitung. Terjalin dalam untaian kata dan kalimat, berbentuk puisi serta prosa lirik. Seperti: Lonjor teu beunang dipotong, pondok teu beunang disambung (panjang tak dapat dipotong, pendek tak dapat disambung).

Arca domas

Objek terpenting dalam kaitannya dengan sistem religi Orang Baduy adalah Sasaka Domas. Objek itu sangatlah bersifat rahasia dan sakral, karena merupakan objek pemujaan paling suci bagi Orang Baduy. Bahkan Orang Baduy sendiri hanya setahun sekali yaitu pada bulan Kalima (upacara muja) dan orang terpilih oleh puun saja yang boleh ke sana. Tempat pemujaan itu merupakan sebuah bukit yang membentuk punden berundak sebanyak tujuh tingkatan, makin ke selatan undak-undakan tersebut makin tinggi dan suci.

Dinding tiap-tiap undakan terdapat hambaro (benteng) yang terdiri atas susunan batu tegak (menhir) dari batu kali. Pada bagian puncak punden terdapat menhir dan arca batu. Arca batu inilah yang dikenal dengan sebutan Sasaka Domas (kata ?domas? berarti keramat/suci). Sasaka Domas digambarkan menyerupai bentuk manusia yang sedang bertapa. Arca ini terbuat dari batu andesit dengan pengerjaan dan bentuk yang sangat sederhana (seperti arca tipe polinesia atau arca megalitik). Sasaka Domas ini terletak di tengah hutan yang sangat lebat tidak jauh dari mata air hulu sungai Ciujung. Kompleks Sasaka Domas ini meliputi areal sekitar 0,5 hektar dengan suhu yang sangat lembab, sehingga batu-batu yang ada di sana semuanya berwarna hijau ditumbuhi lumut.

Objek religi terpenting bagi Masyarakat Baduy adalah Arca Domas, yang lokasinya dirahasiakan dan dianggap paling sakral. Orang Baduy mengunjungi lokasi tersebut untuk melakukan pemujaan setiap tahun sekali pada bulan Kalima, yang pada tahun 2003 bertepatan dengan bulan Juli. Hanya puun yang merupakan ketua adat tertinggi dan beberapa anggota masyarakat terpilih saja yang mengikuti rombongan pemujaan tersebut. Di kompleks Arca Domas tersebut terdapat batu lumpang yang menyimpan air hujan. Apabila pada saat pemujaan ditemukan batu lumpang tersebut ada dalam keadaan penuh air yang jernih, maka bagi Masyarakat Baduy itu merupakan pertanda bahwa hujan pada tahun tersebut akan banyak turun, dan panen akan berhasil baik. Sebaliknya, apabila batu lumpang kering atau berair keruh, maka merupakan pertanda kegagalan panen.



<span>kalau boleh dikatakan Kanekes atau Baduy merupakan :Kaum berdikari yang seharusnya menjadi contoh </span><span>Indonesia</span>

CINTA warisan nenek moyang dan alam, berdikari dan jauh daripada hidup moden. Begitulah kaum Baduy di Banten, wilayah baru di Indonesia (sejak dipisahkan secara rasmi daripada wilayah Jawa Barat pada 2000). Banten juga terkenal sebagai wilayah ‘seribu pendekar’ kerana pernah mempunyai para wira yang hebat. Suku Baduy terdapat di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Mereka telah menarik perhatian luas pelancong ke Indonesia. Hukum adat mereka melarang masyarakat Baduy berhubungan dengan dunia luar termasuk hal-hal yang berbau kemodenan. Jika ada yang melanggar peraturan ini, orang itu akan disingkirkan.

Baduy Dalam sangat ketat menghormati warisan nenek moyang dan mereka sangat patuh terhadap peraturan agar tidak berhubung secara aktif dengan luar dan kalau ada yang melanggar hukum, mereka akan disingkirkan. Baduy Luar pula sudah mula berinteraksi dengan budaya luar dan kemodenan.

Untuk menegakkan peraturan adat ini, suku Baduy Dalam mempunyai upacara tahunan yang disebut Pun Sapun yang memuja alam.

Setelah upacara, ia dilanjutkan dengan pemeriksaan dari rumah ke rumah untuk memastikan bahawa tiada keluarga yang mempunyai barang-barang dari luar seperti televisyen, radio atau barangan yang menandakan kemodenan. Jika ditemui, anggota Baduy Dalam akan dikenakan tekanan menurut peraturan adat termasuk disingkirkan.

Perbedaan antara Baduy Dalam dan Baduy Luar akan jelas terpapar pada pakaian berdasarkan status sosial, tingkat umur dan peranan. Umumnya, Baduy Dalam berpakaian putih atau cerah dan Baduy Luar berpakaian hitam atau gelap.

Masyarakat Baduy sangat patuh kepada pemimpin adat mereka yang digelar Puun.Puun mempunyai tugas untuk melestarikan hukum adat dan mengatur tatacara kehidupan suku. Apa pun yang dikatakan ketua adat akan dipatuhi oleh anggota masyarakat Baduy. Puun juga memerhati peredaran bintang untuk mengatur penanggalan (kalendar) yang berfungsi, terutamanya, untuk mengetahui masa bercucuk tanam. Ciri lain yang menonjol daripada suku Baduy ialah pola hidupnya yang sangat sederhana dan tidak mengharapkan bantuan daripada luar.

Masyarakat ini sangat berdikari dengan berladang. Mereka menanam pelbagai jenis tanaman, termasuk kapas. Aktiviti berdagang dilakukan secara tukar ganti (barter).Untuk keperluan seperti pakaian, mereka menenun kain sendiri (pekerjaan utama kaum wanitanya). Suku Baduy sangat kreatif dalam menghasilkan tenunan dan kerja tangan seperti Koja dan Jarog (beg yang diperbuat daripada kulit kayu).

Selain patuh kepada ketua adat atau Puun, mereka juga masih menghargai ketua pemerintah setempat di luar seperti camat (penghulu) atau bupati (pegawai daerah). Bukti hormat jelas terpapar pada upacara tahunan, Seba kepada Bapak gede. Upacara ini ditanda dengan penyerahan (ufti) hasil tuaian masyarakat Baduy kepada camat Leuwidamar dan Bupati Lebak.

Suku Baduy sangat menghargai alamnya. Mereka menjaga, melindungi dan melestarikan tanaman dan pohon serta hutan di sekitar mereka dengan sangat ketat. Bahkan, mereka mempunyai larangan yang sangat ketat untuk tidak memasuki ‘hutan larangan’ yang dikatakan terdapat di daerah di beberapa hulu sungai di Banten.

Arca Domas yang biasa disembah di hutan larangan. Kononnya, arca itu diperbuat daripada emas tulen. Apakah arca ini merupakan dongeng atau betul-betul ada. Yang pasti, tiada seorang pun dapat sampai ke tempat ini tanpa izin Puun.

Baduy menyambut Ngalaksa yang dikatakan serupa dengan Hari Raya Puasa (atau Lebaran menurut Muslim Indonesia) sebagai tanda rasa syukur kepada Tuhan. Ia disambut setelah masyarakat Baduy berpuasa tiga bulan atau Kawalu. Ketika Kawalu, Baduy Luar atau Baduy Dalam dilarang keras daripada berhubung dengan masyarakat luar. Masyarakat Baduy patuh kepada pemimpin. Ketika krisis ekonomi melanda kenaikan harga makanan, Baduy dapat dijadikan contoh dari segi daya berdikari dan kreativitas.

Pun Sapun ka Luluhuran sakabeh Aing Menta panjang nya pangampurna!

Ahuuung !!

Published in: on 21 September 2010 at 7:11 am  Comments (2)  

Hurup anu hurip dinu hirup

 

 

welas asihna Gusti ku ayana manusa, sato, tutuwuhan, kutu walang taga jeung sajabana, anu kabeh oge ngajadi sarta hirup jeung bisa ditingali sacara nyata (aya wujudna). Ku welas asihna Gusti oge anu ngajadikeun manusa mibanda kaluhuran, kayakinan, welas asih, kaadilan, katulusan, eling lan waspada. Kabeh anu ngajadikeun manusa mulya jeung sejahtera (karahayuan). Rasa eta oge anu ngahubungkeun kahirupan manusa jeung anu Maha Suci.

 

Tja-Ra-Ka ngabogaan arti ngamulyakeun Gusti. Sabab tanpa aya bwana jeung saeusina, komo euweuh manusa, pasti moal aya sebutan GUSTI. Tanpa aya “caraka”, geus pasti HaNa-na oge moal disebut Hana.

 

Kitu oge Da-Ta-Sa-Wa-La bisa dijelaskeun maknana kusabab ayana anu aya, sumber asalna nyatana hiji, nyaeta Gusti. Tinu kasar nepi kanu lemes, wingit, jeung gaib, pasti napel/nerap ka-diri-na kusabab kakawasaan Gusti.  Artina sorotna jadi jeung ngajadi teu ngan saukur ngagelarkeun/nyiptakeun bwana katut eusina hungkul, tapi terus-terusan mancarkeun kanyaah, ngagulung dina kabeh kahirupan.

 

Gusti anu Maha Suci nyiptakeun sakabeh alam, bwana katut eusina, hususna manusa, lain tanpa rencana. Katangtuan anu geus ditetepkeun jadi kudrat pasti (papasten). Kitu oge sakabeh mahluk anu aya didunya pasti kakeunaan ku  wates lan winates (batasan dan pembatasan), saperti anu tumiba kadirina conto gering jeung paeh. Tapi salain ti eta  geus napel dina dirina kalewihan/kamampuan tinu liana, saling merlukeun, merlukeun batur  (ketergantungan), punjul pinunjulan.. jsb

Rek tinu rupa, wujud, warna jeung dedegan,  manusa bisa disebutkeun mahluk anu sampurna. Bisa disebut euweuh anu bisa ngaleuwihan  manusa (kasampurnaan manusa). Gumelarna manusa anu ditakdirkeun jadi wawakil  Gusti, nandakeun ngan manusa hungkul anu mampu jadi warangka eusi “Gusti” (wakil didunya). Kalahiran manusa tina wujud raga-fisik jeung bentuk awak eta mangrupa sari-pati bawana. Matak jadi kaniscayaan lamun manusa mampu ngagunakeun daya-na pikeun ngungkapkeun rahasiah ieu Alam.

 

Hirup manusa ngarupakeun wujud tina sukma, tina proses aya jeung ngajadi (being and becoming) kabentuk tina sari-pati pancaran anu Maha Suci. Kusabab kitu manusa mampu nalaah, miluruh, ngagali, neangan sarta ngayakinkeun jeung yakin ku “ayana” Gusti anu Maha Suci. Sabab sukma sajati asalna tidinya.

saterusna Pa-Dha-Dja-ja-Nya,  makna na, naon bae atawa saha bae moal bisa hirup nyorangan, sabab bakal ngarandapan hirup jeung kahirupan babarengan, sakumaha kaniscayaan kudratna, lamun dina kahirupan manusa osok pangaruh mangaruhan, salain ti boga sifat ngandelkeun kanu lian.

Kitu oge hirup manusa,  awak manusa teu mungkin hirup sewang-sewangan, artina nyawa teu mungkin bisa hirup lamun euweuh raga pon deui raga moal bisa hirup sabab teu bisa napas.

lamun anggota badan lengkep kabeh, karek disebut sampurna. Daya hirup bakal napel dina pribadina, nyaeta rupa, wujud, kaasup sakabeh tingkah-lakuna. Kabeh anu hirup jeung ngawujud pasti bakal saling tarik (tarik-menarik) daya-dinayan (saling bersinergi), sahingga ngamunculkeun daya-daya/kakuatan saperti : adem-panas, positip-nehatip, luhur-handap, caang-poek, kabehna muter silih ganti (cakra manggilingan).

 

Inti tina kaayaan eta, kabeh oge aya di diri manusa, dimana inti tadi sabenerna geus nyerep tina badan manusana sorangan,  bisa disimpulkeun, obahna jagat/alam,  oge bakal sarua jeung obahna diri. Lamun tingkah-laku manusa keur angkara murka , ngaruksak jeung sajabana, jagat/alam oge aya dina ancaman bahaya, misalna banjir, lahar, taneh longsor, loba cilaka jsb.

Numatak manusa kudu inget kana kawajiban utamana, nyaeta Hamemayu-Hayuning Bawana

 

Waktu manusa manembah leat sembah rasa, kudu jeung sakabeh sukma (roh,moral)na. Lain awak raga anu pinuh ku kokotor (nafsu dunya). Saenyana sembah raga eta ngan sareat lahir, supaya manusa taat jeung manembahan marang Gusti Kang Murbeng Dumadi.

Manusa kudu cicing dina ASMA kamanusaana, RASA kamanusaan, jadi manusa kudu bisa nempatkeun dina martabatna GUSTI.  Geus diciptakeun disadiakeun naon bae oge keur manusa, jagat jeung eusina. Tinggal kumaha manusa babakti marang Gusti. Gumantung manusana, sakumaha gede tanggung jawabna kanu Maha Kawasa, sabab ieu bawana katut eusina kabeh jadi tanggung jawab manusa.

 

Anu akhir, Ma-Ga-Ba-Tha-Nga bisa dimaknaan kurang lewih kieu, manusa teh anu kalungguhan amanat Gusti, manusa anu menekung ka Gusti jadi daya cahaya anu Maha Suci, yen rasana Gusti luluh kana sukma-na manusa. Jagat (alam) gumantung kana sajarah umat manusa anu disebut awal jeung akhir, oge ngajadikeun jantraning manungsa. Hakekatna ngampar ieu alam, oge ngagelarna manusa. Jadi di dunya ieu moal aya lalakon lamun euweuh wujud jeung gerakna manusa.

kabeh jelas jeung nyata. Artina lamun kabeh manusa geus aya dina kamanusaanna – lamun kabeh geus jadi kanyataan – berarti kawajiban manusa didunya geus beres. Geus tepi kana perjanjian pribadining manungsa jeung geus titimangsa kudu mulang marang pangayuning Pangeran. Tina aya jadi euweuh, jadi euweuh deui. Artina sakabeh abu jadi yen geus tinekanan kana wates kodratna, pasti bakal mulih marang mula-mulanira lan sirna. Awal jeung akhir, geus hatam/tamat.

Lamun manusa geus euweuh, ngarana Gusti oge moal disebut deui (kaucap), aya.

 

Cag.

 

Mung sakieu anu kapihatur kirang langkungna ieu hasil ngaraga meneng, tina hasil ngagali makna filosofis anu aya dina kandungan huruf/aksara Ha-Na-Tja-Ra-Ka.

Sakumaha luhungna, ka-adiluhung-an ieu huruf/aksara Ha-Na-Tja-Ra-Ka, lamun teu dihayati jeung nyulusup kanu ati, nilai-nilai substansial anu aya dijerona sarta usaha ngembangkeuna, pasti moal aya makna jeung manfaat keur kahirupan urang oge mahluk sejena dina nyinghareupan ieu alam/jaman, oge  waktu anu baris kasorang/disorang ku anak incu. ngabebenah budaya Nusantara anu kudu diwangun keur kamaslahatan anak incu turunan urang.

huruf/aksara Ha-Na-Tja-Ra-Ka  lamun digali lewih jero tina huruf per hurufna bakal ngahasilkeun hiji ajaran kahirupan anu mampu mere pencerahan pikir katut rasa. Tegesna yen eta hurup kabeh anu ngarucat dina awak/diri manusa anu sadjati.

 

Salam Nusanta-Ra

 

~ Ntjep Borneo

Published in: on 28 Mei 2010 at 1:19 am  Comments (2)