adab jeung adat dimana ngaLAKU

#META-na karuhun dimana rek pepelaka (gawe/ngaLAKU/kasab), ngajarkeun dina adat jeung adab, dina rasa jeung karumasaan:

laku meta

– Peureumkeun mata, bari nyinghareup ka belah wetan.
– Tarik napas anu jero sing lantip make irung, dugika teu tiasa nganapas deui,,, tahan sakedap.
– kretegkeun dina manah:

Sampurasun,
Huuuung,,,,, nu maha agung
ibu lemah caiku ibu bumi, ibu pertiwi
kudrat pasti nu ngabijil jadikeun
nu ngagelarkeun,
nu ngajembarkeun,
anu jadi ucap wiwitan,
nu nyusun hurup anu hurip dina hirup-na sakabeh mahluk.

– kaluarkeun napas lalaunan tina irung bari ngreteg: Ahuuuung !

#bral ngalengkah,,,,

_/\_

mugia tungtung padang ruhui rahayu sadaya.
(“semoga semuanya diberikan kehidupan yang langgeng, sejahtera dan harmonis”)

Iklan
Published in: on 19 Oktober 2013 at 2:15 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

GALUH AGUNG

Galuh

Kesalah-kaprahan dalam memahami “Sunda” sebagai nama sebuah suku bangsa atau kelompok masyarakat yang tinggal di pulo Jawa bagian Barat telah berakibat fatal dan tragis terhadap keberadaan nama “Galuh”.
“Galuh” adalah nama bangsa yang menganut ajaran / agama “Sunda”. Dengan demikian yang selama ini selalu disebut “Orang Sunda” sebagai kelompok kesukuan atau kemasyarakatan maksud yang sebenarnya adalah “Orang Galuh” atau “Bangsa Galuh Agung” (tepatnya menunjuk kepada penduduk wilayah Rama), sebab sangat mustahil orang yang menganut agama Sunda sekaligus mengaku beragama Islam atau Kristiani atau Hindu atau Buddha, ataupun yang lainnya.

Agar lebih jelas kita gunakan contoh sebagai berikut; jika seseorang mengatakan “Saya orang Indonesia beragama Islam” (*Islam = Selamat) pernyataan itu sering disingkat menjadi “Saya orang Islam”. Lain hal jika kalimatnya berbunyi “Saya bangsa Indonesia menganut agama Islam”, dalam kalimat tersebut jelas mengatakan status kebangsaannya, dan memang tidak ada “bangsa Islam” di Indonesia sebab yang layak disebut “bangsa Islam” tentunya hanya bangsa Arab itu sendiri. Maka demikian pula dengan persoalan Sunda dan Galuh, hingga dengan sewajarnya jika mengatakan bahwa “Saya orang Galuh beragama Sunda”.
“Galuh” sama sekali bukan daerah kecil yang terletak di daerah Ciamis. Pada jaman dahulu luas wilayah Galuh hampir sama dengan luas Bumi atau boleh jadi hampir sama dengan luas keberadaan ajaran Sunda (Matahari).

Penyebaran ajaran Sunda di wilayah Galuh Hyang Agung

Di Eropa, khususnya wilayah Perancis dan sekitarnya nama atau sebutan “Galuh” lebih dikenal sebagai “Gaul” (Gaulia/ Golia/ Bangsa Gaul) dan lebih umum sering disebut sebagai bangsa Gallia. Sedangkan di wilayah Timur-Tengah tepatnya di Israel istilah “Galuh” dikenal dengan sebutan “Galillea” (Galilee). Untuk membuktikannya kita perlu memahami peninggalan sejarah dibeberapa negara yang secara prinsip hampir tidak ada bedanya dengan yang ada di Indonesia dan khususnya di pulo Jawa.

Ajaran bangsa Galuh yaitu Sundayana ataupun Surayana sangat kental dengan kehidupan masyarakat daerah Timur-Tengah (Israel) tepatnya di daerah “Galillea”. Pada mulanya kedatangan ajaran Sunda tentu saja ditentang oleh masyarakat lokal (Israel – Palestina), kejadian tersebut diabadikan dalam cerita David (Nabi Daud) melawan Goliath yang dikalahkan oleh sebuah “batu”, dan batu yang dimaksud adalah “lingga/ menhir atau batu satangtung”.
Kewilayahan Galuh Agung penganut ajaran Sunda (Matahari) dimasa lalu pada umumnya terdapat beberapa penanda sebagai perlambangan yaitu berupa; Batu Menhir (Lingga), Matahari, Simbol Ayam ataupun burung dan Terdapat simbol Sapi atau Kerbau atau sejenisnya.

1. MENHIR / LINGGA / BATU SATANGTUNG

ts 1
Menhir (Lingga)

Lingga adalah sebuah “batu” penanda yang diletakan sebagai “pusat” kabuyutan, masyarakat Jawa Barat sering menyebutnya sebagai “Batu Satangtung” dan merupakan penanda wilayah RAMA. Bentuk menhir (lingga) di beberapa negara yang tidak memiliki batu alam utuh dan besar pada umumnya digantikan oleh ‘tugu batu’ buatan seperti yang terdapat di Mekah dan Vatican.

ts 2

ts3

Lingga sebagai batu kabuyutan berasal dari kata “La-Hyang-Galuh” (Hukum Leluhur Galuh). Maksud perlambangan Lingga sesungguhnya lebih ditujukan sebagai pusat/ puseur (inti) pemerintahan disetiap wilayah Ibu Pertiwi, tentu saja setiap bangsa memiliki Ibu Pertiwi-nya masing-masing (Yoni).

Dari tempat Lingga (wilayah Rama) inilah lahirnya kebijakan dan kebajikan yang kelak akan dijalankan oleh para pemimpin negara (Ratu). Hal ini sangat berkaitan erat dengan ketata-negaraan bangsa Galuh dalam ajaran Sunda, dimana Matahari menjadi pusat (saka) peredaran benda-benda langit. Fakta yang dapat kita temui pada setiap negara (kerajaan) di dunia adalah adanya kesamaan pola ketatanegaraan yang terdiri dari Rama (Manusia Agung), Ratu (‘Maharaja’) dan Rasi (raja-raja kecil/ karesian) dan konsep ini kelak disebut sebagai Tri-Tangtu atau Tri-Su-La-Naga-Ra.

Umumnya sebuah Lingga diletakan dalam formasi tertentu yang menunjukan ke-Mandala-an, yaitu tempat sakral yang harus dihormati dan dijaga kesuciannya. Mandala lebih dikenal oleh masyarakat dunia dengan sebutan Dolmen yang tersebar hampir di seluruh penjuru dunia, di Perancis disebut sebagai Mandale sedangkan batunya (lingga) disebut Obelisk ataupun Menhir.

Mandala (tempat suci) secara prinsip terdiri dari 5 lingkaran berlapis yang menunjukan batas kewilayahan atau tingkatan (secara simbolik) yaitu;

1. Mandala Kasungka
2. Mandala Seba
3. Mandala Raja
4. Mandala Wangi
5. Mandala Hyang (inti lingkaran berupa ‘titik’ Batu Satangtung)

Ke-Mandala-an merupakan rangkaian konsep menuju kosmos yang berasal dari pembangunan kemanunggalan diri terhadap negeri, kemanunggalan negeri terhadap bumi, dan kemanunggalan bumi terhadap langit “suwung” (ketiadaan). Dalam bahasa populer sering disebut sebagai perjalanan dari “mikro kosmos menuju makro kosmos” (keberadaan yang pernah ada dan selalu ada).

ts4

2. LAMBANG AYAM / HAYAM

Ayam atau Hayam merupakan perlambangan atas dimulainya sebuah kehidupan. Dalam hal ini keberadaan sosok ayam sangat erat kaitannya dengan kehadiran Matahari. Ayam adalah siloka (symbol) para pendahulu yang memulai kehidupan (leluhur) dan bangsa Galuh menyebut para leluhurnya sebagai “Hyang”, maksudnya,,,

bersambung,,,

tabe pun,
TANGTUNG SUNDAYANA

RaHayu _/\_

Published in: on 16 September 2013 at 3:09 am  Comments (8)  

SANG HYANG TUNGGAL

Masyarakat Galuh Agung (Nusantara) penganut ajaran Sunda meyakini bahwa segala mahluk berawal dan berasal dari “ketiadaan” yang secara mendasar merupakan inti keabadian atau kalanggengan yang bersifat ketunggalan dan kemanunggalan. Berasal dari satu dan menjadi pemersatu atas segala ciptaan atau “keberadaan”, maka seluruh manusia beserta mahluk lainnya adalah saudara (sa-UDARA/se-UDARA).

Sebutan “Tuhan” bagi bangsa Galuh sama sekali bukan Allah (bhs. Arab) ataupun God (bhs. Inggris) yang dikenal oleh masyarakat modern pada saat ini, sebab istilah “Tuhan” itu berasal dari kata “Sang-TUHA-an”, kelak bangsa Indonesia mengenalnya dengan istilah TUHAN yang selalu diartikan sebagai Yang Maha Pencipta. Sebutan “tuhan” digunakan juga dalam kata TUAN (Yang Dipertuan) untuk menghormati seseorang yang dituakan.

– TUHA atau TUA ataupun TUAN artinya sama dengan “Sesepuh”. Dengan demikian yang dimaksud dengan istilah “Tuhan” oleh bangsa Indonesia pada saat ini adalah para sepuh (pini-sepuh) atau “yang disepuhkan” (sosok yang dihormati), dalam bahasa rakyat Jawa Barat sering disebut sebagai “kokolot” atau “nu dipikolot”. Semua tunduk patuh kepada seseorang yang memangku jabatan “nu dipikolot”.

Sebutan “Tuha” ataupun “Tua” kemudian digunakan juga oleh berbagai bangsa di seluruh dunia dengan cara penyebutan dan penulisan yang sesuai dengan pola serta gaya bahasa masing-masing bangsa. Perbedaan waktu, tempat dan gaya bicara tentu mengakibatkan terjadinya perobahan dalam pengucapan atau terjadi proses evolusi kata serta pemaknaannya.

– “Tuha / Tua / Tuan” di bagian Bumi Timur disebut : To (Jepang dan Tahiti), Thi, Thian dan Tao (China), The (India), Tau (Arab dan Timur Tengah). Di Bumi bagian Barat disebut : Teo, Thei (Theis).

Masyarakat Mesir Kuno melambangkannya dengan bentuk “T” yang artinya To atau Te atau Teo (Tua / Tuha).

Tidak diketahui sejak kapan Bangsa Galuh mengenal kata “Tuha/Tua”, namun diduga istilah tersebut sudah ada semenjak pulo Jawa masih bersatu dengan pulo Sumatra yaitu ditandai dengan adanya gunung Kara Ka Tuha yang artinya “Petunjuk bagi para Leluhur atau Kokolot atau Sesepuh” gunung tersebut sekarang dikenal sebagai “Krakatau”. Selain itu di Jawa Barat (Bandung Selatan) masih terdapat pegunungan Pa Tuha yang artinya “Tempat para Kokolot atau Sesepuh”.

Persoalan tentang Sang Maha Pencipta dalam landas pemikiran bangsa Galuh penganut ajaran Sunda sudah tentu “ADA”, namun mereka tidak berani memberikan “nama” sehingga mereka menyebutnya dengan ungkapan “Anu Maha Kawasa” (Yang Maha Kuasa). Kenapa demikian…? mari kita pahami bersama agar tidak terjadi salah pengertian yang pada akhirnya menjadi tuduhan bahwa agama Sunda adalah penyembah Batu dan Matahari atau pun atheis.

Segala yang “ada” berasal dari “ketiadaan” dan kelak akan kembali kepada “ketiadaan”, di dunia ini tidak satupun yang tidak datang dari ‘sana’. Ketiadaan-lah yang merajai segala yang “ada”, dari datang dan kembalinya. Oleh sebab itu, Yang Maha Abadi lagi Maha Sempurna hanyalah “Ketiadaan”.
Segala yang “ada” akan terkena hukum “perobahan dan perbedaan” dengan segala kekurangannya. Terjebak dalam hukum ruang dan waktu (“keberadaan”) adalah tanda “kelemahan”. Maka Yang Maha Tiada tidak selayaknya “ada” di dalam “keberadaan”.

Tidak satupun manusia yang dapat menciptakan “ketiadaan” bahkan membayangkannya-pun mustahil. “Ketiadaan” adalah segala atas segala yang tidak terdefinisikan oleh kecerdasan otak manusia.
Apakah “ketiadaan itu ?” ialah segala atas segala yang mustahil untuk dibayangkan dan tidak mungkin untuk diciptakan walaupun itu hanya dalam citra (imajinasi).

Oleh sebab itu;
Jika Yang Maha Tiada dapat berbicara kepada manusia, itulah kebohongan yang paling besar.
Jika Yang Maha Tiada memiliki amarah seperti manusia, itulah tipuan yang dapat menyesatkan manusia menuju jaman biadab.

Segala pujian hanya bagi yang “ada” di dalam “keberadaan” dan bukan bagi Yang Maha Tiada, dan jika pujian itu ditujukan kepada Yang Maha Tiada maka itu semua hanya omong kosong yang akan ditelan oleh ketiadaan itu sendiri (nihil).

Yang Maha Tiada adalah Maha Suci yang tidak terikat oleh segala hukum; dzat – sifat – nama maupun bentuk. Yang Maha Tiada tidak pernah tersentuh oleh segala kecerdasan pemikiran manusia yang kerdil dan terbatas oleh ruang “keberadaan”. Tidak ada satu mahlukpun yang dapat mendefinisikan-Nya, maka rahasia terbesar bagi segala “keberadaan” adalah “ketiadaan” itu sendiri dan hingga saat ini belum ada satu orangpun yang dapat menjumpai Yang Maha Tiada dalam “ketiadaan-Nya”…. kecuali “pembohong”.
Bangsa Galuh penganut ajaran Sunda mengistilahkan “ketiadaan” itu sebagai Suwung, demikian mereka menyebutkan “yang maha tidak ada” atau ketiadaan yang absolut (*dalam istilah Arabnya disebut “Yang Maha Gaib”).

Bila kita mempertanyakan hal tersebut di atas kepada para pini-sepuh umumnya mereka menjawab; “…aing oge teu nyaho… jug we teang jeung tanyakeun ku sia ka jelema anu geus pernah panggih jeung nu suwung…” (artinya, …saya juga tidak tahu… silahkan cari dan tanyakan oleh mu kepada orang yang pernah bertemu dengan ketiadaan…).

Bagi orang-orang yang merasa penasaran untuk mencari Allah / God ada sebuah pepatah yang cukup bijaksana yaitu: “…teang tapak heulang di awang-awang… teang tapak meri dina leuwi… jeung teang tapak sireum dina batu…” (artinya, …carilah jejak elang di angkasa… carilah jejak itik di sungai… dan carilah jejak semut di batu…).

Agama Sunda tidak mengajarkan untuk berbakti dan mengabdi kepada “ketiadaan”. Kenapa demikian…?, manusia sebagai sosok yang “ada” tidak semata-mata dihadirkan dari “ketiadaan” jika bukan untuk berbakti dan mengabdikan diri kepada segala yang “ada”, tanpa tugas itu maka sia-sialah seorang manusia didatangkan ke muka Bumi.

Karena prinsip “penciptaan” seperti tersebut di atas maka yang selayaknya disembah bukanlah “ketiadaan” yang telah menciptakan dirinya menjadi “ada” melainkan segala sesuatu yang telah menjadikan dirinya hidup mengabdi dan berbakti kepada segala kehidupan. Oleh sebab itu, segala yang “hidup” harus dicintai dan dihormati dengan setinggi-tingginya agar tercipta dan terlaksana sebuah “kemanunggalan hidup” di dalam kehidupan dan itulah yang disebut sebagai Sang Hyang Tunggal.

“Adakah tugas hidup manusia yang lebih utama selain membangun kehidupan dalam kebersamaan yang berlandaskan welas-asih…?” Jika ada, maka ia telah menyembah sesuatu yang ada di luar dirinya dan tersesatlah ia sejauh-jauhnya.

Menyembah adalah “tunduk dan hormat” yang maknanya setara dengan “saling menghormati dan menghargai” dalam posisi dan tugasnya masing-masing sebagai utusan yang dihadirkan oleh Yang Maha Kuasa.

Pohon akan dan harus menjadi pohon yang sebenar-benarnya.
Bunga akan dan harus menjadi bunga yang sebenar-benarnya.
Burung akan dan harus menjadi burung yang sebenar-benarnya.
Harimau akan dan harus menjadi Harimau yang sebenar-benarnya.

Matahari harus menjadi Matahari dan Bulan harus menjadi Bulan.
Angkasa, Udara, Angin, Api, Air, dan Tanah akan dan harus menjalankan fungsi dan tugas dengan sebaik-baiknya… semua saling menghormati dan menghargai sesuai dengan aturannya masing-masing.

Manusia Galuh penganut ajaran Sunda sangat menyadari dan menghayati “keberadaan” alam semesta beserta segala fungsi dan gunanya, dan itu semua tidak terlepas dari kesadaran diri tentang tata-cara berkehidupan yang saling memberi dan menerima sebagai sebuah sistem daya hidup yang terpadu (manunggal). Maka dari itu “menghormati” alam dengan segala kekuatannya (tugas dan fungsi) adalah bagian dari cara berkehidupan bangsa Galuh Agung yang biasanya diungkapkan melalui pujian kepada masing-masing ‘penguasa’ (kekuatan dalam fungsi dan tugas).

Secara langsung ataupun tidak, ajaran tersebut sangat menentukan sikap masyarakat Galuh terhadap hidup berbangsa dan bernegara, bahwa mereka begitu menghormati dan menghargai segala sistem dan sub-sistem yang menunjang pembentukan kualitas hidup di jagat kehidupan.

Kaula lain nyembah ka Beusi tapi muja ka Rasi
Kaula lain nyembah ka Batu tapi muja ka Ratu
Kaula lain nyembah ka Dewa tapi muja ka Rama
Kaula lain beunang ku hayang lain kudu ku embung… tapi kitu anu sakuduna hirup di nagara (di dunya).

(artinya)
Saya bukan menyembah Besi tetapi memuja Rasi (Datu)
Saya bukan menyembah Batu tetapi memuja Ratu (Maharaja)
Saya bukan menyembah Dewa tetapi memuja Rama
Saya bukan terkena oleh keinginan ataupun ketidak-inginan…tapi begitulah seharusnya hidup di negara (di dunia).

Hidup dalam kemanunggalan (kesatuan dalam kebersamaan) saling menghormati dan menghargai dalam sebuah keberaturan yang harmonis adalah idaman (dicita-citakan) bagi segala manusia dan mahluk hidup lainnya, itulah makna hakiki dari Sembah-Hyang (Seba Hyang atau sembahyang), maksud dan tujuannya tidak lain demi mengabdikan dan membaktikan diri terhadap “kemanunggalan dalam semesta kehidupan” (Sang Hyang Tunggal).

Hung,,, Ahuuung !

Cag.

Rahayu

Published in: on 30 Mei 2012 at 1:58 am  Comments (4)  

Clue Sajarah SUNDA

Sampurasun,,,

Hana nguni hana mangke
Tan hana nguni tan hana mangke

Aya baheula, aya ayeuna
Moal aya ayeuna mun euweuh baheula

mugia ieu anu jadi ugeuran tur udagan para Ki Sunda pribadi anu teu poho kana PURWADAKSINA anu nganyahokeun Sajarah SUNDA BIHARI, SUNDA KAMARI jeung SUNDA KIWARI.

ngajadikeun hirup lalakon lampah dina pahirupan anu diwangun ku olahan dasar élmu dina tuturan adat jeung budaya tuturunan, karuhun anu buhun, pikeun panataran tur panuturan ules watek jeung paripolahna anu ngagambarkeun salaku manusa Sunda sangkan mampu nyumponan: kabutuh alam jiwa, kabutuhan alam pikir, jeung kabutuh alam waruga, sangkan dina nata rasa jeung niti diri, aya kadali atawa elésan, teu mangprung ngaberung sakama-kama, sakarep ingsun. Aturan Hirup di alam panyorangan. Kudu pengkuh kana aturan dina “tata, titi, duduga, kalih peryoga dina panalar panaluntikan Sajarah Sunda,,,

Tata (aturan léngkah) = tatapakan laku anu kudu napak kana ugeran aturan talari paranti sangkan teu ngarempak aturan, teu “pamali” (hasil kalakuan anu sok jadi mamala goréng).
Titi (tahapan léngkah) = titincakan laku anu nincak kana paniatan anu surti jeung nastiti.
Duduga (sawangan) = rupaning anu rék dilakonan tinangtu kudu disawang heula saméméh disorang, sangkan hasilna caina hérang laukna beunang, anu karasa pikeun kasalametan. (Wiwaha Yuda na Raga).
Peryoga = ukuran kamampuh pikeun ngajurung laku dina hiji tujuan (kasanggupan anu diukur ku kamampuh).

(*puraga djati)

Saperti Ngolah jiwa, keur ngalelemu RASAna, bisa di geteran ku cara ngageterkeun sora-sora alam (Rahyang Sora Pagendingan) anu mangrupa alat alat seni Buhun (tradisi). Anu ngumandangna dina geteran galura jeung daya geterna. numawi

keur udagan carita Sajarah Sunda-na bisa nganyahokeun kana Sajarah Sunda anu sabenerna tur sampurna sagemblengna, SAE(nya)na mah kudu cacap heula naluntik sakabeh naskah jeung wawasan anu ngeunaan Kasajarahan Sunda, boh anu kuno kitu deui anu “anyar” (kamari), nengetkeun anu geus guar jeung anu acan kaguar, neang anu geus kapanggih jeung anu acan kapanggih, sabab teu cicing di hiji tempat atawa wawangunan, teu dihiji jelema, jeung lain dihiji pakumpulan.

ieu kabeh kudu dikanyahokeun ku cara ngaLAKU, nindak dina neangan kabeh eta pangarti bari ulah poho jeung mopohokeun tugas urang salaku anu HIRUP (cul dogdog tinggal igel), yen aya anu ngagantungkeun HIRUPna ka diri urang, nyatana kolot, anak jeung pamajikan. Sabab, tibatan beak nganyahokeun ieu sajarah ngadon kaburu beak umur (paeh) manten, anu antukna tugas anu sakuduna muser kana LAKU diri anu eling (SADAR) poe ieu, jam ieu, detik ieu jadi mangprung teu kapigawe, diajar sajarahna oge teu hatam kabeh da kaburu paeh, hirup teu guna sabab elmu udaganna teu manfaat pikeun diri jeung balarea. Sajarah Sunda anu BIHARI jeung KAMARI anu sakuduna ngaJADIkeun kahadean pikeun KIWARI jadi teu kaCIRI kusabab teu ngaBUKTI dina BAKTI.

sanajan kitu, tina sawatara naskah jeung wawasan anu jumlahna ngan saeutik tapi geus kaguar ku para ahli sajarah, supaya teu mangprung teuing tina sakitu oge geus bisa katangeun yen sajarah sunda teh ngawengku sakabeh widang kahirupan manusa umumna, cindekna kahirupan manusa urang sunda, tegesna ngawengku wiwidangan:

– Evolusi Bumi / jagat dunya ieu (planet bumi)
– Manusa Sunda
– Kayakinan/ageman/ajaran Sunda
– Budaya jeung per-adab-an (civilization) Sunda
– Pakumbuhan (ka-masyarakat-an) Sunda
– kaNAGARAan Sunda
– kaRATUan (kaRAJAan) sunda.
jjrd.

Galur Sajarah Sunda jeroning proses kaMEKARannana, guluyurna saperti dihandap ieu :

A. mangsa PURWANING SUNDA BIHARI

Dina panalar Sunda Buhun kieu,
Gelarna SUNDA katut sagalaning kaSUNDAannana, mimitina ti jaman BATARA CIKAL nungancik di “Mandala ParaHyang” (dilebah Kanekes atawa “Baduy Kiwari”).
anu disebut Mandala ParaHyang teh nyaeta “Mandala Kahiyangan” (=mandala gaib) anu tetep ngadeg aya nepi ka kiwari, tapi henteu bisa katenjo ku panon manusa biasa.
tah kitu basaNa,,
lamun diitung make ukuran kalamangsa PURWAYUGA sunda bihari timimiti gelarna didunya manusa purba “Lutung-Kasarung”. mimitina Sajarah Sunda teh kira-kira kurang luwih 1-2 juta taun baheula.

B. mangsa PURWAYUGA SUNDA BIHARI

Dina mangsa ieu, sajarah sunda mekar maju kalawan nete nincak rupa rupaning hambalan mekar pertuwuhan jeroning Purwayuga Sunda Bihari. wujud manusa lutung atawa “manusa monyet” (lutung kasarung) lambat laun robah salin rupa jadi Manusa Budaya (Homo-Sapiens).
Budayana oge ningkat maju tina tahapan kabudayaan paleo kultur, awalpaleolitik, kana kabudayaan neo-kultur, awal neo litik, nya akhirna cat mancat kana mangsa “Parahiyangan Perbangkara”.

C. mangsa PARAHIYANGAN PERBANGKARA

Mangsa ieu teh mimiti ngadegna “ka-MAHARAJA-RESI-an” atawa “ka-MAHAPRABU-RESI-an” anu ngawengku kawasan Parahiyangan Purbakala (purbangkara = purba-kala), nyeta anu sok katelah “Galunggung = Galuh Hyang Agung”
dina mitologi Sunda dongeng legenda “Dayang Sumbi jeung Sangkuriang” disebutkeun yen Maharaja-Resi Parahiyangan mangsa harita teh ngaranna “RATU SUNGGING PERBANGKARA”. lamun diitung kusangkala Geologi mah, ngadegna dina mangsa 50.000 taun baheula.

“Kabudayaan Sunda” jaman harita geus nincak kana tahapan Neo-kultur, Neolitik, kalawan geus munggah kana kabudayaan Gopara (parunggu) dina jaman Pra-Sejarah.


D. mangsa PARAHIYANGAN SANGKURIANG

Mangsa dina sesebutan ieu, ngadegna dina mangsa sasakala gelarna Talaga Bandung, nyaeta anu sok katelah “Sumur Bandung” atawa “Leuwi Sipatahunan”.
Ari Talaga Bandung ngajadina “dijadikeun” ku Sangkuriang kira-kira 10.000 taun baheula, nyaeta mangsa “SANGKURIANG” nyieun bendungan di wahangan Citarum nepi ka caina kapendet ku bendungan, nya tuluy ngeuyeumbeung jadi talaga. Eta anu dicaritakeun dina dongeng legenda “Dayang Sumbi jeung Sangkuriang”.

E. mangsa SUMUR BANDUNG

nincak kana tata-paKUWU-an (karajaan -karajaan leutik)
a. Sindulang, Alengka, Kendan, Cangkuang (Leles)
sisi Talaga belah Wetan
b. Malabar, Puntang,,,, jst
sisi Talaga belah Kidul
c. Rajamandala,,,, jst
sisi Talaga belah Kulon
d. Karatuan-Karatuan Sunda palebah Padalarang, Dago, Manglayang,,,, jst
sisi Talaga belah Kaler

F. jaman DWIPANTARA

Urang Sunda anu asalna mangrupakeun bangsa daratan atawa pa-GUNUNG-an, geus mimiti
mekar jadi bangsa maritim atawa palayaran laut.

Jawa Dwipa, nu ngawngku pulo Jawa (“NUSA KENDENG”)
Suwaruna Dwipa, nu ngawngku pulo Sumatra jeung Tanjung Malaka (MALAYA).
Waruna Dwipa, nu ngawngku pulo Kalimantan, Sulawesi, Melenesia, Polenesia jeung pulo-pulo sarta basisir Asia Tenggara.
Simhala Dwipa, nu ngawngku basisir Australia, pulo Madagaskar (Malagasia), basisir Afrika, Sudan jeung India.

G. jaman Galunggung

Jaman Galunggung ngadegna dina mangsa “ka-MAHAPRABU-RESI-an” Galunggung atawa GALUH HYANG GUNG anu ngawengku ka-PRABURESI-an jeung karajaan saperti:

CUPU (Cupunagara) anu taya lian ngaran rusiah tina GALUH PUNTA NAGARA. Ngatan liana nyaeta PUNTA HYANG atawa disingket PUNTANG
Karesian KENDAN di Nagreg Kiwari
Karajaan SINDULANG (Sindula Hyang) anu disebut ku urang Taruma mah Karajaan ALENGKA (kiwari=CICALENGKA)
Karajaan MALABAR,sekeseler Dinasti TARUMA
Karesian TANJUNG KIDUL (Garut Kidul?)
Karajaan AGRABINTA
Karajaan INDRAPRAHASTA
jeung saterusna ngabawah karajaan-karajaan kalawan Karesian-Karesian.

Jembar ngadegna jaman Galunggung diwilayah JAWADWIPA hususna, diwilayah DWIPANTARA umumna, perkiraan candrasangkalana geus aya sakurang-kurangna dua rebu taun kaliwat. Daulatna pisan ngadeg dina jaman SUNDASeMBAWA anu mimiti dipimpin ku anu mawa misi ajaran SUNDAYANA.

H. jaman SALAKANAGARA nepi ka TARUMANAGARA

Dina medar tur ngaguar harti anu misti ku mustari, pikeun ajén-inajén kamanusaan, numutkeun anu kapibanda jeung anu dipiwanda, dina kapribadian Manusa Sunda anu disebut “Talari Paranti”. Hamo kudu landung ku catur, hamo kudu panjang ku panalar, dina lumaku-na, ngadadaran ku carita, pibahaneun ngudag élmu, ning rasa kasampuraan, jeung , ning rasa ka- sampurnaan geusan diri, dina hiji ajén anu tangtu, nyatana Ngolah Diri (RaGaNa) pasti dina BENERna ngolah NaGaRa-na.

Bagja Rahayu Ki Sunda

Hung Ahung _/\_
Cag.

Rampes,,,,

Published in: on 17 Mei 2012 at 4:08 am  Comments (7)  

diajar ngetik 10 ramo

proggram kanggo ngetik 10 ramo, tiasa di download didieu. lengkep sareng game na.  mangga tiasa dicobi, manawi aya manfaatna kanggo urang atanapi murangkalih anu nuju diajar kutak-ketik.

program kumplit sareng KeyGen-na

tiasa nge-klik gambar kanggo nga-download program-na

***

Published in: on 7 Mei 2011 at 12:04 pm  Comments (2)