Dialog tentang Meditasi Hari ke-1


“pengosongan pikiran”

Apa itu meditasi?
Apakah meditasi itu adalah mengosongkan pikiran?

Apakah Anda bisa mengosongkan pikiran? Tidak bisa bukan?
Siapa atau apa sesungguhnya yang berkeinginan untuk mengosongkan pikiran? Bukankah keinginan untuk mengosongkan pikiran juga datang dari pikiran?
Bagaimana mungkin pikiran bisa dikosongkan oleh pikiran?
Jadi Anda tidak bisa mengosongkan pikiran. Melainkan setiap gerak pikiran perlu dipahami, perlu disadari, perlu diamati terus menerus dari saat ke saat.
Pikiran yang disadari terus-menerus ketika ia muncul akan berhenti dengan sendirinya, bukan dipaksa berhenti.

“pemikir dan pikiran”

Siapakah yang mengamati pikiran?
Bukankah ada “si aku” yang mengamati pikiran?

Siapakah “si aku” itu? Kalau ada kesadaran pasif, pengamatan pasif, perhatian pasif terhadap suatu objek, maka si aku tidak ada. Yang ada hanya pengamatan saja, tidak ada “si aku” yang mengamati. Kalau Anda mengamati suatu objek, kemudian pikiran/si pemikir mulai menamai, menilai, menyenangi atau membenci, maka si aku sudah menyusup dalam pengamatan Anda. Objek yang diamati dengan subjek yang mengamati tidak berbeda. Diri yang mengamati dan yang diamati tidaklah berbeda.

Cobalah amati kapan si aku itu menyusup dalam pengamatan Anda. Lihatlah kapan si aku muncul dan membuat jarak dari objek yang diamati. Ketika terjadi jarak objek-subjek, muncul dualitas, di situ konflik terlahir. Bisakah terjadi pengamatan pasif terhadap suatu objek tanpa intervensi pikiran atau si aku? Kalaupun muncul pikiran atau si aku, sadari saja geraknya sampai ia berhenti dengan sendirinya.

“konsentrasi”

Apakah meditasi itu adalah berkonsentrasi pada objek tertentu?

Kebanyakan meditasi adalah konsentratif. Artinya, memusatkan pada objek tertentu terus-menerus.
Objek itu bisa berupa nafas, objek pendengaran, rasa-perasaan tubuh, mantra, katakata suci, dst.
Apa yang sesungguhnya terjadi ketika Anda berkonsentrasi?
Anda ingin batin Anda hening. Ketika mulai duduk, pikiran Anda datang silih berganti. Lalu Anda mengambil suatu focus sebagai objek perhatian Anda terus-menerus. Pikiran-pikiran yang tadinya berdatangan sekarang tidak lagi mengganggu Anda. Tetapi dengan mengambil objek tertentu sebagai focus, bukankah Anda telah mengekslusi pikiran-pikiran lain yang datang dan Anda tidak memahaminya?

Ketika konsentrasi Anda berakhir, bukankah pikiran-pikiran itu kembali datang dan membuat Anda terganggu?
Kalau kita ingin memahami diri dalam meditasi, maka semua teknik meditasi konsentratif tidak akan banyak membantu.

“meditasi non-konsentratif”

Apa yang kita lakukan dalam meditasi non-konsentratif?

Meditasi non-kensentratif ini merupakan praktek keelingan atau kesadaran-pasif (aware-ness) atau perhatian-penuh (mind- fulness) yang ditujukan pada seluruh proses diri individual rasa- tubuh (sensations), perasaan (emotions), pikiran (thought), penalaran (reasoning), ingatan (memory), keinginan (desire), niat atau kehendak (intention), dst pada saat berbagai hal itu muncul dalam kesadaran.

Kalau ada keelingan atau kesadaran-pasif dari saat ke saat secara berkesinambungan tentang seluruh proses ego atau diri ini, maka ego atau diri berakhir. Kesadaran sehari-hari yang digerakkan oleh mekanisme pikiran dan emosi berhenti. Ketika kesadaran sehari-hari ini berhenti, muncul sesuatu yang lain yang tidak bisa ditangkap oleh kesadaran sehari-hari. Pengalaman akan sesuatu ini beragam. Ada yang disebut pemurnian (purifikasi), penerangan atau pencerahan (iluminasi atau enlightenment), unifikasi (unification), pembebasan (liberation), dst.

”bahaya meditasi”

Apakah meditasi itu memiliki bahaya misalnya batin menjadi kacau, halusinasi, kesurupan?

Pada garis besarnya, meditasi memiliki dua tujuan yang berdampak untuk memperkuat ego atau untuk memperlemah ego. Meditasi yang berdampak memperkuat ego misalnya meditasi untuk penyembuhan, untuk pertahanan diri, untuk menerawang pikiran orang lain, untuk melihat makhluk-makhluk halus, dst. Meditasi untuk mencari tujuan yang tampaknya ”innnocent” seperti ”ketenangan”, ”keheningan”, ”menyatu dengan alam semesta”, ”menyatu dengan Tuhan”, dst termasuk dalam kelompok ini.

Meditasi yang dampaknya memperkuat ego ini memiliki teknik-teknik sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Guru atau pembimbing diperlukan sebab tanpa seorang guru atau pembimbing pemeditasi bisa mengalami bahaya depresi, bingung, kacau, halusinasi, dst.

Meditasi yang dampaknya melemahkan ego tidak membutuhkan kehadiran guru atau pembimbing terus-menerus. Tidak ada teknik atau metode tertentu karena tidak ada tujuan lain yang ingin dicapai selain sadar-sepenuhnya dari saat ke saat. Meditasi ini tidak memiliki bahaya apapun kalau dilakukan secara benar.

Banyak orang tidak paham apa itu meditasi sehingga banyak yang memegang anggapan salah. Mereka pikir orang bisa kemasukan roh atau kesurupan. Pandangan salah tentang meditasi membuat orang takut. Ketakutan yang paling besar adalah menghadapi dirinya sendiri dan membiarkan diri sendiri lenyap. Sesungguhnya memahami diri sendiri dari saat ke saat secara terus-menerus dan membiarkan diri lenyap adalah pembebasan. Banyak orang ingin bebas tetapi kenyataannya tidak sungguh-sungguh mau bebas. Banyak orang ingin berubah, tetapi tidak sungguh-sungguh mau berubah. Yang dicari hanya hiburan atau sedikit kelegaan, tapi bukan pembebasan atau perubahan fundamental.

”teknik dan tujuan meditasi”

Bukankah tujuan- tujuan meditasi seperti pemurnian, pencerahan, pembebasan, kesatuan dengan Tuhan itu baik adanya? Mengapa tujuan seperti itu tidak dijadikan orientasi kesadaran dalam meditasi non- kensentrasi?

Boleh saja Anda memiliki tujuan luhur untuk mendapatkan pemurnian hati atau pencerahan jiwa misalnya. Itulah sebabnya Anda datang untuk berlatih meditasi bukan? Tetapi dalam meditasi non-konsentratif, semua itu tidak dijadikan tujuan formal kesadaran. Pemeditasi tidak merenung-renung, tidak berefleksi tentang hal-hal tersebut, tidak ingin mencapainya lewat teknik atau metode tertentu. Kalau kita mengikuti teknik atau metode, maka ada tujuan yang dikejar secara sadar. Meditasi dengan teknik untuk mengejar tujuan tertentu tidak membawa kita ke mana-mana. Ego atau diri tetap ada di situ. Kita tidak keluar dari penjara ego atau diri. Barangkali semua meditasi dengan teknik atau metode tertentu bisa membuat ego atau diri
”waras”, tetapi tidak membuatnya ”mati”. Tidak ada teknik atau metode dalam meditasi non-konsentrasi ini. Yang kita lakukan hanya eling atau sadar terus-menerus dalam waktu yang lama tentang proses-proses diri ini hingga diri ini ”pudar”, ”berakhir”
atau ”mati” dengan sendirinya.

_/\_

Published in: on 9 Februari 2012 at 5:45 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://ncepborneo.wordpress.com/2012/02/09/dialog-tentang-meditasi-hari-ke-1/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: