Asal Usul Kata “INDONESIA”

Sebelum Nusantara menjadi nama resmi kepulauan Negara kita pada masa kerajaan Majapahit (1292-1478) namun berabad-abad selanjutnya nama Nusantara tenggelam seiring runtuhnya kerajaan Majapahit, barulah pada tahun 1920-an seorang berkebangsaan Belanda yang bernama Ernest Francois Eugene Douwes Dekker yang dalam sejarah sebagai Dr. Setiabudi (1878-1950) salah seorang cucu adik Multatuli, memperkenalkan nama “Nusantara”.

Nusantara semula bermakna kepulauan seberang/luar yang digunakan untuk menyebut pulau-pulau di luar jawa, dalam sumpahnya Gajah Mada dihadapan pertemuan agung di pendopo Majapahit yang dikenal dengan sumpah palapa “laman huwus kala Nusantara, isun amukti palapa” yang bermakna jika telah kalah pulau-pulau seberang (karena pada saat itu kerajaan Majapahit hanya meliputi Jawa Timur dan Jawa Tengah saja) saya menikmati palapa (istirahat).

Secara historis, kepulauan yang bermakna kepulauan seberang oleh Dr. Setiabudi diberi pengertian nasionalistis dengan mengambil kata melayu asli “antara” maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu “nusa diantara dua benua dan samudera” sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi Nusantara modern. Dr. Setiabudi mengambil nama Nusantara dari kitab Pararaton yaitu, kitab yang membahas sejarah para ratu Singosari hingga runtuhnya Majapahit (Naskah kuno zaman Majapahit tersebut ditemukan di Bali akhir abad-19, diterjemahkan J. LA Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920). Kemudian karena tahu asal-usul nama Nusantara adalah sebutan bumi pertiwi dulu dan tidak mengandung kata “India” maka dengan cepat menjadi populer dalam tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan untuk digunakan sebagai pengganti nama Hindia Belanda (Nederlandsch-Indie).

Sebelum nama Nusantara populer dimasa pergerakan kemerdekaan Indonesia, pernah seorang pujangga asal Belanda yang bernama Eduard Douwes Dekker (1820-1887) dengan nama samaran Multatuli menamakan Tanah Air kita “Insulinde” (kepulauan Hindia) (latin insula = pulau) dalam bukunya MAX HAVELOR tahun 1860, kemudian dipopulerkan oleh prof. P.J. Veth. Alasan multatuli memberi nama Insulinde karena jijik mendengar nama Nederlandsch Indie (Hindia Belanda) yang diberikan oleh Belanda. Beliau juga menggambarkan bahwa kepulauan Negara kita laksana sabuk yang melingkari garis katulistiwa ditretes intan jamrud.

Nama Indonesia Mulai Muncul
Banyak dari bangsa-bangsa Eropa yang awam dengan benua Asia selalu beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India, dan Tiongkok. Menurut mereka daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah Hindia, Semenanjung Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka”, dan dataran Asia Tenggara dinamakan “Hindia Belakang” sedangkan kepulauan Tanah Air kita memperoleh nama kepulauan Hindia (Indische Archipel, Indian Archipelago, Archipel Indian), pada zaman Belanda nama resminya adalah Nederlandch Indie (Hindia Belanda).
Nama Hindia asal mulanya buatan Herodotus, seorang ahli ilmu sejarah berkebangsaan Yunani (484-525SM) yang dikenal sebagai bapak ilmu sejarah. Adapun nama Hindia ini baru digunakan untuk kepulauan ini oleh Polemeus (100-178) seorang ahli ilmu bumi terkenal, dan nama Hindia ini menjadi terkenal sesudah bangsa portugis dibawah pimpinan: Vasco da Gama mendapati kepulauan ini dengan menyusuri sungai Indus.

Kemudian pada tahun 1847 terbitlah sebuah majalah tahunan di Singapura dengan nama JOURNAL OF INDIAN ARCHIPELAGO AND EASTERN ASIA (JIAEA), dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869) seorang lulusan sarjana Edinburg (Inggris). Tahun 1849 George Samuel Windsor Earl (1813-1865) yang berasal dari Inggris pun menggabungkan diri sebagai redaksi Majalah JIAEA.
Dalam artikelnya Earl di majalah JIAEA volume 4 tahun 1850 menyatakan pendapatnya bahwa sudah tiba waktunya untuk rakyat di kepulauan melayu memiliki nama khusus (a distinctive name) sebab nama Hindia tidaklah cocok dan sering mengundang kebingungan dengan sebutan India yang lain. Dalam judul artikelnya “Embracing Enquiries Into The Continental Relations of the Indo-pacific Islanders”, Earl menamakan penduduk India Belanda bagian barat yang berasal dari Proto-Melayu (melayu tua) dan Neutero-Melayu (melayu muda) sebagai INDUNESIANS dan Earl memilih nama untuk wilayah kepulauan Negara kita dengan sebutan MELAYUNESIA (kepulauan melayu) daripada INDUNESIANS sebab MELAYUNESIANS sangat tepat untuk ras Melayu, apalagi bahasa melayu banyak digunakan diseluruh kepulauan Negara kita.

James Richardson Logan tidak sependapat dengan Windson Earl, beliau menulis artikelnya dalam majalah JIAEA volume 4 hal 252-347 dengan judul “THE ETHNOLOGY OF THE INDIAN ARCHIPELAGO” yang membahas tentang nama bagi kepulauan Negara kita yang oleh Belanda dan bangsa Eropa disebut “Indian Archipelago” yang menurut Logan sangat panjang dan membingungkan.

Melalui tulisan Logan tersebut untuk pertama kalinya nama Indonesia muncul di dunia Internasional “Mr. Earl Sugests the Ethnographical term Indonesia, but rejects in favaour of Malayunesian, I prefer the purely geographical term Indonesian, which is merely a shorter synonym for the Indian Island or the Indian Archipelago”. Selanjutnya Logan secara aktif dalam setiap karya-karya tulisannya selalu memakai nama Indonesia sehingga banyak dari kalangan ilmuwan bidang Ethnology dan Geografi yang mengikuti pendapat Logan menyebut “Indonesia” pada kepulauan kita.
Logan memungut nama Indonesia yang dibuang oleh Earl, dan huruf U (INDUNESIA) digantinya dengan huruf O agar ucapannya lebih baik, maka lahirlah sebutan INDONESIA sampai sekarang. Earl sendiri tidak suka memakai istilah “INDONESIA” dengan alasan bahwa INDUNESIA (kepulauan Indonesia) bisa juga digunakan untuk wilayah Ceylon (Srilanka) dan Maldevies (Maladewa). Earl mengajukan dua pilihan nama Indonesia atau Melayunesia pada halaman 71, artikelnya itu tertulis “…..the in habitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago Would become respectively Indonesia or Malayunesians”.

majalah JIAEA volume 4 tahun 1850, judul artikel “On the leading characteristict of the Papuan, Australian and malay-polynesian nations”

Seorang guru besar bidang ethnology universitas berlin yaitu Adolf Bastian. Mempopulerkan nama “Indonesia” dengan menerbitkan sebuah buku yang berjudul “Indonesia Ordeer Die Inseln Des Malaysichien Archipel” sebanyak lima volume. Isi dari buku-buku tersebut membahas penelitiannya ketika pengembaraannya ke Tanah Air kita, pada tahun 1864-1880.

Melalui buku Bastian tersebut nama Indonesia semakin populer dikalangan sarjana, hingga pernah muncul suatu pendapat bahwa Adolf Bastian adalah pencipta nama Indonesia, pendapat yang keliru tersebut tercantum dalam “Encyclopedie Van Nederland-Indie”, tahun 1918 bahkan di Indonesia dimasukkan dalam buku sejarah kebangsaan jilid I untuk SLTP dan yang sederajat, penerbit Asia Afrika tahun 1969.

Selain Adolf Bastian prof. Van Vollen Hoven (1917) juga mempopulerkan nama “Indonesia” sebagai ganti Indisch (India) begitu juga istilah Inlander (pribumi) diganti sebutan “Indonesier” (orang Indonesia).

Nama Indonesia Menjadi Makna Politik
Sejak tahun 1850-1884 nama Indonesia telah dikenal dalam ilmu pengetahuan Indonesia. Nama Indonesia yang semula adalah istilah ilmiah dalam ethnology kemudian diambil oleh para pemimpin pergerakan nasional, sehingga istilah Indonesia berubah menjadi makna politis. Karena istilah Indonesia menjadi makna politis sebagai wujud identitas suatu bangsa yang telah bangkit dari cengkraman kolonialisme belanda yang mencapai kemerdekaannya, maka pemerintahan kolonialisme belanda selalu menaruh curiga dan mewaspadai istilah “Indonesia” itu.

Orang Indonesia yang pertama kali menggunakan nama “Indonesia” adalah Ki Hajar Dewantara (Suwardi Suryaningrat) pada waktu Beliau di buang di negeri Belanda tahun 1913. Ketika di negeri Belanda, Beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama “INDONESISCHE PERS_BUREAU”. Sehingga di Rotterdam (Belanda) nama Indonesia semakin populer digunakan oleh kalangan para mahasiswa dan para ilmuwan.

Seorang mahasiswa sekolah tinggi ekonomi (Handels hooge school), yang bernama Moch. Hatta mengusulkan agar organisasinya para mahasiswa Hindia Belanda yang belajar di negeri Belanda untuk diubah yang semula bernama INDISCHE VEREENIGING yang didirikan pada tahun 1908, menjadi INDONESISCHE VEREENIGING (perhimpunan Indonesia). Begitu pula majalahnya mahasiswa Hindia Belanda semula bernama “HINDIA POETRA” diganti dengan nama “INDONESIA MERDEKA”. Alasan Moch. Hatta berinisiatif mengganti nama organisasi dan majalah dengan istilah Indonesia termuat dalam majalah Indonesia Merdeka. Bung Hatta menegaskan “……bahwa Indonesia merdeka yang akan datang mustahil disebut Hindia Belanda juga tidak Hindia saja. Sebab dapat menumbuhkan kekeliruan dengan India yang asli bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik karena melambangkan dan mencita-citakan suatu Tanah Air di masa depan, dan untuk mewujudkanya tiap orang Indonesia akan beusaha dengan segala tenaga dan kemampunya di dalam negeri.”

Di dalam negeri berbagai organisasi pun muncul dengan sebutan Indonesia. Tercatat tiga organisasi yang pertama kali menamakan organisasinya dengan memakai sebutan “INDONESIA” .
Organisasi Indonesische Studie Club tahun 1924 didirikan oleh Dr. Soetomo
Organisasi Partai Komunis Indonesia (PKI) tahun 1924

Organisasi INDONESISCHE PANVINDERIJ (NATIPIJ) tahun 1924, Organisasi kepanduan Nasional yang didirikan oleh Jong Islami Ten Bond.
Penetapan Nama Indonesia

Sebutan INDONESIA semakin populer di dalam negeri dalam berbagai gerakan-gerakan yang dipimpin oleh tokoh-tokoh Nasional setelah nama “INDONESIA” dinobatkan sebagai nama Tanah Air, Bangsa dan Bahasa pada “kerapatan Pemoeda-Pemoeda Indonesia” pada tanggal 28 Oktober 1928 yang kemudian disebut “SOEMPAH PEMOEDA”.

Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; Parlemen Hindia Belanda) Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjodjo, dan Sutardjo Karto Hadi Kusumo, mengajukan mosi kepada pemerintah Hindia Belanda agar nama “Indonesia” diresmikan sebagai pengganti nama “NEDERLANDSCH-INDIE” (Hindia Belanda) tetapi Belanda menolak mosi ini. Segala usaha terus dilakukan untuk mengganti didalam perundang-undangan sebutan “NEDERLANDSCH-INDIE” dengan INDONESIA; dan INBOORLING, INLANDER, INHEEIMSCHE dengan INDONESIER tetapi selalu mengalami kegagalan, dimana pihak koloni Belanda selalu mendasarkan keberatannya atas dasar pertimbangan “Juridis”. Nama Indonesiers hanya boleh dipakai secara resmi dalam surat menyurat saja (Surat Edaran 10 Oktober 1940).

Sebutan “Hindia Belanda” lenyap ketika bala tentara Jepang menduduki Tanah Air Kita pada tanggal 8 Maret 1942 dan berganti sebutan “TO-INDO” (India Timur). Tidak lama bala tentara Jepang menduduki Tanah Air kita, tentara sekutu menghancurkan kekuasaan Jepang. Lalu pada tanggal 17 agustus 1945 muncul lebih kuat dengan dicantumkannya dalam proklamasi bangsa Indonesia, dan pada tanggal 18 Agustus 1945, berdirilah Negara Republik Indonesia.

X-Magazine

Published in: on 8 September 2012 at 12:22 am  Comments (3)  

Lagu Indonesia Raya Versi Asli

temuan lirik lagu kebangsaan Indonesia Raya versi asli dengan tiga stanza (bait) ditulis dan dilagukan pertamakali WR Supratman pada tahun 1928, namun lagu monumental itu dinyanyikan secara serentak bersamaan dengan deklarasi Kemerdekaan RI oleh Soekarno-Hatta dengan satu stanza.

Selama ini, yang kita ketahui hanya Indonesia Raya dalam satu stanza, nah ini yang tiga stanza yang terekam dalam lagu dan gambaran suasana Indonesia dalam film seluloid asli yang dibuat pada bulan September 1944 (tahun Jepang 2604) dan tersimpan di Belanda.

Lirik lagu kebangsaan Indonesia Raya
versi asli dengan tiga stanza:

Stanza 1

Indonesia Tanah Airkoe Tanah Toempah Darahkoe
Di sanalah Akoe Berdiri Djadi Pandoe Iboekoe
Indonesia Kebangsaankoe Bangsa Dan Tanah Airkoe
Marilah Kita Berseroe Indonesia Bersatoe

Hidoeplah Tanahkoe Hidoeplah Negrikoe
Bangsakoe Ra’jatkoe Sem’wanja
Bangoenlah Djiwanja Bangoenlah Badannja
Oentoek Indonesia Raja

(Reff Diulang 2 kali, red)
Indonesia Raja Merdeka Merdeka Tanahkoe Negrikoe Jang Koetjinta
Indonesia Raja Merdeka Merdeka Hidoeplah Indonesia Raja

Stanza 2

Indonesia Tanah Jang Moelia Tanah Kita Jang Kaja
Di sanalah Akoe Berdiri Oentoek Slama-Lamanja
Indonesia Tanah Poesaka P’saka Kita Semoenja
Marilah Kita Mendo’a Indonesia Bahagia

Soeboerlah Tanahnja Soeboerlah Djiwanja
Bangsanja Ra’jatnja Sem’wanja
Sadarlah Hatinja Sadarlah Boedinja
Oentoek Indonesia Raja

(Reff Diulang 2 kali, red)
Indonesia Raja Merdeka Merdeka Tanahkoe Negrikoe Jang Koetjinta
Indonesia Raja Merdeka Merdeka Hidoeplah Indonesia Raja

Stanza 3

Indonesia Tanah Jang Seotji Tanah Kita Jang Sakti
Di sanalah Akoe Berdiri ‘Ndjaga Iboe Sedjati
Indonesia Tanah Berseri Tanah Jang Akoe Sajangi
Marilah Kita Berdjandji Indonesia Abadi

S’lamatlah Ra’jatnja S’lamatlah Poetranja
Poelaoenja Laoetnja Sem’wanja
Madjoelah Negrinja Madjoelah Pandoenja
Oentoek Indonesia Raja

(Reff Diulang 2 kali, red)
Indonesia Raja Merdeka Merdeka Tanahkoe Negrikoe Jang Koetjinta
Indonesia Raja Merdeka Merdeka Hidoeplah Indonesia Raja.

~

Naskah pada koran Sin Po (1928)

Lagu Indonesia Raya diciptakan oleh WR Supratman dan dikumandangkan pertama kali di muka umum pada Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 di Jakarta (pada usia 25 tahun), dan disebarluaskan oleh koran Sin Po pada edisi bulan November 1928. Naskah tersebut ditulis oleh WR Supratman dengan Tangga Nada C (natural) dan dengan catatan Djangan Terlaloe Tjepat, sedangkan pada sumber lain telah ditulis oleh WR Supratman pada Tangga Nada G (sesuai kemampuan umum orang menyanyi pada rentang a – e) dan dengan irama Marcia [3], Jos Cleber (1950) menuliskan dengan irama Maestoso con bravura (kecepatan metronome 104).

Aransemen simfoni Jos Cleber (1950)

Secara musikal, lagu ini telah dimuliakan justru oleh orang Belanda (atau Belgia?) bernama Jos Cleber (pada waktu itu ia berusia 34 tahun) yang tutup usia tahun 1999 pada usia 83 tahun. Setelah menerima permintaan Kepala Studio RRI Jakarta Jusuf Ronodipuro pada tahun 1950, Jos Cleber pun menyusun aransemen baru, yang penyempurnaannya ia lakukan setelah juga menerima masukan dari Presiden Soekarno.

Rekaman asli (1950) dan rekam ulang (1997)
Rekaman asli dari Jos Cleber tahun 1950 dari Orkes Cosmopolitan Jakarta, telah dimainkan dan direkam kembali secara digital di Australia tahun 1997 berdasarkan partitur Jos Cleber yang tersimpan di RRI Jakarta, oleh Victoria Philharmonic di bawah pengarahan Addie MS.

~

Lirik asli (1928)

INDONESIA RAJA

I
Indonesia, tanah airkoe, Tanah toempah darahkoe,
Disanalah akoe berdiri,Mendjaga Pandoe Iboekoe.

Indonesia kebangsaankoe,Kebangsaan tanah airkoe,
Marilah kita berseroe:”Indonesia Bersatoe”.

Hidoeplah tanahkoe, Hidoeplah neg’rikoe,
Bangsakoe, djiwakoe, semoea,
Bangoenlah rajatnja,Bangoenlah badannja,Oentoek Indonesia Raja.

II
Indonesia, tanah jang moelia, Tanah kita jang kaja,
Disanalah akoe hidoep, Oentoek s’lama-lamanja.

Indonesia, tanah poesaka, Poesaka kita semoea,
Marilah kita mendoa: “Indonesia Bahagia”.

Soeboerlah tanahnja, Soeboerlah djiwanja,
Bangsanja, rajatnja, semoeanja,
Sedarlah hatinja, Sedarlah boedinja, Oentoek Indonesia Raja.

III
Indonesia, tanah jang soetji, Bagi kita disini,
Disanalah kita berdiri, Mendjaga Iboe sedjati.

Indonesia, tanah berseri, Tanah jang terkoetjintai,
Marilah kita berdjandji: “Indonesia Bersatoe”

S’lamatlah rajatnja, S’lamatlah poet’ranja,
Poelaoenja, laoetnja, semoea,
Madjoelah neg’rinja, Madjoelah Pandoenja,
Oentoek Indonesia Raja.

Refrain :

Indones’, Indones’, Moelia, Moelia,
Tanahkoe, neg’rikoe jang koetjinta.
Indones’, Indones’,
Moelia, Moelia, Hidoeplah Indonesia Raja.


~

Lirik resmi (1958)

INDONESIA RAJA

I
Indonesia tanah airku, Tanah tumpah darahku,
Disanalah aku berdiri, Djadi pandu ibuku.

Indonesia kebangsaanku, Bangsa dan tanah airku,
Marilah kita berseru, Indonesia bersatu.

Hiduplah tanahku, Hiduplah neg’riku,
Bangsaku, Rajatku, sem’wanja,
Bangunlah djiwanja, Bangunlah badannja, Untuk Indonesia Raja.

II
Indonesia, tanah jang mulia, Tanah kita jang kaja,
Disanalah aku berdiri, Untuk s’lama-lamanja.

Indonesia, tanah pusaka, P’saka kita semuanja,
Marilah kita mendoa, Indonesia bahagia.

Suburlah tanahnja, Suburlah djiwanja,
Bangsanja, Rajatnja, sem’wanja, Sadarlah hatinja,
Sadarlah budinja, Untuk Indonesia Raja.

III
Indonesia, tanah jang sutji, Tanah kita jang sakti,
Disanalah aku berdiri, Ndjaga ibu sejati.

Indonesia, tanah berseri, Tanah jang aku sajangi,
Marilah kita berdjandji, Indonesia abadi.

S’lamatlah rakjatnja, S’lamatlah putranja,
Pulaunja, lautnja, sem’wanja,
Madjulah Neg’rinja, Madjulah pandunja, Untuk Indonesia Raja.

Refrain:

Indonesia Raja, Merdeka, merdeka,
Tanahku, neg’riku jang kutjinta!
Indonesia Raja, Merdeka, merdeka,
Hiduplah Indonesia Raja.

~

smoga postingan ini bisa membangkitkan kembali
keSADARan & keCINTAan Putra-Putri Ibu Pertiwi
terhadap Bangsa & Negaranya !

Rahayu _/\_
Tjep Borneo

Published in: on 11 Juli 2012 at 6:02 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Tulisan, Haksara jeung carita Mahabarata

ieu tulisan dicokot tina hasil gunem catur dina postingan pesbuk, Taji Manusa jeung Boedak Satepak.

Sajarah TULISAN (Tuduh Lisan) atawa HAKSARA (Hak Swara) nu ngasalkeun tina Sandi Sunda bangsa La-Murya Purba… — bersama Boedak Satepak dan 2 lainnya.

Suka • • Berhenti Mengikuti Kiriman • 29 April pukul 20:39

• Kanedi Ending, Hasanah Caem, Rakean Wulung Gadung dan 12 lainnya menyukai ini.

o
Taji Manusa
Sejarah singkat:
Dahulu kala Bangsa La-Murya Purba yg merupakan leluhur bangsa Nusantara, mereka tidak menggunakan bahasa lisan sebagai bahasa komunikasinya, mereka menggunakan bahasa hati dengan bantuan daun sebagai media penghantar aura jiwanya, karena pada daun terdapat zat clorofil yang berpungsi menyerap cahaya matahari saat proses potosintesa, maka cahaya aura Bangsa Murya yang sudah barang tentu aura yang terpancar dari jiwanya saat berkomunikasi menggunakan kekuatan jiwanya adalah aura cahaya matahari karena bangsa La-Murya Purba juga dikenal dengan Bangsa Mata Hari, oleh karena itu mereka juga dikenal dengan bangsa TiMU Raya (Bangsa Timur) dan oleh karena itu pula arah terbitnya mata hari disebut arah timur. Karena bahasa yang mereka pergunakan adalah bahasa aura atau bahasa cahaya maka bahasa mereka disebut bahasa Sunda : Sun (San) Da (De/Di) => Sande kala / sandi, lihat juga kenapa gambar hati yang sekarang menjadi ikon cinta itu menyerupai gambar daun, karena hati lah yang secara batiniyyah dapat menerima sinyal aura yang terpancar saat komunikasi bangsa La-Murya berlansung, dan daun lah yang secara lahiriyyah sebuah media yang dapat menyerap cahaya yang terpancar dari mata hari.
Selain bahasa Sunda sebagai bahasa komunikasi, mereka juga sudah mengenal bahasa pesan (sandi) sebagai bentuk bahasa perintah, larangan atau aturan tidak lansung, contoh: jika suatu kawasan adalah area terlarang maka mereka akan membuat semacam tanda tertentu dengan menggunakan batu yang ditumpuk misalnya, atau ranting pohon yang disilangkan, atau dengan sandi rumput yang diikatkan..dll, oleh karena mereka hidup di pedalaman dan pegunungan, oleh karena itu mereka menggunakan media yang tersedia di alam untuk sandi yang mereka buat. Tapi karena sandi sandi dengan menggunakan media tersebut mudah rusak entah karena perubahan alam seperti hujan dan angin, atau bisa saja terinjak hewan yang lewat sehingga batu yang sudah sengaja ditumpuk menjadi berantakan, begitupun dengan ranting dan rerumputan dapat saja berantakan karenanya, maka mereka menggunakan media lain supaya pesan sandi bisa bertahan lama, oleh karena itu mereka menorehkannya di kulit pohon atau di atas batu dengan menggambarkan sandi yang dimaksud, misalnya: sandi batu bertumpuk dengan gambar sebuah garis datar dengan titik satu, titik dua atau tiga di atasnya (seperti huruf TA, TSA, NUN..dll yang kini jadi tulisan ‘arab) sandi rumput: dengan goresan menyerupai rumput (seperti huruf hanacaraka atau Kaganga Sunda sekarang) sandi ranting: dengan goresan menyerupai ranting pohon atau daun (seperti huruf kanji)….dll sementara Sandi aura (cahaya) kemudian dikenal dengan morse yang pada awalnya digunakan dengan media lain yaitu api (suar), baru kemudian dengan bunyi not (suara), maka setelah itu dikenal lah istilah hak swara (haksara / aksara).
29 April pukul 21:51 melalui seluler • Tidak Suka • 4

o
Muhammad Rangga Arifin ‎.
Nyakseni..
#gleukgeuk cai kopiii..^^
29 April pukul 22:19 melalui seluler • Suka

o
Boedak Satepak
Ang Taji, jika dilihat dari proses pengertian sebuah bahasa,,, dari speaking (berbicara), reading (membaca), writing (menulis), grammar/structure (tatabahasa), penjelasan diatas bisa dipahami.

dan kalau cara bicaranya orang bihari menggunakan daun yang dimana daun itu terdapat banyak mulut2 daun yang berukuran MIKRO lantas menyerap “makanan” (swara/gelombang frekuensi/IN) yang berukuran NANO & dipancarkan lagi kepada lawan bicara dengan gelombang frekuensi yang dikeluarkan oleh mulut daun (out),,, hmm untuk saya pribadi bisa dipahami.
atau,,, bila menggunakan kekuatan jiwa (pikir bawah sadar) tentu itu sesuatu yang tanpa batas ketika gelombang otak diturunkan ke Theta,,,Delta,,,dst, yang kecepatannya lebih cepat dari kecepatan swara/cahaya. dan daun hanya sebuah MEDIA/SARANA saja :)

Htur nuhun tos masihan TERANG _/\_
29 April pukul 23:38 • Suka • 4

o
Taji Manusa
‎@kang BS: hatur nuhun nun parantos keresa nambihan, saleresna kitu pisan naon margi karuhun urang mah kapungkur terang kana siloka (bahasa alam), margi tos “Wana Wanoh Wani Wawuh” jeung alamna, nu mawi aya nu tiasa ngobrol sareng tangkal, sareng batu, aya nu terang beja ti angin (nu mawi aya istilah “selenting bawabing angin kolepat bawa ning kilat) margi geuning alam mibanda bahasa anu mandiri. Jaman beh dieu geuning Kanjeng Sulaeman tiasa ngobrol sareng sireum, tiasa uninga kana bahasa sasatoan, minimalna jaman beh dieu pisan budak angon bisa surti lamun dombana geus gegerewangan disada tandana hayang barang hakan… Kadang dilak soca, renyu biwir bisa ngajadi bahasa pesan anu ilahar, conto: upama pamajikan keur aya kaambek pan biwirna sok “manyun”…jsb. Tah ieu bahasa bahasa anu teu kedal ku lisan teh sanyatana tos ngakar ti jaman beh ditu mula (MU-La : jaman La-MU Raya / La Murya).
30 April pukul 6:11 melalui seluler • Tidak Suka • 3

o
Taji Manusa
Gusti sanes tukang sulap dina nyiptakeun jagat raya katut eusina dina emprona mah ngalangkungan proses anu panjang, da geuning dumasar kana tafsir Jamil sareng Jalalen oge penciptaan Adam teh ngaliwatan proses anu lami samemeh dilebetan ruh, jasadna wae kantos dihujan diangin puluh puluh taun lamina… Dina kajadiannana Kai Adam Alaihi Salam oge geuning teu ujug ujug mulya turta sagala bisa da aya proses pembelajaran heula, sanggeus ngagem El-MU (cahaya pikiran) tur bisa nerangkeun ka para Malaikat ngaran ngaran eusi dunya kakara inyana mulya tur Malaikat kalebet juragan Iblis oge dipiwarang sujud (lain sujud nyembah tapi ta’zhim / ngamulyakeun kana El-MUna /pangartina), atuh lamun kai Adam begitu gelar geus sagala nyaho mah keur nanahaon urusan oyess bin encuss make diajar ka sato sagala? Leresan dieu sagala rupi aya prosesna, proses ieu nalika manusa banyak belajar dari alam dari hewan dahulu kala maka munculah apa yang disebut jaman “Animisme”, kalebet bahasa lisan oge aya prosesna…
Waktu roh ditiupkeun ka jasad Kai Adam langsung beresin, mangga lamun urang beresin heug lantipan, kapan aya anu ngaburinyay sapertos aura (beresin teh kapan lamun di alam mah nya gelap tea), bahasa lisan asalna teu reya cara ayeuna da reyana tinangtu sanggeus ngaliwatan proses anu panjang, beda bedana basa lisan dumasar kana kamekaran peradaban manusa anu ngabasakeunnana. Uapama urang tenget dina proses kamekaran orok (sidik pan orok dina jero kandungan mah can bisa nyowara sahurup hurup acan, tapi usik malik mah geus bisa, malah sok dijieun ciri wanci lamun usikna beulah katuhu atawa beulah kenca nangtukeun lalaki atawa awewena eta orok, geuning ku dunya modern mah bisa kaharti orok dijero kandungan oge geus proses ngarekam kajadian anu aya di luar, boh ketip cahaya, hawa, atawaning sora, sora teh ngasalkeun tina geterna pita suara nu ngabutuhkeun udara (angin) pikeun ngageterkeunnana, sanggeus brol medal kadunya mangsa tepung hawa gaib jeung hawa lahir (saperti proses gelap ku tepungna hawa panas jeung hawa tiis) kakara orok teh ngoar ceurik, sagala rupa kahayang kaembung dirina ditepikeun ku bahasa “ceurik”, kadituna a-i-u nyarita ku basa budak anu teu pati bentes, tapi indungna mah surti da ku naluri oge kawelas kaasih hiji indung nalika hate indung raket keneh jeung hate orok anu masih keneh beresih, jadi sok sanajan basa sora nu kaluar tina baham orok ukur a-i-u oge indungna “SURTI”. Saterasna dina proses rek deukeut ka leumpang sok aya kieu: aya orok nu leumpang heula tapi can bentes nyarita, tapi aya oge anu bentes heula nyarita kakara bisa leumpang (ieu mah nangtukeun karakter hiji manusa ka hareupna, rupina teu kedah dijabarkeun oge kantenan pada uninga naon nu ku sim kuring dimaksad, kantun “SURTI” bae).
(dicutat tina naskah MAHA NUSA : WASISATU PROJECT Penelitian Peradaban Manusa dari masa ke masa ) by:TM.
30 April pukul 6:49 melalui seluler • Tidak Suka • 2

o
Boedak Satepak
jadi jiga anu misah nya jeung aya antara,,, antara alam jeung makhluk2na, hewan, tumbuhan, batu, air dll. mungkin karena pembentukan atau sudah dibentuk sebuah karakter (jiwa) individual YANG SEBENARNYA kita adalah sebagian kecil dari ENERGY yang ada di ALAM SEMESTA. kalau diibaratkn sebuah samudra yang penuh dengn air laut, ruh/keSADARan kita hanya sebagian kecil dari air laut tersebut yang berada disebuah cangkir. menjadi MERASA terpisah dengan SANG SAMUDRA karena WADAH berupa WUJUD, POHON, BATU, BINATANG, BUMI, API, AIR, UDARA, BESI dll.
ketika kita berani untuk “memecahkan” wadah tempat air samudra tersebut ADA, maka kita akan kembali bersatu dengan SANG SAMUDERA, dan mengerti dengan keSADARan PEMAHAMAN apa2 yang ada di wadah/bejana2 yang lain (POHON, BATU, BINATANG, BUMI, API, AIR, UDARA, BESI dll).

SADAR mauun TIDAK SADAR sudah menjadi tugas umat manusia untuk membuka tabir rahasia keHIDUPan. Baik dimensi fisik (wadag), maupun dimensi metafisik berupa misteri alam. Semakin banyak kita mengungkap hukum-hukum alam, kodrat alam atau kodrat Tuhan, maka akan semakin banyak terungkap misteri keHIDUPan ini. Sedangkan saat ini, prestasi manusia seluruh dunia mengungkap rahasia kehidupan mungkin belum lah genap dari keseluruhan rahasia yang ada.

Kebenaran rasio seumpama membayangkan laut. Kebenaran empiris melihat permukaan air laut. Kebenaran intuitif ibarat menyelam di bawah permukaan air laut. Tugas penjelajahan ke kedalaman dasar laut bukan lah tugas akal-budi, namun menjadi tugasnya sukma sejati yang dibimbing oleh rasa sejati. Intuisi telah menyediakan pengenalan bagi siapapun yang ingin menyelam ke kedalaman laut. Jangan heran bilamana akal-budi disodorkan informasi aneh (asing dan nyleneh) serta-merta bereaksi menepis. Reaksi yang lazim & naif hanya karena AKAL-BUDI kita lah yang sesungguhnya sangat terbatas keMAMPUannya.
30 April pukul 9:14 • Suka • 1

o
Boedak Satepak
Berawal dari “ketidaksadaran” lalu berPROSES menjadi keSADARan tingkat awal yakni keSADARan JASAD/ragawi. Dari keSADARan jasad meningkat menjadi keSADARan AKAL-BUDI yang diperolehnya setelah manusia mampu mengANALISA dan menyimpulkan sesuatu yang dapat ditangkap oleh PANCA INDRA melalui OTAK (PIKIRan SADAR).

Setelah berkembang keDEWAsaan manusia, keSADARan AKAL-BUDI (nalar/rasio) meningkat secara kualitatif dan kuantitatif. Tahap ini seseorang baru disebut orang yang pandai atau kaya ilmu pengeTAHUan karena pengALAMannya. keSADARan akal-budi ini bersifat LAHIRiah atau wadag (PIKIRan SADAR), jika dikembangkan lebih lanjut akan mencapai keSADARan yang lebih tinggi yakni keSADARan batiniah (PIKIRan BAWAH SADAR).

Semakin tinggi keSADARan manusia (high consciuousness) menuntut tanggungjawab yang lebih besar pula. Karena semakin tinggi kesadaran berarti seseorang semakin berkemampuan lebih serta dapat melakukan apa saja. Celakanya, bila keSADARan tinggi jatuh ke dalam penguasaan nafsu negatif. Sehingga manusia bukan melakukan sesuatu yang konstruktif untuk alam semesta (rahmat bagi alam), sebaliknya melakukan perbuatan yang destruktif (laknat kepada alam),,,, Sementara tanggungjawab manusia adalah menjaga keHARMONISan ALAM SEMESTA dengan melakukan SINERGI antara jagad kecil (diri/alit/SHAGIR) dan jagad besar (alam semesta/ageung/KHABIR) dengan kata lain berbuat sesuai dengan rumus-rumus (kodrat) Tuhan.

contoh cerita MAHABARATA versi lain,,, hihihi
sorry kakang, mungkin ini mah versi penjual Gambir Borneo,,,, wakakakkkkk
30 April pukul 9:23 • Suka • 2

o
Boedak Satepak
dicetitakan dalam kisah itu bahwa perang dahsyat Mahabarata bukanlah cerita tentang cinta dan kasih sayang. Ia adalah cerita tentang ego kekuasaan dan ego Intelligentsia.

Bahkan kelompok Pandawa juga bukan merupakan pribadi yang bisa diandalkan. Kelahiran Pandawa yang dimetaforkan melalui dimasukkan ke dalam ‘kawah’ Candradimuka adalah sebuah gambaran dari teknologi ‘kloning’, sebuah teknologi maju yang sudah berkembang pada masa 5000 SM.

‘Kloning’ untuk menghasilkan manusia-manusia unggul baik dari kelompok Pandawa maupun Kurawa, tetap menyisihkan sisi-sisi gelap pada pribadi yang ada. Pandawa yang selalu di elu-elukan sebagai orang baik dan ‘tokoh’ pujaan dalam pewayangan, merupakan lima pribadi yang mempunyai banyak kekurangan.

• Yudistira sebagai kakak tertua adalah ‘tukang’ judi. Ia sangat gemar berjudi sehingga mau mempertaruhkan apa saja yang ia punyai, walaupun itu istrinya sendiri.
• Bima, sebagai orang yang terkenal paling kuat fisiknya adalah orang yang keras kepala, emosi tinggi sehingga temperamen dan gampang marah.
• Arjuna adalah orang yang gemar meng-eksplorasi sex, seorang playboy yang mempunyai banyak pasangan.
• Nakula dan Sadewa adalah dua orang yang selalu dalam posisi tidak dapat menentukan pilihan, orang yang ambiguitasnya tinggi dan tidak mempunyai pendirian yang teguh.

Dalam masa itu, tiga orang ilmuwan yang sempat direkam namanya adalah Bisma, Druna, dan Sengkuni. Tiga tokoh yang berperan memercikkan perseturuan sehingga terjadi perang dahsyat Mahabarata. Sengkuni yang ahli tatanegara berhasil membangun strategi suksesi yang inkonstitusional, dan mendesain kepentingan ilmu negara dan politiknya untuk menjadikan anak keturunan Kurawa berkuasa penuh atas Hastinapura.

Dari sisi lain, ada tokoh ilmuwan muda yang genius dan cerdas dari Negara Dwaraka, yaitu Krisna. Karena umurnya yang masih muda, maka tokoh-tokoh ilmuwan tua kadang mengesampingkan peran dari Krisna. Dwaraka berkembang menjadi Negara kuat dengan prajurit-prajurit handal. Teknologi yang dipunyai Krisna dan sangat disegani adalah senjata ‘Cakra’, sebuah metafora dari senjata laser pemusnah masal.

Perebutan tanah kekuasaan Hastinapura antara Kurawa dan Pandawa yang melibatkan Negara-negara lainnya, bukanlah sebuah perang kecil yang digambarkan menggunakan kereta kuda, senjata kuno panah dan adu pedang. Bila perang saat itu hanyalah perang kuno konvensional, maka cerita dari perang tersebut bukanlah perang dahsyat yang besar.
Arjuna yang digambarkan berada dalam kereta kuda bersama Krisna, dengan kereta bernama ‘Vimana’ yang meluncurkan panah pasopati dengan sangat cepat dan tak henti-henti, adalah sebuah teknologi pesawat terbang modern dengan persenjataan laser.

Perang Mahabarata adalah perang tekonologi nuklir dahsyat yang meluluhlantakkan dunia pada saat itu sehingga kehancuran yang terjadi menyebabkan peradaban kembali ke masa primitive dan harus mulai dari awal untuk membangunnya. Dari hasil riset dan penelitian yang dilakukan ditepian sungai Gangga di India, para arkeolog menemukan banyak sekali sisa-sisa puing-puing yang telah menjadi batu hangus di atas hulu sungai. Batu yang besar-besar pada reruntuhan ini dilekatkan jadi satu, permukaannya menonjol dan cekung tidak merata. Jika ingin melebur bebatuan tersebut, dibutuhkan suhu paling rendah 1.800 °C. Bara api yang biasa tidak mampu mencapai suhu seperti ini, hanya pada ledakan nuklir baru bisa mencapai suhu yang demikian.

Tahun 1972 silam, ada sebuah penemuan luar biasa yang barangkali bisa semakin memperkuat dugaan bahwa memang benar peradaban masa silam telah mengalami era Nuklir yaitu penemuan tambang Reaktor Nuklir berusia dua miliyar tahun di Oklo, Republik Gabon!

Yang jelas, perang maha dahsyat tersebut telah membumi-hanguskan semua ego kekuasaan dan menghancurkan semua tatanan dunia yang ada. Peradaban kembali dari awal, kehidupan kembali dimulai dari status primitive. Masa Primitive ini berakhir ketika muncul peradaban Sumeria sekitar 4000SM. Peradaban Sumeria inilah yang dikenal dengan peradaban daerah Timur Tengah dengan cerita yang dimulai dari Adam dan Hawa!

hmm,,,
30 April pukul 9:25 • Suka • 2

o
Boedak Satepak saya baru menemukan & membuka link yang berhubungan dengan cerita diatas,,, ini link nya Ang Taji

Reaktor Nuklir Kuno Berusia 2 Miliyar Tahun di Oklo [Republik Gabon]

Pada tahun 1972, ada sebuah perusahaan (Perancis) yang mengimpor biji mineral uranium dari Oklo di Republik Gabon, Afrika untuk diolah. Mereka terkejut dengan penemuannya, karena biji uranium impor…
30 April pukul 9:28 • Suka • 2 •

o
Taji Manusa Tentu saja cerita Mahabharata yang ditulis oleh Resi Viasa bukan cerita cinta, sebab itu menceritakan “Brata Yuda” (perang saudara), sastra Hindu yg mengisahkan kekuatan jalinan Cinta Kasih ditulis oleh Resi Valmiki dalam kisah RAMA-SINTA
30 April pukul 10:45 melalui seluler • Tidak Suka • 2

o
Boedak Satepak
PERANG ORANG BINTANG,,, hihihiii

Sore itu Gatotkaca termangu di pinggir kawah Candradimuka, sebuah kawah yang menurut sejarah adalah tempatnya lahir bapaknya, Bima. Gatotkaca merupakan anak dari perkawinan Bima dan Arimbi.
Kelahiran Gatotkaca membawa cerita tersendiri karena sampai usia satu tahun tali pusarnya belum bisa dipotong menggunakan alat apapun. Tali pusar itu dapat dipotong menggunakan bagian dari alat senjata ‘Konta’ yang dipunyai oleh Karna. Anehnya, bagian dari alat tersebut ikut lenyap masuk dalam tubuh Gatotkaca pada waktu Arjuna memotongnya.

Sore itu, Gatotkaca ditemani oleh Bisma yang merupakan Guru Pandawa maupun Kurawa

“Gatot, sebentar lagi perang dunia akan pecah”

“Ya, Guru saya mengerti”

“Kamu akan memutuskan untuk ikut atau tidak?”

“Tentu saja ikut! Sebagai bagian dari warga Dunia yang diam di Nusantara dan mewakili Nusantara saya ikut. Pesawat-pesawat tempur yang saya punyai dengan kecepatan tinggi dilengkapi dengan persenjataan modern akan ambil bagian dalam perang dunia tersebut”

“Ya, memang nanti dikemudian hari, dalam buku cerita, kamu akan ditulis bisa terbang dan mempunyai sayap. Si penulis buku itu melambangkan kamu seperti itu. Tetapi tidak apa-apa, tidak semua sejarah harus diceritakan apa adanya.”

“Ya, Guru, padahal atas bimbingan guru sebagai ilmuwan fisika terhebat abad ini, saya berhasil menciptakan pesawat-pesawat terbang supersonic dengan senjata laser.”

“Ssssttttt,,, jangan keras-keras”

“Saya juga sedang melihat kawah di bawah itu guru, dimana orang tua saya dilahirkan dan dilempar ke dalamnya.”

“Hahahaa,,,, begitu ya ceritanya?”

“Lho, memangnya?”

“Biarlah nanti itu juga diceritakan demikian. Saat itu aku dan Narada memang sedang uji coba tentang cloning. Percobaan kami berhasil dengan membuat cloning yang bagus dengan kemampuan positif, yaitu bapakmu dan empat saudara lainnya dalam Pandawa. Ketika percobaan kami lanjutkan dengan membuat cloning prajurit yang lebih banyak, yaitu 100 kloning, kami gagal karena kemampuan mereka negative. Percobaan cloning gagal itulah saudaramu Kurawa.”

“Dan memang harus perang dunia ini?”

“Ya, tidak ada jalan lain! Krisna harus merencakan sebuah program daur ulang dunia yang sudah dipenuhi oleh teknologi maju tak terbendung yang dipegang oleh para cloning gagal ini. Tidak ada jalan lain, dan akupun setuju karena aku turut menciptakan kekacauan teknologi ini.”

Hari berganti hari dan tibalah saatnya perang besar dunia saat itu terjadi, Mahabarata!
Amuk masa teknologi canggih dengan berbagai senjata pemusnah masal yang sedang di uji coba digunakan. Panah Laser ‘pasopati’ juga merupakan senjata andalan yang digunakan. Bom Nuklir ‘Rujakpolo’ yang dikembangkan oleh Bima juga turut di uji coba.

Pada hari ke 14, saatnya pertempuran udara menggunakan pesawat-pesawat canggih. Gatotkaca adalah creator pesawat tempur tercanggih dari Nusantara yang turut serta dalam peperangan tersebut. Persenjataan yang dipunyai oleh Gatotkaca tidak tertandingi dengan dikombinasikan pesawat-pesawat anti radar!

Dari pihak Kurawa, mereka kebingungan bagaimana caranya menghentikan serangan Gatotkaca ini. Pada titik kebingunan mereka, Karna yang pada saat menemukan sebuah senjata pemusnah pesawat yang diberi nama senjata Konta, ingat bahwa dulu tali pusar dari Gatotkaca hanya bisa putus dengan menggunakan bagian dari alat tersebut.
Namun Karna juga ingat bahwa rahasia dari pembuatan senjata tersebut diketahui oleh Arjuna, dan ia sudah bertekad bahwa Arjunalah yang harus dimusnahkan dengan menggunakan senjata Konta tersebut untuk melawan panah-panah ‘laser’ milik Arjuna.

Atas desakan saudara yang lain, bahwa pesawat Gatotkaca hanya bisa hancur oleh senjata Konta milik Karna, maka Karna menembakkan senjata Konta tersebut yang hanya bisa dipakai sekali saja. Otomatis apabila senjata Konta ditembakkan untuk Gatotkaca, maka Karna tidak akan bisa menggunakannya untuk Arjuna!

Dan memang benar adanya, bahwa pesawat Gatotkaca terdeteksi oleh senjata Konta dan bisa diluluh-lantakkan oleh Karna menggunakan senjata Konta tersebut. Serangan pesawat dari Gatotkaca yang mengerikan bisa digagalkan, dan Kurawa terselamatkan untuk sementara waktu.

Pihak Pandawa bersedih hati mendengar gugurnya Gatotkaca, dan dengan demikian kekuatan Pandawa dalam hal pesawat tempur supersonic menggunakan senjata laser menjadi hilang.

Di sisi yang lain, Krisna sang creator perang dunia ini tertawa bahagia melihat gugurnya Gatotkaca. Ia tertawa karena apabila senjata Konta ini digunakan untuk membunuh Arjuna, belum tentu Arjuna dapat mengatasinya.
Karena peran Arjuna masih sangat penting, dimana nanti Arjuna harus berhadapan dengan Bisma, gurunya sendiri!

woh tubi kontinyu,,,, wakakakkkk
30 April pukul 10:55 • Suka • 2

o
Taji Manusa Hihihih… Carita Mahabarata gubahan abad milunyium ieu mah pasti… Sanes carita Mahabareto nu classik jaman Dewi Kuntinalibrata maen dakon ku Batara kunyin dihelaran… Kiwari mah jaman Srikandi dipahugi ice cream magnum…
30 April pukul 17:05 melalui seluler • Tidak Suka • 1

o
Boedak Satepak ah ULAH DIEMUTAN ieu mah batan ngalentuk ngadagoan nu muru Gambir we,,,, Hahahhaaaa
30 April pukul 17:16 • Suka • 1

o
Taji Manusa Eta mah pasesaan perang antara Mala Lukat sareng Bangsa Jan nalika proses “ngalukat mala” dunya anu tos acak acakan ku akibat polah bangsa Jan. Bangsa Jan mah dibere kawasa ngalebur batu tur dibentuk sakahayangna, ngabentuk patung atawa dicitak pasagi opat, pasagi tilu, buleud oge bisa, teu aneh lamun dina carita Loro Jonggrang bangsa Jan mah kawasa nyieun sarebu candi jero waktu sapeuting…
30 April pukul 21:12 melalui seluler • Tidak Suka • 1

o
Boedak Satepak ngan edas we nya, sacara “kebetulan anu teratur” bahwa bangunan anu dijieun teh gning bisa narik energi anu luar biasa ti jagat raya.

*jigana aya harewos bojong,,,, hihihiiii
1 Mei pukul 6:40 • Suka

o
Taji Manusa
Bukan hanya kebetulan tapi itu lah kebenaran, sesuatu yang bersentuhan dengan energi dengan sendirinya tentu bisa menyerap energi, batuan terbentuk dari endapan air , tanah dan pasir, tak ketinggalan unsur udara juga ada di dalamnya… Tanah-Air-Udara, ketiganya menyerap energi, ketiganya juga merupakan energi… Batu bisa lebur energi panas yang dihasilkan unsur Api karena di dalamnya ada unsur Air dan Udara yang bisa cepat bereaksi kalau terkena panas, tapi akan cepat kembali membatu karena di dalamnya juga terdapat unsur tanah yang apabila bersinergi dengan unsur air dan udara akan menjadi pekat dan padat pada titik suhu tertentu, seperti pada proses pembuatan genting, batu bata, kramik…dll

hanca,,,

Published in: on 6 Juli 2012 at 2:11 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Kabayan

Kabayan merupakan tokoh imajinatif dari budaya Sunda yang juga telah menjadi tokoh imajinatif masyarakat umum di Indonesia. Polahnya dianggap lucu, polos,tetapi sekaligus cerdas. Cerita-cerita lucu mengenai Kabayan di masyarakat Sunda dituturkan turun temurun secara lisan sejak abad ke-19 sampai sekarang. Seluruh cerita Kabayan juga menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat Sunda yang terus berkembang sesuai zaman.Tokoh Kabayan juga dapat disepadankan dengan tokoh dari Arab, seperti Abunawas atau Nasrudin.

Karya Sastra dan FilmBuku(id) Si Kabayan, Utuy Tatang Sontani (1959)(id) Si Kabayan Manusia Lucu, Ahdiat Karta Miharja (1997)(id) Si Kabayan Nongol di Zaman Jepang, Ahdiat Karta Miharja(id) Si Kabayan: dan beberapa dongeng Sunda lainnya, Ayip Rosidi (1985)(id) Si Kabayan jadi Wartawan, Muhtar Ibnu Thalab (2005)(id) Si Kabayan jadi Dukun, Moh. Ambri(id) Kabayan Bikin Ulah (2002, komik kompilasi)FilmSi KabayanSi Kabayan Mencari Jodoh (1994)Si Kabayan Saba KotaSi Kabayan dan Gadis KotaSi Kabayan Saba MétropolitanSi Kabayan: Bukan Impian (2000)Informasi tentang Sikabayan dari Koran Pikiran Rakyat:Si Kabayan, dari Buku ke Buku

Rassers (1941) menilai, Si Kabayan adalah tokoh ambivalen. Selain sebagai penghubung dan pewarta dari Sang Pencipta Semesta, ia juga dinilai sebagai tokoh yang mewakili totalitas dan kekuatan masyarakat yang bersifat membangun, tetapi juga menghambat. Ya, di dalam dirinya sifat ketuhanan dan demonis mewujud menjadi satu. Oleh karena itu, Rassers menganggap Si Kabayan adalah pahlawan budaya sekaligus tukang tipu.

SI Kabayan (SK) manusia lucu itu banyak diketahui orang. Tokoh kita ini memang dikenal suka berkelakar, humoris, lugu, tetapi juga kadang-kadang direpresentasikan sebagai orang yang pandai. Sepanjang kelahirannya, Si Kabayan selalu dihidup-hidupkan orang, tentu saja sesuai dengan keinginan dan kepentingan si pengarangnya. Sebagian bahkan memercayainya sebagai bukan tokoh fiktif. Menurut orang yang percaya, makam Si Kabayan ada di Banten.

Di dalam dongeng-dongeng lama, SK biasanya digambarkan sebagai orang kampung yang lingkungan pergaulannya terbatas di sekitar istrinya (kita kenal kini sebagai Nyi Iteung), kedua mertuanya, dan majikannya. Tetapi dalam dongeng-dongeng yang diciptakan orang sekarang, ia pun kadang-kadang hidup di kota. Tetapi walaupun begitu, tetap saja digambarkan dengan memiliki sifat-sifat orang kampung.

Dokumentasi Si Kabayan (SK)
Sejak kapan kisah-kisah SK didokumentasikan orang? Dr. Snouck Hurgronje boleh jadi adalah orang pertama yang mengumpulkan kisahnya. Sebab antara tahun 1889-1891, orientalis asal Belanda ini mengadakan penelitian mengenai kehidupan Islam dan cerita rakyat yang ada di Pulau Jawa. Untuk mengelilingi pulau ini, ia mengajak H. Hasan Mustapa yang telah ia kenal di Mekkah pada 1885.

Sebagai bukti kerja yang dilakukan Snouck, pada 1929 terbit Tijl Uilenspiegel verhalen in Indonesie in het Bizonder in de Soendalande. Buku ini berasal dari disertasi Maria-Coster Wijsman, yang pembahasannya mendasarkan pada tokoh SK yang hidup di Banten selatan. Sumber kisah-kisah dalam buku itu ia ambil dari catatan-catatan mengenai SK yang dikumpulkan oleh Dr. Snouck.

Pada 1911 terbit Pariboga: Salawe Dongeng-Dongeng Soenda. Buku ini disusun oleh Cornelis Marinus Pleyte dan diterbitkan oleh Kantor Tjitak Goepernemen. Ada yang menganggap, inilah buku pertama yang memuatkan cerita SK.

Berikutnya, 21 tahun kemudian, pada 1932, Balai Pustaka menerbitkan buku Si Kabajan. Buku ini disusun berdasarkan dongeng-dongeng yang ada dalam penelitian Maria-Coster Wijsman. Entah apa alasannya, dongeng-dongeng dalam disertasi terdahulu itu dipilih lagi. Beberapa dongeng yang berbau seks kemudian dibuang.

Pada tahun yang sama, terbit Si Kabajan Djadi Doekoen karya Moh. Ambri. Karya ini dianggap sebagai saduran dari salah satu naskah drama karya Moliere, “Le Medicin Malgre Lui”. Menginjak tahun 1941, hanya ada satu judul buku yang terbit mengenai SK. Buku berjudul Kabajan itu disusun oleh W.H. Rassers dalam bahasa Belanda.

Selanjutnya Utuy T. Sontani menulis drama “Si Kabayan” dalam bahasa Indonesia dan bukunya diterbitkan pada 1959. Naskah yang sama diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia, menjadi Si Kabaian (1960). Sembilan tahun kemudian, kisah ini diterbitkan dalam bahasa Inggris dan disatukan bersama karya pengarang lainnya dari negara luar dalam “Three SEAsian Plays”, yang merupakan suplemen dari berkala Tenggara.

Yang penting dicatat, pada tahun ’60-an itu paling tidak ada lima karya Min Resmana yang berkaitan dengan kisah-kisah SK. Karya-karya yang dimaksud adalah Si Kabajan Pangantenan (1966), Si Kabajan Kasurupan (1966), Si Kabajan Ngandjang Kapageto (1966), Si Kabajan djeung Raja Manaboa (1966), dan Si Kabajan Tapa (1967). Sementara itu sastrawan senior Sunda, MA. Salmun, menerbitkan Si Kabajan Moderen (1965).

Pada era 1970-an, hanya dua judul buku yang tercatat yang kembali menghidupkan Si Kabayan. Pertama, Tales of Si Kabayan yang disusun oleh Murtagh Murphy dan diterbitkan oleh Oxford University Press, pada 1975. Yang kedua, Si Kabayan dan Beberapa Dongeng Sunda Lainnya (1977) karya Ajip Rosidi.

Era 1980-an ada sekitar lima judul yang terbit. Dua di antaranya karangan MO Koesman, yaitu Si Kabayan (1980) dan Si Kabayan Ngalalana (1982). Sementara itu Adang S. menulis Juragan Kabayan pada 1986. Lainnya, Lebe Kabayan (1986) karya Ahmad Bakri dan Si Kabayan Tapa (1986) karya Min Resmana.

Pada tahun (1990), Si Kabayan “meninggal” dunia. Karena itu terbit Jurig Kabayan karya Tini Kartini. Akan tetapi, pada 1997 Si Kabayan dihidupkan lagi lewat Si Kabayan Manusia Lucu buah tangan Achdiat K. Mihardja. Di tempat lain, tepatnya dalam buku Asian Tales and Tellers (1998) susunan Cathy Spagnoli, Si Kabayan pun muncul. Tak ketinggalan, Gerdi W.K. juga ikut menghidupkan kembali Si Kabayan (1999).

Memasuki era tahun 2000-an, buku-buku mengenai SK pun tetap bermunculan. Bisa disebutkan, Si Kabayan-Cerita dari Sunda (2000) karya Citra, Kabayan Bikin Ulah (2002) dan Si Kabayan Jadi Sufi (2003) susunan Yus R. Ismail, serta Si Kabayan (2004) karangan Mulyani S. Yeni. Kemudian, Si Kabayan Digugat (2004) karya Yuliadi Soekardi & U Usyahuddin, Si Kabayan Nongol di Zaman Jepang (2005) susunan Achdiat K. Mihardja, dan, yang terakhir, Si Kabayan Jadi Wartawan (2005) karya Muhtar Ibn Thalab.

Pendapat Mengenai Si Kabayan
Berdasarkan catatan Sutaarga (1965), ada beberapa pendapat atau penelitian yang telah dilakukan baik oleh kaum kolonialis maupun pribumi terkait dengan Si Kabayan. Pertama, tentu saja yang dilakukan oleh Ny. Maria Coster Wijsman (1929) yang memperbandingkan keberadaan SK dengan siklus tokoh cerita rakyat Eropa, Tijl Uilenspiegel.

Wijsman mengartikan Kabayan sebagai semacam pamong desa yang bertugas menyampaikan berita. Istilah tersebut masih dipakai di daerah Jawa dan Tanganan Pangringsingan. Ia juga menghubungkan istilah tersebut dengan orang yang biasa memimpin acara kenduri dalam tokoh-tokoh cerita Melayu.

Sementara itu Prof. Berg meneliti arti kabayan dari sisi etimologinya. Menurut Berg, kata kabayan berasal dari bahasa Sanskerta, bhaya yang artinya takut. Hal ini sesuai dengan gambaran Kabayan versi Tanganan Pangrisingan yang harus memiliki sifat “magis”. Kedua, istilah kabayan diambil dari kata dasar bay yang berarti wanita. Hal mana sesuai dengan nama Ken Bayan dalam cerita-cerita Panji.

Rassers (1941) menilai, SK adalah tokoh ambivalen. Selain sebagai penghubung dan pewarta dari Sang Pencipta Semesta, ia juga dinilai sebagai tokoh yang mewakili totalitas dan kekuatan masyarakat yang bersifat membangun tetapi juga meghambat. Ya, di dalam dirinya sifat ketuhanan dan demonis mewujud menjadi satu. Oleh karena itu, Rassers menganggap SK sebagai pahlawan budaya sekaligus tukang tipu.

Kemudian Held (1951), yang memperbandingkan SK dengan panakawan dari lakon-lakon wayang Jawa khususnya dari segi fungsi lelucon-leluconnya.

Dari tanah air, Utuy T. Sontani (1920-1979) ikut meneliti Si Kabayan. Pengarang ini pada tahun 1957 mengungkapkan bahwa SK merupakan “manusa anu geus teu nanaon ku nanaon”. Maksudnya, SK telah menjelma menjadi manusia yang terlepas dari beragam rasa yang bisa mempengaruhi manusia. Artinya, ia telah menjadi ubermensch, istilah Nietzsche. Walaupun begitu, dalam naskah dramanya Utuy menggambarkan SK sebagai dukun yang dianggap sakti, padahal ia hanya mempermainkan pasien-pasiennya.

Sementara itu, Ajip Rosidi (1964) berpendapat bahwa di balik kisah SK terkandung maksud tertentu. Menurut Ajip, SK bukanlah orang yang bodoh, sebab banyak cerita-cerita SK yang sering mempermainkan mertuanya serta kiai. Kiai tersebut bisa jadi personifikasi ulama, sedangkan SK merupakan personifikasi orang Sunda. Dan Islam masuk ke Tatar Sunda setelah runtuhnya kerajaan Sunda. Ya, dengan demikian sastrawan Sunda yang menciptakan cerita SK sebenarnya sedang menyampaikan kritik melalui jalan yang halus berupa lelucon.

Dalam seminar yang bertajuk “Seks, Teks, Konteks: Tubuh dan Seksualitas dalam Wacana Lokal dan Global” (23-24 April 2004) lewat makalahnya yang berjudul “Si Kabayan: Cawokah atau Jorang?”, Ayatrohaedi menitikberatkan perhatiannya pada cerita-cerita SK yang berbau seks.

Bisa dimengerti, Ayatrohaedi mendasarkan tulisannya pada buku Maria-Coster Wijsman, Tijl Uilenspiegel verhalen in Indonesie in het Bizonder in de Soendalande yang memang banyak memuat kisah-kisah SK yang berbau seks.

Menurut Ayat, “dari sekitar 80 kisah Si Kabayan yang dijadikan bahan disertasi Coster-Wijsman, terdapat 24 kisah yang berkenaan dengan seks. Kisah-kisah itu mengandung kata-kata “tabu”, walaupun sekali lagi ternyata tidak menimbulkan kesan erotis. Jika dikaitkan dengan teks dan konteks, akan dengan mudah dipahami mengapa hal itu terjadi.”

Sementara Jakob Sumardjo (2003) menilai SK dari aspek primordialisme orang Sunda. Ia menilai bahwa “Si Kabayan berwatak paradoks, pintar, dan bodoh sekaligus. Ia pintar kalau kepentingannya sendiri terganggu, tetapi ia bodoh kalau sedang dikuasai oleh nafsu-nafsunya. Ini menunjukkan kewajaran orang Sunda untuk mentertawakan dirinya sendiri, kelemahan diri, dan kelemahan manusia umumnya.”

“Di orang Sunda berkumpul,” kata Jakob, “di situ ada tertawa. Rupanya humor berhubungan juga dengan masalah ‘dalam’. Sasaran humor adalah mereka yang sudah dimasukkan sebagai bagian dari lingkungan sendiri.”

Sedangkan Bambang Q Anees (2002) berpendapat bahwa SK merupakan tokoh fiksi yang diciptakan sebagai penghibur atawa kurir filosofi hidup orang Sunda. SK sebagai kurir berfungsi sebagai metafor: menyampaikan sekaligus mereduksi pesan.

Kemudian menurut Bambang, “ketawalah yang menjadi inti dari sosok Si Kabayan.” Kemudian ia pun mempertautkan SK dengan konsep pencerahan ala Tao. Dari sisi ini, “tertawa” dimaknai sebagai “penemuan kepahaman akan suatu lelucon secara begitu cepat. Pada saat itu kita seperti menemukan rantai kebenaran yang selama ini terlepas.” Nah, pada titik inilah, menurut Bambang, “Kabayan memainkan dirinya sebagai pemancing ketawa demi pencerahan tertentu.”

Apa pun gambaran dan pendapat orang mengenai sosok SK, cerita-ceritanya mencerminkan khazanah kebudayaan Sunda yang memang kaya warna.***

ATEP K
penulis

Published in: on 1 Juni 2012 at 3:10 pm  Comments (2)  
Tags: , , , , ,

SANG HYANG TUNGGAL

Masyarakat Galuh Agung (Nusantara) penganut ajaran Sunda meyakini bahwa segala mahluk berawal dan berasal dari “ketiadaan” yang secara mendasar merupakan inti keabadian atau kalanggengan yang bersifat ketunggalan dan kemanunggalan. Berasal dari satu dan menjadi pemersatu atas segala ciptaan atau “keberadaan”, maka seluruh manusia beserta mahluk lainnya adalah saudara (sa-UDARA/se-UDARA).

Sebutan “Tuhan” bagi bangsa Galuh sama sekali bukan Allah (bhs. Arab) ataupun God (bhs. Inggris) yang dikenal oleh masyarakat modern pada saat ini, sebab istilah “Tuhan” itu berasal dari kata “Sang-TUHA-an”, kelak bangsa Indonesia mengenalnya dengan istilah TUHAN yang selalu diartikan sebagai Yang Maha Pencipta. Sebutan “tuhan” digunakan juga dalam kata TUAN (Yang Dipertuan) untuk menghormati seseorang yang dituakan.

- TUHA atau TUA ataupun TUAN artinya sama dengan “Sesepuh”. Dengan demikian yang dimaksud dengan istilah “Tuhan” oleh bangsa Indonesia pada saat ini adalah para sepuh (pini-sepuh) atau “yang disepuhkan” (sosok yang dihormati), dalam bahasa rakyat Jawa Barat sering disebut sebagai “kokolot” atau “nu dipikolot”. Semua tunduk patuh kepada seseorang yang memangku jabatan “nu dipikolot”.

Sebutan “Tuha” ataupun “Tua” kemudian digunakan juga oleh berbagai bangsa di seluruh dunia dengan cara penyebutan dan penulisan yang sesuai dengan pola serta gaya bahasa masing-masing bangsa. Perbedaan waktu, tempat dan gaya bicara tentu mengakibatkan terjadinya perobahan dalam pengucapan atau terjadi proses evolusi kata serta pemaknaannya.

- “Tuha / Tua / Tuan” di bagian Bumi Timur disebut : To (Jepang dan Tahiti), Thi, Thian dan Tao (China), The (India), Tau (Arab dan Timur Tengah). Di Bumi bagian Barat disebut : Teo, Thei (Theis).

Masyarakat Mesir Kuno melambangkannya dengan bentuk “T” yang artinya To atau Te atau Teo (Tua / Tuha).

Tidak diketahui sejak kapan Bangsa Galuh mengenal kata “Tuha/Tua”, namun diduga istilah tersebut sudah ada semenjak pulo Jawa masih bersatu dengan pulo Sumatra yaitu ditandai dengan adanya gunung Kara Ka Tuha yang artinya “Petunjuk bagi para Leluhur atau Kokolot atau Sesepuh” gunung tersebut sekarang dikenal sebagai “Krakatau”. Selain itu di Jawa Barat (Bandung Selatan) masih terdapat pegunungan Pa Tuha yang artinya “Tempat para Kokolot atau Sesepuh”.

Persoalan tentang Sang Maha Pencipta dalam landas pemikiran bangsa Galuh penganut ajaran Sunda sudah tentu “ADA”, namun mereka tidak berani memberikan “nama” sehingga mereka menyebutnya dengan ungkapan “Anu Maha Kawasa” (Yang Maha Kuasa). Kenapa demikian…? mari kita pahami bersama agar tidak terjadi salah pengertian yang pada akhirnya menjadi tuduhan bahwa agama Sunda adalah penyembah Batu dan Matahari atau pun atheis.

Segala yang “ada” berasal dari “ketiadaan” dan kelak akan kembali kepada “ketiadaan”, di dunia ini tidak satupun yang tidak datang dari ‘sana’. Ketiadaan-lah yang merajai segala yang “ada”, dari datang dan kembalinya. Oleh sebab itu, Yang Maha Abadi lagi Maha Sempurna hanyalah “Ketiadaan”.
Segala yang “ada” akan terkena hukum “perobahan dan perbedaan” dengan segala kekurangannya. Terjebak dalam hukum ruang dan waktu (“keberadaan”) adalah tanda “kelemahan”. Maka Yang Maha Tiada tidak selayaknya “ada” di dalam “keberadaan”.

Tidak satupun manusia yang dapat menciptakan “ketiadaan” bahkan membayangkannya-pun mustahil. “Ketiadaan” adalah segala atas segala yang tidak terdefinisikan oleh kecerdasan otak manusia.
Apakah “ketiadaan itu ?” ialah segala atas segala yang mustahil untuk dibayangkan dan tidak mungkin untuk diciptakan walaupun itu hanya dalam citra (imajinasi).

Oleh sebab itu;
Jika Yang Maha Tiada dapat berbicara kepada manusia, itulah kebohongan yang paling besar.
Jika Yang Maha Tiada memiliki amarah seperti manusia, itulah tipuan yang dapat menyesatkan manusia menuju jaman biadab.

Segala pujian hanya bagi yang “ada” di dalam “keberadaan” dan bukan bagi Yang Maha Tiada, dan jika pujian itu ditujukan kepada Yang Maha Tiada maka itu semua hanya omong kosong yang akan ditelan oleh ketiadaan itu sendiri (nihil).

Yang Maha Tiada adalah Maha Suci yang tidak terikat oleh segala hukum; dzat – sifat – nama maupun bentuk. Yang Maha Tiada tidak pernah tersentuh oleh segala kecerdasan pemikiran manusia yang kerdil dan terbatas oleh ruang “keberadaan”. Tidak ada satu mahlukpun yang dapat mendefinisikan-Nya, maka rahasia terbesar bagi segala “keberadaan” adalah “ketiadaan” itu sendiri dan hingga saat ini belum ada satu orangpun yang dapat menjumpai Yang Maha Tiada dalam “ketiadaan-Nya”…. kecuali “pembohong”.
Bangsa Galuh penganut ajaran Sunda mengistilahkan “ketiadaan” itu sebagai Suwung, demikian mereka menyebutkan “yang maha tidak ada” atau ketiadaan yang absolut (*dalam istilah Arabnya disebut “Yang Maha Gaib”).

Bila kita mempertanyakan hal tersebut di atas kepada para pini-sepuh umumnya mereka menjawab; “…aing oge teu nyaho… jug we teang jeung tanyakeun ku sia ka jelema anu geus pernah panggih jeung nu suwung…” (artinya, …saya juga tidak tahu… silahkan cari dan tanyakan oleh mu kepada orang yang pernah bertemu dengan ketiadaan…).

Bagi orang-orang yang merasa penasaran untuk mencari Allah / God ada sebuah pepatah yang cukup bijaksana yaitu: “…teang tapak heulang di awang-awang… teang tapak meri dina leuwi… jeung teang tapak sireum dina batu…” (artinya, …carilah jejak elang di angkasa… carilah jejak itik di sungai… dan carilah jejak semut di batu…).

Agama Sunda tidak mengajarkan untuk berbakti dan mengabdi kepada “ketiadaan”. Kenapa demikian…?, manusia sebagai sosok yang “ada” tidak semata-mata dihadirkan dari “ketiadaan” jika bukan untuk berbakti dan mengabdikan diri kepada segala yang “ada”, tanpa tugas itu maka sia-sialah seorang manusia didatangkan ke muka Bumi.

Karena prinsip “penciptaan” seperti tersebut di atas maka yang selayaknya disembah bukanlah “ketiadaan” yang telah menciptakan dirinya menjadi “ada” melainkan segala sesuatu yang telah menjadikan dirinya hidup mengabdi dan berbakti kepada segala kehidupan. Oleh sebab itu, segala yang “hidup” harus dicintai dan dihormati dengan setinggi-tingginya agar tercipta dan terlaksana sebuah “kemanunggalan hidup” di dalam kehidupan dan itulah yang disebut sebagai Sang Hyang Tunggal.

“Adakah tugas hidup manusia yang lebih utama selain membangun kehidupan dalam kebersamaan yang berlandaskan welas-asih…?” Jika ada, maka ia telah menyembah sesuatu yang ada di luar dirinya dan tersesatlah ia sejauh-jauhnya.

Menyembah adalah “tunduk dan hormat” yang maknanya setara dengan “saling menghormati dan menghargai” dalam posisi dan tugasnya masing-masing sebagai utusan yang dihadirkan oleh Yang Maha Kuasa.

Pohon akan dan harus menjadi pohon yang sebenar-benarnya.
Bunga akan dan harus menjadi bunga yang sebenar-benarnya.
Burung akan dan harus menjadi burung yang sebenar-benarnya.
Harimau akan dan harus menjadi Harimau yang sebenar-benarnya.

Matahari harus menjadi Matahari dan Bulan harus menjadi Bulan.
Angkasa, Udara, Angin, Api, Air, dan Tanah akan dan harus menjalankan fungsi dan tugas dengan sebaik-baiknya… semua saling menghormati dan menghargai sesuai dengan aturannya masing-masing.

Manusia Galuh penganut ajaran Sunda sangat menyadari dan menghayati “keberadaan” alam semesta beserta segala fungsi dan gunanya, dan itu semua tidak terlepas dari kesadaran diri tentang tata-cara berkehidupan yang saling memberi dan menerima sebagai sebuah sistem daya hidup yang terpadu (manunggal). Maka dari itu “menghormati” alam dengan segala kekuatannya (tugas dan fungsi) adalah bagian dari cara berkehidupan bangsa Galuh Agung yang biasanya diungkapkan melalui pujian kepada masing-masing ‘penguasa’ (kekuatan dalam fungsi dan tugas).

Secara langsung ataupun tidak, ajaran tersebut sangat menentukan sikap masyarakat Galuh terhadap hidup berbangsa dan bernegara, bahwa mereka begitu menghormati dan menghargai segala sistem dan sub-sistem yang menunjang pembentukan kualitas hidup di jagat kehidupan.

Kaula lain nyembah ka Beusi tapi muja ka Rasi
Kaula lain nyembah ka Batu tapi muja ka Ratu
Kaula lain nyembah ka Dewa tapi muja ka Rama
Kaula lain beunang ku hayang lain kudu ku embung… tapi kitu anu sakuduna hirup di nagara (di dunya).

(artinya)
Saya bukan menyembah Besi tetapi memuja Rasi (Datu)
Saya bukan menyembah Batu tetapi memuja Ratu (Maharaja)
Saya bukan menyembah Dewa tetapi memuja Rama
Saya bukan terkena oleh keinginan ataupun ketidak-inginan…tapi begitulah seharusnya hidup di negara (di dunia).

Hidup dalam kemanunggalan (kesatuan dalam kebersamaan) saling menghormati dan menghargai dalam sebuah keberaturan yang harmonis adalah idaman (dicita-citakan) bagi segala manusia dan mahluk hidup lainnya, itulah makna hakiki dari Sembah-Hyang (Seba Hyang atau sembahyang), maksud dan tujuannya tidak lain demi mengabdikan dan membaktikan diri terhadap “kemanunggalan dalam semesta kehidupan” (Sang Hyang Tunggal).

Hung,,, Ahuuung !

Cag.

Rahayu

Published in: on 30 Mei 2012 at 1:58 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Clue Sajarah SUNDA

Sampurasun,,,

Hana nguni hana mangke
Tan hana nguni tan hana mangke

Aya baheula, aya ayeuna
Moal aya ayeuna mun euweuh baheula

mugia ieu anu jadi ugeuran tur udagan para Ki Sunda pribadi anu teu poho kana PURWADAKSI-na anu nganyahokeun Sajarah SUNDA BIHARI, SUNDA KAMARI jeung SUNDA KIWARI.

ngajadikeun hirup lalakon lampah dina pahirupan anu diwangun ku olahan dasar élmu dina tuturan adat jeung budaya tuturunan, karuhun anu buhun, pikeun panataran tur panuturan ules watek jeung paripolahna anu ngagambarkeun salaku manusa Sunda sangkan mampu nyumponan: kabutuh alam jiwa, kabutuhan alam pikir, jeung kabutuh alam waruga, sangkan dina nata rasa jeung niti diri, aya kadali atawa elésan, teu mangprung ngaberung sakama-kama, sakarep ingsun. Aturan Hirup di alam panyorangan. Kudu pengkuh kana aturan dina “tata, titi, duduga, kalih peryoga dina panalar panaluntikan Sajarah Sunda,,,

Tata (aturan léngkah) = tatapakan laku anu kudu napak kana ugeran aturan talari paranti sangkan teu ngarempak aturan, teu “pamali” (hasil kalakuan anu sok jadi mamala goréng).
Titi (tahapan léngkah) = titincakan laku anu nincak kana paniatan anu surti jeung nastiti.
Duduga (sawangan) = rupaning anu rék dilakonan tinangtu kudu disawang heula saméméh disorang, sangkan hasilna caina hérang laukna beunang, anu karasa pikeun kasalametan. (Wiwaha Yuda na Raga).
Peryoga = ukuran kamampuh pikeun ngajurung laku dina hiji tujuan (kasanggupan anu diukur ku kamampuh).

(*puraga djati)

Saperti Ngolah jiwa, keur ngalelemu RASAna, bisa di geteran ku cara ngageterkeun sora-sora alam (Rahyang Sora Pagendingan) anu mangrupa alat alat seni Buhun (tradisi). Anu ngumandangna dina geteran galura jeung daya geterna. numawi

keur udagan carita Sajarah Sunda-na bisa nganyahokeun kana Sajarah Sunda anu sabenerna tur sampurna sagemblengna, SAE(nya)na mah kudu cacap heula naluntik sakabeh naskah jeung wawasan anu ngeunaan Kasajarahan Sunda, boh anu kuno kitu deui anu “anyar” (kamari), nengetkeun anu geus guar jeung anu acan kaguar, neang anu geus kapanggih jeung anu acan kapanggih, sabab teu cicing di hiji tempat atawa wawangunan, teu dihiji jelema, jeung lain dihiji pakumpulan.

ieu kabeh kudu dikanyahokeun ku cara ngaLAKU, nindak dina neangan kabeh eta pangarti bari ulah poho jeung mopohokeun tugas urang salaku anu HIRUP (cul dogdog tinggal igel), yen aya anu ngagantungkeun HIRUPna ka diri urang, nyatana kolot, anak jeung pamajikan. Sabab, tibatan beak nganyahokeun ieu sajarah ngadon kaburu beak umur (paeh) manten, anu antukna tugas anu sakuduna muser kana LAKU diri anu eling (SADAR) poe ieu, jam ieu, detik ieu jadi mangprung teu kapigawe, diajar sajarahna oge teu hatam kabeh da kaburu paeh, hirup teu guna sabab elmu udaganna teu manfaat pikeun diri jeung balarea. Sajarah Sunda anu BIHARI jeung KAMARI anu sakuduna ngaJADIkeun kahadean pikeun KIWARI jadi teu kaCIRI kusabab teu ngaBUKTI dina BAKTI.

sanajan kitu, tina sawatara naskah jeung wawasan anu jumlahna ngan saeutik tapi geus kaguar ku para ahli sajarah, supaya teu mangprung teuing tina sakitu oge geus bisa katangeun yen sajarah sunda teh ngawengku sakabeh widang kahirupan manusa umumna, cindekna kahirupan manusa urang sunda, tegesna ngawengku wiwidangan:

- Evolusi Bumi / jagat dunya ieu (planet bumi)
- Manusa Sunda
- Kayakinan/ageman/ajaran Sunda
- Budaya jeung per-adab-an (civilization) Sunda
- Pakumbuhan (ka-masyarakat-an) Sunda
- kaNAGARAan Sunda
- kaRATUan (kaRAJAan) sunda.
jjrd.

Galur Sajarah Sunda jeroning proses kaMEKARannana, guluyurna saperti dihandap ieu :

A. mangsa PURWANING SUNDA BIHARI

Dina panalar Sunda Buhun kieu,
Gelarna SUNDA katut sagalaning kaSUNDAannana, mimitina ti jaman BATARA CIKAL nungancik di “Mandala ParaHyang” (dilebah Kanekes atawa “Baduy Kiwari”).
anu disebut Mandala ParaHyang teh nyaeta “Mandala Kahiyangan” (=mandala gaib) anu tetep ngadeg aya nepi ka kiwari, tapi henteu bisa katenjo ku panon manusa biasa.
tah kitu basaNa,,
lamun diitung make ukuran kalamangsa PURWAYUGA sunda bihari timimiti gelarna didunya manusa purba “Lutung-Kasarung”. mimitina Sajarah Sunda teh kira-kira kurang luwih 1-2 juta taun baheula.

B. mangsa PURWAYUGA SUNDA BIHARI

Dina mangsa ieu, sajarah sunda mekar maju kalawan nete nincak rupa rupaning hambalan mekar pertuwuhan jeroning Purwayuga Sunda Bihari. wujud manusa lutung atawa “manusa monyet” (lutung kasarung) lambat laun robah salin rupa jadi Manusa Budaya (Homo-Sapiens).
Budayana oge ningkat maju tina tahapan kabudayaan paleo kultur, awalpaleolitik, kana kabudayaan neo-kultur, awal neo litik, nya akhirna cat mancat kana mangsa “Parahiyangan Perbangkara”.

C. mangsa PARAHIYANGAN PERBANGKARA

Mangsa ieu teh mimiti ngadegna “ka-MAHARAJA-RESI-an” atawa “ka-MAHAPRABU-RESI-an” anu ngawengku kawasan Parahiyangan Purbakala (purbangkara = purba-kala), nyeta anu sok katelah “Galunggung = Galuh Hyang Agung”
dina mitologi Sunda dongeng legenda “Dayang Sumbi jeung Sangkuriang” disebutkeun yen Maharaja-Resi Parahiyangan mangsa harita teh ngaranna “RATU SUNGGING PERBANGKARA”. lamun diitung kusangkala Geologi mah, ngadegna dina mangsa 50.000 taun baheula.

“Kabudayaan Sunda” jaman harita geus nincak kana tahapan Neo-kultur, Neolitik, kalawan geus munggah kana kabudayaan Gopara (parunggu) dina jaman Pra-Sejarah.


D. mangsa PARAHIYANGAN SANGKURIANG

Mangsa dina sesebutan ieu, ngadegna dina mangsa sasakala gelarna Talaga Bandung, nyaeta anu sok katelah “Sumur Bandung” atawa “Leuwi Sipatahunan”.
Ari Talaga Bandung ngajadina “dijadikeun” ku Sangkuriang kira-kira 10.000 taun baheula, nyaeta mangsa “SANGKURIANG” nyieun bendungan di wahangan Citarum nepi ka caina kapendet ku bendungan, nya tuluy ngeuyeumbeung jadi talaga. Eta anu dicaritakeun dina dongeng legenda “Dayang Sumbi jeung Sangkuriang”.

E. mangsa SUMUR BANDUNG

nincak kana tata-paKUWU-an (karajaan -karajaan leutik)
a. Sindulang, Alengka, Kendan, Cangkuang (Leles)
sisi Talaga belah Wetan
b. Malabar, Puntang,,,, jst
sisi Talaga belah Kidul
c. Rajamandala,,,, jst
sisi Talaga belah Kulon
d. Karatuan-Karatuan Sunda palebah Padalarang, Dago, Manglayang,,,, jst
sisi Talaga belah Kaler

F. jaman DWIPANTARA

Urang Sunda anu asalna mangrupakeun bangsa daratan atawa pa-GUNUNG-an, geus mimiti
mekar jadi bangsa maritim atawa palayaran laut.

Jawa Dwipa, nu ngawngku pulo Jawa (“NUSA KENDENG”)
Suwaruna Dwipa, nu ngawngku pulo Sumatra jeung Tanjung Malaka (MALAYA).
Waruna Dwipa, nu ngawngku pulo Kalimantan, Sulawesi, Melenesia, Polenesia jeung pulo-pulo sarta basisir Asia Tenggara.
Simhala Dwipa, nu ngawngku basisir Australia, pulo Madagaskar (Malagasia), basisir Afrika, Sudan jeung India.

G. jaman Galunggung

Jaman Galunggung ngadegna dina mangsa “ka-MAHAPRABU-RESI-an” Galunggung atawa GALUH HYANG GUNG anu ngawengku ka-PRABURESI-an jeung karajaan saperti:

- CUPU (Cupunagara) anu taya lian ngaran rusiah tina GALUH PUNTA NAGARA. Ngatan liana nyaeta PUNTA HYANG atawa disingket PUNTANG
- Karesian KENDAN di Nagreg Kiwari
- Karajaan SINDULANG (Sindula Hyang) anu disebut ku urang Taruma mah Karajaan ALENGKA (kiwari=CICALENGKA)
- Karajaan MALABAR,sekeseler Dinasti TARUMA
- Karesian TANJUNG KIDUL (Garut Kidul?)
- Karajaan AGRABINTA
- Karajaan INDRAPRAHASTA
jeung saterusna ngabawah karajaan-karajaan kalawan Karesian-Karesian.

Jembar ngadegna jaman Galunggung diwilayah JAWADWIPA hususna, diwilayah DWIPANTARA umumna, perkiraan candrasangkalana geus aya sakurang-kurangna dua rebu taun kaliwat. Daulatna pisan ngadeg dina jaman SUNDASeMBAWA anu mimiti dipimpin ku anu mawa misi ajaran SUNDAYANA.

H. jaman SALAKANAGARA nepi ka TARUMANAGARA

Dina medar tur ngaguar harti anu misti ku mustari, pikeun ajén-inajén kamanusaan, numutkeun anu kapibanda jeung anu dipiwanda, dina kapribadian Manusa Sunda anu disebut “Talari Paranti”. Hamo kudu landung ku catur, hamo kudu panjang ku panalar, dina lumaku-na, ngadadaran ku carita, pibahaneun ngudag élmu, ning rasa kasampuraan, jeung , ning rasa ka- sampurnaan geusan diri, dina hiji ajén anu tangtu, nyatana Ngolah Diri (RaGaNa) pasti dina BENERna ngolah NaGaRa-na.

Bagja Rahayu Ki Sunda

Hung Ahung _/\_
Cag.

Rampes,,,,

Published in: on 17 Mei 2012 at 4:08 am  Comments (5)  

DADAP MALANG SISI CIMANDIRI

( Pantun Bogor )

 

pantun di handap ieu, mangrupi paguneman antawis Rakean Kalang Sunda, hiji PURAGABAYA (Satria Pinandita) Padjadjaran, sareng Jaya Antea, satria nu nyamar jadi Rakean Santang, mugia mangpaat tur aya pulunganeunnana.

 

Hanjuang

 

 

Pun Sapun . . .

ka ruhur ka Bale Agung

ka Papayung Ratu Pamunjung

Anu Nunggal di Mandala Agung . . .

***

 

Jaya Antea unggah bari ambek, bari ngalugas Kujangna inyana nyampeurkeun Rakean Kalang Sunda.

Ceuk Rakean sabari ngarenghap:


 

” Seug ! “

 

Jaya Antea ngarontok Rakean, bari Kujangna ditubles-tubleskeun, tapi Kujangna kalah ka miley sabari ngebul … Jaya Antea nyabut kerisna laju ditewekeun, tapi kerisna kalah ka ngeluk cara malam kapanasan …

 

Jaya Antea mapatkeun ajianna bawa ti sabrang …. tapi Rakean henteu igeug-igeug acan..

 

Ceuk Rakean :

 

” Antea ! dia memang jaya dina kagagahan dia, tapi ku dia geuning kadeuleu, euweuh pakarang dia anu teurak, jeung ajian dia anu dipajarkeun pangunggulna, geuning sarua keneh …”
 

” Antea, geuning tetela lain pakarang lain jimat. lain ajian kasaktian anu anyar anu mawa jaya di alam ieu teh … kiwari lain wayah pieun kaula ngalawan dia, sabab lalakon urang duaan lain mudu anggeus lebah dieu …”

 

 

” Antea ! lamun dia percaya bener-bener, yen ngan Sembaheun dia wungkul anu kiwari pangmanjurna teh … kaula oge tetep percaya, yen Sembaheun kaula ti baheula oge moal deuk ninggalkeun kaula ! …. memang bener, kaula teh nyembah ka gunung eujeung batu, Tapi, lain gunungna lain batuna anu ku kaula disembah dipunjung-punjung … “

 

 

 ” Sinembah pamunjung kaula, Antea, nya ka Anu Ngayakeun eta gunung jeung batu, gunung eujeung batuna ngan saukur marga paunggahan, pieun ngunggahkeun pamunjung kaula, ka Anu Agung di Mandala Agung … “

 

 

” kaula teu nyaho di tanah nu disaba ku dia, Tapi, tina carita ti luaran, Antea, anu mariang ti dieu teh ti dituna cenah geuning ngajarugjug anu bungkeuleuk … ka pamunjungan anu lain tina emas eujeung lain tina salaka, tapi tina batu dina taneuh … “

 

 

” ayeuna kaula nanya ka dia, marulang ti tanah sabrang, di dieuna teh laju loba nu jadi beunghar … ! ceuk kaula, anu lain beunghar ti asal teh, tapi jadi beunghar anggeus mulang ti pamunjungan.. anu kitu teh, jadina beunghar meunang pepenta ! anu didieu mah disebutna, Muja! … jeung kumaha, anu beunghar beunang pepenta ti tanah sabrang tarelengesna leuwih-leuwih manan jelema anu bareungharna meunang pupuja di nagara ieu . . . ? “

 

 

” mun ceuk dia ka sabrang mah lain muja, tapi kawidian jadi beunghar tanda katarima pangabaktina, jeung kapinteranana tina tamat ngajina … di dieu oge, nya kitu, moal beunghar mun mujana teu katarima atawa hanteu tutas tapana … “

 

 

ayeuna Antea, dia percaya, yen sakabeh anu kumelip, anu gedag anu usik, eta kabeh dibogaan ku : Anu Ngan Sahiji,.. kaula oge nya kitu keneh … eta Anu Ngan Sahiji tadi di kaula mah disarebutna : ANU NUNGGAL … Anu Nunggal di sakabeh alam, Anu Nunggal di sakabeh jagat … “

 

 

” Naon bedana ?? .. Anu Ngan Sahiji anu dia jeung Sang Hyang Anu Nunggal anu kula? Seug !! … geuning bedana dina sebutan wungkul … jeung ngan bedana dina lampah sinembahna … ! “

 

 

” anu di dia disebutna : pasantrenan, di kaula mah ngaranna teh : padepokan …. wujudna kitu-kitu keneh, bedana ngan dina ngaran jeung dina marga ajaranna, tapi tujuanna hanteu geseh saeutik oge, nyaeta, waluya hirup di jagat ieu, waluya hirup di alam anu bakal kasorang … “

 

 

” kaula hanteu bisa ngabuktikeun, yen SangHyang Anu Nunggal teh eta-eta keneh jeung Gusti Agung dia ANu Ngan Sahiji …. amun dia, Antea, bisa nganteur kaula ka karatonna Gusti Agung dia, hade, tangtu kaula ayeuna keneh taluk ka Jaya Antea, tapi, amun dia can bisa ngabuktikeun dimana cicingna Gusti dia, dia hanteu mudu giruk ka Padjadjaran, nu manandeh ganti petana sinembah … ! “

 

 

” Kaula mawa kapercayaan kaula … bawa ku dia kapercayaan dia, sakauman dia .. tapi, ulah nyisikudi ka anu henteu sudi ! “

 

 

” tah deuleu ! ieu cangkalak dia, tuh udar sorangan … Seug, geura susul kaula ! “

 

 

Barang Jaya Antea nubruk Rakean, Rakean mah anggeus ngiles, ….

teu kadeuleu, teu kadenge ….

 

 

 

Cag.

Published in: on 15 Juni 2011 at 12:40 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

SUNDA


Sampurasun,,,

Berdasarkan “Sastrajenrahayuningrat” istilah “Sunda” dibentuk oleh tiga suku kata yaitu SU-NA-DA yang artinya adalah “matahari” ;

-          SU = Sejati/ Abadi

-          NA = Api

-          DA = Besar/ Gede/ Luas/ Agung

Dalam kesatuan kalimat “Sunda” mengandung arti “Sejati-Api-Besar” atau “Api Besar yang Sejati atau bisa juga berarti Api Agung yang Abadi”. Maksud dan maknanya adalah matahari atau “Sang Surya” (Panon Poe/ Mata Poe/ Sang Hyang Manon). Sedangkan kata “Sastrajenrahayuningrat” (Su-Astra-Ajian-Ra-Hayu-ning-Ratu) memiliki arti sebagai berikut;

-          Su = Sejati/ Abadi

-          Astra = Sinar/ Penerang

-          Ajian = Ajaran

-          Ra = Matahari (Sunda)

-          Hayu = Selamat/ Baik/ Indah

-          ning = dari

-          Ratu = Penguasa (Maharaja)

Dengan demikian “Sastrajenrahayuningrat” jika diartikan secara bebas adalah “Sinar Sejati Ajaran Matahari – Kebaikan dari Sang Ratu” atau “Penerang yang Abadi Ajaran Matahari – Kebaikan dari Sang Maharaja” atau boleh jadi maksudnya ialah “Sinar Ajaran Matahari Abadi atas Kebaikan dari Sang Penguasa/ Ratu/ Maharaja Nusantara”, dst.

“Sunda” sama sekali bukan nama etnis/ ras/ suku yang tinggal di pulo Jawa bagian barat dan bukan juga nama daerah, karena sesungguhnya “Sunda” adalah nama ajaran atau agama tertua di muka Bumi, keberadaannya jauh sebelum ada jenis agama apapun yang dikenal pada saat sekarang.

Agama “Sunda” merupakan cikal-bakal ajaran tentang “cara hidup sebagai manusia beradab hingga mencapai puncak kemanusiaan yang tertinggi (adi-luhung). Selain itu agama Sunda juga yang mengawali lahirnya sistem pemerintahan dengan pola karatuan  (kerajaan) yang pertama di dunia, terkenal dengan konsep SITUMANG (Rasi-Ratu-Rama-Hyang) dengan perlambangan “anjing” (tanda kesetiaan).

Ajaran/ agama Sunda (Matahari) pada mulanya disampaikan oleh Sang Sri Rama Mahaguru Ratu Rasi Prabhu Shindu La-Hyang (Sang Hyang Tamblegmeneng) putra dari Sang Hyang Watu Gunung Ratu Agung Manikmaya yang lebih dikenal sebagai Aji Tirem (Aki Tirem) atau Aji Saka Purwawisesa.

Ajaran Sunda lebih dikenal dengan sebutan Sundayana (yana = way of life, aliran, ajaran, agama) artinya adalah “ajaran Sunda atau agama Matahari” yang dianut oleh bangsa Galuh, khususnya di Jawa Barat.

Sundayana disampaikan secara turun-temurun dan menyebar ke seluruh dunia melalui para Guru Agung (Guru Besar/ Batara Guru), masyarakat Jawa-Barat lebih mengenalnya dengan sebutan Sang Guru Hyang atau “Sangkuriang” dan sebagian lagi memanggilnya dengan sebutan “Guriang” yang artinya “Guru Hyang” juga.

Landasan inti ajaran Sunda adalah “welas-asih” atau cinta-kasih, dalam bahasa Arab-nya disebut “rahman-rahim”, inti ajaran inilah yang kelak berkembang menjadi pokok ajaran seluruh agama yang ada sekarang, sebab adanya rasa welas-asih ini yang menjadikan seseorang layak disebut sebagai manusia. Artinya, dalam pandangan agama Sunda (bangsa Galuh) jika seseorang tidak memiliki rasa welas-asih maka ia tidak layak untuk disebut manusia, pun tidak layak disebut binatang, lebih tepatnya sering disebut sebagai Duruwiksa (Buta) mahluk biadab.

Agar pemahaman ke depan tidak menjadi rancu dan membingungkan dalam memahami istilah “Sinar (Astra/ Ra/ Matahari), Cahaya (Dewa) dan Terang” maka perlu dijelaskan sebagai berikut;

CAHAYA

Sundayana terbagi dalam tiga bidang ajaran dalam satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisah (Kemanunggalan) yaitu;

  1. Tata-Salira/ Kemanunggalan Diri; berisi tentang pembentukan kualitas manusia yaitu, meleburkan diri dalam “ketunggalan” agar menjadi “diri sendiri” (si Swa) yang beradab, merdeka dan berdaulat atau menjadi seseorang yang tidak tergantung kepada apapun dan siapapun selain kepada diri sendiri.
  2. Tata-Naga-Ra/ Kemanunggalan Negeri; yaitu memanunggalkan masyarakat/ bangsa (negara) dalam berkehidupan di Bumi secara beradab, merdeka dan berdaulat. Pembangunan negara yang mandiri, tidak menjajah dan tidak dijajah.
  3. Tata-Buana/ Kemanunggalan Bumi; ialah kebijakan universal (kesemestaan) untuk memanunggalkan Bumi dengan segala isinya dalam semesta kehidupan agar tercipta kedamaian hidup di Buana.

Sesuai dengan bentuk dan dasar pemikiran ajaran Matahari sebagai sumber cahaya maka tata perlambangan wilayah di sekitar Jawa-Barat banyak yang mempergunakan sebutan “Ci” yang artinya “Cahaya”, dalam bahasa India disebut sebagai deva/ dewa (cahaya) yaitu pancaran (gelombang) yang lahir dari Matahari berupa warna-warna. Terdapat lima warna cahaya utama (Pancawarna) yang menjadi landasan filosofi kehidupan bangsa Galuh penganut ajaran Sunda:

  1. Cahaya Putih di timur disebut Purwa, tempat Hyang Iswara.
  2. Cahaya Merah di selatan disebut Daksina, tempat Hyang Brahma.
  3. Cahaya Kuning di barat disebut Pasima, tempat Hyang Mahadewa.
  4. Cahaya Hitam di utara disebut Utara, tempat Hyang Wisnu.
  5. Segala Warna Cahaya di pusat disebut Madya, tempat Hyang Siwa.

Lima kualitas “Cahaya” tersebut sesungguhnya merupakan nilai “waktu” dalam hitungan “wuku”. Kelima wuku (wuku lima) tidak ada yang buruk dan semuanya baik, namun selama ini Sang Hyang Siwa (pelebur segala cahaya/ warna) telah disalah-artikan menjadi “dewa perusak”, padahal arti kata “pelebur” itu adalah “pemersatu” atau yang meleburkan atau memanunggalkan. Jadi, sama sekali tidak terdapat ‘dewa’ yang bersifat merusak dan menghancurkan.

Ajaran Sunda dalam silib-siloka PANAH CHAKRA

Ajaran Sunda dalam silib-siloka “Panah Chakra”

“Ajaran Sunda” di dalam cerita pewayangan dilambangkan dengan Jamparing Panah Chakra, yaitu ‘raja segala senjata’ milik Sang Hyang Wisnu yang dapat mengalahkan sifat jahat dan angkara-murka, tidak ada yang dapat lolos dari bidikan Jamparing Panah Chakra. Maksudnya adalah;

-          Jamparing = Jampe Kuring

-          Panah = Manah = Hati (Rasa Welas-Asih)

-          Chakra atau Cakra = Titik Pusaran yang bersinar/ Roda Penggerak Kehidupan (‘matahari’).

-          Secara simbolik gendewa (gondewa) merupakan bentuk bibir yang sedang tersenyum (?).

CHAKRA

 Panah Chakra di Jawa Barat biasa disebut sebagai “Jamparing Asih” maksudnya adalah “Ajian Manah nu Welas Asih” (ajian hati yang lembut penuh dengan cinta-kasih). Dengan demikian maksud utama dari Jamparing Panah Chakra atau Jamparing Asih itu ialah “ucapan yang keluar dari hati yang welas asih dapat menggerakan roda kehidupan yang bersinar”.

Keberadaan Panca Dewa kelak disilib-silokakan (diperlambangkan) ke dalam kisah “pewayangan” dengan tokoh-tokoh baru melalui kisah Ramayana (Ajaran Rama) serta kisah Mahabharata pada tahun +/-1500 SM; Yudis-ti-Ra, Bi-Ma, Ra-ju-Na, Na-ku-La, dan Sa-Dewa. Kelima cahaya itu kelak dikenal dengan sebutan “Pandawa” singkatan dari “Panca Dewa” (Lima Cahaya) yang merupakan perlambangan atas sifat-sifat kesatria negara. Istilah “wayang” itu sendiri memiliki arti “bayang-bayang”, maksudnya adalah perumpamaan dari kelima cahaya tersebut di atas.

Selama ini cerita wayang selalu dianggap ciptaan bangsa India, hal tersebut mungkin “benar” tetapi boleh jadi “salah”. Artinya kemungkinan terbesar adalah bangsa India telah berjasa melakukan pencatatan tentang kejadian besar yang pernah ada di Bumi Nusantara melalui kisah pewayangan dalam cerita epos Ramayana dan Mahabharata. Logika sederhananya adalah; India dikenal sebagai bangsa Chandra (Chandra Gupta) sedangkan Nusantara dikenal sebagai bangsa Matahari (Ra-Hyang), dalam hal ini tentu Matahari lebih unggul dan lebih utama ketimbang Bulan. India diterangi atau dipengaruhi oleh ajaran dan kebudayaan Nusantara. Namun demikian tidak dapat disangkal bahwa bukti (jejak) peninggalan yang maha agung itu di Bumi Nusantara telah banyak dilupakan, diselewengkan hingga dimusnahkan oleh bangsa Indonesia sendiri sehingga pada saat ini kita sulit untuk membuktikannya melalui “kebenaran ilmiah”.

Berkaitan dengan persoalan “Pancawarna”, bagi orang-orang yang lupa kepada “jati diri” (sebagai bangsa Matahari) di masyarakat Jawa-Barat dikenal peribahasa “teu inget ka Purwa Daksina…!” artinya adalah “lupa kepada Merah-Putih” (lupa akan kebangsaan/ tidak tahu diri/ tidak ingat kepada jati diri sebagai bangsa Galuh penganut ajaran Sunda).

Banyak orang Jawa Barat mengaku dirinya sebagai orang “Sunda”, mereka mengagungkan “Sunda” sebagai genetika biologis dan budayanya yang membanggakan, bahkan secara nyata perilaku diri mereka yang lembut telah menunjukan kesundaannya (sopan-santun dan berbudhi), namun unik dan anehnya mereka ‘tidak mengakui’ bahwa itu semua adalah hasil didikan Agama Sunda yang telah mereka warisi dari para leluhurnya secara turun-temurun, seolah telah menjadi genetika religi pada diri manusia Galuh.

Masyarakat Jawa Barat tidak menyadari (tidak mengetahui) bahwa perilaku lembut penuh tata-krama sopan-santun dan berbudhi itu terjadi akibat adanya “ajaran” (agama Sunda) yang mengalir di dalam darah mereka dan bergerak tanpa disadari (refleks). Untuk mengatakan kejadian tersebut para leluhur menyebutnya sebagai;

“nyumput buni di nu caang” (tersembunyi ditempat yang terang) artinya adalah; mentalitas, pikiran, perilaku, seni, kebudayaan, filosofi dll. yang mereka lakukan sesungguhnya adalah hasil didikan agama Sunda tetapi si pelaku sendiri tidak mengetahuinya.

Inti pola dasar ajaran Sunda adalah “berbuat baik dan benar yang dilandasi oleh kelembutan rasa welas-asih. Pola dasar tersebut diterapkan melalui Tri-Dharma (Tiga Kebaikan) yaitu sebagai pemandu ‘ukuran’ nilai atas keagungan diri seseorang/ derajat manusia diukur berdasarkan dharma (kebaikan) :

  1. Dharma Bakti, ialah seseorang yang telah menjalankan budhi kebaikan terhadap diri, keluarga serta di lingkungan kecil tempat ia hidup, manusianya bergelar “Manusia Utama”.
  2. Dharma Suci, ialah seseorang yang telah menjalankan budhi kebaikan terhadap bangsa dan negara, manusianya bergelar “Manusia Unggul Paripurna” (menjadi idola).
  3. Dharma Agung, ialah seseorang yang telah menjalankan budhi kebaikan terhadap segala peri kehidupan baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, yang tercium, yang tersentuh dan tidak tersentuh, segala kebaikan yang tidak terbatasi oleh ruang dan waktu, manusianya bergelar “Manusia Adi Luhung” (Batara Guru)

Nilai-nilai yang terkandung di dalam Tri-Dharma ini kelak menjadi pokok ajaran “Budhi-Dharma” (Buddha) yang mengutamakan budhi kebaikan sebagai bukti dan bakti rasa welas-asih terhadap segala kehidupan untuk mencapai kebahagiaan, atau pembebasan diri dari kesengsaraan.

Ajaran ini kelak dilanjutkan dan dikembangkan oleh salah seorang tokoh Mahaguru Rasi Shakyamuni – Sidharta Gautama (‘Sang Budha’), seorang putra mahkota kerajaan Kapilawastu di Nepal – India.

Pembentukan Tri-Dharma Sunda dilakukan melalui tahapan yang berbeda sesuai dengan tingkatan umurnya (?) yaitu :

  1. Dharma Rasa, ialah mendidik diri untuk dapat memahami “rasa” (kelembutan) di dalam segala hal, sehingga mampu menghadirkan keadaan “ngarasa jeung rumasa” (menyadari rasa dan memahami perasaan). Dengan demikian dalam diri seseorang kelak muncul sifat menghormati, menghargai, dan kepedulian terhadap sesama serta kemampuan merasakan yang dirasakan oleh orang lain (pihak lain), hal ini merupakan pola dasar pembentukan sifat “welas-asih” dan manusianya kelak disebut “Dewa-Sa”.
  2. Dharma Raga, adalah mendidik diri dalam bakti nyata (bukti) atau mempraktekan sifat rasa di dalam hidup sehari-hari (*bukan teori) sehingga kelak keberadaan/ kehadiran diri dapat diterima dengan senang hati (bahagia) oleh semua pihak dalam keadaan “ngaraga jeung ngawaruga” (menjelma dan menghadirkan). Hal ini merupakan pola dasar pembentukan perilaku manusia yang dilandasi oleh kesadaran rasa dan pikiran. Seseorang yang telah mencapai tingkatan ini disebut “Dewa-Ta”.
  3. Dharma Raja, adalah mendidik diri untuk menghadirkan “Jati Diri” sebagai manusia “welas-asih” yang seutuhnya dalam segala perilaku kehidupan “memberi tanpa diberi” atau memberi tanpa menerima (tidak ada pamrih). Tingkatan ini merupakan pencapaian derajat manusia paling terhormat yang patut dijadikan suri-teladan bagi semua pihak serta layak disebut (dijadikan) pemimpin.

Ajaran Sunda berlandas kepada sifat bijak-bajik Matahari  yang menerangi dan membagikan cahaya terhadap segala mahluk di penjuru Bumi tanpa pilih kasih dan tanpa membeda-bedakan. Matahari telah menjadi sumber utama yang mengawali kehidupan penuh suka cita, dan tanpa Matahari segalanya hanyalah kegelapan. Oleh sebab itulah para penganut ajaran Sunda berkiblat kepada Matahari (Sang Hyang Tunggal) sebagai simbol ketunggalan dan kemanunggalan yang ada di langit, dan kiblat agama Sunda itu bukan diciptakan oleh manusia.

Sundayana menyebar ke seluruh dunia, terutama di wilayah Asia, Eropa, Amerika dan Afrika, sedangkan di Australia tidak terlalu menampak. Oleh masyarakat Barat melalui masing-masing kecerdasan kode berbahasa mereka ajaran Matahari ini diabadikan dalam sebutan SUNDAY (hari Matahari), berasal dari kata “Sundayana” dan bangsa Indonesia lebih mengenal Sunday itu sebagai hari Minggu.

Di wilayah Amerika kebudayaan suku Indian, Maya dan Aztec pun tidak terlepas dari pemujaan kepada Matahari, demikian pula di wilayah Afrika dan Asia, singkatnya hampir seluruh bangsa di dunia mengikuti ajaran leluhur bangsa Galuh Agung (Nusantara) yang berlandaskan kepada tata-perilaku berbudhi dengan rasa “welas-asih” (cinta-kasih).

Jejak keberadaan ajaran agama Sunda yang kemudian berkembang hingga saat ini terekam dalam kebudayaan masyarakat Roma (kerajaan Romawi) yang menetapkan tanggal 25 Desember sebagai “Hari Matahari” (Sunday) yaitu hari pemujaan kepada Matahari (Sunda) dan kini masyarakat Indonesia lebih mengenalnya sebagai hari “Natal”.

Oleh bangsa Barat (Eropa dan Amerika) istilah Sundayana ‘dirobah’ menjadi Sunday sedangkan di Nusantara dikenal dengan sebutan “Surya” (*Bangsa Arya ?) yang berasal dari tiga suku kata yaitu Su-Ra-Yana, bangsa Nusantara memperingatinya dalam upacara “Sura” (Suro) yang intinya bertujuan untuk mengungkapkan rasa menerima-kasih serta ungkapan rasa syukur atas “kesuburan” negara yang telah memberikan kehidupan dalam segala bentuk yang menghidupkan; baik berupa makanan, udara, air, api (kehangatan), tanah, dan lain sebagainya.

Pengertian Surayana pada hakikatnya sama saja dengan Sundayana sebab mengandung maksud dan makna yang sama.

-          SU = Sejati

-          RA = Sinar/ Maha Cahaya/ Matahari

-          YANA = way of life/ ajaran/ ageman/ agama

Maka arti “Surayana” adalah sama dengan “Agama Matahari yang Sejati” dan dikemudian hari bangsa Indonesia mengenal dan mengabadikannya dengan sebutan “Sang Surya” untuk mengganti istilah “Matahari”.

Perobahan istilah SUNDA

Perobahan istilah “Sunda”

Sekilas gambaran di atas boleh jadi hanya bersifat gatuk (mencocok-cocokan), namun mustahil jika kemiripan penanda (sebutan dan objek) itu terjadi dengan sendirinya tanpa sebab, selain itu terjadi pula kemiripan pada nilai-nilai yang bersifat prinsip dan mustahil pula jika tidak ada yang memulai dan mengajarkannya. Tentu “tidak mungkin ada akibat jika tanpa sebab” (hukum aksi-reaksi), dalam pepatah leluhur bangsa Nusantara menyebutkan “tidak ada asap jika tidak ada api” atau “mustahil ada ranting jika tidak ada dahan” maka segalanya pasti ada yang memulai dan mengajarkan.

5000 tahun sebelum penanggalan Masehi di Asia dalam sejarah peradaban bangsa Mesir kuno  menerangkan (menggambarkan) tentang keberadaan ajaran Matahari dari bangsa Galuh, mereka menyebutnya sebagai “RA” yang artinya adalah Sinar/ Astra/ Matahari/ Sunda.

“RA” digambarkan dalam bentuk “mata” dan diposisikan sebagai “Penguasa Tertinggi” dari seluruh ‘dewa-dewa’ bangsa Mesir kuno yang lainnya, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bangsa Mesir kuno-pun menganut dan mengakui Sundayana (Agama Matahari) yang dibawa dan diajarkan oleh leluhur bangsa Galuh.

Disisi lain bangsa Indonesia saat ini mengenal bentuk dan istilah “mata” (eye) yang mirip dengan gambaran “AMON-RA” bangsa Mesir kuno, sebutan “amon” mengingatkan kita kepada istilah “panon” yang berarti “mata” yang terdapat pada kata “Sang Hyang Manon” yaitu penamaan lain bagi Matahari di masyarakat Jawa Barat jaman dahulu (*apakah kata Amon dan Manon memiliki makna yang sama?)

Selain di Asia (Mesir) bangsa Indian di Amerika-pun sangat memuja Matahari (sebagai simbol leluhur, dan mereka menyebut dirinya sebagai bangsa “kulit merah”) bahkan masyarakat Inca, Aztec dan Maya di daerah Amerika latin membangun kuil pemujaan yang khusus ditujukan bagi Matahari, hingga mereka menggunakan pola penghitungan waktu yang berlandas pada peredaran Matahari, mirip dengan di Nusantara (pola penanggalan Saka = Pilar Utama = Inti / Pusat Peredaran = Matahari).

 

 

Masyarakat suku Inca di Peru (Amerika Latin) membangun tempat pemujaan kepada Matahari di puncak bukit yang disebut Machu Picchu. Dalam hal ini terlihat jelas bahwa secara umum konsep “meninggikan dengan pondasi yang kokoh” dalam kaitannya dengan “keagungan“ (tinggi, luhur, puncak, maha) merupakan landas berpikir yang utama agama Sunda.

Secara filosofis, pola bentuk ‘bangunan’ menuju puncak meruncing (gunungan) itu merupakan perlambangan para Hyang yang ditinggikan atau diluhurkan, hal inipun merupakan silib-siloka tentang perjalanan manusia dari “ada” menuju “tiada” (langit), dari jelma menjadi manusia utama hingga kelak menuju puncak kualitas manusia adiluhung (maha agung).

Demikian pula yang dilakukan oleh suku Maya di Mexico pada jaman dahulu, mereka secara khusus membangun tempat pemujaan (kuil/pura) kepada Matahari (Sang Hyang Tunggal).

Pada jaman dahulu hampir seluruh bangsa di benua Amerika (penduduk asli) memuja kepada Matahari, dan hebatnya hampir semua bangsa menunjukan hasil kebudayaan yang tinggi. Kemajuan peradaban dalam bidang arsitektur, cara berpakaian, sistem komunikasi (baik bentuk lisan, tulisan, gaya bahasa, serta gambar), adab upacara, dll. Kemajuan dalam bidang pertanian dan peternakan tentu saja yang menjadi yang paling utama, sebab hal tersebut menunjukan kemakmuran masyarakat, artinya mereka dapat hidup sejahtera tentram dan damai dalam kebersamaan hingga kelak mampu melahirkan keindahan dan keagungan dalam berkehidupan (berbudaya).

Sekitar abad ke XV kebudayaan agung bangsa Amerika latin mengalami keruntuhan setelah datangnya para missionaris Barat yang membawa misi Gold, Glory dan Gospel. Tujuan utamanya tentu saja Gold (emas/ kekayaan) dan Glory (kejayaan/ kemenangan) sedangkan Gospel (agama) hanya dijadikan sebagai kedok politik agar seolah-olah mereka bertujuan untuk “memberadabkan” sebuah bangsa.

Propaganda yang mereka beritakan tentang perilaku biadab agama Matahari dan kelak dipercaya oleh masyarakat dunia adalah bahwa; “suku terasing penyembah matahari itu pemakan manusia”, hal ini mirip dengan yang terjadi di Sumatra Utara serta wilayah lainnya di Indonesia. Dibalik propaganda tersebut maksud sesungguhnya kedatangan para ‘penyebar agama’ itu adalah perampokan kekayaan alam dan perluasan wilayah jajahan (imperialisme), sebab mustahil bangsa yang sudah “beragama” harus ‘diagamakan’ kembali dengan ajaran yang tidak berlandas kepada nilai-nilai kebijakan dan kearifan lokalnya.

Dalam pandangan penganut agama Sunda (bangsa Galuh) yang dimaksud dengan “peradaban sebuah bangsa (negara)” tidak diukur berdasarkan nilai-nilai material yang semu dan dibuat-buat oleh manusia seperti bangunan megah, emas serta batu permata dan lain sebagainya melainkan terciptanya keselarasan hidup bersama alam (keabadian). Prinsip tersebut tentu saja sangat bertolak-belakang dengan negara-negara lain yang kualitas geografisnya tidak sebaik milik bangsa beriklim tropis seperti di Nusantara dan negara tropis lainnya. Leluhur Galuh mengajarkan tentang prinsip kejayaan dan kekayaan sebuah negara sebagai berikut :

“Gunung kudu pageuh, leuweung kudu hejo, walungan kudu herang, taneuh kudu subur, maka bagja rahayu sakabeh rahayatna”

(Gunung harus kokoh, hutan harus hijau, sungai harus jernih, tanah harus subur, maka tentram damai sentausa semua rakyatnya)

“Gunung teu meunang dirempag, leuweung teu meunang dirusak”

(Gunung tidak boleh dihancurkan, hutan tidak boleh dirusak)

Kuil (tempat peribadatan) pemujaan Matahari hampir seluruhnya dibangun berdasarkan pola bentuk “gunungan” dengan landasan segi empat yang memuncak menuju satu titik. Boleh jadi hal tersebut berkaitan erat dengan salah satu pokok ajaran Sunda dalam mencapai puncak kualitas bangsa (negara) seperti Matahari yang bersinar terang, atau sering disebut sebagai “Opat Ka Lima Pancer” yaitu; empat unsur inti alam (Api, Udara, Air, Tanah) yang memancar menjadi “gunung” sebagai sumber kehidupan mahluk.

Menilik bentuk-bentuk simbolik serta orientasi pemujaannya maka dapat dipastikan bahwa piramida di wilayah Mesir-pun sesungguhnya merupakan kuil Matahari (Sundapura). Walaupun sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa piramid itu adalah kuburan para raja namun perlu dipahami bahwa raja-raja Mesir kuno dipercaya sebagai; Keturunan Matahari/ Utusan Matahari/ Titisan Matahari/ ataupun Putra Matahari, dengan demikian mereka setara dengan “Putra Sunda”(Utusan Sang Hyang Tunggal).

Untuk sementara istilah “Putra Sunda” bagi para raja Mesir kuno dan yang lainnya tentu masih terdengar janggal dan aneh sebab selama ini sebutan “Sunda” selalu dianggap sebagai suku, ras maupun wilayah kecil yang ada di pulo Jawa bagian barat saja, istilah “Sunda” seolah tidak pernah terpahami oleh bangsa Indonesia pun oleh masyarakat Jawa Barat sendiri.

Tidak diketahui waktunya secara tepat, Sang Narayana Galuh Hyang Agung (Galunggung) mengembangkan dan mengokohkan ajaran Sunda di Jepang, dengan demikian RA atau Matahari begitu kental dengan kehidupan masyarakat Jepang, mereka membangun tempat pemujaan bagi Matahari yang disebut sebagai Kuil Nara (Na-Ra / Api-Matahari) dan masyarakat Jepang dikenal sebagai pemuja Dewi Amate-Ra-Su Omikami yang digambarkan sebagai wanita bersinar (Astra / Aster / Astro / Astral / Austra).


Tidak hanya itu, penguasa tertinggi “Kaisar Jepang” pun dipercaya sebagai titisan Matahari atau Putra Matahari (Tenno) dengan kata lain para kaisar Jepang-pun bisa disebut sebagai “Putra Sunda” (Anak/ Utusan/ Titisan Matahari) dan hingga saat ini mereka mempergunakan Matahari sebagai lambang kebangsaan dan kenegaraan yang dihormati oleh masyarakat dunia.

 

Dikemudian hari Jepang dikenal sebagai negeri “Matahari Terbit” hal ini disebabkan karena Jepang mengikuti jejak ajaran leluhur bangsa Nusantara, hingga pada tahun 1945 ketika pasukan Jepang masuk ke Indonesia dengan misi “Cahaya Asia” mereka menyebut Indonesia sebagai “Saudara Tua” untuk kedok politiknya.

Secara mendasar ajaran para leluhur bangsa Galuh dapat diterima di seluruh bangsa (negara) karena mengandung tiga pokok ajaran yang bersifat universal (logis dan realistis), tanpa tekanan dan paksaan yaitu :

  1. Pembentukan nilai-nilai pribadi manusia (seseorang) sebagai landasan pokok pembangunan kualitas keberadaban sebuah bangsa (masyarakat) yang didasari oleh nilai-nilai welas-asih (cinta-kasih).
  2. Pembangunan kualitas sebuah bangsa menuju kehidupan bernegara yang adil-makmur-sejahtera dan beradab melalui segala sumber daya bumi (alam/ lingkungan) di wilayah masing-masing yang dikelola secara bijaksana sesuai dengan kebutuhan hidup sehari-hari.
  3. Pemeliharaan kualitas alam secara selaras yang kelak menjadi pokok kekayaan atau sumber daya utama bagi kehidupan yang akan datang pada sebuah bangsa, dan kelak berlangsung dari generasi ke generasi (berkelanjutan).

Demikian ajaran Sunda (Sundayana/ Surayana/ Agama Matahari) menyebar ke seluruh penjuru Bumi dibawa oleh para Guru Hyang memberikan warna dalam peradaban masyarakat dunia yang diserap dan diungkapkan (diterjemahkan) melalui berbagai bentuk tanda berdasarkan pola kecerdasan masing-masing bangsanya.

Ajaran Sunda menyesuaikan diri dengan letak geografis dan watak masyarakatnya secara selaras (harmonis) maka itu sebabnya bentuk bangunan suci (tempat pemujaan) tidak menunjukan kesamaan disetiap negara, tergantung kepada potensi alamnya. Namun demikian pola dasar bangunan dan filosofinya memiliki kandungan makna yang sama, merujuk kepada bentuk gunungan.

Di Indonesia sendiri simbol “RA” (Matahari/ Sunda) sebagai ‘penguasa’ tertinggi pada jaman dahulu secara nyata teraplikasikan pada berbagai sisi kehidupan dalam berbangsa dan bernegara. Hal itu diungkapkan dalam bentuk (rupa) serta penamaan yang berkaitan dengan istilah “RA” (Matahari) sebagai sesuatu yang sifat agung maupun baik, seperti;

  1. Konsep wilayah disebut “Naga-Ra/ Nega-Ra”
  2. Lambang negara disebut “Bende-Ra”
  3. Maharaja Nusantara bergelar “Ra-Hyang”
  4. Keluarga Kerajaan bergelar “Ra-Keyan dan Ra-Ha-Dian (Raden)”.
  5. Konsep ketata-negaraan disebut “Ra-si, Ra-tu, Ra-ma”
  6. Penduduknya disebut “Ra-Hayat” (rakyat).
  7. Nama wilayah disebut “Dirganta-Ra, Swarganta-Ra, Dwipanta-Ra, Nusanta-Ra, Indonesia (?)”

dll.

Kemaharajaan (Keratuan/ Keraton) Nusantara yang terakhir, “Majapahit” kependekan dari Maharaja-Pura-Hita (Tempat Suci Maharaja yang Makmur-Sejahtera) dikenal sebagai pusat pemerintahan “Naga-Ra” yang terletak di Kadiri – Jawa Timur sekitar abad XIII masih mempergunakan bentuk lambang Matahari, sedangkan dalam panji-panji kenegaraan lainnya mereka mempergunakan warna “merah dan putih” (Purwa-Daksina) yang serupa dengan pataka (‘bendera’) Indonesia saat ini.

Bende-Ra MAJAPAHIT

Bende – Ra Majapahit

Tidak terlepas dari keberadaan ajaran Sunda (Matahari) dimasa lalu yang kini masih melekat diberbagai bangsa sebagai lambang kenegaraan ataupun hal-hal lainnya yang telah berobah menjadi legenda dan mithos, tampaknya bukti terkuat tentang cikal-bakal (awal) keberadaan ajaran Matahari atau agama “Sunda” itu masih tersisa dengan langgeng di Bumi Nusantara  yang kini telah beralih nama menjadi Indonesia.

Di Jawa Kulon (Barat) sebagai wilayah suci tertua (Mandala Hyang) tempat bersemayamnya Leluhur Bangsa Matahari (Pa-Ra-Hyang) hingga saat ini masih menyisakan penandanya sebagai pusat ajaran Sunda (Matahari), yaitu dengan ditetapkannya kata “Tji” (Ci) yang artinya CAHAYA di berbagai wilayah seperti; Ci Beureum (Cahaya Merah), Ci Hideung (Cahaya Hitam), Ci Bodas (Cahaya Putih), Ci Mandiri (Cahaya Mandiri), dan lain sebagainya. Namun sayang banyak ilmuwan Nusantara khususnya dari Jawa Barat malah menyatakan bahwa “Ci” adalah “cai” yang diartikan sebagai “air”, padahal jelas-jelas untuk benda cair itu masyarakat Jawa Barat jaman dulu secara khusus menyebutnya sebagai “Banyu” dan sebagian lagi menyebutnya sebagai “Tirta” (*belum diketahui perbedaan diantara keduanya).

Sebutan “Ci” yang kelak diartikan sebagai “air” (cai/nyai) sesungguhnya berarti “cahaya/ kemilau” yang terpantul di permukaan banyu (tirta) akibat pancaran “sinar” (kemilau). Masalah “penamaan/ sebutan” seperti ini oleh banyak orang sering dianggap sepele, namun secara prinsip berdampak besar terhadap “penghapusan” jejak perjalanan sejarah para leluhur bangsa Galuh Agung pendiri agama Sunda (Matahari).

 

`Cag

Rampes,,,

Published in: on 6 Februari 2011 at 3:22 am  Comments (23)  

Wangsit Siliwangi (anu lengkep)

Tah ieu nu disebut Wangsit Siliwangi nu saestu na
Wangsit Siliwangi nu lengkap

Urang kotjapkeun deui Radja
TJeuk Injana :
Batur batur, dulur dulur !
Kabeh sanak djeung sakabeh kadang !
Darengekeun !
Sedja ngaing teh eudeuk njabrang
Mawa dia kabehan ka Nusa Larang
Deuk ngadeukkeun deui dayeuh tengah sagara !
Tapi eta laut
Ngadak ngadak tjaah motah kabina bina !
Lengser !
Naeun eta teh kila kilana ?
Boa boa
Urang teh ditjaram njabrang
Mudu marulang deui meureun
Pieun nantang musuh makalangan deui !
Kitu tah Lengser ?
TJeuk Si Lengser :
Gusti ! Geuning heueuh
Ayeuna mah tetela djasa !
Itu geuning natrat dina urat ombak
Dituliskeun dina buih
Lalakon urang the
Ngan datang kalebah dieu !
Urang kabeh ditjaram
Hanteu meunang njabrang ka Nusa Larang !
Lain njabrang urang anu dilarang
Tapi urang tjitjing di Nusa Larang !
Sabab
Tah dengekeun tah !
TJeuk gaur ombak neumbragan karang
TJeuk guruh angin di tengah laut
Baruk engke djaga
Eta Nusa teh
Bakal dibogaan deungeun
DJadi pieun nu perang !
TJeuk Radja :
Lengser kuamaha atuh ?
TJeuk Si Lengser :
Teu kumaaaaaaaaaha ….
Geus kieu meren muduna !
Saaaaha anu bisa mumpang papasten ?
Sabab papasten teh
Nja eta wates
Wates djaya wates apes
Wates hirup di alam hirup
Wates paeh di alam paeh
Wates paeh di alam hirup
Wates hirup di alam paeh !
TJeuk Radja :
Aduh Lengseeeeer …. !
TJeuk kabehan urang Padjadjaran, sakabeh dibarengkeun :
Aduuuuhh …… Huhuh …. !
Gauk ! Kabehan pada tjeurik
Sakarep sewang sakarep sewang
Sakabisa injana sakabisa sewang sewangan … !
Da puguh djaman harita mah
Euweuh aturan ti Nagara
Anu mudukeun kumaha muduna tjeurik !
Tapi sanadjan aturan kitu
Euweuh aturan ti Nagara
Aya tjeurik
Anu hanteu meunang diantep bae !
Nja eta
Kahidji tjeurik sabari maledogan kenteng tatangga !
Kaduwa tjeurik menta dibalikan deui ku popotongan !
Ladju tjeuk Radja ka sakabeh anu tjeurik :
Lalakon urang
Ngan datang ka powe ieu !
Nadjan dia kabehan ka ngaing pada satiya
Tapi ngaing teu meunang mawa dia kabehan
Kabawa bawa ngilu hirup djadi balangsak
Ngarilu rudin bari lalapar !
Dia ayeuna mudu marilih
Anu hade pieun dia sewang sewang hirup kahareupna
Abeh bisa deui harirup bari
DJebar senang sugih mukti
Abeh bisa deui
Ngadeugkeun deui Padjadjaran
Anu hudang ku panasaran
Tapi napak deui uga … !
Lain Padjadjaran tjara kiwari
Tapi Padjadjaran Tengah anu anjar
Nu ngadegna
Digeuingkeun ku obahna djaman … !
Ayeuna dia mudu marilih
Ngaing nu nitah ! Sabab pieun ngaing
Hanteu pantes djadi Radja
Ari somah sakabeh
Rapar bae djeung balangsak
Sagala hese sagala euweuh … !
Darengekeun !
Pilih !
Ngaing moal ngahalang sabab ngaing anu nitah milih !
Anu eudeuk ngilu bae ka ngaing
Geura misah ka beulah
Kidul …. !
Anu hayang mulang deui
Ka dayeuh panineungan
Geura misah ka beulah
Kaler …. !
Ayeuna darengekeun
Sakur anu sedja eudeuk kumawula ka nu keur djaya
Geura misah ka beulah
Wetan …. !
Ngaing hanteu njaran !
Anu moal ngilu ka saha ka saha
Geura misah ka beulah
Kulon …. !
Ladju pada marisah
Marisah sabari tjeurik …. !
Malah aya anu tjeurik
Sabari atoh …. !
Tapi panglobana mah
Anu tjeurik sabari sedih nu enja enje !
Da enja sedih
Sedih di hate tembus di sukma
Sabab kapeurih sesedih arinjana
Ngan njeuri njeunjeuri sukma
Tapi raga
Teu walakaya hayang bebela
Melaan Radja djeung Nagara !
Melaan Padjadjaran djeung Bangsana
Nu runtang ku Ganti djamana …. !
Pabaliyutna mararisah
Nu marisah ka beulah kaler
Nu marisah ka beulah kulon
Nu marisah ka beulah kidul
Heung nu marisah ka beulah wetan … !
Anu pangkedikna
Anu marisah ka beulah kaler !
Anu panglobana
Anu marisah ka beulah kidul !
Anu pangaratohna ?
Anu marisah ka beulah wetan !
Aratohna ?
Sabab didjaman anu ngaliwat
Basa arinjana djaradi pangkat
Ku Radja hanteu kapake
Ku somah teu dipikaresep !
Ari gawe di urut musuh mah
Sugan beeeeee …. ?
Da musuh geh musuh Radja
Musuh somah Padjadjaran anu sapikiran eudjeung Radja !
Apa ari arinjana mah
DJaradi musuh the
Ngan sakur pipilueun !
Sugan beee ari kumawula ka urut musuh mah
Boga deui pangkat anu leuwih ruhur
Leuwih kawasa leuwih seneng
Leuwih babari niyar kabeunghar …. !
Loba anu aratoh ngabadega ka urut musuh ?
Hanteu loba, kedik !
Tapi mahi pieun engke djaga
Njunjusah Bangsa Sunda
DJaradi gara gara
Sina Sunda pagirang girang tampiyan … !
Kumaha Si Lengser ?
Injana hanteu misah tapi ngadjentul tengah tegalan !
TJeuk Radja :
Lengser !
Ka mana dia eudeuk misah ?
TJeuk Si Lengser :
Kaula mah euweuh piliheun … !
TJeuk Radja :
Anu anggeus mararisah
Sewang sewang ngaradegkeun tilu kolot !
Ladju marilih kolot
Saban rombongan tilu kolot !

Ladju tjeuk Radja, ka tilu kolot nu beulah wetan :
Dia heula ka dieu !
Sing parek ! Darengekeun !
Masing njaraho :
Kadjayaan milu djeung dia !
Rawayan djeung dia
Engkena bakal marentah
DJaradi pangkat di tanah Sunda !
Arinjana baris kamalinaan !
Di buritna baris keuna babales !
DJig ! geura narindak !
Nu di tegalan di beulah wetan ladju narindak
Narindak ka beulah wetan
Dina sedja rek kamawula
Tapi karep
Eudeuk marentah
Deuk marentah pada Sunda !
Tapi paroho
Baris dibales ku urang Sunda !
TJeuk Radja ka tilu kokolot ti beulah kulon :
Papay ku dia latjak Ki Santang !
Sabab engke djaya
Rawayan dia mudu djaradi panggeuing
Ka batur batur urut salembur
Ka dulur dulur anu baheula
Njorang saayunan eudjeung dia
DJeung ka sakabeh
Bangsa Sunda rantjage hate …. !
Engke djaga amun tengah peuting ti gunung halimun
Ku arinjana kadenge sora nu tutulungan
Ku arinjana
Kadennge sora nu tutulungan
Tah eta tanda nu teu sulaya
Gunung Sunda baris ditjengkal deui !
Tapi gunung kuta
Sapaliheun djeung gunung kutu
Ku djelema ngaku ngaku urang Sunda
Anu kamalinaan dina keur sasar
Mamaksa sina … Uga
Ngawaruga samemeh wayah ….. !
Ulah rawayan dia beunang ssisambat !
Tapi memang arinjana baris kapadaya heula !
Lantaran leungiteun haneuleum …. !
Hanteu aringet deui :
Wayah saenjana lebak tjawene
DJadi nggon pindah pangawinan
Dibalabarkeun heula ku
Di wayah djanari gede
Rame sora tutulungan ti gunung lampung
Ladju ti gunung halimun
Kadenge sora gogo ongan ….. !
Darengekeun !
Amun engke ti ki hara papak datang bedja
Budak angon geus sisingkil
Rawayan dia geus mudu sasadji pieun nindak !
Ulah sina salangke !
Sabab talaga bakal baredah
Lantaran monjet monjet embung parindah … !
DJig geura narindak !
Anu sasadiya ti tegalam beulah kulon ladju narindak
Narindak madju ka kulon …….. !
Darengekeun !
Masing njaraho
Ku dia
Moal kasampak dayeuh amu disedja
Rawayan dia
Lobana bakal hirup djaradi somah !
Amun aya anu djeneng djadi pangkat
Bakal ruhur pangkat injana
Tapiiiiii hante boga kakawasaan !
Arinjana bakal di aradukeun
Diaradukeun ku urang wetan
Sina maseyaan urang wetan
Sina maseyaan urang kulon
Dipaseyaan ku urang kaler
Dipaseyaan Sunda ti kaler
Dipaseyaan Sunda ti wetan …. !
Lawan …. ! Sina ngaralawan !
Sabab Padjadjaran Tengah
Baris mudu ngadjadjar deui di tengah tengah
Sakabeh teureuh dayeuh rawayan dia
Moal aya anu beunghar lantaran bener
Moal aya anu djembar lantaran hade
Nadjan leuwih loba pangabisa
Nadjan unggul pangaweruh
Hanteu arinjana diadjenan ku Sunda sedjen !
Sabab anu ngahaharuwan
Pada sirik lantaran bodo
Sariyeun kaelehkeun dina pangaruh !
Keun bae !
Engke oge datang wayah
Rawayan dia baris djaradi lulugu
Ngaharudangkeun Bangsa Sunda
Anu harees bae kaheesan
Bari diyuk kangeunahan
Sakabeh rawayan dia
Ku kaula bakal dihalang !
Tapi ngan anu harade dilampah
DJeung harade dina sinembah !
Sinembah arinjana mah
Deuk kumaha deuk saha ogeh
Ari sinembah njumerep sukma mah
Moal djadi bahan kaula milih asih !
Sabab tjeuk sakabeh anu sinembah
Sinembah anu kumaha ogeh
Anu ku arinjana disembah dipundjung pundjung
The apanan
Anu ngan sahidji …. !
Anu dina basa urang disebut Anu Nunggal !
Nja eta
Anu ngan sahidji dina wudjud
Anu nunggal dina wudjud …..
Tapi
Dibedakeun ku sebutan
Dina basa nu beda beda … !
Kaula bakal datang ngalanglang
Pieun nulungan nu barutuh
Pieun mantuwan anu sarusah
Tapi ngan sakur anu Sunda di Padjadjaran
Bari Padjadjaran anu Sunda
DJeung narunda dina sukma …. !
Di waktu kaula datang ngalanglang
Kaula datang hanteu kadeuleu !
Amun kaula njarita
Sakur anu ngaku ngaku kadatangan kaula
DJeung madjarkeun
Injana neuleu kaula
Atwa ngadenge kaula njarita
Masing di njaraho
DJelema kitu teh djelema sasar madju ka edan !
Bisa oge injana the kadatangan
Tapi ku sukma anu ngaku ngaku tjeunah kaula !
Masing dia njaraho
DJelema kitu the
Kasandingan nu njiriwuri !
Kaula datang
Teu ngarupa teu njawara
Tapi mere tjiri
Ku wawangi ….. !
Kitu oge ngan ka arinjana
Anu geus rantjage dina hate
Eudjeung weruh dina semu anu saestu
Bari ngarti
Dina wangi nu sadjati
Eudjeung pikir surti lantip
Dina lampah anu hade ……. !

regepkeun !
mimiti ti poweieu
powe katudjuh bulan katudjuh
dina tahun ka 57 kaula djadi Radja di Padjadjaran
mimiti ti powe ieu
Padjadjaran pindah djagat pindah alam
pindah ka djagat papantunan
pieun langgeng hirup
djero alam panineungan …. !
Padjadjaran leungit ti djagat kadjayaan
leungit dayeuhna
leungit ngaran Nagarana
leungit ka basa basana ……. !
leungit basana
mawa leungit ka bangsa bangsana … !
Padjadjaran undur tina panggung Ka Agungan
nalasan alas panghiyaman
tapi dina nindak pindah djaman
Padjadjaran moal ninggalkeun latjak
sedjen ti ngaran pieun nu mapay … !
sabab bukti bukti nu kari oge
bakal dipararungkir dimarusnakeun … !
tapi engke djaga
bakal aya nu njariar
njaroba njoba sugan kaguwar
harayang ni,u anu geus leungit
nja hanteu loba anu kapanggih
djeung ti loba anu kapanggih
loba djasa anu teu kaharti !
sabab dihartieun
ku arinjanan anu teu ngarti
tapi harayang disarebut ;oba pangarti !
tapi arinjana mah teu dipertjaya
sabab ku nu arieu ngaing pinter tapi barodo
tjarita arinjana anu bener
dipadjarkeun mangmenangkeun Padjadjaran !
loba anu njararoba
harayang muka rahasiahna Padjadjaran
tapi moal eudeuk kabaruka
sabab tulakna
pageuh dikeukeuweuk Budak Angon
anu imah injana di birit leuwi
dipantowan batu satangtung
kasiyeuman ku haneuleum
kakalangkangan ku handjuang !
sabab
atjan wayah
pieun ngalalakonkeun
Padjadjaran ngamuk ngarakrak panggung !
beuki loba anu maruruh
tambah loba anu katimu
tapi sabagiyan sabagiayan
anu beuki bae hanteu kaharti
da salalah njabung njabungkeun !
atjak atjakan m=ngadjamkeunnana !
djeung dina maruruh
harayang marapay bari diharuwapan !
mapay latjak Padjadjaran mah
mudu bari rubak amparan !
djeung mudu araredan heula
ngarilu edan edanan
dina djaman sagala edan
da ngan ti nu keur eeedan !
tembong netrat ka hanteu bener teh !
anu dina njaruktjuk bari njaksrak
hanteu pipilueun e edanan
ngan arinjana anu diluluguwan Budak Angon
sabab ngan injana
anu weruh di semuna
bari njaho di djogona
da injana mah
lain ngangon kebo disampalan
lain ngangon badak di alas tangtu
tapi kalakay
nu babalatak hanteu dirawat
di patilasan patilasan teu puguh ngaran !
loba anu katimu ku arinjana
tapi loba anu ku arinjana disumputkeun heula
sabab atjan wayah mudu ditjaritakeun
nadjan geus raraog
mararenta dilalakonkeun … !
sabab budak angon mah njaho
dina mangsa anu baris datang
baris ti djelema djelema tjaropot kedok
rahasiah mararuka sorangan
da ngan injana
anu njaho lalakon na
bari tenget
ka sakur nu di djaman edan araredan
pada pada keur ngalalakon
dina panggung sarwa sulaya !
tah eta budak angon nu eta
anu engke djaga baris murwa lalakon anu saestu na
bari ngadjadjarkeun deui Padjadjaran
tengan tengah djaman Bangsa Sunda
ngalaleungitkeun DJiwa Sunda !
tapi mudu ngalaman heula loba lalakon
anggeus njorang undur djaman datang djaman
saban djaman mawa lalakon
kebelna saban djaman
anu datang piligantian
saruwa djeung wayahna giliran
daratang sukma anu mudu
njukma
ngusumah
eudjeung nitis
eudjeung wayahan Raga Dipindah Sukma
darengekeun !
nu kiwari ngamarusuhan urang
djaradina Radja teh
ngan baris datang ka wayah
tanah bugeul sisi tji banten
didjieun kandang kebo dongkol !
tah mimitian ti lebah dinja
sakabeh Nagara nu araya
baris djadi sampalan
sampalan kebo anu barule
nu diangon
ku djelema djangkung
nu tutundjuk di alun alun !
ti harita
sakabeh Radja dibeleng
ditaliyan ku kembang tjengkeh
dibeungkeut ku buah pedes … !
aya Radja radja
anu katalian ku djangdji sorangan
aya Radja radja
anu kabalenggu sabab katipu
aya Radja radja
anu katalikung sabab ngilu ngilu ulubiung !
geus kitu
ladju kebo bile njekeul bubuntut
bangsa urang narik wuluku
ngan hanteu karasa marudu narik
sabab murah djamang seubeuh hakan
geus kitu
intju intju kebo bule
anu hararideung bari peta eudjeung rupa
teu beda kunjuk kunjuk di gunung njungtjung
rasa arinjana leuwih munding ti kebo bule
ladju ngaragolan bangsa urang
narumpakan wuluku dina pasangan !
bangsa urang ladju lilir
bari eungeuh djaradi badega didjiyeun kebo
tapi hanteu kaburu marudah
sabab ti kaler eudjeung ti kulon
datang mantera monjet monjet pararengkeh
ngabuburak kebo bule ti sampalan !
bangsa urang ngeunah seuri
tapi seuri urang Sunda
teu kaburu anggeus
sabab alun alun pada suwung
sampalan dirandjah monjet
warung warung dirandjah monjet
sawah sawah dirandjah monjet
huma huma diatjak atjak monjet
tjawene tjawene
rareuneuh ku monjet … !
sagala gala diawut awut ku monjet !
djelema siyeun ku monjet
sarariyeun ku djelema nu djiga monjet
sarariyeun ku djelema nu momonjeteun
sarariyeun ku djelema nu momonjetan
sarariyeun ku djelema nariru niru monjet
tapi masih bae hanjeu kedik
anu marudja
engkena djaradi monjet !
ladju panarat ditjekel ku monjet
bari diyuk tina tjatjadan
wulukuna mah
ditarik mudu ku urang ku urang keneh bae !
tah di djaman eta
bangsa urang saeutik hakaneun djeung pakeueun
loba djelema paeh kalati
loba lalaki paeh teu bukti
loba tjawene didjidjieun pangrepeh
lain hanteu warani
tapi atjan wayah pieun njekek monjet monjet
sanagara ngarep ngarep pelak djagong geura saumur
ngarep ngarep bari hanteu arareungeuh
djaman teh geus ganti lalakon
sabab hawar hawar
di tungtung sagara kaler pang kalerna
ngagulugur ngaguruh harus … !
Garuda megarkeun endok di kandang monjet
gendjlong saamparan djagat
ari di urang ?
rame ku nu ngarora eukeur marangpring
prang pring sabuluh buluh gading
dina perang madju ka suda …. !
monjet monjet ngararumpul pating rumpuyuk

Ladju ngamuk bangsa urang
Tapi ngararamuk teu make aturan
Loba anu pararaeh teu boga dosa
Puguh musuh didjieun batur
Puguh batur disebut musuh
Ngadak ngadak loba nu djaradi pangkat
Tapi mararentah tjara nu edan
Nu baringung beuki baringung
Nu teu bingung djadi bingung
Budak satepak djaradi bapa
Nu ngaramuk beuki loba beuki rosa
Mani saheng sanagara
Sabab anu ngaramuk
Hanteu beda tawon dipalengpeng saying
Sakur anu hanteu sapikiran sapangadegan
Nadjan teu biluk ka musuh oge
Ladju bae disebut musuh
Dating ka tambah loba
Ani diparaehan teu puguh dosa
Sabuwana didjidjieun djagal
Sabab nu sabangsa eudjeung urang
Ladju perang
Ngalawan 12 bangsa ti 5 nagara
Tapi kaburu disapih
Ku nu daratang ti tanah sabrang
Ladju di urang ngadeg Radja
DJelema n amah djelema biasa
Ngan disarebut
Hanteu puguh indung hanteu puguh bapa
Tapi saenjana mah
Memang titisan !
Titisan sukma Radja djaman baheula
Tapi ngindung
Ka Putri Dewata bangsa kadewan
Da puguh titisan Radja
Radja anjar
Hese apes ku rogahala
Ti harita
Ganti deui djaman
Ganti djaman ganti lalakon
Iraha mimitina ganti djaman
Ti mimiti ngadeg Radja
Iraha mimitina ganti lalakon
Hanteu kebel
Anggeus tembong bulan ti beurang
Di susul kaliwatan
Ku bentang gede tjaang ngagentjlang
Di urut Nagara Padjadjaran Girang
Ngadeg deui Karadjaan
Tapi nu djadi Radja
Lain teureuh Padjadjaran eta
Di urang ladju deui aya Radja
Tapi Radja para Buta
Diponggawaan ku buta buta
Nu djadi Radja
Lain bae buta duruwiksa
Tapi buta oge teu bisa neuleu
Buhaya eudjeung monjet
Utjing garing eudjeung adjag
Ngarowotan somah bari disangsara disusah susah
Karesep eta Radja
Diagung agung diugung ugung
Ngadegkeun panto
Teu bisa molongo
Ngadegkeun lawang
Teu bisa muka
Miyara heulang dina tjaringin
Njinjieunan pantjuran ditengah djalan
Da Radjana …. Radja panjelang
Da ngaran geh djadi Radja
Karesep sakahayang injana
Hanteu meunang ditjaram hanteu meunang dihulag !
Sakalina aya anu wani ngageuingkeun
Anu diporog ku ponggawa buta
Lain sato sato nu ngarowotan somah
Tapi djelemana
Anu ngageuingkeun ngelingan Radja
Da puguh buta buta djaradi ponggawa
Beuki hareup beuki hareup
Radja buta beuki ngabeka !
DJangdji injana mah kieu
Tapi titah injana mah kitu
Nitah kitu
Tapi djangdji injana mah hanteu dibuktikeun
Radja djangdji eudeuk ngagungkeun Agama
Anu djadi gara gara urang kiwari aya di dieu
Tapi ladjuna mah
Sakabeh urang Selem
Ku injana dimudukeun saban saban
Njenjembah deui berhala
Di gantung di taweuran
Radja djangdji eudeuk njieun somah
Pada djembar eudjeung rahardja
Tapi nitah ngagarap sawah
Di salah wayah !
Bubutut salah nu ngatur
Panarat pabeulit dina tjatjadan
Da atu anu ku Radja dititah ngawaluku
Lain djelema prah tarani …. !
Ladju n amah
Kembang tarate paeh sawareh
Kembang kapas teu djadi nareuleu
Buwah pare loba anu nareuleu
Hanteu bisa asup dina haseupan
Da anu ngarebonna
Tukang barohong !
Anu taranina
Ngan wungkul djangdji !
Anu daragang
Nganngarandjap nu balandja
Anu djaradi pagawe
Loba lunta mawan adja
DJeung ari garawe
Ngahadja dilila lila
Ngarah somah nu disususah
Rurubaha mere loba … !
Anu djaradi ponggawa
Bararunghar tina ba** SENSOR **
Sararenang tina ruruba
Dararagang
Tapi bari njieun susah usaha somah
Modal dagang arinjana ?
Nja pangkat djeung kakawasaan
Nu ku arinjana diparake njaringsieunan
Dating ka anu geus sarieun memeh disaringsieunan
Mere kauntungan ngindjeumkeun modal
Tapi modal
Anu moal bisa ditagih deui
Kumaha arinjana dagang ?
Daragang bari monggawa
Dating ka pagawean
Meh sakabeh hantjaeun gatrah
Lain ku sabab daragang
Tapi memang teu barisa gawe !
Lain hanteu bisa gawe
Ku sabab barodo
Tapi lantaran pararinteur teuing
Ngan pararinteur kabalineur
Ti dinja
Salega buwana
DJadi hakaneun beuki marahal
DJadi somah beuki baringung !

Harita
DJaman ladju ganti deui
Asup keuna djaman sato !
DJelema dikawasaan sato
DJelema haying paloba loba sato
DJelema beuki loba nu tjara sato
Di djaman eta
Nja darang budak djanggotan
Sadjamang ku djamang hideung
Sasamping ku samping hideung
Njoren kaneron tapi teu hideung
Injana ngageuingkeun anu keur sasar
Ngelingan nu kamalinaan
Mere njaho ka nu paroho
Tapi euweuh nu ngawaraaaaaaaaro … !
Boro boro deuk ngawaro
Budak djanggotan oge
Ku arinjana ditarewak
Diasupkeun ka pangberokan !
Arinjana hanteu areungeuh
Haseup ti pirunan ngebulna beureum
Ditariyupan
Ku monjet monjet anu bareureum !
Ladju anu kamalinaan arembong ngawaro
Ngatjak ngatjak heula saban pasar
Ladju ngawut ngawut dapur batur
Manjar arinjana neyangan musuh …. !
Padahal
Arinjana njiar njiar pirusuheun !
Sabab arambeuk dipadjarkeun teu barisa ngatur nagara !
padahal arinjana njararho
Monjet arinjana nu haredjo
Monjet arinjana nu garading
Saban monjet nu arinjana
Beuki kamalinaan mararabok kakawasaan !
Padahal arinjana pada njaho
Eta the puguh geh monjet
Hayoooooh dibarere kakawasaan !
Ku naha ngarantep sina monjet monjet kamalinaan ?
Sabab Radja arinjana anu njontowan
Senang the
Mudu keur hirup !
Beunghar teh
Menungpeung keur pangkat !
Ngarah kapangkatan gede kakawasaan
Mudu monjet monjet didjieun balad
Bari mere monjet monjet kakawasaan …. !
Saha, sahaaaaaaa anu wani mumpang
Ka pangkat meudjeuh kawasa
Ka kawasa meudjeuh keur djaya
Ka nu keur djaya meudjeuh keur beunghar ?
Atuh eudeuk kumaaaaaaaaha ?
Da injana Radja geh Radja panjeeeeeelang !
Nadjan pagawe djeung ponggawa injana anu saralah oge
Nadjan pagawe djeung ponggawa injana njuyusah somah oge
Ku injana diingkeun bae !
Da puguh Radja dipindah sukma …. !
Kadjayaan buta buta djaradi ponggawa djeung pagawe
Kakawasaan monjet monjet anu marabok
Lilana ngan duwa kali ganti Radja pannjelang
Katilu ngadeg
Tapi mahi lila pieun somah katjida sangsara
Dating ka somah ngarep ngarep
Sing tjaringin reuntas di alun alun !
Sing buta buta djaradi wadal
Wadal polah keneh arinjana
Saban ganti Radja panjelang
Baris aya tjaringin reuntas
Tapi reuntas na hanteu saruwa !
Iraha bari mimiti aya tjaringin reuntas ?
Engke amun geus tembong budak angon
Dating ngabedjaan anggeus laguna ngarakrak
Panggung enggon katjolah anu e edanan djaradi edan
Geus dating keuna dawuh
Mudu dirubuhkeun djeung didudutan … !
Budak angon hanteu diwaro !
Tapi ladju lona nu rebut
Mimiti ti djero daour
Ti dapur ladju salembur
Ti salembur ladju djadi sanagara …. !
Tapi panggung reyod mah
Hanteu diburak …. !
Nu barodo djaradi gelo
Ngaharapkeun anak tjiung !
Budak buntjireung
Njumputkeun monjet beureum dina tjaringin
TJaringin na ladju teuntas … !
Tapi … panggung reyod mah
Hanteu dirakrak …. !
Nu barodo garelo deui
Diarodjok odjok monjet hideung
Nu ditipu ku monjet beureum
Arinjana harayang sina bulan djeung bentang bae
Anu beurang peuting njaangan djagat ieu … !
Arinjana mararaksa
Manuk tjiung ulah disebut tjiung
Ti dinja
Loba deui anu raribut
Mimiti ti dapur deui
Ti dapur dapur djadi salembur
Ti salembur djadi deui sanagara !
Anu karantjeuh ladju garelut
Diarodjok odjok deui monjet beureum
Nu njararu djadi monjet harideung bulu
Harideung letah harideung deuleu
Tapi beureum hate djeung beureum sedja
Sedja ngabeureumkeun sa djagat ieu … !
Nu kataripu ladju garelut
Ngagelutan sakur anu hanteu saruwa dina sinembah
Ngagelutan batur batur nu geus areungeuh keuna ditipu !
Dimana mana beuki loba nu deuk garelut
Ngan anu areling …. Pada tjaritjing
Arinjana mah ngalaladjowan !
Tapi ….. kabeurangan … !
Naeun sabab mantak garelut ?
Marebutkeun warisan samemeh wayah
Nu nu haraweuk haying panglobana
Nu teu daek harayang loba
Nu mudu kawaris
Mararenta bagian arinjana …. !
Tapi warisan mah
Euweuh saurang anu kabagean
Sabab geus direbut
Ku urang sabrang njekel gadean !
TJaringin anu keur eunjeuh
Reuntasna kabawa tjaah … !
Monjet hideung
Karebut ka sabrang deui
Tapi monjet monjet anu beureum
Antep intip di pipir leuit
Ari monjet monjet anu haredjo
Arembong turun ti ruhur panggung
Panggung rubuh !
Dirubuhkeun talaga bedah
Anu bedah ku lini deui !
Kuya bodas, andjing bodas, buhaya bodas
Mararodar disered guntur … !
Ngan beas bodas
Leuleungitna lain kabawa tjaah
Tapi diatjak atjak deui ku monjet beureum
Diatjak atjak deui monjet monjet anu haredjo
Diatjak atjak deui monjet monjet anu garading
DJeung ku begu begu nu sarupa djelema … !
Urang wetan anu geus hareudang
Ku urang kulon nu keur hudang
Hariwang keuna wayah Urang Sunda baris hudang !
Kudjang Sunda titinggal kaula
Sina ditarepa deui di sabrang wetan !
Ladju … sunda pagirang girang deui tampiyan !
Di mana mana raribut deui
Mararebutkeun leuit anu kararosong
Mararebutkeun djodjodog pada tjaropong !
Rebut ! Beuki rebut beuki rusuh … !
Buta buta ladju njarusup
Sakabeh rupa monjet pada haliwu
Sabab sariyeun ditareumpuhkeun beulahna samangka !
Da memang heueuh
Lapurna nagara the
Gara gara arinjana
Keukeuh harayang bae pangkawasana
Geus hanteu barerek oge
Keukeuh bae mudu turut ngatur nagara
Urang sunda diaradukeun deui
Da sundana sunda goblog
Teu arareungeuh diaradukeun !
Ladju maseyaan sakur anu ditaruduhkeun
Maseyaan deungeun maseyaan batur .. !
Sunda maseyaan sunda keneh !
Ngan sunda nu areling
Hanteu paraseya hanteu pagirang girang tampiyan !
Tapi kabarerang …. !
sabab sunda burung paseya djeung sunda edan
sunda edan maseyaan sunda nu teu burung hanteu edan … !
salegana nagara tjara keur kahuruwan
loba seuneu loba tjai
tah di dinja mah
kara njarariyar budak angon
sedja arinjana deuk marenta tumbal
tapi budak angon anggeus euweuh
geus euweuh dibirit leuwi
geus euweuh panto batu satangtung
tapi haneuleum nu didjieun hateup
handjuang nu didjieun tihang
euweuh anu areungeuh
djadi pipihan handapeun Pakudjadjar Ki Pahare !
anu kasampak ku anu ngariyat
ngan kari gagak
nu keur ngelak dina tutunggul
ngabedjaan
tapi euweuh saurang anu ngararti !
padahal gagak the ngabedjaan
“samangka geus asak di Tegalan Pangperangan !”
Tah eta pitumbaleun pieun pamunah … !
Darengekeun !
Perang di tegalan
Geus moal aya anu bisa ngahalang haling !
Sabab geus karep para lulugu wetang … !
Tapi bisa dikiyasan abeh ulah dating deui ka sunda beak kaluluh !
Sabab Padjadjaran mudu ngadeg deui
Mandiri deui djadi Nagara
Anu nengah dina djadjaran
Saamparan eudjeung satahap
DJeung Nagara nagara anu sahate !

Lengser … !
TJeuk Si Lengser djauh ti tengah tengah tegal
Nun…. !
TJeuk Radja
Anu harita djadi keneh Radja
Tapi ngan Radja dina sebutan
Sabab Nagara injana mah geus dibogaan deungeun
Kiyasna, Lengser ! kumaha tah kiyasna ?
Si Lengser ladju ngomong
Tapi ku Radja hanteu kadenge !
TJeuk Radja tanpa Nagara
Teu kadenge !
Ngomong be dia the torek !
Lain torek dina tjeuli
Tapi torek dina piker !
Piker atuh !
Keur djadi keneh Radja
Memang kaula anu mudu dating ka Radja !
Tapi lantaran dia ayeuna
Geus etjag ti djadi Radja
Nja atuh
Anu ngora anu mudu njampeurkeun ka anu kotolan !
Heueuh bener ! tjeuk Radja bari njampeurkeun
Radja njampeurkeun Si Lengser
Si Lengser njampeurkeun Radja !
Ladju arinjana njarampeurkeun kokolot
Nu tilu djadi lulugu
Ngaluluguwan Padjadjaran nu eudeuk ka kaler !
Ladju Si Lengser harewos
Ulah ngugung ngugung monjet hideung !
Ulah siyeun ku monjet beureum !
Ulah ngelehan bae ka urang wetan !
Ulah mundur ku urang kulon !
Tapi kalebetkeun umbul umbul Padjadjaran
Anu bodas sabari hideung
Disulaman
Kudjang lalayanah djeung pakudjadjar !
TJeuk Radja
Tah kitu !
Tengerkeun djaman ganti deui
Nja eta djaman anu baris muka lawang
Pieun mapag powe
Nu mawa djaya tin a sangsara !
Wayah dating Radja panjelang anu kaduwa
Ditanda an heula ku bitu gunung gede
Ladju disusul ku tudjuh gunung pada garede !
Wayah bakal dilelemahna tegal pangperangan
Amun parek ka urut punduk leuwi Ki Pata Hunan
Geus malang tjukang nu njela bumi !
Girangeun ereng di kutu lampah
Nu njabrang geus mudu dina eretan !
DJig ! geura narindak !
Tapi ulah ngaliyeuk ka tukang
Ngan sing awas neule ka hareup
Sing telek neuleu ka kentja
Sing teges neule ka Beulah katuhu
Di tukang mah
Batur batur ti Padjadjaran anj ngaranteur !
Ladju nindak anu narindak eudeuk ka kaler
Ka dayeuh paninengan samar kasampak
Tapi tetep ngadeg
DJero harigu saban Sunda Padjadjaran !
TJeuk Radja ka anu sakabeh anu marisah ka Beulah kidul
Batur batur ! dulur dulur !
Sakabeh anak sakabeh intju
Buyut, tjangah, boa eudjeung wareng !
DJeung sakabeh Sunda Padjadjaran anu sadjati !
Mimiti powe ieu
Padjadjaran ganti djaman
Ganti alam teruseun hirup !
Lain urang ngaganti alam ngaganti djaman
Tapi uuuurang
Diganti alam ku ganti djaman
Mimiti powe ieu
Padjadjaran pindah
Ti djaman wasa tjarita
Ka djaman djadi tjarita
Ti alam hirup samemeh paeh
Ka alam paeh samemeh hirup
Sabab hirup terus terus
DJero angeun Bangsa Sunda
Anu Padjadjaran di ngaran Sunda !
Lalakon
Urang ladjukeun !
Sabab engke djaga
Ka batur batur djeung dulur dulur
Nu tadi nindak ka kaler
Baris aya nu hiri dengki
Dina sedja
Njilih deui Bangsa Sunda
Njaram njaram urang Sunda nararineung ka Padjadjaran
Sabab nu saririk hiri dengki
Arinjana siyeun kasili wawangi
Amun Sunda ngadeg deui Padjadjaran
Arinjana arembong ngarti
Bong pertjaya ka budak angon
Nu njarita
Padjadjaran the
Lain ngadjadjarkeun tangkal nu djiga paku
Tapi ngadjadjarkeun
Anu salah ti anu bener
DJeung ngadjadjarkeun
Kabener bebenerna bener !
Arembong arinjana ngarti
Sabab piker arinjana Padjadjaran the
Ngahudang hudang panasaran
Njeunjeuit deui kanjeuri
Nja kanjeuri
Anu baris ngahudangkeun sukma Sunda !
Padjar arinjana
Harti Sunda the
Suhun semet dada
Tegesna mah badega !
Ladju saban usuk Bangsa Sunda
Ku arinjana diteuheulkeun ditareundeutkeun
Bangsa Sunda
Mudu nurut bae diparentah digarawekeun
Ku madjarkeun
Sampurna na Nagara tunggal ngaran
Mudu dibantu ku Bangsa Sunda !
Padahal
Hehese djeung tarahalna
Eta kabeh bagian Sunda
Ngeungeunahna mah
Nja bagian bae arinjana !
Bangsa Sunda diaradukeun
Tapi dasar Sunda babari dipadaya
Dasar Sunda ngeunah dipudji
Nja araratoh saban saban disina paseya
Neunggeulan deungeun ngagelutan batur
Aratohna ?
Sabab disaban kalang
Sunda deui anu unggul
Sunda deui anu meunang
Sunda deui djadi djawara
Bari Sunda bae nu djaradi wadal
Tapi anu ruhur bae pangkat
Beuki gede bae dina kawasa
Lain Sunda anu djawara
Lain Sunda anu bebela
Engke dina usum rame papanggungan
DJeung anu mamaranggung kamalinaan
Liwat budak angong djeung budak anu djanggotan
Ngelingan ka urang Sunda
Bangsa Sunda the lain Badega
Tapi dasar Sunda loba teuing nu barodo
Nja hanteu ngawaaaaaaro !
Ti dinja hanteu kedik anu pabisa bisa
Sewing sewing njieun harti tina Sunda
Tapi harti anu saestu
Teu kaharti ku para adji
Teu katorah ku para pudjangga
Sabab nadjan oge pararinter
Arinjana hanteu njaho njaho atjan
Nu kumaha rupa handeuleum
DJeung kun aha handjuang siang
Da njarutjruk the
Pada kalangsu
Tapi njarariyar the
Aranggang keneh
Nu areling barisa ngarti
Ngan barudak Sunda nu keur baringung
Nareyangan indung anu ditundung
Marapag bapa pasingsal djalan
Saha nu djadi indung ?
Nja aweuhan tina ngaran
Ngaran Padjadjaran samar !
Mantakna ditundung ?
Sabab teu bae ngarti
Ku naha Sunda didjieun tere ?
Saha anu nundung ?
Radja buta ponggawa buta
Eudjeung Sunda pada baruta !
Saha nu djadi bapa ?
Nja djaman nu baris dating
Ngahudangkeun sukma Sunda
Ku naha pasingsal djalan ?
Sabab arinjana hanteu njaraho
Budak angon keur ngalalakon
Dimana ?
Di kalereun lawang gintung
Sa kalereun lawang saketeng
Naeun sabab hanteu njaraho ?
Lantaran harudang samemeh wayah
Di garieungkeun kuya bodas
Dipadaya ku kuya bodas
Balukarna ?
Kanjeuri nu tambah njeuri
Kanineung nu beuki teleb
Nja karuhaaaan
Bangsa Sunda eudeuk ngamuk !
Tah eta sabab sabab urang mudu mandjangkeun lalakon
Amun Sunda ngamuk ulah motah di salah wayah!
Sabab amun Sunda ngamuk sabari motah
Duwa raksasa djaradi bobotoh
Balukarna ?
Rusuh gede saamparan djagat !
Eta rusuh gede
Memang baris mudu kadjadian
Tapi hanteu digara garakeun ku urang sunda !
Tapi di gara garakeun
Monjet beureum djeung monjet hideung
Anu djaradi gara gara gerna perang sanekala !
Keun bae eta mah lain urusan urang
Engke oge ari geus rakatjak mah
Monjet monjet hideung teh baris njaraho
Arinjana the tinggaleun djaman !
DJeung sakabeh Sunda pahilih hilih
Ladju arareungeuh
Diparakeyan kedok teu neule djeblog
Da kedok na
Didjieunan monjet anu harideung
Hideung hate hideung piker
Dtang ka djaman nu geus bodas oge
Dimudukeun hideung bae hideung terus !

Darengekeun !
Mimiti ti powe ieu
Urang kabehan parindah alam
Tapi aya bae
Di djagat ieu keneh ieu keneh !
Urang ngahiyang
Teu kadeuleu ku mata djelema
Pieun engke
Di wayah di tatar kaler
DJagat gendjlong ku garuda megarkeun endog
Marulang deui ka alam tjara baheula … !
Urang daratang deui bari kadeuleu
Tapi ngan kadareuleu ku anu areungeuh !
Sabab dating urang ngawaruga
Dina bangsa nu lain selam !
Urang galling gisik djeung sakabeh djelema
Tapi ngan anu kawaris nu engke baris areungeuh !
Salila urang ngahiyang
Dia kabehan meunang
Nembongan
Dia kabehan meunang
Njawara
Tapi aya paryaduan
Hanteu meunang katrembong ku sambarang djelema
Hanteu meunang nembongan ka sambarang djelema
Hanteu meunang njawara ka sambarang djelema
TJindeukna hanteu meunang ka sambarang djelema
Hanteu meunang di sambarang wayah
Kawidi nembongan kawidi njawara
Ngan di wayah mun kapaksa
Dina waktu anu kadjurung ku parelu
Bari hade nu mudu djadi balukar
Ka nu nembongan djeung ka anu ditembongan
Ka nu njawara ka anu dibawa njarita
Anu ngarampag
Tangtu bakal kabendon
Lain ku kaula !!!!
Tapi
Ku palolah arinjana !
Denge !
Nu katembong teu ngahadja
Bakal apes salila
Ti powek ka powek deui atawa
Ti tjaang ka wayah deui tjaang
Aya pamunahna
Geuwat dia ngarupakeun maung
Nu leumpangna
Ngelesed sabari tungkul
Anu nembongan ngahadja tembong
Teu kawidian hanteu parelu
Bakal apes salila
Opat puluh kali waktu nu tadi
Euweuh pamunahna … !
Nu mantuwan djelema djahat
Nu mantuwan djelema djail
Tangtu baris keuna bebendon
Sabab Padjadjaran mah
Hanteu ngadjar mudu djahat
Hanteu widi keuna djail !
Sabendon anu karitu
Leungiteun djalan di waktu mulang !
Ladju djaradi meyong
Nu baris marodar ku pakarang
Euweuh pamunah na
Nu tutulung di hade gawe
Mantuwan lain liliyuran
Diwidi laluwasa galling gisik di duwa alam
Alam djelema biasa djeung alam Padjadjaran !
DJelema ti ruar kalangan urang
Mun njieun salah ka urang kabina bina
Mun hiri dengki ka urang
Atawa nganjieun ngahihina Padjadjaran
Tewak ku dia
Ladju puwat keuna kareta Padjadjaran
Nu meneran euduek ngaliwat … !
Mun kareta na ditarik kuda opat harideung
Eta pitandaeun
Nu salah the
Mudu dihukum !
Mun nu narikna
Kuda opat barodas
Eta pitandaeun
Nu salah teu bias dihampura
Mun geus injana tobat
DJangdji mowal deui deui
Ka urang njieun kateungeunaheun
Pulangkeun injana ka alam injaman deui
Tapi sina neuleu heula pieun bukti
Nagara Padjadjaran di sedjen alam
Alam Padjadjaran anu ngahiyang !
Lilana urang ngahiyang
Opat djaman kalmia dating
Nu kebelna
DJangkep opat kali 100 taun !
Piliganti saban djaman
T urang mudu aya anu njilok
Hirup babarengan djeung djelema
Mawa rupa, rupa djelema
Tapi anu mahiwal tin u biasa
Gawe injana
Nengetkeun nu ti musuh
DJadi deui djelema
Dina sedja
Ngahaharuwan Padjadjaran
Njaritakeun uga beunang arinjana njieun sorangan
Ulah dipodaran !
Keun sina karodjor kasiku ku eta uga
Ayeuna dia kabehan
Tuturkeun kaula
Kumaha kula beeeeee !
Urang papag djaman nu bakal dating
DJaman ngadeug deui Padjadjaran
Anu djembat hampirana
Anu subur tatanenna
Anu bera dagangeunana
Anu ragem djeung papada nu hade hate
Urang nindak ….
Pareum ….. !
Ladju Radja ngudarkeun beubeur
Beubeur tjinde, tjinde wulung …..
Dikebutkeun !
Leus ! ngileus …………

Ngahiyang

Sakabeh nu satiya ka Radja
Teu katembong ku panendjo
Pada leungit tina pandeuleu
Ngan Si Lengser hanteu ngaleungit
Hanteu leungit hanteu euweuh
Ngadjentul keur nangkeup tuur
DJiga tunggul sempur eukeur ngabatu
TJeuk sora Radja nu kadeuleu ngan ku Si Lengser
Lengser 1 … kumaha dia ?
TJeuk Si Lengser nu kadeuleu ku sakabeh nu nareuleu
Hanteu kumaaaaha !
Kaula mah
Masih pandjang kenenh lalakoneun
Sabab melang ka nu marulang
Nu ka kaler nu ka kulon
Sabab engke
Sunda wetan teu ngeunah angeun
Amun sunda urang di urut dayeuh
Engke unggul di pangaweruh
Eudjeung leuwih di pangarti
Bari djembar dipangabisa
Nadjan dina hirup
Sagala serba dangdarat
Ku sunda wetan
Arinjana baris tampiyan digiringan
Dikuruhan dipendet sunggapan !
Kaula the hirup geus kebel djasa
Entjan njorang ngarasanan ngeunah seuri
Tapi salawasna
Ku deungeun deungeun
Ngarareunah bae disengseurikeun
Tapi engke haying kaula nu ngeunah seuri
Haying resep heuleu ngeunah seuri
Amun engke djaga
Sunda wetan ngarerel letah
Ditjekekan Padjadjaran mupulan wadal
Da bongan sunda wetan
DJeung papada sunda pagirang girang tampiyan
Tapi
Ngarah kapake didjidjieun kokolot
Ngaletakan ngisangan deungeun
Ngadjak Padjadjaran urang ngagelutan musuh
Tapi bari sina Padjadjaran urang nu katempuhan
Ditudjuh ku Sunda wetan
Kaula melang ka Padjadjaran urang
Nu kiwari mulang ka kaler
Nu engke djaga terus di kaler
Dirawaykeun ku seler seler !
Kaula melang ka arinjana
Eudeuk ngalanglangan arinjana
Eudeuk ngadjang ka budak angon
Bari njiolok tukang mantun
Bari sugan sugan bae kasampak
DJelema surti nu lantip piker
DJeung hade di hateu hade di lampah
DJeung rantjage ngarti paeh !
TJeuk sora Radja nu teu kadeuleu
Hade ari kitu mah
Tapi kaula
Ulah ku dia deuk didjauhkeun !
TJeuk Si Lengser
Heu .. euh deuh !
Si Lengser ladju nindak mimiti ka kulon heula
Ti kulon ladju ka kaler
Ladju n amah ladju teuing ka manaaa
Tapi nadjan euweuh nu areungeuh
Si Lengser tetep aya
Ngalanglangan ngalanglangan ….
Ngalanglangan bari ngandjang
Bari njilok njilok tukang mantun
Injana mantun
Ngalalakonkeun nu geus kalakon
Njaritakeun nu baris dating
Eudjeung engke tantu kasorang
Ku saha ?
Ku sakabeh bangsa urang
Anu kadjongdjonan djadi badega
Tapi pantun Si Lengser
Lengser Pantun Bogor Pakulonan
Baris dihaharuwan
Ku sunda teu ngeunah angeun
Lantaran
TJatur Si Lengser
Puguh kitu baheula na
Bedja Si Lengser
Memang enja di engkena
Kabeh bukti djadi saksi
Begu galuh mumungkus hulu
Kuya bodas unggah darmaga
Kulit munding … djamang laken !
Si Lengser ngalalana
Make tanda ti babaheulna
Eudjeung tjirri nu tara ganti
Si Lengser sasamping beureum
Samping beureum semu paul
Tapi paul belel djasa
DJamang Si Lengser ?
DJamang njangsang dina taktak anu kentja
Sebut bodas ka ku letjek
Sebut hideung da boleas !
Gigig injana ?
Leumpang noyod rada bongkok !
Tara tinggal ti kaneron
Disalendang dikatukangkeun !
Sakapeung osok saiket
Sakapeung satiung iket
Anu semu djeung batik na
Tara bisa disebut tangtu
Tapi aya tjirri nu moal pahili
Si Lengser saiket rawing
Si Lengser sabadju rambeng … !
Rupa injana ?
Bisa ngora tapi djore
Bisa kolot tapi kasep
Bisa kapeung kapeung kadeuleuna
DJaga artja atah tatah
DJaga kohkol entjan anggeus
DJag tunda !
Urang tunda di handjuawang siyang
Urang teundeun di haneuleum siyeum
Ampiheun … padjueun ka hareup
Sampeureun anak intju
Teangeun engke djaga
Tanjaeun nu teu njaraho ……. !
__________________________________

Di palebahan urut ngumpul djeung misahna urang Padjadjaran, engke djaga ngadeg lembur mawa ngaran Tegal Buleud !
Di djaman nu baris dating didinja baris ngadeg Panggodongan
Nu hauna sadjangkung kuwung kuwung
DJeung seuneuna
Ngagedang gedang beurang djeung peuting
Keun sina ngagedag gedag !
Pieun di beurang ngahandjuwan garapan
Pieun di peuting djadi tetenger
Ka sakur nu keur marapag
Wayah Padjadjaran ngadeg deui …. !
Lain Padjadjaran nu baheula lain Padjadjaran nu kiwari anggeus leungit, lain Padjadjaran nu diarep arep ku kahayang …. !
Tapi Padjadjaran anu anjar !
Anu napak dina uga
Dina djadjaran anu satahap …..
Sadjadjar djeung anu satampiyan dina saleuwi
Nja eta
Padjadjaran nu salin ngaran
Ngadjadjar mandjang ka wetan
Ngalondjor djolok ka kulon
Diradjaan ku nu sabar
Diratuwan ku nu adil …. !
Saha nu baris ngaradjaan ?
Sana anu baris adil djadi ratu ?
Engke oge dia njaraho ….. !
Ti mana datangna engke arinjana ?
Ti sabrang lautan
Dina mulang
Anggeus ditudung ….. !

TJag.

Rahayu _/\_

Published in: on 14 Juni 2009 at 4:27 am  Comments (8)  

Ngahyangna Pajajaran

Pantun Bogor
Ngahiyangna Padjadjaran

 

 

Pun ! Sapun !
Ka Pupuntjlak Agung Pamundjung
Anu Agung Sang Rumuhun
Hiyang Guru Agung Pangruhum
Anu Nunggal di Kalanggengan
Anu Langgeung dina Nunggalna
Anu Ngabogaan Sakabeh Alam
Anu Ngabogaan Sakabeh DJagat

Paralun ! Sapun !
Ka sakur anu diluhur
Ka Guru Hiyang Nunggal
Ka Dewa njangking Kawening
Ka Dewa ngagem Wewenang
Ka Dewa nunggal Kawasa

Ka sakabeh
Nu kumelip, nu arusik, nu ngawararuga
Dina wudjud sewing-sewangan
Nu ngagelar, nu ngarumpay
Nu narangtung, nu ngagantung
Nu ngagulung, nu narangkub
Nu nangkarak, ku ngarambat
Ka sakabeh
Nu kadeuleu teu karasa
Nu kaambeu teu kadeuleu
Teu kadeuleu tapi aya ….
Ka sakabeh
Nu ngaredag, nu lumampah
Harirup djadi pangeusi
Njaritjingna djagat ieu, alam ieu

Paralun
Sabab kaula eundeuk njatur
Njatur pantun nu buhun
Haneuleum tunda karuhun
Handjuaneun anu marapay …. !

Paralun
Matak kaula
Ku sabab
Padjadjaran didjieun tjarita
Tapi disilok
Ku anu sarieun
Dipadjarkeun mumudja Dewa
DJeung direka dirarobah
Didjaridjieun-djieun
Ka nu gariruk …. !
DJeung ku sabab
Kaula njaho
Engke djaga
Baris datang deui djelema
Loba menak loba pangkat
Harayang diaraku deui
Rawayan ti Padjadjaran

Paralun ….
Paralun !
DJin
Iblis
Setan markayangan
Ipri
Onom
Dedemit
DJeung djurig njiliwuri !
Rampes nun !
Lalinggih !
Ulah arobah tina sila
Ulah arusik tina tjalik !
Bandungan dina djadjaran
DJadjaran darekan karuhun
Sebab kaula
Eundeuk djadjararkeun tjarita
TJarita
Ti baheula Padjadjaran
Ngadjadjarkeun djeudjeur sadjati
Nu asalna
Lain beunang ngareka-reka
Tapi
Di geularkeun ku karuhun
Kana hate nu rantjage
Hate saha ?
Hate Sunda
Nu sundana dina dani
Nu danina dina hirup
Nu hirupna sagala samar
Nu samarna ngalaman deui
Ngalaman djaman tjara baheula
Boga Radja heunteu sulaya

Paralun !
Bandungan !
Urang kotjapkeun !
Kotjapkeun !
Di nagara Padjadjaran
Lain Padjadjaran nu kiwari !
Padjadjaran geh anu baheula !
Nu djadi Radja ?
Gagah sakti kaliwat saking
Nja Dia
Anu ngarana
Prabu Siliwangi
Ari anakna ?
Lobana tili kali salawe
Da boangan
Biangna geh
Saratus pundjul satengah !
Tunda !
Urang njaritakeun hidji anak injana
Nu sakti ngala ka aki
Nu gagah ngala ka bapa
Ari ngarana ?
Ki Hiyang Santang Aria TJakrabuana !
Euweuh pantar
Euweuh tanding !
Njarita injana ka si Lengser
Uwa uwa !
Ngaing the ayeuna mah
TJukup elmu djeung pangweruh !
Tapi hate ngaing heunteu betah djasa !
Sabab
Geus lila euweuh teunggeulaneun
Geus lila euweuh sepakeun
Euweuh sanagara
Euweuh musuh ngadjak rusuh !
Kumaha lawan the
Ngan tinggal sia bae uwa ?
Kuamaha amin ngaing njaba djauh
Njiar lawan di nagara deungeun ?

TJeuk si Lengser
Ulah aden ulah !
TJeuk ki Santang
Ku nahaeun diulah-ulah ?
TJeuk si Lengeser
Sabab amun aden miang ka buana luar
Ka nagara njabrang lautan
Engke dimana aden mulang
Padjadjaran the ngan kari ngaran !
Tapi dasar peuteukeuh
Teu beunang diulah – ulah
Nja miang injana ka nagara sabrang lautan !

Paralun

Keun Ki Santang sina njabrang !
Kotjapkeun ayeuna di karaton !
Karaton mana ?
Karaton Padjadjaran
Karaton Padjadjaran geh nu baheula !
Nu kiwari geus euweuh urut-urutna atjan !
Datang tjenah hidji utusan
Mawa surat tilu gembolan !
TJeuk Radja
Lengser !
TJeuk si Lengser
Ke heula !
TJeuk Radja
Kunahaeun make keheula ?
TJeuk si Lengser
Bisi tutung !
Pais bakatul
Deuk njuguhan semah !
TJeuk Radja
Heu’euh
Beusi tutung !
Balikuen
Ladju dia ka dieu
Pariksa ku dia eta utusan !
TJeuk si Lengser
Wah !
Teu mudu dipariksa deui
Kula mah nendjo djelema
Sarua djeunh neuleu manggis !
Njaho ti tjupat
Njaho di eusi
Irung kitu mah
Geus tangtu moal njalahan deui
Ditjitjingna sagede leledjing
Dimotahna bisa sagede hondje
Pandjangna bisa sa asta leuwih !
TJeuk Radja
Lain djelema !
Suratna ku dia pariksa

Ladju si Lengser mariksa surat
Lobana tilu gembolan !
Mariksa …
Mariksa …
Lilana
Tilo poe tilu peuting !
Awahing ku tunduh
DJeung loba teuing surat nu di pariksa
Si Lengser djadi nundutan
Nundutan bari ngelay !
Lay lay
Laaaaaaaaay !
Lay keuna surat
Lay keuna badju
Lay keuna mata utjing
Nu ngaringkuk dina tumpukan surat !
Laaaay…lay…lay…laaaaaaaaay !

TJeuk Radja
Teuin !
Da kula mah
Apan teu bisa matja !
TJeuk si Lengser
Kadieukeun !
Tah eta,
Nu aya gambarab bentang eudjeung bulan !
Dorolong Radja matja surat
Matja barian edeg
Da ngarana geh Radja !
Buntjlik !
Molotot ……
Mani sagede – gede kenong
Da ngarana geh mata Radja !

TJeuk Radja
E eh, e eh !
Ngomongna bari tetendjrag
Tetendjrag datang ka eundeur
Brong breng brang
Sora ti dapur
Tetenong ragag ti pago
Da ngarana ge tetendjrag Radja !

TJeuk Radja
Lengser !
TJeuk si Lengser
Sumuhun dawuh !
Ngomongna barian njembah
Ngan njembahna bari peureum !
Awahing ku tunduh !
TJeuk radja bari tetendjrag
Brong bring brang
Sora ti dapur
Bareok pago
Rungkad hau….
Da ngarana geh tetendjrag Radja !
TJeuk Radja
Lengser !
Ieu surat didjempolan
Ku Radja sebrang kulon !
Geuning
Bet ngadjak rusuh !
TJeuk si Lengser
Bebetkeun baeee !
Maenja Radja eleh ku surat !
Si Lengser ngomong bari njembah
Njembah barian tukusruk
Awahing ku tunduh
Deuleu !
TJeuk Radja bari tetendjrag
Borobot dapurna runtuh !
Da ngarana geh tetendjrag Radja !
Deuleu !
TJeuk dina surat
Ngaing kudu di sundatan !
Mun teu nurut
Padjadjaran baris dipagang
TJeuk si Lengser
Ulah Gusti !
Ulah daek disundatan !
Beusi disapatkeun !
Kara ngadjak perang mah
Lawan baeeeeeee…..!
Si Lengser ngomongna bari njembah
Njembah na bari ngaringkuk
Awahing ku tunduh
Ambek Radja kabina-bina
Matana mani molotot
Molotot bubutjelikan
TJara keuyeup ngadeuleu keukeuk !
Radja tetendjrag deui
Nendjrag deui, nendjrag deui !
Mani eundeur sanagara
Da ngarana geh tetendjrag Radja ieuh !
Pating dorokdok balandongan
Pating bareok lawang saketeng !
Awahing ku tunduh !
Lengser !
TJeuk Radja bari tetendjreg deui
Borobot
Bareok
Dorokdok
Hag siah,…….
Beak tah ayeuna mah ka imah mitoha-mitohana !
Nja eundeuk dikumahakeun ?
Da ngarana geh tetendjreg Radja !

Ladjeung
TJeuk Radja
Lengser !
Ngaing teu mudu nurut !
Hayuh
Takol bende !
Kumpulkeun sakabeh balad
Urang layanan anu nantang !
Koredjat
Si Lengser ngoredjat barian heuay
Heuayna bari kuliat
Kuliatna sabari peureum
Awahing ku tunduh
Koredjat
Torolong……..
Si Lengser ngadjol ti kolong bale
Karep injana deuk nabeyh bende,
Lumpatna sabari peureum……
Awahing ku tunduh !
Dar der dor tarang tidagor
Barendjol sagede djengkol
Baruk pager diteumbrag
Berewk djamangna soek !
Tapi si Lengser lumpat terus
Bongan parenta Radja
Dimudukeun nabeuh bende
Nja lumpat
Lumpat ka saung bende
Ngan lumpatna sabari peureum
Awahing ku tunduh !
Nja karuhan
Mimiti anu kadupak
Nini-nini deuk ngisikan
Ladju
Aki-aki deuk ka tjai
Mani kababayan !
Ladju ngadupak deui
Saung lisung pipir imah
Bareok borobot gubrag !
Rubuh saung lisungna !
Heu !
Gubrag !
Si Lengser kaurugan saung !
Koredjat !
Torolong
Si Lengser lumpat deui
Lumpatna njunjuhun hateup
Lain hidji hateup, dua hateup
Tapi hateup sasaungeun !
Si Lengser lumpat
Lumpat lumpat !
Lumpatna sabari peureum
Nja karuhan ngadupak deui !
Mimiti tukang ngurut
Balik ngurut nu kalingsir
Ladju tukang endul
Njuhun tutut deuk ka pasar
Ladju tukang ttampayan
Datang
Ngan kari hidji anu weuteuh buleudna !
Njaeta
Beuteung tukang tampayan !
Ngan dosol……..!
Si Lengser lumpat terus
Lumpatna lumpat dines
Nu ngadjagang
Ditaradjang
Nu ngadjentul
Disurudug
Anu malang
Tangtu di teunggar !
Da keur lumpat dines !
Limpat dines mah sedjen deui
Heunteu tjara lumpat biasa lumpatna oge mudu sabari
Tanggah da ngarana ge lumpat dines
Ari sabari peureum geh, teu matak nahaeun
Sabari peureum geh meunang
Asal gagah bari tanggah beee !
DJeung teu meunang luak-lieuk komo sumpang-simpang mah !
Mun aya nu ngahalangan ?
Mun aya nu ngagolan ?

Amun munding ?
Antjur di tampiling
Amun badak ?
Bakal utjutan kabeh tulang-tulangna
Amun djelema ?
Tanggung ngan kari ngaran !
Kumaha amun imah ?
Nja njooooooompor ka kolongna ……!
Tapi
Sanadjan lumpat na lumpat dines oge
Ari sabari peuereum mah
Nja heunteu ka deuleu ku si Lengser
Aya regag ngadjagang tengah djalan
Ladju ngait keuna samping si Lengser !
Reg !
Rendeg !
Samping si Lengser ngait keuna regang !
Tapi lantaran keur lumpat dines
Injana heunteu meunang eureun
Si Lengser lumpat dines
Lumpat bari ngabedol samping
Tapi samping
Ngait pageuh kana regang
Ari regang ?
Ngait deui keuna rudjuk !
Nja atuh kadjadianana
Bolondjon beee si Lengser lesot tina samping
TJara kumang tinggaleun imah !
Injana lumpat terus
Lumpatna bobongkokan !
Sabana ?
Kadjeun teuing ti tukang mah,
Asal ulah tembong nu ti hareup beee…….!
Nja karuha !
Ting tjeukeukeuk nu nareuleu
Ear budak ararempak
Ting tjikikik nini-nini
Rame budak pada surak
Nareuleu burut si Lengser
Mani heran tjara berenuk !
Si Lengser lumpat terus ….
Eureun-eureun soteh
Injana naradjang tangkal djambe
Mani nileup !
Lain tangkal djambe nu nileup
Tapi si Lengser !
Nileupna tilu tileupan !
Tapi heran bolor injana mah peureum terus !
Nja atuh deuk dikumahakeun ari tunduh kenah mah !
Ladju injana rumpu-rumpa
Nja aya anu karampa ….
Karampa gugulantungan
Piker si Lengser
Bende leutik !
Kadjeun leutik geh
Asal bende ….. !
Ladju ditakol !
Aeh aeh tjeuk injana
Bet bende ngaberele ?
Ari bray the mata injana dibeuntakeun
Mani ngabuntjelik
TJeuk si Lengser bari gigisik
Singaing singaing !
Lain bende
Geuning kandjut badot ki lebe !
Bende mah euweuh
Mending geh ku lisung !
Ladju nitah ngumpulkeun lisung
Saban lembur tudjuh lisung
Ladju si Lengser nihtir
Nihtir !
Nihtir !
Nihtir teu eureun-eureun
Dua poe djeung sapeuting !
Eureun-eureun soteh
Geus euweuhan tabeuheun
Antjur lisung djadi suluh
Ledis ka gaganden-gagandenna !
Ladju injana tjulak-tjileuk
Sugan mitoha injana aya deukeut….
Teunggeuleum………..!

Tidinja
Si Lengser ngadeuheus ka Radja
Leumpang na bari njegegeng
Budjurna songgeng ka kentja
TJangkengna bengkok ka kentja
Taktakna dengdek ka kentja
Leungeuna kengkong ka kentja
DJeung mata teleng ka kentja
Urut nihtir beurang peuting

TJeuk Radja
Kumaha Lengser ?
Beres ?
TJeuk si Lengser
Beres !
Kitulah
Lilana satengah bulan mah
Di salikur lembur bakal mahal beas !
TJeuk Radja
Baruk mahal beas ?
TJeuk si Lengser
Sabab euweuh nu narutu
Lisungna ledis kabeh dipake nihtir !
TJeuk Radja
Ngaing teu nguruskeun beas
Nanja ogeh urusan perang !
TJeuk si Lengser
Komo eta mah !
Leuwih ti beres !
Samemeh nihtir ogeh
Balad geus taratondjolan
Hayang paheula-heula perang !
TJeuk Radja
Hade ari kitu mah !
Urang papag nu deuk ngarugrug !
Tapi
Teu hade
Mun perang di djero dayeuh !
Sabab
Montong teuin elehna
Nadjan di unggulna ge
Loba banda kari urutna !
Nja eta
Kaluluh ti waktu tarung
Hade urang njabrang
Perang di tegalan anu lega !

bari nanggoan pindah alam !
kotjapkeun balad Banten
nu ngarugrugna
bari naggoan balad ti wetan !
balad Banten ting araleut
ngaleutna barian surak !
dipapag ku Si Lengser !
dipapag ku balad Si Lengser !
burubul musuh ti kaler
dipapag ku balad Si Lengser !
burubul musuh ti kudul
eudeuk njabrang ti pinanggading
eta mah dipapag na
ku Ki Raden Bagus Setra
nu di bantu
ku Rakean intju Si Lengser
der perang
perang, batur, perang deui !
perang na rosa djasa !
kadeuleu ku Si Lengser aya nu ngaringkang
djangkung kuru, kulit hideung
kawahuan ku Si Lengser
tina tapak luah dina djubah injana !
tjeu piker Si Lengser :
tuh injana si Langkawarah !
nu ti heula ngabedol kandjut !
ti heula sia make sorban
ayeuna sia make kopeah beureum
djiga petasan kari njeuneut
tapi ngaing moal pangling !
der perang !
Si Lengser djeung nu djangkung kuru
Perangna rosa djasa
Saling tjabok, saling takol
Saling sered, saling gegel
Saling kadek, saling njekek
Sa;ing rawel nu dibunian !
Perang, perang !
Perang sakuriling bungking !
Ngan Radja urang masih keneh keur ngawurkeun !
Perang, batur, perang !
Si Lengser perang na rosa !
Dating ka wayah serangenge njorot mantjeran !
TJeuk nu djangkung hideung :
Ke, eureun heula !
TJeuk Si Lengser :
Kunaha eureun heula ?
TJeuk nu djangkung hideung :
Ayeuna wayah lohor !
Ngaing mudu salat heula !
TJeuk Si Lengser :
DJor !
Ladju nu djangkung hideung the salat lohor
Ari Si Lengser ?
Injana mah mumuluk heula
Mani beak tilu boboko !
Anggeus salat, anggeus mumuluk
Der perang deui !
TJeuk nu djangkung hideung :
Wani ?
TJeuk Si Lengser :
Wani !
Der gulungan deui
DJiga munding digulung lutung !
Perang rada lilaan
Dating ka wayah sarangenge dengkek ka kulon
TJeuk nu djangkung hideung :
Ke, eureun heula !
TJeuk Si Lengser :
Ku naha eureun heula ?
TJeuk nu djangkung hideung :
Ayeuna wayah asar !
Ngaing mudu salat heula !
TJeuk Si Lengser :
DJor !
Nu djangkung hideung ladju salat asar
Ari Si Lengser ?
Injana mah ngagidig ka sisi susukan
Ngawelu, mani tudjuh tumpukan !
Anggeus nu salat, anggeus nu ngawelu
Ladju pahareup – hareup
Pahogor hogor tjara kunjuk !
TJeuk nu djangkung hideung :
Wani ?
TJeuk Si Lengser :
Puguuuuuh !
Nja der perang deui !
Perang na leuwih rosa !
Saling banting, saling tampiling !
Saling gorogod punduk ku haneu !
Dating ka wayah sarengenge eundeuy surup !
TJeuk nu djangkung hideung :
Ke, eureun heula !
TJeuk Si Lengser :
Eureun deui ?
TJeuk nu djangkung hideung :
Heu’euh !
Ayeuna geus wayah magrib
Ngaing seuk salat heula !
TJeuk Si Lengser :
Los !
Ongkoh meudjeuhna sanekala
Beusi katondjok djurig !
Nu djangkung hideung ladju salat
Si Lengser ladju sila tutug
Sila tutug mentjetan bitis !
Ari silana ?
Gigireun anu keur salat !
Saha nu njaho perang didjaman baheula ?
Perang djaman baheula mah teu tjara perang djaman kiwari !
TJeuk nu djangkung hideung :
Wani ?
TJeuk Si Lengser :
Keneh !
Nja der perang deui !
Ngan perangna heunteu lila
Sabab matapoe anggeus surup
Geus teu puguh deudeuleuan !
TJeuk nu djangkung hideung :
Ke eureun heula !
TJeuk Si Lengser :
Teu deuk !
Ma enja aya perang eureun-eureunan ?
Pamali njong
Mantak pandjang teuin lalakon !
TJeuk nu djangkung hideung bari tulak tjangkeng :
Nadjan perang ogeh
Ari aturan agama mah
Ayeuna geus wayah isa
Ngaing mudu salat !
TJeuk Si Lengser bari tulak tjangkeng :
Sia, perang teh pieun Agama ?
Dewek ogeh perang teu pieun Agama !
TJeuk nu djangkung hideung :
Mantakna geh !
TJeuk Si Lengser bari mandelik :
Salat mah urusan Agama,
Perang mah urusan Nagara
Perang sia ngan urusan Agama
Tapi perang dewek
Pieun Agama djeung Nagara !
TJeuk nu djangkung hideung :
Hade ngaing teu meunang salat !
Tapi perangna mudu eureun heula
Urang tuluykeun isukan bae !
TJeuk Si Lengser bari tutundjuk :
Ku naha mudu isukan bae ?
TJeuk nu djangkung hideung :
Geus powek djasa !
Geus teu kadeuleu !
TJeuk Si Lengser :
Damaran !
Ladju njieun obor !
Ari Si Lengser mah
Oborna the diselapan tjabe rawit
Lobana setengah kaneron !
Atuh barang geus disundut the
Nu dieungkung hideung
Bolor injana mani peuriheun
DJeung ladju kabesekan terus !
Der perang deui
Perangna mawa obor
Saling sundut saling puput
Saling sundut keuna kandjut !
Ladjuna mah
Nu hideung the kawalahan
Lain kawalahan perang na
Tapi kawalahan ku gigisik
Kabesekan djeung ngolol leho
DJeung teu eureun eureun sisiduen !
Barang keur kabesekan deui
Ladju injana ditubruk ku Si Lengser
Ladju di tileupkeun
Digulung ku djubah na injana keneh
Digubeud didjieun buntelan
Dipangkekna nja ku tasbe !
TJeuk Si Lengser bari njerengeh :
Hag, siah !
Montong teuin salat subuh, salat isa geh
Moal sia bias di Padjadjaran !
Ladju buntelan dibalangkeun !
Tapi lantaran Si Lengser
Geus meh beak tanaga
Nja buntelan the
Murag na heunteu sabaraha djauh !
Muragna digunung sinalang kiwari !
Ngagulutuk njangsang di lebak !
Nja djadi sasakala engkena
Di suku eta gunung
Loba tjawene
Nu ku bapa arinjana
Dilakiankeun ka semah marake djubah !
Si Lengser ladju ngingking
Ngagidig ka sisi Sipatahunan !
Ngagidik sabari keupat
Keupatna keupat nu gagah
Iket tjampay dina taktak
TJara djawara meunang perkara !
TJeuk Si Lengser :
Mantah geh
Ari urusan Agama
Didjieun lulugu
Pieun ngurus nagara the
Tah
Sok kitu djadina
TJara si hideung tadi !
Agama mantak tjambal
Engkena djadi kawalat !
Nagara teu matak beres
Engkena djadi padjeudjeut !
Urusan Agama djeung urusan Nagara
Teu meunang di tjampur aduk
Hadean mah direndengkeun
Tapi
Ulah patumpang – tumpang
Mun Nagara geus padjeudjeut
Ulah Agama didjieun gagaman
Pieun ngabereskeun nu pabeulit
Tapi
Mun nu pabeulit haying leungit
Nu padjeudjeut haying udar
Nu di djieun gagaman teh ulah Agama
Tapi
Gagaman anu gede
Takolkeun ka anu arumangkeuh
Ari kuring bias ngaheunteuk Nagara !
Si Lengser ngagidig terus
Ngagidig na gantjang teuin !
Ladju we injana tikudewat keuna areuy ………
Gabut !
Gorolong bae injana ka landeuhkeu,
Ka lebahan Radja anu keur ngawur !

Urang kotjapkeun sisi leuwi Sipatahunan
Radja urang keur ngawurkeun
Awurkeunana saeutik deui
Barang deuk ngawurkeun deui
Kadeuleu ku injana
Sisi leuwi sabrang wetan
Dina ruhur tangkal djati
Aya nu keur ngintip ….
TJeuk Radja :
E eh aya manusa !
Gorobas
Gubrag !
Gorolong djiga kadu murag asak
Reg,
Eureun hareupeun Radja
Rorowesan djiga peusing !
TJeuk nu djiga peusing :
Lain Gusti !
Ieu mah Si Lengser, nun !
Mantas mitjeun buntelan !
TJeuk Radja :
Ngaing geus njaho dia lain manusa !
Dia the Si Lengser
Tapi itu tuh !
Di sabrang wetan aya nu ngintip
Urang djieun lutung bae kituh ?
TJeuk Si Lengser :
Ulah Gusti ulah !
Sabab lutung mah aya kokodna !
Injana tangtu geus neuleu
Engke dimana urg geus euweuh
Tangtu injana udjap-adjap
Ngemukan di ieu leuwi
Keun kumaha kula bae
Gusti mah geura ka tonggoh
Tuh, musuh geus nanjakeun Gusti !
Ladju Si Lengser njokot popongkol howe
Gedena sagede tjangkeng banteng !
Ladju dipalengpengkeun !
Keuna ka nu keur ngintip
Palebah beungeut injana pisan !
Beletak !
Gadjabag !
Nu dipelengpeng salin rupa
Injana djadi kalong !
Tah eta sabab-sababna
Matak neupi kiwari
Kalong teh
DJeding bungusna !
TJeuk Si Lengser :
Bongan sorangan
Neuleukeun lain deuleun sia !
Tapi nadjan geus kadeuleu
Sungut sia moal bisa njarita
Kokod sia moal bisa njokot !
Ayeuna sia djadi kalong
Tetep enggon sia dina tangkal !
Engeke
Di mangsa nu bakal kasorang
Sia bisa djadi djelema deui
Tapi engke !
Amun ieu Nagara djadi sampalan
Sisi leuwi ngadeg lembur
Wetaneun kandang kebo bule
Tah di eta lembur
Sia bakal ngarundjakeun deui turunan
Tapi tingkah laku injana
Heunteu beda tina kalong !
Malah engke deui
Bakal aya turunan sia !
Nu ngarana oge
Si kalong !
Laku lampah injana
Heunte beda tina kalong !
Ah eta sabab sababna nepi ka kiwari di kebon gede hutan samida loba bae kalong !
Urang tunda deui !
Urang kotjapkeun Radja urang !
Injana unggah ka tonggoh
Ladju njabrang
Der perang !
Rosa djasa
Leuwih rosa ti nu ti heula !
Radja urang perang ngaganda !
Injana dihurup ku :
Kai TJakra
Kai DJaya
Kai Asep
Kai Tubagus
DJeung dua bengkong
Uwah mahmud
Uwah bakar !
Tapi Radja Sunda heunteu keder
Beuki loba nu ngahurup
Meni rosa perangna Radja urang !
Datang ka eta genep djawara kulon djeung wetan
Perangna mani enggeh-enggehan !
Ting gulilap kolepat pedang
Ting djeleger sora tampiling
Ting djalegur sora paneunggelan !
Matak torek
Ngadenge sora nu ngareuhak !
Tunda heula !
Keun sina perang bari ngareuhak !
Ayeuna urang kotjapkeun
Anu keur ngalanglang buana
Saha ?
Nja eta
Sanghiyang Santang Aria TJakrabuana
Nu gagah djeung kasep tea !
Ti Padjadjaran injana lologanti ngaran djadi
Guriang Setra !
Mimitina nindakna ka Udjung Kulon
Ladju njabrang lautan
Unggah di sabrang kulon
Di nu kiwari disebut tanah Lampung !
Ladju Ki Santang nanja ka urang lampung :
Saha tah djagona di dieu ?
TJeuk urang lampung :
Di dieu mah teu boga djago !
Sabab djagona aya di sabrang
Di Nagara Padjadjaran !
TJeuk Ki Santang :
Nahaeun sababna ?
TJeuk urang lampung :
Urang dieu teh
Baraya ka urang Padjadjaran !
TJeuk Ki Santang :
Kumaha mimitina ?
TJeuk urang lampung :
Radja Padjadjaran ewean ka urang dieu,
Ka njai Putri Gambir Sari !
TJeuk Ki Santang :
Mun bener baraya,
Saha djagona di Padjadjaran ?
TJeuk urang lampung :
DJago Padjadjaran aya dua
Nu kolot djeung nu ngora !
Nu kolot ngarana Embah Lengser !
TJeuk Ki Santang :
Anu ngora ?
TJeuk urang lampung :
Si Raden
Si kasep Aria Padjadjaran
Disarebutna Ki Hiyang Santang !
Ki Santang ngenah djasa angeun
Ladju mere bako ka nu ditanja
Ladju nindak deui
Nindak
Nindak
Mingkin lila beuki djauh !
Nja andjog ka hidji dayeuh gede
Leuwi gede manan tjiliwung !
TJeuk Ki Santang ka urang dinja :
Ngaran ieu Nagara ?
TJeuk nu ditanja :
Paliman !
TJeuk Ki Santang :
Kunaha ngarana kitu ?
TJeuk nu ditanja :
Sabab loba gadjah !
TJeuk Ki Santang :
Pantes !
Sagala mani gede kieu
Walunganana gede
Tatangkalanana garede
Dayeuhna ogeh gede
Ngan djelemana
Heunteu garede
Sarua bae gadena djeung kula !
Tapi Radjana sagede kumaha ?
TJeuk urang paliman :
Meudjeuhna !
TJeuk Ki Santang :
Dimana imahna ?
TJeuk urang paliman :
Tuh, imah nu panggedena !
Ladju Ki Santang nindak deui
TJarita asup injana ka Karaton
Kasampak aya djeulema gede
Keur utjang angge dina bale ukir
Balena bale gede didjieunna
Tina tjaling gadjah
Diukiran rupa gadjah
Gigireun bale gede
aneprok
Nu gareulis djarede
Garede geh
Gede budjurna …… !
TJeuk Ki Santang :
Dia tuh Radja di dieu ?
TJeuk nu utjang angge :
Heu’euh !
TJeuk Ki Santang :
Saha ngaran dia ?
TJeuk Radja :
Prabu Liman DJaya Kentjana !
Eta ngaran kula
Nu katjeluk ka tanah sabrang !
Ngaran kaula di dieu mah sedjen deui !
TJeuk Ki Santang :
Ngeunah nja djadi Radja ?
Prabu Liman DJaya Kentjana,
Lain Radja sambarang Radja
Tapi Radja nu rantjage
Injana ngartieun
Ki Semah the
Eudeuk njiar gara-gara !
TJeuk Radja Liman Kentjana :
Dimana lebah ngeunahna ?
TJeuk Ki Santang :
Tuh, lebah budjur-budjur nu darempok
Sela pingping nu parungkil !
TJeuk Radja nu rantjage :
Parungkil mah Ki Semah
Tandana djagdjag waringkas
Sabab tara tinggal ti djadjamu
Dararempok ?
Eta mah aya sabab na
Sabab loba gawe bari tjingongo
Ngored bari tjingongo
Ngaredjo bari tjingongo
Karihna bari tjingongo
DJeung deui kitu buktina
Nu biasa gawe beurat
Sabab di dieu mah
Nadjan ngaran nji putri
Ngahuma the mudu bisa
Ninun hayu, nutu hayu
Tara djerih ka gawe beurat !
Tapi Ki Semah
Saha ngaran dia
DJeung naeun nu sedja ku dia ?
TJeuk Ki Santang :
Ngaran kula Guriang Setra
Datang ka dieu
Nja eta
Eundeuk njiar pangabisa
Eundeuk mulung pangaweruh
Sabab di Nagara kaula
Geus euweuh nu sarua eudjeun kula
Saha djagona di ieu Nagara ?
TJeuk Prabu Liman Kentjana :
Di dieu mah euweuh djago !
TJeuk Ki Santang :
Tilok tah ?
Tilok di dieu Nagara euweuh lalaki ?
TJeuk Prabu Liman Kentjana :
Lalaki mah ngabadeg
Tapi lain pieun djadi djago !
TJeuk Ki Santang :
Pieun naeun atuh ?
TJeuk Prabu Liman Kentjana :
Pieun ngabnatu ngamakmurkeun Nagara !
TJeuk Ki Santang :
Lain pieun ngalawan musuh ?
Kumaha mun aya nu nangtang perang ?
TJeuk Prabu Liman Kentjana :
Perang mah tara datang saban mangsa !
Tapi makmur mah mudu saterusna
Abeh Nagara salalawasna
Gemah ripah sugih mukti

Di ieu Nagara mah
Mahmur the lain ngan dilamun
Tapi mahmur nu karasa
Sabab di dieu mah
Adil teh lain omomg anu kosong
Tapi adil anu bukti !
DJeung adilna
Lain adil tjeuk Radja wungkul
Tapi adil mun sapuk sakabeh somah !
Ku kituna
Adil mahmur teh
Di dieu mah
Lain ngaran wungkul tjatur
Lain ngan omong pangbebendjo
Lain tjarita nu sulaya !
TJeuk Ki Santang :
Kuamaha di dieu bisa kitu ?
Kula hayang diadjar
Teruskeun ka anak intju !
TJeuk Prabu Liman Kentjana :
Dengekeun !
Di ieu Nagara
Pagawe the garetol kabeh
TJarukup ku pangaweruh
Taliti dina pamanggih
Laloba ngalaman
DJeung djalembar pangabisa !
Tapi pangabisa
Nu nguntungkeun ka somahna !
DJaba ti getol samuduna
Oge teu meunang adigung garede hulu !
Teu meunang punta-penta ka somah
Teu meunang njusah keun somah
Teu meunang njingsieunan somah
Teu meunang menta balenan ti sumah !
Teu meunang make maksa
Sumawonna njingsieunan !
Tapi parentah teh
Dirupakeun djadi pangadjak
Nu kaharti asup akal
Kapikir ku sakabeh somah !
Mun pagawe
Bukti gawe heunteu bener
Atawa ngan njugihkeun dirina wungkul
Harita keneh ogeh digantung bari disisit !
Kumaha pagawe di Nagara dia, Ki Semah ?
TJeuk Ki Santang :
Di Nagara kula mah euweuh pagawe !
Kabeh teh djuragan kabeh !
TJeuk Prabu Liman DJaya Kentjana :
Karunja temen nu djadi somah !
Tapi dengekeun !
Di ieu Nagara
Nu buburuh tjukup upahna
Di garawe bari narembang
Sabab sebeuh saban hakan
Nu tirani
Laluasa tiranina
Sabab hasil dibuatna
Lain asal idjon ka Nagara !
Ku kituna
TJaba ti bere
Ogeh murah hakaneun !
Nu daragang
Teu diadjar ku Nagara !
Tapi Nagara ngalobakeun pidagangeun
Ku kituna
DJaba ti bere
Ogeh murah pidagangeun !
Ari pagawe
Teu mudu sumpah saban pasar
Meunang gawe bari tani
Meunang gawe bari dagang
Tapi tani anggeus gawe
Tapi dagang anggeus gawe
Ngan
Amun tani amun dagang
Teu meunang ngeunah sorangan
Ku djalan
Ngahalang-halang usaha somah !
Nu kapartjaya
Ngadjalankeun parentah Nagara
Garawena minang ka bapa
Hartina
Loba mere tara menta
Merena ?
Nja pangdjeudjeuh !
Mentana ?
Tara menta pangabakti
Pangdjeudjeuhna ?
Lain ku omong anu kosong
Lain djandji nu sulaya
Tapi
Ku djandji anu bukti
Ku omong anu tembong
Mun pagawe
Rasa injana ku kawasa
Punta-penta nitah bakti
Baktina ngan pieun injana
DJeung galak
Ka sakur nu teu mere
Ki Semah, Ki Semah
Moal endeuk Nagara bisa
Adil Makmur !
TJeuk Ki Santang :
Heueueueuh !
Kula tarima meunang Padjadjaran !
Tapi bener-bener yeuh
Di ieu Nagara euweuh djagona ?
TJeuk Prabu Lingga Kentjana :
Ari djago mah loba !
Tapi lain djago dina gelut
DJago soteh dina bener !
Amun Ki Semah
Radjang tarung
Tuh ka ditu !
Tapi saeuntjana mah
Teu mudu dia ngadjugdjug djeuh
Sabab engke ogeh
Bakal datang mangsa na
Ku urang rabul djalema bule
Tah eta pilawaneun dia !
Urang tunda deui
Nanggoan datangna nu barule
Urang tjaritakeun bae
Ki Santang the ladju amitan
Angkuhna deuk ngadjugdjug ka nu djauh
Deuk neangan djelema bule
Nja andjog ka sisi sagara !
Kadeuleu ku injana
Laut motah ngadak-ngadak
Lemah eundeur ruag-rieug
Tinggeleger hawar-hawar ….. !
TJeuk Ki Santang :
E eh !
Naheun ieu gara-garana ?
DJeung kunaheun ?
Ngadak-ngadak hayang mulang ?
Kadeule di awang-awang aya mega madju ngidul
Belesat !
Ki Santang ngapung ka mega
Karep injana tumpak mega
Tapi dina mega
Aya mipit mudu amit
Amun ngala kudu menta
Amun numpang mudu njarita !
TJeuk Ki Santang bari ambeuk :
Ulah sia loba batjot !
Dibebekkeun ieu mega ku dewek !
Ngeser !
Dewek moal numpang tjara lentah
Tapi ngilu bari maray !
Tah duitna opat kandjut !
Kop djeung kandjut-kandjutna !
Geuwat dewek anteurkeun ka Padjadjaran !
TJeuk tukang mega sabari ised :
Ari maray mah
Sedjen deui urusanana !
Saenjana tjeuk aturan
Heunteu meunang mawa tumpangan
Sabab ieu teh mega dines !
Tapi ku duit mah
Kula the heunteu buyut !
DJiga-djigana
Dilembur dia mah
Dia the djawara kedotan !
TJeuk Ki Santang :
Kumaha dia njaho ?
TJeuk tukang mega :
Tina porongos !
Sarua djeung porongos tukang eta !
TJeuk Ki Santang :
Tukang naeun ?
TJeuk tukang mega :
Tukang mariksa mega ngaliwat !
TJeuk Ki Santang :
Kituh !
TJeuk tukang mega :
Heu’euh !
Tukang mega mah
Loba nu sarawan !
Sabab tukang mariksa mega
Morongos sok satang ka tembong gugusi
Mun tjan dibere pieun meuli sisig !
Tapi ari dia mah
Ngilu numpang the
Make maray !
Tanda djawara kedotan !
Heunteu tjara tukang mariksa mega
Arinjana mah
Ngilu ongkoh
Menta duit ongkoh sakalieun teu menta duit
Ari turun
Tara nuhun-nuhun atjan !
Dasar kunjuk didangdanan
Katjida ieu aingna
Abong-abong keur kawasa !
TJeuk Ki Santang :
Heu’euh !
Tapi edas bapa
Loba djasa barayan teh !
seung, sing djongdjon diukna !
Ulah tukang teuin mega na geus butut
DJeung djamakna
Amun gudjlang gidjleng
Puguh langit ayeuna mah legok-legok
DJeung djamakna
Heunteu bisa njanghundjar
Sabab ieu the mega dines
Paranti neang ma beurang
Ari di kahiyangan
Aya bidadari deuk ngadjuru !
DJeung njekelanana
Ulah pageuh teuin
Beusi utjutan tihang megana !
DJeung ulah sabari egeg
Beusi tiporos
Megana geus butut !

Urang longok Radja urang
Nu dihurup ku musuh genepan !
Perang na rosa djasa
Eta genep papatih
Ku Radja urang ladju ditubruk
Ladju di awut-awut
Di luluh di gulung-gulung
Di rampid djadi ngahidji
Mani pating polondjon tina djubah injana
Ting arenjut
DJiga tetep lesot tina wadahna !
Ting arenjut sabuligir
DJiga eungkuk pilegaeun
Balad Banten
Waktu neuleu kabeh papatihna
Deuk di podaran ku Radja Sunda
Heunteu taregaeun
Ladju
Reog wae ngaleut
TJara sireum sirarange
Ngagurumut Radja urang !
Atug mani haliwu Radja urang !
Nja harita opat patih Banten bisa budi
Nja eta bengkong nu duaan
Arinjana mah heunteu kaburu !
Sabab kaburu modar mantare !
Lain paraeh ku Radja urang
Tapi
Modarna
Ditareunggelan urang Banten !
Sabab ku haliwu-haliwuna ngagurumut
Urang banten the
Teuteunggeulna
Sateunggeul-tenggeulna bae !
Datang ka loba balad Banten
Kararodjor
TJigenden ku baturna keneh !
Urang tjaturkeun patih Banten anu opat
Arinjana bisa budi
Ladju ngoredjat bari ngarewel djubah !
Tapi
Lantaran ngoredjatna bari haliwu
Nja atuh ngarawel teh
Sarewel-rewelna bae
Heunteu arengeuh pahili djubah !
Ku haliwu-haliwuna
Kai TJakra hanteu engeuh pahili djubah
Kai DJaya hanteu engeuh pahili djubah
Kai Asep hanteu engeuh pahili djubah
Kai Tubagus hanteu engeuh pahili djubah
Malah Kai Tubagus mah
DJaba tipahili teh
Injana hanteu eungeuh
Make djubah the tibalik
Nu pieun tjokor
Dipake di ruhur
Ari tjokorna
Diasupkeun dina beuheung djubah !
Atuh leumpangna
Mani tjiga nini-nini hudang ngadjuru !
Ninggang di Kai TJakra anu begang
Nu karawel teh djubah godombrong
Pakeun baturna nu djangkung gede
Atuh barang dipake the
Ka luhur leuwih sasiku
Ka handap leuwih sadeupa !
TJeuk pikir injana :
Bener sakti si Radja Sunda !
Ieu djubah mani kieu
Ka ruhur teu kadeuleu langit
Ka handap teu kadeuleu napak !
Nja gudubrak bae injana labuh
Tikudewat
Nintjak djubah pandjang teuin !
TJeuk pikir injana :
Pandjang teuin !
Ngaing beubeurkeun !
Ladju djubah pandjang teh
Dibeubeurkeun
Digulungkeun luhureun tjangkeng
Atuh tembong buraholna !
Der perang deui !
Perang rosa
Perang rosa djasa
Terus perang leuwih ti rosa djasa !
Radja urang
Nadjan gagah nadjan sakti
Tapi
Ari diruhun digurumut mah
Nja haliwu ogeh !
Nja kapaksa injana mundur
Kadeseh ka beulah kaler
Datang ka palebahan birit leuwi !
Tah di dinja
Injana katubruk ku nu ngahurup
Tapi Radja urang
Ladju motah rosa djasa !
Nja ladjuna mah
Gudjubaaarrr !
Radja urang ragag ka leuwi
Gudjubar
Kai Asep kabawa ragag
Injana ngarawel djubah Kai DJaya
Kai DJaya ngarawel djubah Kai TJakra
Kai TJakra ngarawel djubah Kai Tubagus
Tapi
Lantaran djubah Kai Tubagus mah
Dibeubeurkeun
Nja nu ngarawel the
Buraholna !
Nja gudjubaaarrr !
DJawara Banten djeung TJirebon nu opat
Kabedol kabawa ragag
Ladju perang di dasar leuwi
Balad Banten eureun perangna !
Balad Padjadjaran areureun perangna !
Laladjo nu keur perang di dasar leuwi !
Nja djadina mah
Euweuh nu perang di daratan
Kabeh djaradjang teges
Nareuleu nu galungan di dasar leuwi !
Kabeh pasedek-sedek !
Datang
Euweuh nu areungeuh
Balad Padjadjaran
Njarelap di balad Banten
Balad Banten
Njarelap di balad Padjadjaran
Eungeuh-eungeuh soteh
Aya nu hitut !
TJeuk balad Padjadjaran :
Hitut Banten yeuh !
Sedjen deui peledakna !
Ari injana ngalieuk teh
Baruk geuning lain batur sakamandoran
Tapi musuh
Urang Banten !
Nja der perang deui !
Perang di daratan
Perang di dasar leuwi
Ting gulutuk sora batu
Ting sareak sora koral
Ting kiritjik sora keusik !
Burial !
Burial !
TJai kiruh ti dasar leuwi
Umpalna neunggaran gawir !
Ngagulugur gawir nu urug
Ngaguruh tangkal nu rubuh
Tangkal djati garaged
Sisi leuwi sabrang wetan
Rungkad ambles kabawa palid !
Ari palidna ?
Njarangsang di birit leuwi
Tah di dinja
Engkena teh bakal ngadeg hidji lembur
Nu ngaranna di kiwari
Bantardjati
Urang tunda deui
Sina djadi lembur bantar djati !
Urang kotjapkeun Ki Santang deui !
Kadeuleu ti awang-awang
Palebah leuwi sipatahunan
Loba djasa djelema keur saling genden !
TJeuk pikir Ki Santang :
Boa-boa
DJeung kadeuleuna
DJiga lain somah ngaing kabeh !
Gadjleng !
Ki Santang luntjat tina mega
Megana mani semplak sabeulah !
Sesemplakan mega nu beulah
Murag !
Ragagna malang
Njampai dina lamping
Sakaleren gunung gede
Engkena
Dihandapeun ngadeug hidji lembur
Nu kiwari disebutna
Mega mendung !
Ladjukeun urang Ki Santang !
DJrut injana turun
DJlig injana nepi
DJung injana nantung
Kadeuleu aya numpukan
Ngagunuk tjara pitjung buruk !
TJeuk Ki Santang bari tulak tjangkeng :
Nahaeun yeuh ?
TJeuk nu nagunuk :
Nu areleh perang !
TJeuk Ki Santang :
Urang mana ?
TJeuk nu ngagunuk :
Padjadjaran !
TJeuk Ki Santang :
Eleh ku saha ?
TJeuk nu ngagunuk :
Ku urang Banten !
TJeuk Ki Santang :
Kunaha make areleh ?
TJeuk nu ngagunuk :
Litjik sih !
Katji ngegel tjeuli
Njolok mata djeung njingkabkeun samping !
TJeuk Ki Santang :
Lain litjik !
Eta tah aturan perang anjar !
Tapi kumaha sabab perang ?
TJeuk nu ngagunuk :
Ngabelaan Radja !
TJeuk Ki Santang :
Di mana Radja ?
TJeuk Nu ngagunuk :
Tuh di dasar leuwi !
Keur dihurup ku opat urang !
Ki Santang teu loba deui tjatur
Ladju injana tuturubun
Ngadjubar !
Lep !
Injana teuleum !
Tapi sabab tjaina kiruh
Teu kadeuleu
Mana Bapa mana musuh !
TJeuk Ki Santang :
E eh !
Mun neunggeul bari teu neuleu
Bisa salah anu keuna !
Leuwih hade
Ieu leuwi hade ngaing bedahkeun !
Nja der dibedahkeun
Ka hilir tjiliwung guntur !
Ka girang tjiliwung surut !
Kotjapkeun anu garelut !
Heunteu areungeuh
Sipatahunan mingkin saat !
Barang beak tjai kiruhna
Ka deuleu ku Ki Santang
Radja eundeuk diporeatkeun !
Teu antaparah !
Saebrur Radja direbut
Lung di kadaratkeun !
Anu karebut musuhna
Karuhan bae ambek djasa !
Kadeuleu ku arinjana
Aya musuh anjar !
Ladju pating surungkuy
Ting garebay
Ngaradjol bari raranggeum
Eundeuk njekek beuheung Ki Santang !
Ki Santang ngeunah seuri !
Ladju leuwi di kubek deui
Kiruhna kiruh djasa
Datang kaeuweuh nu bisa kadeuleu !
Ki Santang mah
Injana ladju ngadapang
Malang dina pamontengan !
Injana ditubruk ku opat patih Banten
Tapi Ki Santang
Njedjat bari ngagakgak !
Pamuntangan ladju bedah
Njot buburialan !
Atuh katjeot
Opat patih urang Banten !
Hulu injana ngadalagor batu
Mani remuk ka batu-batuna
Awak injana naleungar tjadas
Mani raraungkad gawir-gawirna !
Nja mooooooooooodar !
Ladju paralid
Ladju engkena njarangsang !
Anu saurang
Dilebaheun kiwari tanah djelebut
Anu saurang deui
Di bilangan kiwari tanah bodjong gede
Saurang deui
Di bilangan kiwari tanah tjitayem
Saurang deui
Di bilangan kiwari tanah sawangan !
Tapi saha nu njarangsangna ?
Saurang geh
Datang ka iraha ogeh
Moal aya nu njaho !
Lantaran waktu paralidna
Marake djubah nu pahili
Pahili ka pangkat-pangkatna !
Ngan bae
Engkena kabedjakeun
TJeunah mah djaradi karamat !

Ayeuna
Urang teang Si Lengser
Si Lengser karuhan sakabeh tukang pantun !
Barang balad Banten eureun perangna
Barabg balad Padjadjaran nunda perangna
Embah anis djeung embah anom
Eudeuk areureun nunda perangna
Ngan Si Lengser anu hanteu !
TJeuk Si Lengser :
Eundeuk ka marana dia ?
TJeuk Embah Anis :
Deuk neuleu nu dipodaran di dasar leuwi !
TJeuk Embah Anom :
Deuk neuleu nu dibeset di dasar leuwi !
TJeuk Si Lengser :
Moal kadeuleu !
TJaina geh kiruh !
Mending geh,
Urang ladjukeun perang urang !
Kapalang
Tingal sadjurud deui !
Tapi Embah Anis deuk nodjok terus
Emabh Anom ogeh deuk nodjok terus
Ladju ku Si Lengser
Emanh Anis didjenggut djambrongna
Emabh Anom didjebak djabrikna !
Karuhan
Mani pating tjaweuweuw !
Tapina
Hanteu ngaralawan
Sabab harayang laladjo nu perang di dasar leuwi !
Torolong bae duaan lalumpatan
Lalumpat bari darongko
Lalumpat bari susulumputan !
Lantaran hayang djarongdjon laladjona
DJeung ulah kapanggih ku Si Lengser
Nja laladjo teh
Dibirit leuwi sabrang kulon !
TJaringgoooo bae !
Dina sisi gawir handapeun kopo
Tunda deui !
Keun sina tjaringogo !
Kotjapkeun
Radja Sunda djeung Ki Santang !
Geus harandjat deui !
Ladju ngabuburak balad Banten
Mani ting alatjir paburisat
DJiga rorongo dikebutkeun !
TJeuk Radja ka Ki Santang :
Hadena Aden kaburu datang !
TJeuk Ki Santang :
Mun teu kaburu ?
TJeuk Radja :
Mantak teuin lalakon pandjang
Tah
Ari geus paralid mah
Moal bisa tjalutak deui !
Tapi sing aringet !
Nadjan arinjana
Geus eleh dua kali
Radjana mah
Panasaran keneh !
Tangtu injana the
Hayang keneh njilakakeun urang
Njilakakeunana
Moal ku djalan kasar
Tapi ngakalan
Ku djalan halus !
Bedjaan kabeh sanak, kabeh kadang
Sing ti ayeuna keneh
Pipir imah saimahna
Beulah kentja nu di tukang
Di hareup beulah katuhu
Marelak
Tangkal sente
Pikeun tumbal keuna baradja !adju marelak deui
Tangkal tjau emas
Pieun tamba keuna wisaya
Sabab kahareupna
Musuh teh ngalawana
Ku djalan guna wisaya
Ku teluh eudjeung mudu
Ku waredjit utah getih
Njieun edan djadi sasar
Gering nangtung ngaganggayong !
Tapi teu mudu sieun !
Mun aya nu keuna kitu
Sambat bae bae ngaran bapa
TJeluk bae ngaran dia
Ladju mandian ku tjai
Ti leuwi sipatahunan
DJeung inuman
Ku tjai
Ti pantjuran tudjuh !
Ari djampena ?
Sina diadjar bae ti Si Lengser !
Tunda deui !
Sina diadjar djampe teluh ka Si Lengser
Kotjapkeun deui Si Lengser di tegalan !
Injana dagdag-digdig sorang bae
Tulang tjangkeng bari tetendjrag
Hahaok bari popolotot
Ngareuhak bari kekerot
Nantang musuh nu tingaleun kalang !
Kadeuleu ku injana
Gawir urug, leuwi bedah
Balad musuh loba nu paling !
Ngeunah djasa angen Si Lengser
Gadag-gidig injana ka tengah tegalan
Leungeun anu kentja
Tulak tjangkeng njerengkebeng
Nu katuhu
Dikeupatkeun ngagandedjang
TJara deumang eundeuk ngandjang
Endeuk mogor ka anak mandor !
Ret injana ka kaler
Leuweung djati urug saparo
Mani ngemplong deudeuleuan
Kadeuleu aya deui ngaraleut
Nu areureun di birit leuwi
Birit leuwi sabrang kulon !
Nu ngaraleut teh
Ladju ngaromong djeung sesana balad Banten !
Tah lebah dinja
Engkena tah nadeug hidji lembur
Nu kiwari disebutna
Pabaton !
Sabab urut ngumpul djeung badami !
Si Lengser ladju nabeuh bende !
Atuh
Barang bende ditabeuh deui teh
Mani beeeeedjat burarakan !
Ari tjeuli bende ?
Mani ngatjleng
Ragragna di leubahan nu kiwari djadi lembur
Nu ngarana
TJeuli beunde !
Kadenge ku Radja urang
Ladju dihaokan
TJeuk Radja :
Nahaeun Lengser ?
TJeuk Si Lengser :
Musuh datang deui !
TJeuk Radja :
Sabaraha ?
TJeuk Si Lengser :
Njaho teuin !
Teu kabilang
Ngan ayeuna mah marake djendol !
Der perang !
Perang deui !
Perang
Perang
Perang batur, perang !
Leuwih rosa ti perang nu ti heula !
Perang djeung musuh nu anjar datang
Perang djeung nu marake djendol
Perang deui djeung sesana balad Banten !
Perang, perang !
Urang Padjadjaran
Dihurup hidji musuh salikur
Sabab urang Banten
Dibantu ku balad ti wetan !
Lantaran balad musuh nu ti wetan
Tambah deui tambah deui
Nja kawalahan ogeh Radja urang
Nja kawalahan ogeh Ki Santang
Nja kawalahan ogeh Si Lengser !
Burubul musuh ti kidul
Surudug
Si Lengser ka kidul !
Burubul musuh ti kulon
Surudug
Si Lengser nangkis di kaler !
Burubul musuh ti wetan
Surudug
Si Lengser ngamuk di wetan !
Urang Padjadjaran perangna rosa djasa !
Sakabeh ngilu perang
Aki-aki ngilu perang
Nini-nini ngilu perang
Karuhan nu ngarora mah
Nu lelengeh ngilu perang
Nu barudjang
Ngalawanana galak djasa
Sabab ku beubeureuh
Mun ku musuh
Nu sapotong dikeureut sapotong
kimpoi the
Endeuk moal didjadikeun !
Perang nu tjawene ?
Leuwih giras ti tjangehgar
Sabab arinjana heunteu sudi
Mudu leungit anu njempil
Ditjarokel make obeng !
Perang, batur, perang !
Mangkin lila beuki rosa
Mangkin tambah balad musuh
Beuki kawalahan Padjadjaran ……….. !
TJeuk Radja ka Si Lengser :
Mun kieu terus-terusan
Matak boa mudu mundur !
TJeuk Si Lengser :
Entjan wayah !
Leuwih hade
Urang ganti aturan perangna !
Urang make aturan anjar
Nja eta
Akeul dulang kadju samida !
Hartina
Kadju seungit pieun ngukus !
Tegesna
Amin djaya aya di urang
Tangtu musuh bakal musna
Tapi
Amun apes papasten urang
Paeh geh moal djaradi djurig
Sabab sukma urang
Diparenahkeun di kahiyangan !
Lantaran paehna urang
Gara-gara
Satuhu ka Sang Rumuhun
Bela-pati ka Nagara !
TJeuk Radja :
Kumaha ngaturna ?
TJeuk Si Lengser :
Geura tuturkeun !
Ladju Si Lengser ka tengah tegalan
Burudul musuh ti kidul
Suruntul Si Lengser ka kaler !
Burudul musuh ti kulon
Suruntul Si Lengser ka kidul !
Burudul musuh ti kaler
Suruntul Si Lengser ka wetan !
TJindeukna mah
Perang tjara Si Lengser teh
Datang ka lebur djagat tetempuran ogeh
Moal deuk aya nu bisa nuri !
Sadupak-dupakna matak tjilaka
Satubruk-tubrukna matak ripuh
Satedjeh-tedjehna matak bengek
Satintjak-tintjakna matak bohak
Sarawel-rawelna matadj soek
Nja karuhan
Musuh mani paburisat !
Kumaha amun
Burubul musuh ti wetan ?
Suruntul Si Lengser ka tengah tegalan !
Amun musuh anggeus parek
Si Lengser ladju nonggeng
Bari nonggeng njingsatkeun samping !
Ku maha ari musuh ?
Arinjana ladju bae kasima !
Sabab pikir arinjana
Eta kandjut injana geus sagede kiiiitu … !
Tada teuin meureun gaganden injana mah … !
Nja ladju sakabeh anu nareuleu Si Lengser nonggeng
Pada kalenger !
TJindekna perang tjara Si Lengser mah
Datang ka iraha ogeh
Moal endeuk aya nu niru !
Teu kabilang anu modar
Teu kabilang anu rarusak …. !
Nu teu katibuk teu kadupak
Teu katedjeh teu kasiku
Ripuhna mah sarua baeeeee … !
Malahan arinjana mah
Paraeh teh leuwih tjilaka !
Nja eta
Molotot bari sambutut
Bari leungeun marentjet irung !
Sabab Si Lengser
Perang teh injana mah mamawa sigung … !

Urang mah, urang tempo Radja urang !
Nu keur perang dibantu ku Ki Santang !
Perang njana rosa djasa !
Datang ka tegalan sakitu legana
DJadi heurin ku nu keur perang ……. !
Ting dorongkok tampal nu reuntas
Ting bareok dapuran awi … !
Tegal lega
Ngalegaan … !
Beuki lega beuki lega ……. !
Engkena di tegalan tadi perang, ngadeug lembur
Nu kiwari disebut Tegal lega !
TJeuk tadi ogeh
Urang Padjadjaran kawalahan !
Sabab nadjan gagah nadjan sakti !
Ari musuh
Tambah deui tambah deui mah
Lila-lia nja kawalahan djasa !
Radja urang kasedekeun ka beh kidul
Ki Santang kasedeken ka beh kidul
Ari Si Lengser ?
Injana mah terus bae saradag sarudug susurudug ….. !
Barang njurudug deui the
Kalangsu teuin …. !
Engeuh-eungeuh
Injana tikatjubar di TJai Sadani
Putjunghul injana timbul
Alagag-euleugeg bari kabesekan
Ladju
Gurawil keuna gawir
DJiga peusing unggah ka pasir !
Hanteu kanjahoan … Kadewek !
TJokor Si Lengser sadua-dua
Ti lebak aya nu newak !
Heu !
Si Lengser aya nu ngabeubeutkeun !
Mani nambru djiga mandilaka dalu !
TJeuk nu ngabeubeutkeun sabari njareungir :
Heheh !
Kapiheulaan njah !
TJeuk Si Lengser :
Heueueueu … Euh !
Ladju injana endeuk ngalawan
Ngalawan bari muranteng
Bari muranteng keuna tjangkuwang !
Tapi ti lebak
TJokor Si Lengser duanana
Dibaredol sataker tanaga !
Ladju Si Lengser tetedjeh ,
Satedjeh kadia tedjeh !
Katilu tekeh mah
Gubrag bae Si Lengser ngadjolopong !
Ladju disesered
Digusur ka lebak deui !
Reg randeg
Sabab Si Lengser muntang keuna tjangkuwang deui !
TJangkuwang geh tjangkuwang baheula lain tjangkuwang djaman kiwari !
Ladju pabedol-bedol …. !
Musuh ngabedol Si Lengser !
Si Lengser ngabedol tjangkengna !
Bedol
Bedol !
Bedol pabedol-bedol !
Ari nu ripuhna mah
Nja Si Lengser baeeee !
Pikir injana :
Saha manusaaaaa nu ngabedol ?
Ari ret the
Kadeuleu ku injana dua urang ting tjarengir !
TJeuk Si Lengser :
Geuning si ganggarangan !
Si Anom djeung si Anis !
TJeuk Embah Anom djeung Embah Anis :
Heheh ! Beunang siah ayeuna mah !
Si Lengser motah deui !
Injana motah djasa
Tetedjeh sabari muranteng
Bari muranteng sabari njerengid !
TJeuk Embah Anom :
Bedul nis !
Urang sundatan !
TJeuk Embah Anis :
Bedul nom !
Urang sundatan !
TJeuk Si Lengser :
Moal teurak !
Geus liat teuin !
Ladju pa bedol-bedol deui …. !
Bedas nu ngabedol
Pageuh nu dibedol …
Tapi ladjuna mah
TJangkuwang ladju rungkad pegat akarna !
Harita ti patuha
Di tonggoheun Balekambang
Ku balad urang nu keur djaga
Kadeuleu Si Lengser keur rorowesan !
Ladju di tarulungan !
Durudud Si Lengser digarusur ditarulungan !
Dereded ! Si Lengser disesered
Disered musuh ka lebak deui
Disesered ka sisi tjai !
Durudud ! Si Lengser ku batur-batur
Digusur ka tonggoh deui
Dibawa unggah ka lebah Patuha !
Tapi
Dereded Si Lengser ku musuh-musuh
Disesered ka lebak deui !
Durudud deui ! Dereded deui !
Ka tonggoh deui ka lebak deui
Datang ka gawir lebah dinja
Beuki legok beuki lega … !
TJeuk Si Lengser :
Terus batur terus !
Itung-itung ngangaradji djagat !
Terus !
Abeh kurap dina taktak
Abeh hapur dina budjur
Kabeh beak ka akar-akarna !
TJeuk balad urang di patuha :
Rambati …. rata haaayu !
Ladju
Durudud Si Lengser digusur ka ruhur !
TJeuk embah Anom djeung embah Anis :
Upih djambe murag ngabete !
Bereleeeeee !
Dereded Si Lengser ku Embah Anom djeung Embah Anis
Deserered deui ditatarik deui ka sisi tjai !
Barang anggeus ku batur-batur
Didurudud ka luhur deui
Kumusuh deuk disered ka leubak deui
TJeuk Si Lengser ka urang Patuha :
Esotkeun batur leupaskeun !
Atuh barang dereded teh
Embah Anom djeung Embah Anis
Nararik the
Badis meset djeudjeur pegat useupna !
Mani tinggulitik djudjuralitan
Ting garolong ka lebakeun
Paheula-heula djeung Si Lengser !
Lantara Si Lengser mah
Awak injana lintuh tjara kebo buleud keur reuneuh
Atuh Si Lengser mah
Ngagorolong teh
TJara berenuk murag di lamping !
Karuhan
Injana datang pangheulana ka sisi tjai !

TJeuk Si Lengser ka nu ragag pandeuri :
Warani ?
TJeuk Embah Anom djeung Embah Anis :
Ke heula !
Ulah wara di tanja !
Lalieur keneh
DJeung tjan eling bener !
Puguh tjeuk ti heula ogeh, perang baheula mah
Hanteu tjara perang di djaman kiwari !
Si Lengser teu tatanja deui !
Embah Anis djeung Embah Anom ladju dirawu
Dialungkeun !
Ari Embah Anis ?
Injana ragag di bilangan kiwari tanah serepong !
Ari Embah Anom ?
Ragag di bilangan kiwari tanah kuripan
Skalereun gunung bubut …. !
Bedjana mah
Engke teh djaradi karamat !
Ngan digaranti ngaran
Lantaran areraeun eleh perang !
DJeung lantaran ngaran Anis djeung Anom mah
TJara ngaran DJaya djeung Tubagus
Eta mah ngaran arinjana di keur budak !
Apan ari geus djaradi pangkat mah
Ngaran arinjana saredjen deui …. !
Ari gawir urut Si Lengser diseret djeung digusur
Kiwari teh aya keneh !
Lebah dinja disarebut dereded …. !
Anggeus ngabalangkeun musuh nu dua
Si Lengser ladju ngulon ngaler
Karep injana deuk ngadeuleu beusi aya eukeur ripuh
Beusi aya balad keur kawalahan …. !
Di lebah urut Si Lengser lengak-longok tempa-tempo
Engkena ngadeug lembur anu kiwari ngarana lolongok !
Barang Si Lengser keur telag-telog
TJara bango ngadodoho bangkong
Injana kadeuleu musuh !
Ladju diaruber, dikarepung diarudag-udag !
Si Lengser njumput !
Injana teuleum dina rawa nu loba bolangan !
Engkena
Di urut Si Lengser njumput
Ngadeug lembur nu dingarana rawa balong !
Ti enggon injana njumput
Kadeuleu ku Si Lengser
Musuh ngaleut keur narandjak
Ngabondong ka tonggoheun
Ladju ngarumpul di leubahan anu rata
Engkena
Di lebahan dinja nadeug lembur
Nu kiwari disarebutna bondongan !
Sabab di lebah dinja pisan ngarumpulna musuh nu eundeuk ngarugrung bari naranggoan parentah mudu taram !
Anggeus mahi batur-batur arinjana
Musuh ladju ngarugrug …. !
Urang Banten beuki galak leuwih bengis
Sabab tambah loba nu ngabantu arinjana !
Urang wetan leuwih loba
Tambah wani tambah galak
Sabab tambah loba batur arinjana !
Urang Padjadjaran geh
Tambah …… !
Ngan tambahna
Tambah beak !
Sabab hidji ngaganda salikur
Salikur ngalawan musuh aya ratusan … !
Nja karuhan
Urang Padjadjaran geus kalingung !
Musuh tingtarekel keuna kuta …. !
Der perang didjero eun kuta
Di belahan kiwari aya lembur djero kuta !
Kuta beak imah beak
Beak saung djeung kandang-kandangna
Beak dirakrak djeung dihuru
Diduruk musuh nu lain tanding dina lobana !
TJeuk urang Padjadjaran :
Lengser, Bapa, Aki !
Kumaha …… ?
TJeuk Si Lengser :
Mundur, batur mundur !
Urang mundur ngetan ngidul !
Ladju urang Padjadjaran mararundur
Njabrang
Njararabrang leuwi Ki Pata Hunan
Ka sabrangeun gintung nu tudjuh !
Nja amprok djeung Radja urang
Di tegalan tungtung kidul
Tonggoheun tjai leutik !
TJeuk Radja ka Si Lengser :
Ripuh mun kieu mah !
Boa-boa urang mudu taluk ?
Karunja ka somah !
Teu deuk narima batur ka siksa !
TJeuk Si Lengser :
Padjadjaran mah Gusti
TJadu keuna taluk
Sabab buyut ti karuhun !
Lebahan Si Lengser njebutkeun buyut
Engke the disarubutna tjikabuyutan !
TJeuk Radja :
Dayeuh geus direbut musuh !
TJeuk Si Lengser :
Nadjan dayeuh geus karebut
Radja mah teu meunang taluk !
Padjadjaran teh lega keneh !
Lega keneh enggon perang !
Terus Gusti terus !
Nadjan perang sabari mundur
Urang mundur the lain eleh
Urang Padjadjaran ladju mundur …. !
Lain mundur kasedek ku Urang Banten djeung Wetan !
Tapi mundur
Kantaran hanteu nanding dina loba !
Tah eta gara-garana datang ka engke
Urang Sunda
Ti harita datang ka kiwari
Kadeseh deui kadeseh deui
Ka sakur anu daratang
Ngaradon hirup di Tanah Sunda
DJeung daratangna
Nu ti Kulon djeung ti Wetan !
Da bongan urang Sunda keneh djeung Sunda keneh
Marantuan anu daratang
Sina njampalan di urutna Padjadjaran Tengah !
Sabab-sababna marantuwan djeung gararantep
Sina deungeun-deungeun njarampalan ?
Lantaran pada sarieun
Urang Padjadjaran Tengah djaraya deui !
Lantaran
Pada saririk ka urang Padjadjaran Tengah
Anu dina wayah nu bakal datang
Barus ngaluluguan Bangsa Sunda !
Ngadjadjarkeun
Anu bener ti nu saralah …. !
DJeung lantaran anu saririkna
Sarieun kaboker sagala salah sagala teu bener !
Urang tjaturkeun deui lalakonna
Urang Padjadjaran Tengah terus kadesek
Urang Padjadjaran Bogor memang kadesek !
Lain kadesek ku sabab eleh
Tapi eleh dina papasten …. !
DJeung elehnn
Eleh soteh
Kadunjaan
Kapangkatan
Kakawasaan
Salila
Genep djaman katudjuh djalan …. !
Tah salila eta
Urang Bogor Padjadjaran
Baris didjarieun kekesed dina balumbang ….. !
Urang kotjapkeun deui nu keur marundur !
Marundur sabari perang
Sabari perang mundur ka girang !
Nja andjong ka suku gunung
Ka legok anu njangkewok …. !
Di dinja ladju rareureuh
Bari naranggoan kedjo asak diseupan !
Tapi henteu kaburu asak
Sabab musuh kaburu njusul !
Plok !
Aseupan ditamplokeun
Kedjona dibawa ladju !
Blok !
Seengna dibahekeun
TJaina ngotjor ka kobak !
Tah di lebah dinja
Engkena nadeug lembur anu datang ka
kiwari disebutna tjiseupan !
Datang ti kiwari tjai dina eta kobakan
TJaina teh haneut bae !
DJeung kitu sabab-sabab datang ka kiwari
Di lebah dinja sok loba tjawene
Ari ngedjo sok tara asak !
Lain teu asak teu bisa ngareredjo !
Tepi teu arasakna
Lantaran ngaredjo teh
Sok ditaringgalkeun otjon djeung beubeureuh !
Urang susul nu keur marundur !
Marundur marundur terus ……… !
Nja andjlong ka hidji djurang
Nu gawir-gawirna djero djasa
DJero leuweung kawung wungkul ….. !
Ladju njarieun tjukang
Tina wakung nu karolot djasa
Tina bengkel paradjang tangkal
DJeung njarieun tjukang
Tina tatangkalan anu galeuhan …… !
Engkena di lebah dinja ngadeug anu datang ka kiwari
Disebutna tjukang galeuh !
Ladju ngararukan ….. !
Njararukang gagantjangan
Ambeh teu kasusul musuh
Ladju njararusup ka hidji leuweung
Sisi tjai lebah nu singkur
Sedja arinjana eudeuk reureuh
Eudeuk njareluk para karuhun
Bari njararambat ka para Dewa
Sing hate keu-eung dipangnegerkeun
Sing diwanikeun hate nu sieun
DJeung ditangtayunan djero galungan …. !
Abeh
Amun paeh di pangperangan
DJaga bisa ngilu deui
Hutang uyah maray uyah
Hutang djiwa maray djiwa ……. !
Sabab dina marundur
Lain urang Bogor Padjadjaran kadesek perang
Tapi perang teh
Apanan sabab manadeh
Hanteu purun dipaksa deungeun
Hanteu sudi ganti sembaheun
Hanteu sudi tukeur pangdeuleu
Hanteu sudi ganti karuhun
DJeung hanteu sudi nurutan adat
Bawa deungeun ti tanah sabrang !
DJeung lain manandeh ka gantina djaman
Tapi manandeh
Ka djaman mudu nurut bae djadi badega !
TJai leutik lebahan manandehna urang Bogor Padjadjaran
Engkena disarebutna tjimanandeh di dinja engkena
Nadeug lembur anu sangaran !
Ladju robah djadi tjimanande
Kiwari djadi tjimande !
Lain tina mande mapandean
Tapi tina mande nu manandeh … !

Kotjapkeun
Matapowe surup ka kulon !
Nu njarusup njareungeut amar ….
Samaruk arinjana di anu singkur djero leuweung !
Hanteu njarahoeun
Kadeuleu ku musuh ti kadjauhan
Ladju disarusul
Ger perang deui !
Paperangan marawa obor !
Padjadjaran ngaganda terus
Nja karuhan
Mudu mundur terus deui
Lain mundur hanteu nanding hanteu tanding
Tapi hante tanding dina bilangan
Pes !
Pas pis pes pus …. ! Pos !
Sakabeh obor Padjadjaran dipareuman
Powekna mani mongkleng djasa
Mundur sabari ngileus
Ngileus kadjero powek !
Ari musuh ?
Lantaran powek sagala powek
Nja kakadek djeung teuteunggeul the
Hanteu barisa bari deudeuleu heula !
Karuhan
Loba balad musuh anu marodar
Dikadek batur arinjana keneh
Loba bakad musuh patinggarodjod gegerungan
Ditareunggeulan batur-batur arinjana keneh !
Urang Padjadjaran mundur terus …. !
Mundur, mundur, mundur
Mararundur di anu powek …. !
Tengah djalan
Papapag djeung awewe limaan
Ngarelek samak njaruhun anngel !
TJeuk awewe limaan :
Ka marana djeung peuting-peuting ?
TJeuk Si Lengser :
Ka marana djeung peuting-peuting ?
TJeuk awewe limaan :
Eudeuk ngendong !
Deuk ngendongan nu hudang ngadjuru !
TJeuk Si Lengser :
Kula geh daek diadjak ngendong
Ngan embung djeung anu hudang ngadjuru !
TJeuk awewe limaan :
Kula geh moal ngadjak ngendong
Da kabehan boga salaki !
TJeuk Si Lengser :
Kula geh moal eudeuk ngendong atuh
Ngan kaula eudek nanja
Ka mana njai djalan buni nu teu herit ?
TJeuk awewe limaan :
Tuturkeun bae kaula !
Tapi ulah parek teuin beusi adek !
TJeuk Si Lengser :
Moal atuh !
Ngan bisi kapohoan
Bubuhan nu keur pararowek
Aya di anu pararowek
Halangan bea tah ku anggel …. !
Di urut lebahan papah djeung eta awewe limaan
Engkena ngadeg lembur anu disarebut pantja wati
Ku awewe anu lima
Urang Padjadjaran Bogor dianteur
Dianteurkeun ka gunung djauh ti musuh !
Bray beurang !
Ladju ngareureuh
TJeuk Radja ka awewe anu limaan :
Geus !
Datang ka die bae !
Naeun hayang piburuheun dia nganteur ?
TJeuk awewe salimana :
Gusti !
Kaula kabehan
Hanteu hayang di buruhan !
Kaula mah
Sedja ngabakti !
TJeuk Radja :
Hade !
Tapi turun-runday rawayan dia kabehan
Sakur anu narurut ka kolot arinjana
Baris djember salila hirup !
Seug
Geus marulang !
Di urut eta awewe lima pamitan eudeuk marulang
Engke the nadeug lembur anu baris mawa ngaran parbakti !
Ti dinja
Urang Padjadjaran terus madju ngidul rada ngulon !
Sup ka leuweung
DJol ti leuweung !
Asup leuweung, ka luar leuweung !
Unggah gunung, turun gunung !
Arasup deui ka djero leuweung
Ka ruar leuweung !
Hante eureun-eureun
Gunung, leuweung, gunung
Leuweung, leuweung
Leuweung deui leuweung deui
Leuleuweungan di ruhur gunung !

Teu katjatur di djalanna
Ngan ditjaritakeun
Si Lengser leumpang di heula !
Sabab injana
Mudu njatjar njieun djalan pileumpangen !
Si Lengser njatjar
Njatjar, njatjar …. !
Pandjang djalan nu ditjatjar
Pandjang pidjalaneun nu mudu ditjatjar
Leuwih pandjang manan tjarita
Amun kabeh ditjaritakeun
Mantak pandjang teuin pitjaritaeun
Mantak bray kaboro beurang …. !
Pamali !
Beusi kapiteuheulaan mantare
Ku nini nini kiih di pipir
Urang kotjapkeun bae
Turun gunung, ka ruar leuweung
Asup leuweung, unggah gunung ….. !
Ladju datang ka hidji leuweung deui
Njao teuin di lebah maaaaana !
Leuweung gerotan !
TJep tiis
DJep djempling
Geu-euman
Mantak keu-eung
Mantak sieun ……. !
Ngan Si Lengser nu teu sieun
Ngan Si Lengser nu teu keu-eung !
Njuruntjul injana asup
Ladju njatjar
Injana njatjar ku dua leungeun !
Mani but bet
Sabab njatjar the kentja katuhu
Sabeulah deui gobang !
Mani but bet
Leungen injana badis koletjer
Bari suku tetendjag bae
Tetndjag adjretadjretan !
Da ngarana geh
Njatjar djalan djero leuweung
Loba langgir djeung badjongbong
Sireum beureum tingkarayap
Ngaregelan keuna kandjut !
Njatjar Si Lengser gantjang djasa
Da njatjar teh
Lain sa njatjar njatjarna
Tapi njatjar make parantjah !
TJeuk Si Lengser :
Arasup batur ! Arasup !
Urang Padjadjaran ladju arasup
Keuna galur ngabulumbung
DJiga gonggo nu golowong
Beunang ngatjar diparangdjahan !
Sup ararasup
Beuki djero beuki djero
Tapi hanteu beuki ngeunah karasana !
Sabab beuki djero beuki tiis
Beuki keueung beuki sieun !
Beuki djero beuki powek
Beuki powek remeng remeng
DJeung tjaang the samar samar !
Ladju bae
Keueung the beuki tambah
Bulu punduk pating purinding !
Beuki tambah bae sieunna
Beuki pasesedek anu leumpang
Pada pada areumbung pandeuri
Nu pandeuri harayang di hareup
Nu di hareup harayang ti heula
Nu diais areumbung digilir
Nu digarendng arembung di tukang !
Da sarieun aya nu njewol
Sieun aya nu njungkur keuna budjur
Sarieun aya nu narik sabari njiwit
Ka nu njempil di sela pimping !
Nja ladjuna mah
Sawareh mah
Laleumpang teh sabari mundur
Ngarah kadeuleu
Mun ti tukang aya nu eundeuk djail !
Kabeh pada keueung
Sakabeh pada sarieun !
Keueung na ?
Ku lantaran rarasaan bet djati beda !
Sarieunna ?
Da bongan batur batur pada sieun
DJadi be kabawa sieun !
Ngan Si Lengser bae anu ludeung
Injana mah hanteu sieun hanteu keueung
TJeuk Si Lengser :
Ari sieun ari keueung
Amun leumpang the ulah nuking !
Mudu sabari njangigir, batur ! Njangigir !
Ladju kabehan leumpang njangigir
TJara kapiting malipid gawit sisi basisir !
Ngan Radja
Ngan Ki Santang Parabu Anom
DJeung Si Lengser
Nu laleunpang biasa bae !
Da laludeung !
Beuki ladju beuki powek
Beuki djero beuki powek
Ngan tiluwan anu tadi
Arinjana mah hanteu parowek !
Sabab arinjana mah
Laleumpang teh
DJaradi pandjang djalan nu baris karosong
DJaradi panuduh djalan sapandjang djaman !
DJaman Sunda leungiteun djalan !
Beuki ladju beuki keueung
Beuki bae sarieunna
Ladjuna mah
Reg bae pada ngarandeg
Sedjen ti anu tiluwan mah
Urang Padjadjaran sakabehna
Pada ngarandeg
Hanteu warani laladju deui
Ngan tiliwan anu warani bae
Radja urang, Aria Santang djeung Si Lengser !
Si Lengser mah
Lain wani lantaran ludeng
Tapu ludeung sabab teu haliwu
DJadi boro boro engeuh lebah nu keueung !
Patjet geus sagede kohkol geh
Nangkol di punduk injana
Si Lengser mah hanteu eungeuh !
Injana tonggoy bae njatjar
Njatjar, njatjar ….
Mani haliwu bari pakeupis
Datang ka hanteu eungeuh
Njatjar teh
Dituturkeun Raden Santang Parabu Anom
DJeung Nji Putri ewe injana
DJeung ku balad loba salapan
DJeung ewe arinjana loba salapan !
Naruturkeun sabari wani
Bubuhan nuturkeun dua djago
Hanteu ludeung hanteu ludeung ogeh
Sok kabawa ludeung !
Ngan Radja nu ngilu ngarandeg !
Lain ngarandeg lantaran hanteu wani hanteu ludeung
Tapi ngarandeg teh
Radja urang mah
Ngabaturan nu teu laludeung
Ngaburihan anu kareder
Sabab Radja urang mah
Radja nu puguh njaah ka somah !

Urang mah, urang tuturkeun Si Lengser njatjar bae !
Nadjan njatjar make parangdjah
Ari geu datang ka wayah
Mudu tepung ka kabeh mudu mah
Nadjan Lengser Padjadjaran ogeh
Nja kapaksa
Njatjar the mudu ngarandeg
Lain ngarandeg lantaran keueung
Lain ngarandeg sabab teu ludeung
Tapi lantaran ngadak ngadak
Gobang djeung parang teh
Udjug udjug rarompang djeung potong gagang
TJeuk Si Lengser bari heran :
E eh naeun djeung nu hanteu teurak ?
Ladju diilikan !
Seeebut tjadas da lain tjadas
Seeebut batu da lain batu
Seeebut tunggul da lain kaaaayu !
Sebut buleud da puguh lentjop ka handap
Sebut gepeng da puguh ngunggul tjara pais bakatul !
DJeung di tengahna
Aya legok pameulahan !
DJeung ari diinget inget
Baruk badis surabaha didempetkeun !
TJeuk Si Lengser :
Naeun ieu teh batur ?
Tapi nu diadjak ngomong
Naroyod terus !
DJiga hanteu ngadarengeeun !
Ladju tjeuk Si Lengser :
Sugan tarooooooorek ?
Tapi nu diadjak ngomong
Naroyod terus
Narabas leuweung atjan ditjatjar
TJara badak naratas atas …. !
Narayod bae bari ngabuyut
Bari wani eudjeung ludeung
Da ngarana geh
Nuturkeun anu laludeung
Raden Santang eudjeung Nji Putri !
Si Lengser djadi himeng
Injana deuk njatjar deui
Ku gobang rompang teu make gagang
Ku parang romping teu make gagang
TJar sakali tjar kadua kali
TJar tjar tjar ka genep kali tjar
Parang the ngan kari ngaran !
Ladju eundeuk njatjar make gobang nu geus rompang !
Tapi gobang nu romping
Potong dua bari metjleng !
Ragagna ?
Ragagna di Tanah DJampang
Nu sapotong pondok
Ragagna di hidji gunung leutik
Nu sapotong deui
Ragagna di hidji gunung leuwih ruhur !
Eta dua gunung engkena disarebut sewang sewang gunung rompang !
TJeuk Si Lengser ditjowongkeun :
Batur ! Batur !
Batuuuuur !
Tapi nu naroyod terus
Naroyod terus !
TJeuk Si Lengser :
DJa bener taroooooorek !
Ngomong sakitu bedasna hanteu kadenge mah
Nja heueuh bener tarorek !
Memang djaradi tarorek !
Lain torek sabab torek ngadak ngadak !
Tapi torek geh hanteu kadenge
Sabab
Urang Padjadjaran njarasab
Arasup ka djero leuweung nu katelah
Leuweung tji torek !
Ari leuweung tji torek ?
Lain leuweung sabongdrong leuweung !
Tapi leuweung anu mones
Amun djero leuweung tji torek
DJelema ngomong ka djelema deui
Nadjan ngomong hahaokan
Nadjan ngomong ditamplokeun
Keuna tjeuli nu parendeng
Moal eundeuk kadenge sora
Ku tjeuli di hoakan !
Da ngarana geh
Di leuweung tji torek !
Amun aya nu nuwar kayu
Di getjok njeblog bedog injana
DJeung dorokdok gubrag tangkalna
Moal nu nuwar eundeuk ngadenge
Getjokna sora ti bedog
Gurubugna sora nu rungkad !
Da ngarana geh
Di leuweung tji torek !
Leuweung tji torek anu baheula !
Njaooooo di leuweung tji torek nu kiwari mah
Urang tjaturkeun deui Si Lengser
Injana luak lieuk
Ladju gegerowan :
Batur hwueueueuew batur !
Baruk bet djadi keueung batur ?
TJeuk Si Lengser bari gegerowan :
Ulah keueung heuheuh !
TJeuk Si Lengser keneh bae :
Ari keueueueung huhuh !
TJeuk Si Lengser keneh bae bali tjulak tjilek :
TJamahan ! TJamahan atuh !
Ladju satiung ku daun bolang
Ladju Si Lengser ngudar tjangtjut injana
Gurindjal padonghol
Lol ngagayot
Badis sayang tawon rerabkeuneung !
Bari njamahan beunget
Si Lengser ngarawel daun bolang
Ladju ditiungkeun
Kakara injana engeuh !
TJeuk Si Lengser :
Hohhoh hehheh !
Ihiiih baruk ieu mah
Geuning leuweung tji toreeeeek !
Ladju kadeuleu ku injana
Rupa rupa deudeuleuan anu tadi hante kadeuleu
Ting arayun ting gayabag
Ting garayang ting gayabag
Ting kodongkang ting kodjengkang
Ting djarebe ting baregeg
DJeung patindjalawak empot empotan !
Kadeuleu
Anu manjong anu menjeng
Anu bentelu tapi patjer
Anu mononod tjara terong ….
Beuki gede beuki pandjang
TJutjulagetan tjara hileud djeungkal !
Kadeuleu
Anu tjeper namarok meber
Anu muntjul njuat di handap
Anu kandel bari pengkeur
Anu kandel tap beye
Anu peyot mani hepe ….. !
Kadeuleu
Nu djambulan ngan diruhur
Nu buukan djiga djabringan
Nu buukan tapi parondok
Nu buukan tapi tjarang …..
DJeung nu garundul euweuh buukan !
Kadeuleu
Nu djangkorang njaruntjung hulu
Nu bareke garepeng hulu …..
Tapi anu panglobana mah
Anu badis bae supa pare ka tungtungna …..
Kabeh kabeh
Ting palotot ting arelel
Arenjet njarampeurkeun ….. !
TJeuk Si Lengser :
Heuheuy eta siiiiiiiiia !
Dedemit djurig eudjeung siluman
DJurig djarian eudjeung kelong …. !
Dewek njaho di ngaran sia !
Ngeser !
Awas siah !
Amun heureuy pangangguran
Amun djail hiri dengki
Sia ku dewek
Dibekok …. !
TJi torek djeung leuweungna
Leuweungna djeung eusina
Sakabeh djeung sia ……
Padjadjaran anu boga !
Hayuh !
Ngeser ……. !
Ladju Si Lengser ngareuhak
Bari nagreuhak sabari hitut
Mani paburiyak saeusi leuweung
Njarusup padjauh djauh
Njarumput pabuni buni !
Ti dinja
Ladju Si Lengser njampeurkeun Radja
TJeuk Si Lengser ;
Katalimbang Gusti !
Mulang deui !
Ieu leuweung loba eusina
Loba djurig djeung dedemit !
Ladju urang Padjadjaran nu ngarandeg tea
Marulang deui
Marundur deui marapay galur …. !

Urang susul ayeuna Raden Santang Parabu Anom Aria TJakrabuana !
Keur Si Lengser njinglarkeun saeusi leuweung tji torek
Raden Santang mah noyod terus …..
Bubuhan anu ludeung !
Ki Santang noyod terus !
Dituturkeun ku nu ngarilu
Bubuhan ari nuturkeun DJawara mah
Hanteu ludeung oge
Sok djadi rada ludeung !
Digerowah ku Si Lengser !
Da puguh di leuweung tji torek
Atuh hanteu kadarengeeun !
Raden Santang Parabu Anom
Noyod terus …
Dituturkeun ku nu ngarilu ….. !
Leumpang arinjana ?
Nutur nutur galur maung
Mapay mapay latjak badak …. !
Nja ladju andjlug ka hidji lebah anu lega !
Eukeur lega diriung gunung
DJeung pasir pasir di beulah hilir !
Di injana deuk ngababakan !
Tapi aya sora euweuh rupa
Nu njarita ka injana :
Atjan wayah !
Kapalang !
Lalakon tinggal sababak !
Siyar heula ku dia
Di nu singkur tapi subur !
Tah di dinja
Dia meunang ngababakan
Ngarawaykeun turunan dia !
Tapi
Di lemah nu ngeplak bodas
Ngan dia sakuren dia nu meunang tjitjing !
Nu sedjen mah
Mudu misah !
Sina arimah imah hanteu djauh
Di tegalan karungruman
Ku rurungkunan wungkul baduyut !
Di dinja
Dia sakabehan
Garanti ngaran !
Ladju dia kabehan pada alok
Hanteu njaho Padjadjaran !
Sababna ?
Sabab Padjadjaran
Mudu heula salin ngaran
Malih wawangi nu kasili …. !
Engke
Di djaman kembang tarate
Diparake nukeuran beyas
Baris aya kembang djadi buwah
Dina tangkal gede
Nu buahna teu usuman !
Tapi saban usum buwah buwah ngabeungbeureuman
Di tangkal eta
Mudu bae aya buwah
Diweureueun ka nu djaraya
Tapi
Ngabeuntakeun anu lalolong
DJeung ngahedjarkeun sakur nu nineung !
Salila lemah lebah tjawene
TJan digarap ku nu barogana
Bawa ku dia ngaran Batara
Ibarat tjikal dina bantjul !
Engke
Di djaman anu mudu keneh kasorang
Aya wayah
Rawayan dia mudu nepungan hidji baraya
Nu ngalalakon bari dilalakonkeun
Tah injana
Nu njekel tulak ka Padjadjaran
Tapi euweuh saurang anu areungeuh !
Sabab
Nadjan njembar pangabisa
Nadjan unggul di pangaweruh
Euweuh injana nu ngadjenan !
Sabab imah injana
Dihateupan ku haneuleum
Ditihangan ku handjuang
Dipantoan
Batu satantung
Ayana di birit leuwi
Ki Patahunan anu baheula !
Samemeh datang wayah eta
Rawayan dia baris
Moal suwung suwung ku tjotjoba
Baris saban saban kadatangan semah !
Aku ! Da ngarana geh semah !
Tapi sing waspada !
Sabab arinjana
Harayang njaho
Saha rawayan dia, saha Padjadjaran !
DJeung arinjana
Aya nu baris mamaksa
Rawayan dia garanti tjara sineumbah !
Inget !
Rawayan dia ulah wara sina muka rahsiah
Mun tjan tepung djeung nu njekel tulak …. !
Ladju Raden Santang djeung nu ngarilu
Narindah deui
Njariar lebah nu bodas lemahna !
Tunda !
Keun sina ngababakan
Saaeun urang engke djaga ….. !
Urang teang deui nu ka raruar ti djero leuweung !
Urang Padjadjaran eudjeung Radja djeung Si Lengser
Ka ruar deui ti djero leuweung
Ladju narindak datang ka hidji gunung
Ladju ararunggah ….
Beuki ruhur beuki ripuh
DJeung ngadak ngadak
Datang sasalad ….
Anu arunggah djadi barongkok
Nu marudun djadi saronggeng …
Kolot budak njareri tjangkeng !
TJeuk Radja :
Euweuh nu mawa djadjamu ?
TJeuk Urang Padjadjaran sakabehan
Sakabehan di barengkeun :
Euweueueueueuh …. !
TJeuk Radja :
Mana Si Lengser ?
TJeuk sakabeh urang Padjadjaran dibarengkeun :
Euweueueueueuueh …. !
Si Lengser memang euweuh
Lain euweuh sabab paeh njeri tjangkeng
Tapi euweuh hante kadeuleu kadeuleu !
Injana asup ka leuweung
Hanteu lila kurunjung deui
Dina hulu njuhun buntelan
Nu didjieun tina iket injana !
Dina tonggong ngagandong buntelan
Bunteulan tina djemang injana
Leungeun kentja njangkeh buntelan
Bari leungeun injana anu katuhu
Ngabunian buntelan sagede nangka meudjeuh angeuneun
DJeung di ruhurna
Aya djambulan …. !
Mantakna dibunian ku leungeun
Sabab samping injana
TJeuk tadi geh
Apanan dipake buntelan ….. !
Gubrag !
Tilu buntelan digubragkeun
Apan anu djambulan
Eta mah
Buru buru diselapkeun
Dikempit tukangeun pingping !
Eurula ……
Eusina buntelan anu tilu
Ku Si Lengser diborolokeun !
Ari eusina ?
Dangdaunan djeung akar akaran !
TJeuk Si Lengser bari diuk lain nagog lain
Da djiga eukeur diuk dina djodjodog tanggung :
Tah ubarna !
Ki beuling eudjeung ki tjentang
Memeniran djeung kumis utjing
TJampurkeun djeung akar pungpurutan !
Godog, godog !
TJaina mudu satihang
Nginumna disakalikeun !
Pieun saurangan !
Pieun duaaneun ?
TJaina dua tihang
Nginumna disakalikeun
Tah eta tumbal njeuri tjangkeng !
Tah ieu gandapura !
Tumbal keneh njeuri tjangkeng !
Daunna djeung akarna
Diridjeus make tjikur
Ladju balurkeun dina tjangkeng !
Tah ieu djawer kotok !
Tumbal awewe ararateul
Dina lebah dedengkatan !
DJawer kotol leob heula
Ladju gileus gileus sina leumpeuh !
Ladju
Gosok gosokeun lebah nu ateul
Dirurukeun lebah nu ateul …. !
Amun ateulna rendjen bae
Wewelkeun ……. !
Ieu akar
Akar pangpurutan kembang paul
Tumbal pieun aki aki
Anu resep keneh
Eundeuk eundeukan bari nangkuban !
Godog, godog !
TJara tumbal njeuri tjangkeng ka hidji
Ieu kembang ? Kembang pungpurutan anu paul !
Rindjeus ! Ladju dipake ngurut
Sapandjang gagang datang keuna beuheungna !
Tanggung heuras tjara tiwu bodas !
Ieu akar
Akar pungpurutan kembang bodas !
Tumbal pieun si nini
Abeh dipisono ku si aki !
Godog !
TJampurkeun heula pangglay sateukteuk
Eudjeung pepel parareungkeur
TJara anu munding tjawene kenah !
Ari ieu putjuk baluntas ?
Tumbal pieun ngubaran
Bau awak bau kelek
Bau di lebah sakur buluwan
Bau kesang mani hangru !
Ngubarkeunnana ?
Lalab ……. !
Anu kieu ?
DJadjamu ngan kari djeduh !
Didjeduhna tina
Buwah kalengkeng
Akar tjareme
Siki areuy tuwa lauk !
Paranti njuguhan semah
Amun hayang dibui ……. !
Ari anu kieu ngarana koneng bodas !
Parud ! Ladju balurkeun
Ka awak budak anu keur tampek !
Inumanana ?
Gogogan akar eurih eudjeung seureuh
Ditjampur daun saga
Sakalian ubar batukna !
Mun nu kieu ?
Ngarana the regeg salak
Tumbal mitoha anu bawel ….. !
Rodjokeun be keuna palangkakanana …. !

Tunda deui batur bisi kaisukan !
Bari nanggowan godogan asak, eudjeung ngadedengekeun
Aya ragag salak dirodjokkeun ….. !

Gunung urut Si Lengser njiyar tumbal kiwari aya keneh !
Njaeta anu kiwari dingarana gunung tumbal !
Nararintjak ngidul wetan
Ngidul ngetan rada ngaler …..
Arunggah deui ka hidji gunung
Si Lengser unggah pangheulana
Sedja injana deuk neuleu ka mana djalan
Piwaludjaeun bari teu herit
Sorangeun djaga Bangsa Sunda
Salila djaman Sunda pahili deule
Hanteu ragam sababaturan
Ladju ku bangsa deungeun
Kasili deui kasili bae ….. !
Ti mumunggang bahe ngetan
Kadeuleu ku injana
Kuwung kuwung ngundak tudjuh
DJeung ngembatna njela bumi
DJiga ungdjah tina sagara
DJeung nutugna nimus halimun
Keuna logak karimbunan
Dina langping hidji gunung
Hanteu djauh ti tegalan anu engke djaga
Boga ngaran tegal rarangan
DJeung baris ditjirian
Ku tjaringin tudjuh rampag djarangkung
Di delang salapan Ki Hara
Ngadjadjarna papageran …… !
Urang Padjadjaran mani areuweh
Neuleu kuwung kuwung ngundak tudjuh !
Kabeh pada laladjo
Pada neuleu mani ngabengbreng
Ngabengbreng ti ruhur gunung !
Gunung urut urang Padjadjaran neuleukeun kuwung kuwung
Kiwari aya keneh
Ngarana geh gunung bengbreng !
Meudjeuh kabeh pada euweuh
Ka Radja njampeurkeun Nji Putri pangais bungsu
Pangais bungsu ti nu katudjuh
Saha ngaran injana ?
Kabedjaeunana mah
Nji Putri Gandrung Arum !
TJeuk Nji Putri :
Rama Gustiiiii ….. !
Kaula deuk menta widi
Hayang ngababakan di lebah itu
Lebah kuwung kuwung nutug tudjuh !
Sedja kaula eundeuk tapa !
Kaula menta pibatureun
Tudjuh pantaran kaula !
TJeuk Radja :
Njai !
Ngaing moal ngahalang halang !
Seug !
Geura pilih pibatureun !
Nji Putri ladju milih !
Milih milih …. Tudjuh kali injana milih
Tudjuh kali milih deui
Nja dipilih :
Tudjuh tjawene njampeurkeun mata
Sabab galeulis njeples Nji Putri
Pangawakan njeples Nji Putri
Sagala gala njeples Nji Putri
Njeples Nji Putri ka sora sora !
Ngan aya
Nu dihadja sina bega !
Nja eta
Dina karang nu leutik djasa !
Sewang sewang baroga tanda
Karang leutik tjiga bentang
Nu ngagentjlang nadjan beurang
Eudjeung tjaangna nu tjaang …. !
Karang tanda Njai Putri
Dina tengah tengah tarang !
Ari tanda karang nu tudjuhan
Sewang sewang aya lebahna
Aya nu dina pipi kentja deukeut gado
Aya nu dina punduk beulah katuhu
Aya nu dina susu njeungseung beulah kentja
Aya nu dina tukang
Dina birit demplon beulah katuhu
Aya nu dina beuteung deukeut ka eta
Aya nu dina pingping deukeut ka eta
Malah anu saurang deui mah
Ditengah tengah nja eta tea …. !
( Heu euh eta eta injana tea ….. ! )
Anggeus milih
Nji Putri nindak
TJeuk Radja :
Lengser
Eta lebak urang ngaranan
Lebak TJawene !
Salila Nji Putri entjan purun
Babakan injana kasaba semah
Salila kitu
Eta babakan di lemah eta
Moal deuk bisa kasorang djelema anu njiyar !
Tapi engke
Eta lebak di eta lemah
Bakal kasaba teu dihadja
Ku aki aki ngora keneh
DJeung ku budak angon nu djanggotan !
Tah eta duaan
Nu ngan baris njararaho
Dina rupa eudjeung lebah
Dina ngaran Lebak TJawene !
Eta aki aki ngora pangabisa
Engke injana bakal nudjah
Tapi ka budak angon
Anu unggul pangaweruh
Injana bakal katukah …… !
Engke gara gara aya kutu unggah gunung
Eta aki aki baris kadongdong
Injana baris djadi gara gara
Anu ngagara garakeun Sunda
Paseya djeung urang Sunda keneh !
Bangsa Sunda maseyan
Bangsa Sunda deui !
Budak angon anu bela
Injana bakal djadi puraga
Sabab injana sanggup djadi puraga
Dina bela melaan Padjadjaran ………….. !
Lebak TJawene di Lemah TJawene
Ladju euweuh nu njaraho deui
Sabab budak angon
Mawa rasiah injana ka djero kubur !
Tapi dina tutunggul injana
Baris ngelak bae gagak
Nitah ngorehkeun deui karehaneun
Dina kalangkang Paku DJadjar Ki Pahare …. !
Sabab dina kalakay Handjuang Sidjang
Ku budak angon kungsi kabatja
Wayah bentang baris nuduhkeun
Pidjodoeun Nji Putri Gandrum Arum ….. !

Urang Tunda nu ngababakan !
Keun nu geulis sina djongdjon tararapa
Bari ngadarenge dengekeun wayah gagak
Anu baris ngelak di kuburan …… !

Urang mah, urang ladjukeun nuturkeun Si Lengser
Anu anggeus turun ladju unggah deui
Turun gunung unggah gunung
Asup leuweung ka ruar leuweung …
Ladju arunggah deui
Keuna gunung di beulah wetan
Beulah wetan njetjep tiis
Mani tiis nadjan tangari
Urang Padjadjaran ararunggah
Runghap runghap bari tiris
Tapi aus teu eureun eureun ….
Ladju saban reureuh
Nginum deui nginum deui
Datang ka beuteung arinjana barungkiyang !
Ladjuna mah
Sakabeh teu eureun eureun
Pada harayang kiih bae …. !
Ladju karariih
Karariih sabari nagog
Karariih sabari nangtung
Karariih sabari leumpang
Karariih teu kaburu njingsat njingsat atjan …
Nja karuhan
Ngariihan samping di djero samping …. !
TJeuk urang Padjadjaran :
Lengser ! Bapa ! Aki !
TJeuk Si Lengser :
Kariih mah kariih beeee …. !
Montong teuin sabari nagog
Sabari leumpang geh bisa !
Ngan mudu leumpang sabari ngagegang
Eudjeung birit teu kakiihan …. !
Gunung urut urang Padjadjaran karariih bae, kiwari aya keneh
Ngarana geh gunung beser !
TJeuk Radja :
Lengser !
Ulah turun gunung unggah gunung bae atuh !
Ngaing bisa begkok dina tjokor
Bisa bengking dina tuur
Eudjeung bengkok tina bobokong !
Yeuh, ngaing njeri tjangkeng reureundahan !
Njiar atuh djalan anu rata …. !
TJeuk Si Lengser :
Gusti !
Di ieu djagat mah euweuh nu rata !
Aya geh rata rata
Rata rata pada sarakah !
Ti gunung beser
Urang Padjadjaran nararindak rada ngidul !
Nja andjlog ka sisi walungan
Lebahan wahangannana memang lega
DJeung ngotjorna kentjeng djasa
TJeuk Radja :
Kumaha … ?
TJeuk Si Lengser :
Kieu …. !
Ladju gawir sabrang wetan anu kidul
Diratik ku Si Lengser
Abeh wahangan teu lega teuin
Sina mahi heureut pieun njabrang !
Ladju njarabrang
Tapi saban njabrang
Ladju bae pada katarik tjai
Anu njedot tjara tjai di pamontengan
Sabab wahangannana djadi heureut … !
Nu njarabrang katarik tjai
Tepi euweuh saurang geh anu palid
Sabab sakur aya nu eudeuk ngaleyong ngagaleyong
Ku batur batur geuwat ditarik !
TJeuk Si Lengser :
Amun kieu bae mah
Saban saban katarik bae tjai
Moal eudeuk urang bisa datang ka sabrang !
Ladju injana ngagulutukkeun batu gede
Nu gede na gede djasa
Sok di tengah tengah wahangan !
TJeuk Si Lengser :
Luntjat batur luntjat !
Njabrang the bari laluntjatan !
Nja kabehan pada laluntjat
TJara lutung laluntjatan …. !
Anggeus kabeh pada njabrang
Si Lengser eudeuk mulangkeun batu ka urutna
Ladju mapatkeun adjian !
Tapi hanteu engeuh
Tadi the eukeur nantung di sabrang kulon anu kaler !
Ari ayeuna
Inja aya di gawir sabrang wetan anu kidul !
Atuh nadjan adjiannana bener
Wayah mapatkeunnana bener
Tapi
Ari njanghareupna hanteu bener mah
Atuh kadjadiannana teh
Hanteu bener !
Lain batu unggah deui ka urut
Dina gawir sabrang kulon
Tapi batu
Babtu njuruntul ngudag Si Lengser
Dina gawir nu beulah wetan …. !
Ku adjian salah njanghareup
Lain gawir wahangan nu beulah wetan anu mundur
Ari Si Lengser ?
Lantaran nepak dina adjian
Injana mah hanteu kabawa mundur dina gawir
Tapi
Gudjubar bae
Ragrag ti gawir nu eukeur mundur !
Batu gede
Nu njuruntul di tjai nu ngotjor kentjeng
Geus parek djasa ka Si Lengser
Reg ! TJeuk Si Lengser
Batu the ladju ngarandeg !
Ladju tjeuk Si Lengser :
Ayeuna kieu !
TJitjing sia didinja
Pieun tetegr ka anak intju
DJadi panuduh ka nu narineung
Nu narineung ka Padjadjaran !
Isukan barehing pageto
Lebah dieu bakal djadi siru hiyang
Engon sia nanggowan wayah
Boga ngaran batu nunggul !
Engke
Dina djaman Uga Uga Ngawaruga
Sia mudu timbul deui !
Sabab anggeus wayah
Bakal muka
Panti ka gedong
Rame masar di palabuhan !

Tunda !
Urang tangowan mukana panto
Pieun nempo ka palabuhan
Anu rame ku pasaran …. !

Tapi,
Amun urang Sunda deuk sagala
Nunda deui nunda bae
Sagala gala
Deuk ditanggowan bae
Mantak Bangsa Sunda
TJara batu paluntjatan …
Beuki ngalelep beuki ngalelep
Ditarintjak ku sakur anu laluntjat …. !
Bangsa Sunda mudu timbul deui !
Tapi lalakon urang Sunda pandjang keneh !
Amun kabeh ditunda tunda deui
Iraha atuh piangeuseunnaaaaaaaaa ?
Ayeuna mah
Anu pandjang urang teukteuh
Anu pondok urang tjongoan
Anu heureut urang tileupkeun …. !
Beusi kaboro beurang !
Pamali !
Mantak kapuheulaan mantare
Ku nini nini nundutan keneh
Anu kiih kasalahan …. !
Baruk injana meureun tjonggang
Ari horeng
Keuna sungut aki aki
Nu keur kerek bari njalangap … !
Urang tuturkeun deui bae Si Lengser
Anu leumpang deui panghareupna !
Sabab injana mudu terus bae njatjar
Njaangan ddjalan nu masih keneh mudu disorang
Ku urang Padjadjaran djaman harita
Ku urang Padjadjaran djaman kiwari
Ku sakabeh urang Padjadjaran
Nu tingsalindung di ngaran Sunda !
Leumpang Si Lengser madju ngidul
Rada ngidul rada ngetan ….
Nja engkena teh
Andjog ka palabuhan anu lega
Apluk aplukan lega djasa
Ngan heureutan
Manan tegal Si Awat awat
Di lebahan anu upluk uplak
DJeung legana satungtung deuleu
Loba gunung eudjeung pasir
Loba leuweung djeung tegalan
Saling saling seselangan …. !
TJeuk urang Padjadjaran :
Lengser ! Aki ! Bapa !
Urang the lebah mana ?
Asa rarasaan tjara di urang ?
TJeuk Si Lengser :
Karuhan !
Taneuhna leuweungna djeung gunungna
DJeung sakabeh anu kadeuleu
Emang geh urang nu boga !
TJeuk urang Padjadjaran :
Ku naha atuh sedjen rarasaan ?
TJeuk Si Lengser :
Sabab ieu taneuh
Ieu teh taneuh warisan !
Urut baheula Sang Hiyang TJiung Wanara
DJeung Sang Hariang Bangah
Saling awaskeun ti kadjauhan
Memeh galungan di sirah TJi Kangsa !
Tah eta the sabab sababna
Ieu taneuh disebutna taneuh DJampang !
Ladju nanarindah deui
Aya andjog engke the ka hidji tjurug !
Reg kabeh pada ngarandeg
Lain ngarandeg deuk rareureuh
Tapi lantaran
Radja urang
Ngadak ngadak ambek rosa …. !
TJeuk Radja bari ambek djeung popolotot
Popolotot molototan
Ka sakur nu kadeuleu ku mata Radja :
Pieun nahaeun ngaing djadi Radja
Ari hanteu boga Nagara mah ?
Ngarah naeun ngaing leuleuweungan
Leuwih hade
Perang deui ….. !
TJeuk Si Lengser :
Kapiran !
Anggur pikir sing lantip !
Naeun pibatieunana
Amun perang ninggang di eleh deui ?
Sabab perang Gusti
Lain perang lantaran wani
Tapi lantaran kadjurung napsu
Dipadaya ku amarah … !
TJeuk Radja :
Ngaing deuk mulang deui
Mapag musuh nu njarusul …. !
Sabab
Amun Nagara teu direbut deui
Moal deuk ku ngaing kabogaan deui !
TJeuk Si Lengser :
Ulaaaaah Gusti ulah !
Balad urang kari sakieu !
Tapi musuh
Balad arinjana tambah loba
Sabab arinjana mah
Lain bae perang make gobang
Tapi bari ngawur ngawur duwit edjeung djangdji
Ngabengbat somah anu elodan …. !
Kiwari musuh teh
Tiiiiiiiiiilok djaya musuh the
Moal deuk buntu saumur umur ?
TJeuk Radja :
Eudeuk djaya eudeuk apes
Ku maha ngaing beeee …… !
Tapi Nagara mudu direbut deui !
TJeuk Si Lengser :
Heu euh ngarti ngartiii …. !
Tapi dengekeun
Meyong teh gagah nadjan galak
Tapi nadjan gagah nadjan galak
Tara maung deuk ngahadja
TJampurkeun pibaheulaeun nu injana njaho !
Tiiiilok eudeuk maung asup keuna gorogol
Amun unjana njaho keur ditaheunan … ?
Yeuh dengeukeun !
Nadjan dia nu djadi Radja
Tapi hanteu muuuuuudu
Balad urang anu ngan kari sakieu
Sina pararaeh
Dina melaan anu lain belaaneun deui !
Gusti dengekeun !
Memang dia nu djadi Radja
Memang dia sagala wenang !
Tapi eta kawenangan
Aya wate aya wayah !
Lain di wayah eukeur kiiiiieu
Mudu dia sakarep karep
Sapedah dia nu sagala wenang !
Balad urang the kari sakitu
Tuh deuleu …. ! Kari sakitu !
Ulah dia nurutan peusing
Bener sireum sahundjur lobana mangdjuta djuta
Ku peusing sahidji
Memang bisa ledis !
Tapi sing inget !
Kumaha awakna peusing
Kumaha awakna sireum ?
Sakumaha gedena peusing
Sakumaha leutikna sireum ?
Eudjeung ulah poho
Anu Nunggal Maha Agung
Geus ngamudukeun
Moal peusing hidji
Eudeuk paeh ku sireum loba sadjuta !
Gusti !
Nagara Padjadjaran Tengah teh
Ngaran Nagara urang di djaman baheula !
Ari legana mah
Sakitu keneh sakitu keneh
Ti darat datang djauh ka tengah sagara !
Tah eta kabeh teh
Boga dia keneh dia baeeeeee … !
Urang njabrang !
Urang ngadegkeun deui dayeuh di nusa larang !
Pieun nanggowan wayah
Asak samangka beulaheun lima …. !

Tunda !
Paralun Radja !

Radja beuki ambek bae !
Lain ambek ka Si Lengser
Lain ambek lantaran dipapatahan !
Tapi ambek beuki ambek
Sabab njeri tambah njeri
Mudu eleh sabab di hurup …. !
Amun musuh ngan sanagara mah
Lain musuh anu dibantuwan tilu nagara
Eleh geh
Teu panasaaaaaaaran … !
Parabu Agung Siliwangi Radja Sunda
Injana mundur kadesek …. !
Mudu eleh ? Eleeeeh …. ?
Lain Parabu Agungna anu eleh
Lain Radja Sunda anu eleh !
Tapi memang Bangsa Sunda anu mudu eleh
Kadesek di DJaman harita
Kadesek di DJaman kiwari
Malah eleh
Di djaman nu eukeur datang
Kadesek kaelehkeun
Salilana opat djaman
Nu kabelna
Opat kali djangkep 100 taun ….. !
Radja Padjadjaran ambek djasa
Keur ambek bari tetendjrag ….
Datang taneuh salega djampang
Mani eundeur tjara keur lini !
Loba lebah anu urug
Lain urug taneuh ti ruhur
Tapi arurug patinggerebro
Blangblong tjararopong di djero taneuh
TJara sumur di handapeun kulit taneuh pangluhurna !
Tah kitu sabab sababna datang ka kiwari
Di tanah djampang loba lahan ngadak ngadak
TJararopong euweuh nu ngali
DJariga sumur euweuh dasarna !
TJeuk Radja :
Mun Nagara geus karebut musuh
Tapi ngaing teu odjah bae
Lengser
Padjadjaran baris musna sagala galana !
Malahan engke di djaga
Bakal dipararungkir urang dihurup !
Bari dipadjarkeun
TJeunah lain arinjana mararaksa
Lain arinjana
Nitah ganti sinembah bari gobang di abar abar !
Tapi Padjadjaran musna teh
Lantaran ngalawan Sembaheun anjar bawa arinjana !
Lengser !
Saha anu djaga deuk djadi saksi ?
Pieun mere njaho saheu euhna
Lain Padjadjaran nu nangtang perang
Lain mungpang boro bedegong
Lain hanteu purun ganti Sinembaheun
Lain ngalawan Sembaheun anjar !
Tapi sabenerna saheu euhna
Padjadjaran teh
Manadeh keuna dipaksa !
Lain sembaheun anjar nu teu di aku
Tapi
Padjadjaran teu sudi ganti Sembaheun !
Ari bari mudu djadi badega
Ngagung ngagung nu ku urang mawa eta
Sembaheun !
Lengser !
Amun ngaing mudu ngawaro sia
Teu beda anging the siki
Dipelak djero pirunan hurung !
Tilok eundeuk bisa djadi pepetetan !
TJeuk Lengser :
Gustiiiii … !
Lalakon urang geus digalurkeun
Ditetepkeun ku Nu njieun lalakon
Lalakon djagat Padjadjaran
Lalakon alam Sunda Papantunan !
Urang Gusti anu ngalalakonna !
Lain urang
Anu njieun lalakon mah !
Anu njieunna mah
Tuh itu Nu di ditu ……
Nu Kawasa Sagala Wenang
Nu Ngusikkeun Nu Malikeun
Nu Nguripan Ngahirupkeun …. !
Mun tjeuk Injana mudu kieu
TJeuk Injana mudu kitu
Saaaaha nu eudeuk bisa mungpang
DJaya atawa apes …. ?
Hanteu biiiiisa siki djero pirunan hurung
Di buritna djadi pepetetan ?
Gusti ! ( TJuruk Si Lengser bari nundjuk ka ruhur )
Hanteu mudu bahan pieweuheun
Ari gawe Injana eundeuk dikitukeun mah !
Geura !
Kabeh tjai !
Nameh djaradi walungan gede
Bidjil heula tina liang
Di pagunungan anu djauh ti muharana !
Muharana
Ngotjorkeun keuna sagara !
Tetela tjai anu ti gunung sakitu djauh
Geuning bisa datang ka sagara djauh
Bisa tepung eudjeung laut !
Tapi laut ? sagara ?
Tiiiiilok eundeuk bisa ngandjang
Ka sirah tjai walungan anu di gunung sakitu djauh ?
Tapi amun anggeus datang keuna wayah
Diusikeun ku Anu Njieun lalakon
Ngan saseblok Gusti
Nadjan di daratan anu anggang
Ruhur gunung anu djauh
Saseblok Gusti ngan saseblok
Ku sagara bisa kalimpas ….. !
TJeuk Radja bari neuleukeun tjurug :
Heu euh !
Tapi nahaeun atuh gunana
Di Nusa Larang naded dayeuh
Tapi Nagara nga saribak ampok ampok ?
Ari anu lelegana direbut musuh …. !
Amu Nagara lelegana djeung dayeuhna
Geus karebut musuh
Nagara Nagarana bakal leungit digaranti !
Leungit ngaran Nagara
Oge leungit ngaran ngaing … !
Ngaing deuk mulang deui
Sorangan !
Ka sia Lengser
Ngaing mihape
Amun ngaing ninggang di apes
Mudu djadi babatang di tegalan pangperangan
DJaga ku sia sing ngaran Padjadjaran
Ulah bisa datang ka laas diusap djaman
Ulah bisa lebur ngawun ngawun
Ulah beunang ku angin dibawa leungit !
TJeuk Si Lengser :
Urusan ngaran Padjadjaran mah
Ulah salempang !
Loba tukang mantun ieuh !
Tapi amun eudeuk perang sorangan bae
Ulaaaah …… Sabab kapiran !
Geura …. Tegaskeun atuh !
Tina dengdekna matapowe
Tina baranangna bentang djanari
Tina handuru maung ngagaur parek ka isul
Tina manuk dudutsora njalatok
Apanan geuning sakitu angeus tetela
Urang the eukeur malang dina apes
Mun ngalawan musuh meudjeuh keur djaya !
Leungitan ngaran mah
Ulah salempang, sabab
Ngaran hade teh pamere batur
Ngaran goreng mah rekaan musuh !
Ari ngaran Gusti mah
Apanan SILIWANGI …. !
Lain wawangi anu kasilih !
Tapi Sili dina harti basa urang
Basa urang Padjadjaran !
Harti Sili di basa urang
Nja eta Langgeng !
Ari Wangi
Mudu dihartikeun ku basa urang
Ulah dihartikeun ku sedjen basa
Nadjan saruwa dina Sundana …. !
Sabab Wangi basa Padjadjaran
Hartina teh Kasutjian anu Sadjati !
Ulah salempang ! Ngaran Gusti moal leungit !
Sabab
Nadjan dilebur ku nu harasud
Moal ngaran Gusti baris leungit
Moal musna ku supata
Moal leungit ku panglarang !
Lantaran saban djaman
Wangi deui Wangi deui
Tina Pakudjadjar beukah kembang
Eudjeung baris tetep bae langgeng
Diaweuhkeun ku tjeluk Pantun …. !

Salila urang Sunda
Barisa keneh njaratu kedjo
Memang ngaran Gusti bakal diparopohokeun !
Tapi engke baris datang djaman
Urang Sunda
Harayang disarebut Bangsa Sunda
DJeung harayang diaraku rawayan Padjadjaran
Gara gara keuna panggung sasemaya
Budak angon ngalungkeun sayan tawon
Sabab injana geus sebel djasa
Neuleu monjet monjet raradjaan
Bari ngekekesek somah anu mudu
Mandjakan bari njuguhan …. !
Tah ku eta budak angon anu eta
Loba urang Sunda djadi panasaran
Ladju ngaruktjruk ngiku ngorehan
Pada pada harayang njaho
Saaaaaha saenjana
Anu ku Pantun disebut sebut Parabu Siliwangi !
Kiwari musuh meudjeuh keur djaya
Lain lawaneun di wayah kieu !
Mending oge ngelehan heula !
Lain ngelehan urang ka musuh
Tapi
Ngelehan ge urang ka waktu ….. !
Lain wayah
Kiwari urang ngabales !
Apan engke di djaman anu bakal kasorang
Bakal nangtung djelema djangkung
Tutundjuk di alun alun …. !
Tah eta
Etaaaa anu engke baris mangnalukkeun musuh !
Ayeuna mah
Hayu urang njabrang
Urang ngadegkeun dayeuh deui
Dayeuh anjar di Nusa Larang !
TJeuk Radja :
Ari kitu mah, atuh hade !
Ngaing nurut ka dia Lengser !
Urang nindak ka panjabrangan … !
TJurug anu tadi, engke the disarebutna
TJurug pamerangan
Sabab di dinja Si Lengser merangan napsu Radja
Ngan bae, kiwari aya sababaraha tjurug anu dipadjarkeun
TJurug Pamerangan, datang ka euweuh anu njaho deui
Bener anu mana anu saenjana tjurug pamerangan anu saestu !
Ti tjurug anu tadi
Urang Padjadjaran nararindak mapay ka hilir ….
Datang ka palebahan tungturunan
Anu kaurugan unggul unggulan
Ku wungkul talapok awi …. !
Engke djaga di palebahab dinja aya lembur leutik anu boga ngaran Salumpit !
Di lebah dinja
Kabehan njararabrang ladju unggah ka sabrang wetan ….
Datang deui ka lebahan anu datar
TJeuk Radja :
Lengser djiga na mah di dieu oge hade !
TJeuk Si Lengser :
DJigana mah hanteu hade
Amun Gusti di dieu ngadegkeun dayeuh !
Tah eta geuning tjiri tjirina
Tanah di dieu teh labuhan bulan !
Mantak ge Gusti
Ari djadi Radja teh
Ulah sok tetendjrag kamalinaan !
Tah kieu djadina
Di sagala ieu taneuh djampang
DJadi be ngali sumur teh
Hanteu meunang sakali kali karep bae
Sabab di handap di djero taneuh
Loba lebah anu karantjang …
Kapeung kapeung di djerona
Taneuh teh tjopang
TJara sumur nuao teuin saha nu ngalina
Tapi djerona
DJiga parat tembus djagat …. !
DJeung deui amun di dieu ngadeug dayeuh
Engkena the narik kolot
Tapi amun di djieun babakan
Engkena teh baris djadi lembur gede
Anu subur pieun nu suhud
Baris djembat pieun nu sabar
DJeung pibetaheun pieun nu harade pangadegan !
Datang kiwari eta babakan aya keneh disebutna oge
Pangadegan
Tapi anu kiwari disebut babakan djeung anu disebut
Pangadegan lain lembur lembur anu baheula ditjitjingan
Urang Padjadjaran sabab babakan pangadegan anu baheula
Mah ayana the parek ka situ hiyang
Anu harita ngababakan
Ngan aya tilu kuren
Urang Padjadjaran anu sedjen na mah
Ladju deui nuturkeun Radja ka panjabrangan
Narindak ngetan ngidul ngetan deui terus ka kidul
Andjog ka tegalan lega djasa
Anu djadi sampalan banteng djeung mandjangan
Harita mah
Tegal teh buleud
Lobana batu teuwas hideung djeung harerang …
Bari nanggowan batur batur nu pandeuri
Radja ngarereb di tegalan buleud barengan batu hideungna !
Si Lengser djeung para kokolot
Para sambilan djeung para djaro
Haliwu njieun parahu
Ngarakit rakitkeun bitung pigetekeun …
Genep beurang genep peuting
Parahu parahu kari ngadayung
Getek getek kari ngabaseh djeung kari nulak …
Ladju datang peuting anu ka tudjuh
Kabehan pada sadiya
Sadiya timbel pagede gede
Sadiya leumeung pagede gede
Sadiya lodong pagede gede …
Sabab beurangna kabehan eudeuk njarabrang
Ngaranna oge anu deuk njarabrang ka Nusa Larang
Anggang djasa ti daratan
DJauh djasa ti panjebrangan …
Karuhan mudu mani bebekelan
Lauk mah
Kari nambay bae di sagara
Tapi ari nginum mah
Da nga penju eudjeung lauk
Nu sok ngumun tjai sagara mah !
Mantakna urang Padjadjaran marekeul tjai pieun inumeun
TJai pantjuran paloba loba
Dina lodong pagede gede …. !

Bray beurang
Kabehan narindak ka basisir …. !
Tapi barang anggeus parek
Laut the ngadak ngadak tjaah
Bari motah pikeu eungeun ….
Ombak ombakna luntjat ka darat
Raruhurna salaput haur ….. !
TJeuk Radja :
Ku naha kieh ?
TJeuk Lengser :
Memang kieu !
Mantak kieu
Sabab kitu
Sabab anggeus meureun mudu kieu
Lalakon urang teh
Ngan datang ka lebah dieu !
Ladju Radja teh tjeurik
Si Lengser oge ladju tjeurik
Balad balad ngarilu tjeurik
Kolot budak pada tjeurik
Pada tjeurik tjareurik sedih …. !
Sabab geuning heueuh
Nadjan malik nadjan usik
Moal malik moal usik
Lamun malik na teu diusikkeun !
Kasaaaaaha …. ?
Ku Radja sakabeh Radja
Ku Guru sakabeh Guru
Nu ngaraton teu make waton
Nu imah injana tjaang ngagentjlang
Nja injana
Nu ngabogaan sakabeh djagad
DJeung ngabogaan sakabeh alam !
TJeuk Radja :
Lengser !
Ngaing pasrah …. !
Kumpulkeun sakabeh balad sakabeh somah
DJeung sakabeh anu ngalilu …. !
Ladju Si Lengser nabeh bende
TJewewew …. TJewewew
Wiiiiiiiw ……….. !
Bende Si Lengser teu daekeun harus
Tapi
TJewewew sember …..
Ngawiwiwna ngawiwiw sedih ….
Kumpul, batur ! Kumpul !
Radja eudeuk njarita …. !
Urang Padjadjaran ladju kumpul
Kararumpul sabari tjeurik …….
Rabul anu daratang pandeuri
Ladju kararumpul sabari tjeurik …..
Tapi hanteu njararaho
Naeun sabab make tjeurik ….. !
Eta kitu
Sapeda neuleu batur batur pada tjeurik
Ku nahaeun atuh tjeurik ?
Njaaaaaaaaooo ……
Asal katembong tjerik beeee …. !
Kabeh pada tjeurik
Tapi pada tjeurik beda beda
Aya anu tjeurik balilihan
Aya anu tjeurik elih elihan
Aya anu tjeurik inghak inghakan
Aya anu tjeurik gagaukan ….
Aya anu tjeurik kokosodan
Aya anu tjeurik bari gogoleran
Aya anu tjeurik bari lolongseran
Aya anu tjeurik bari adjol adjolan
Aya anu tjeurik bari kokorondangan
Ata anu tjeurik bari lulumpatan …. !
Anu sabari nonggengan bae oge …… Aya !
Anu sabari sungsat singset geh aya
Anu sabari sururunday geh aya
Anu sabari pahareu hareup …. Oge aya
Anu sabari patukang tukang …. Oge aya
Anu sabari ngumpul sabatur …. Oge aya
Malah
TJeurik ngan sorangan bae oge ….. Aya !
TJindeukna mah
TJeurik beeeee ……
TJeurik pabisa bisa djeung
TJeurik pabedas bedas …… !
Malah aya anu tjeurik dilalagukeun
Ngadingdiut tjara aul
Ngahihih tjara hingkik
Ngahuhuh tjara haruhuh
DJeung aya anu
TJara dudut bari njalatok
TJara helang nantang hudjan
TJara begu diusum wayang …. !
Nu tjareurik di bagi tilu bubuhan
Anu tjareurik tjimataan
Anu tjareurik teu tjimataan
DJeung anu tjeurik
Mata teh dibalur ku tjiduh
Abeh djiga tjimataan …. !
Tapi anu aneh ?
Ku naha nja euweuh aya anj tjeurik bari heheyotan ….. ?
TJindekna mah
Meunang tjareurik sakabisa sewang sewangan
Sabab djaman harita mah
Euweuh aturan ti Nagara
Anu ngamudukeun tjeurik the
Mudu sakaresep pangagung bae !
TJeuk saurang anu anjar datang :
Kunaeun sih dis tjeurik ?
TJeuk anu di tanja :
Atuh ku suuuuuuuungut …. !
Ladju eta duaan teh tjareurik sabari sareuri …. !

Cag.

_/\_

Published in: on 1 Maret 2007 at 4:45 am  Comments (2)  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 85 pengikut lainnya.